
"Hahahaha,ide yang bagus sayang," kata Ruby.
Mereka menghabiskan waktu bersama-sama hingga larut malam,tanpa ada seorang pun yang mengganggu mereka.
"Sudah malam. Aku pulang ya," Felix berpamitan pada Ruby.
"Baik. Sampai bertemu besok," jawab Ruby sambil berjalan mengantar Felix hingga di luar pintu rumah Ruby.
Felix kembali ke rumah,dan Ruby masuk ke kamarnya.
"Hari yang indah. Sebaiknya aku beristirahat," ujar Ruby sambil berbaring.
Perlahan-lahan rasa kantuk mulai menyerang dirinya. Ia pun tertidur.
***
Sudah satu minggu Ruby berada di Belanda. Ia harus segera pulang karena polisi membutuhkannya untuk membantu dalam kasus penculikan yang Thomas dan dirinya alami. Hari itu ia memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama Felix karena besok ia sudah tidak berada di Belanda lagi.
"Selamat pagi," Ruby datang ke rumah Felix.
Pintu rumah tampak terbuka,TV di ruang keluarga menyala dan banyak sisa-sisa makanan berceceran di lantai.
Tentu saja,Felix masih tidur.
"Kenapa pintu rumah terbuka seperti ini?" kata Ruby sambil membangunkan Felix.
"Ah,apa? Itu,tadi pagi aku keluar sebentar lalu tidur lagi," Felix masih terlihat sangat mengantuk.
"Besok aku pulang," Felix baru memberitahu bahwa besok ia akan kembali ke rumahnya.
"Hah?! Kenapa mendadak sekali?" Felix langsung bangun dari sofa nya.
"Polisi membutuhkan diriku. Aku harus pergi," jawab Ruby singkat.
"Kapan kau tau bahwa polisi membutuhkan mu?"
"Tadi malam. Aku baru mendapat info tadi malam," Ruby menjawab pertanyaan Felix.
"Kenapa tidak tadi malam saja kau memberitahu bahwa kau akan pulang? Kenapa mendadak?" Felix sebal karena Ruby mendadak memberitahukan kepulangannya.
"Maafkan aku. Aku takut mengganggu malam-malam," sesal Ruby.
Felix hanya diam dengan wajah cemberut. Ia sangat kesal pada Ruby.
"Sudah,jangan marah," bujuk Ruby.
"Kenapa kau seperti itu?"
"Aku membeli dua tiket. Apa kau mau ikut?" tawar Ruby.
"Serius?! Tentu saja aku mau menemani mu pulang," Felix langsung packing pakaian yang akan ia bawa.Tidak banyak yang ia bawa karena di rumahnya sudah banyak pakaian milik Felix.
"Ke bandara pukul berapa?" tanya Felix.
"Pukul 8 malam," jawab Ruby.
__ADS_1
"Kalau begitu aku pergi ke rumah orang tuaku dulu agar mereka tidak terkejut. Kau mau ikut?" ajak Felix.
"Ah,tidak. Aku belum siap bertemu orang tua mu," Ruby menolak ajakan Felix.
Ruby pulang ke rumah dan mengecek kembali barang-barang yang akan ia bawa pulang sementara Felix pergi ke rumah orang tuanya untuk meminta izin. Walaupun tanpa meminta izin pun Felix sudah terbiasa pergi jauh,namun kali ini meminta izin agar Ruby tidak menganggapnya anak yang tidak menghormati orang tua. Sebenarnya Felix malas pergi ke rumah orang tuanya karena Key pasti merengek meminta ikut pulang. Jadi ia memutuskan menelepon ibunya saja kemudian dia sarapan di sebuah sandwich bar.
***
Malam tiba. Ruby dan Felix berangkat menuju bandara bersama-sama dengan menggunakan taksi.
Ting..
Suara ponsel Ruby. Ia segera membuka pesan yang masuk karena mengira itu adalah pesan terkait dengan kasus yang sedang diproses. Namun,ternyata pesan itu dari Key.
"Adikmu mengirim pesan padaku," kata Ruby pada Felix.
"Hahaha pasti dia akan marah-marah," ujar Felix.
Ruby membuka dan membaca pesan dari Key.
"Kak,aku sangat kesal. Kak Felix meninggalkanku pulang tanpa memberitahu," isi pesan itu.
"Kau tidak memberitahu Key bahwa akan pulang? Dan Key tidak tau kita pergi bersama?" tanya Ruby.
"Aku tidak akan memberitahu nya. Dia pasti akan merengek ikut. Di rumah juga aku tidak bisa menjaganya. Aku harus bekerja," terang Felix.
Ruby membalas pesan itu dan mengatakan bahwa Felix ada bersamanya.
"Kakak pulang juga? Kalian pulang berdua?" balas Key.
"Ada apa?" tanya Felix via telepon.
Kakak beradik itu berdebat panjang karena Key memaksa ikut. Ruby yang muak segera merebut ponsel miliknya dari tangan Felix.
"Key,kau tidak bisa ikut. Siapa yang akan mengurusmu disana nanti? Aku tentu sangat sibuk dan kakakmu juga bekerja," Ruby berusaha memberikan pemahaman agar Key mengerti.
"Tapi aku bisa menjaga diriku sendiri!" bentak Key.
