
Pagi-pagi sekali Ruby bangun. Ia bersiap-siap untuk melakukan tujuan utamanya ke hotel itu,yaitu mencari bukti untuk menjatuhkan sekte yang sedang ia hadapi.
Dua hari lagi bulan mati,semua terasa menegangkan bagi Ruby karena ia kembali teringat akan kengerian ketika masih terjebak di motel.
Selesai bersiap,Ruby keluar kamar diikuti oleh Thomas. Namun belum sempat melangkah kan kaki keluar,Felix berdiri di depan Ruby.
"Sa.. Sayang?" Ruby terlihat gugup mengetahui kedatangan kekasihnya.
"Kenapa kau disini?" tanya Felix.
"Ceritanya panjang. Akan aku jelaskan," Ruby bersiap untuk menjelaskan secara rinci apa yang sebenarnya terjadi.
"Biar aku yang jelaskan," Thomas yang diam sejak tadi kini berbicara.
"Aku saja," Ruby menatap Thomas dengan tatapan tajam.
"Aku yang membawanya kesini. Maksudku,aku menjebaknya," Thomas mengakui perbuatannya di hadapan Felix.
"Apa maksudmu dengan menjebaknya?" Felix kemungkinan besar sudah tau tapi ia berpura-pura tidak mengetahui apapun di depan Thomas.
"Aku mengirimkan pesan palsu dan menyuruhnya menginap disini. Kemudian aku datang dan maafkan aku,aku meniduri kekasihmu," Thomas tanpa rasa bersalah mengakui apa yang telah ia lakukan.
Ruby memeluk Felix sambil menangis.
"Maafkan aku,seharusnya aku melawan tapi aku tidak melakukannya. Aku tidak berusaha melawannya ketika Thomas melakukan itu padaku," ujar Ruby.
"Ya aku tau. Kau tidak mungkin bisa melawan jika sudah.."
"Semua salahku,jika kau marah silahkan marah padaku jangan padanya," kata Thomas pada Felix.
"Tidak. Aku tidak marah. Anggap saja sekarang kita impas. Aku menyakitimu kemarin dan kau juga melakukan hal yang sama. Kita impas dan mulai sekarang tidak ada hal seperti ini lagi," Felix memberikan jawaban diluar dugaan Ruby dan Thomas.
Ruby yang mendengar jawaban itu tentu saja sangat bahagia,namun berbeda dengan Ruby,Thomas tidak senang dengan jawaban yang ia dengar karena Thomas berharap Felix akan marah.
"Dan satu hal lagi,aku apresiasi kejujuran mu tadi malam,kau menghubungiku dan menceritakan apa yang terjadi," tambah Felix.
"Lalu bagaimana rencana selanjutnya?" Felix mengalihkan pembicaraan.
"Kita harus menunggu pria itu. Nanti kalian tinggal mengikuti arahan ku saja," jawab Thomas.
__ADS_1
"Lagi pula kita masih punya banyak waktu untuk bersantai," tambahnya.
Ruby,Felix dan Thomas kembali masuk ke kamar hotel. Lingerie yang sudah robek terlihat di tempat sampah,dan Felix melihat hal itu.
"Maafkan aku," ujar Ruby.
"Jangan bahas itu lagi. Tadi sudah selesai kan," jawab Felix.
"Kalau kau mau meninggalkanku,tidak apa. Aku memang bersalah," Ruby merasa sangat menyesal.
"Bagaimana aku bisa meninggalkan gadis yang sangat aku cintai,bukankah kau dijebak? Sudahlah,jangan bahas hal itu," Felix benar-benar tidak ingin membahas masalah itu lagi karena ia cukup sakit hati dengan apa yang kekasihnya lakukan.
"Bagaimana bisa kau tidak marah?" Ruby yang awalnya khawatir kini merasa sedikit curiga.
Perbincangan sepasang kekasih ini menjadi tontonan yang seru untuk Thomas.
"Aku juga dulu melakukan kesalahan karena diam-diam aku berhubungan dengan wanita lain meskipun bukan sepenuhnya kemauanku dan aku meresponnya. Aku mengerti posisimu,kau bisa menolak tapi sulit. Aku pun demikian. Jadi aku memaafkanmu kali ini. Jangan kau ulangi lagi," terang Felix.
Meskipun Felix sudah menjelaskan alasannya tidak marah pada Ruby,namun Ruby merasa hal itu tidak masuk akal.
Ruby malah curiga jika Felix ternyata bermain-main di belakangnya.
"Apa sayang astaga. Apa yang aku sembunyikan?" Felix menanyakan hal apa yang Ruby curigai.
"Kemana kau kemarin menghilang?"
"Tanya mantanmu itu. Aku seharian bersamanya," jawab Felix.
Pandangan Ruby beralih ke Thomas. Thomas hanya mengangguk yang mengisyaratkan bahwa apa yang Felix katakan memang benar.
"Kau mencurigai ku bermain wanita lagi?" tanya Felix.
"Sebenarnya iya," Ruby menjawab dengan jujur.
"Aku mencintaimu. Aku akan berusaha agar kita terus bersama," Felix memberikan jawaban.
"Aku juga mencintaimu," Ruby dan Felix berciuman di hadapan Thomas yang sedari tadi mengharapkan terjadinya pertengkaran diantara mereka.
"Baiklah cukup pamer kemesraan. Pria itu sampai," Thomas berjalan lebih dulu keluar dari kamar.
__ADS_1
Ruby dan Felix mengikuti Thomas yang berjalan menuju lobi hotel.
Seorang pria tua yang wajahnya tidak asing tengah duduk di sana dan berbincang dengan seorang wanita.
"Awasi mereka," bisik Thomas.
Tiga pasang mata fokus pada dua orang itu,tidak berselang beberapa lama kedua orang yang tengah mereka intai bangun dan berjalan menuju lift.
Ruby dan Felix berjalan melewati tangga sementara Thomas ikut masuk kedalam lift.
Mereka berhenti di lantai 3 dan menuju sebuah kamar.
"Kamar 306," Thomas mengirim pesan pada Ruby.
"Astaga,dekat kamar kita," Ruby mengeluh.
Tidak membutuhkan waktu yang lama mereka berdua telah sampai di lantai 3,tidak terlihat seorang pun di lorong hotel.
"Lalu sekarang apa? Thomas tidak mengirimkan pesan lagi," ujar Ruby.
Baru saja dibicarakan,pesan langsung masuk dari nomor Thomas.
"Kalian tunggu di kamar," kata Thomas.
Ruby dan Felix hanya menurut dan mereka berjalan menuju kamar mereka.
"Aku juga ingin berhubungan i.."
"Aku tau apa yang kau inginkan sayang," Ruby mencium Felix.
"Mmh aku sangat menyukai ini," Felix mencium leher Ruby kini tengah terbaring sambil memejamkan matanya.
"Sayang," Ruby memeluk Felix dengan erat.
"Aku akan melakukannya sekarang," bisik Felix di telinga Ruby.
"Lakukan saja," jawab Ruby.
Dengan spontan Ruby mencakar Felix yang tengah menindihnya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu,selalu begitu," bisik Felix sembari menenangkan Ruby.