Ruby cukup terkejut karena Key bertingkah tidak sopan padanya. Felix juga merasa tidak enak pada Ruby. Ruby menarik nafas panjang dan melanjutkan pembicaraan mereka.
"Kau siapa berani membentak diriku?" jawab Ruby di telepon.
Felix sepertinya menyadari kemarahan Ruby,dan ia berusaha menenagkan.
"Biar aku yang jawab," bisik Felix. Namun Ruby tidak peduli dengan apa yang Felix katakan.
"Aku hanya ingin ikut," kata Key.
"Kalau sudah ikut apa yang mau kau lakukan? Tidak ada yang menemanimu nanti,kau pasti akan mengeluh dan merengek lagi," jawab Ruby.
"Ruby!" bentak Felix.
Ruby terkejut karena Felix membentaknya. Key juga mendengar kejadian itu.
"Ada apa?" tanya Ruby pada Felix.
__ADS_1
"Berani-beraninya kau berbicara seperti itu pada Key," sahut Felix.
"Lalu apa yang harus aku katakan? Sudah berapa kali kita menjelaskan secara baik-baik namun dia tetap saja merengek seperti anak kecil? Lalu aku harus apa kalau tidak memberinya nasihat?" Ruby mulai terpancing amarah.
Kini Ruby dan Felix sama-sama emosi.
"Tapi tidak seharusnya kau berkata seperti itu!" jawab Felix dengan nada tinggi.
"Siapa kau berani membentakku? Lalu apa yang harus aku lakukan? Kau terlalu memanjakan dia. Dia sudah remaja,kau harusnya tegas jangan memperlakukan dia seperti anak kecil yang kau biarkan terus-menerus merengek. Biarkan dia belajar berpikir,sampai rumah siapa yang akan menjaganya? Sedangkan dia harus terus diawasi karena penyakit yang ia derita. Di rumah juga dia akan kesepian dan merengek lagi. Kenapa kau malah marah padaku?" kini Ruby mulai menangis.
Ia memberhentikan taksinya dan mengambil barang-barangnya. Felix berusaha mencegah dan meminta maaf namun Ruby tetap ingin mencari taksi yang lain agar tidak satu taksi dengan Felix.
"Maafkan aku. Aku terlalu kasar,aku minta maaf. Aku tidak akan bersikap seperti ini lagi padamu. Aku berjanji," bujuk Felix.
Ruby tidak peduli dengan apa yang Felix katakan. Ia sudah sangat marah saat itu namun Felix tetap menyuruh supir taksi untuk jalan. Ia berhasil mencegah Ruby yang sudah mengambil sedikit barang-barangnya untuk turun dari taksi. Key seperti mendengar perdebatan mereka dan Ruby baru menyadari bahwa sambungan telepon antara dirinya dan Key masih terhubung. Ia segera mematikan sambungan teleponnya.
Key segera mengirim pesan yang berisi permintaan maaf. Ia juga paham maksud Ruby baik,ia menyesal telah berperilaku tidak sopan pada Ruby.
Felix menggenggam tangan Ruby,namun Ruby langsung melepasnya.
"Maafkan aku," sepanjang perjalanan menuju bandara,Felix terus menerus meminta maaf. Ia juga sangat menyesali perbuatannya pada Ruby. Tidak sepantasnya ia seperti itu. Felix menyadari bahwa maksud Ruby baik dan ia setuju dengan perkataan Ruby yang mengatakan bahwa Felix terlalu memanjakan Key. Sejak saat itu ia bertekad untuk merubah caranya mendidik Key. Supir taksi yang mendengar perdebatan mereka tadi ikut tegang,namun Felix menyadari hal itu.
"Santai saja,Pak. Aku sudah biasa ribut dengan istriku ini," kata Felix.
Dalam hati Ruby yang masih jengkel bertanya-tanya apa maksud Felix mengakui dirinya sebagai istri,namun Ruby diam saja tanpa memberi tanggapan.
"Kalian menikah di usia yang cukup muda ya?" tanya supir taksi itu.
Ruby tidak menyangka bahwa apa yang Felix katakan akan ditanggapi serius oleh supir taksi yang mengantar mereka.
"Iya. Kami baru saja menikah hahaha," Felix tertawa sambil terus mengobrol dengan supir itu. Ruby hanya terdiam dan pura-pura tidak mendengar.
Beberapa saat setelah perbincangan dalam taksi berakhir,akhirnya mereka sampai di bandara. Felix dan Ruby menurunkan kopernya masing-masing kemudian membayar ongkos taksi.
"Ayo sayang," Felix menggandeng tangan Ruby sambil menarik kopernya.
"Aku tidak akan mencampuri urusanmu lagi," Ruby melepaskan genggaman Felix dan berjalan lebih dulu.
Kini Felix tau kalau Ruby sudah benar-benar marah maka ia akan sangat sulit dibujuk. Ruby sangat jarang marah,dan memang kalau ia marah membuat orang di sekitarnya ketakutan.
"Tidak. Aku berterimakasih padamu. Darimu aku belajar bagaimana mendidik adikku yang benar. Dia selama ini memang terlalu manja dan itu salahku," terang Felix.
"Baik," jawab Ruby singkat.
"Sepertinya kau tipe ibu yang ideal," puji Felix.
Ruby hanya diam mendengar perkataan Felix.
"Aku yakin kau akan menjadi ibu yang hebat nanti," tambahnya.
__ADS_1