Journeys End

Journeys End
Chaos


__ADS_3

Perjalanan yang menyenangkan telah mereka lalui hari itu. Ruby segera kembali ke panti asuhan,bersama anak-aak lain dan juga Jennifer. Di perjalanan pulang,tidak banyak yang Ruby dan Jennifer bicarakan. Entah kenapa sejak Ruby mengatakan bahwa dirinya akan mengadopsi Zoe,Jennifer hanya terdiam. Sementara itu,Zoe malah tampak sangat gembira dan tidak sabar.


"Kak,kalau kau mengadopsiku artinya aku akan segera pergi dari panti asuhan kan?" tanya Zoe pada Ruby yang berjalan di belakangnya.


"Yap,tentu saja karena kau harus tinggal bersamaku," jawab Ruby.


"Tapi,apa kau sudah meminta izin orang tuamu? Maksudku,kau memang sudah dewasa tapi untuk urusan adopsi keluargamu juga harus tau," Jennifer kini tidak lagi hanya diam.


"Tenang saja,semua itu sudah beres. Aku sudah memberitahukan keluargaku bahwa aku akan mengadopsi Zoe. Tidak perlu khawatir," Ruby menjawab pertanyaan Jennifer.


Perjalanan mereka untuk embali ke panti asuhan terasa sangat singkat,padahal ketika mereka berjalan ke perkebunan terasasangat panjang dan melelahkan. Mungkin karena siang tadi matahari sedikit terik sehingga lebih mudah terasa lelah,dibandingkan di sore hari dimana matahari tidak terlalu menyengat kulit dan udara juga terasa sangat sejuk.


"Aku akan menelepon Felix dulu," Ruby mengeluarkan ponselnya kemudian menghubungi Felix.


"Halo. Aku akan segera kembali," kata Ruby melalui sambungan telepon.


"Ah,baiklah sayang. Aku baru bangun dan Thomas hilang entah kemana," Felix menjawab.


"Dari tadi kau hanya tidur saja? Dasar pemalas,"sambungan telepon mereka kemudian terputus karena ponsel Ruby kehabisan baterai.


"Astaga,ponselku mati," Ruby menggerutu.


"Lagi pula sebentar lagi kita akan sampai di panti asuhan. Kau bisa mengisi daya ponselmu nanti," Jennifer menyahut.


**


Makan malam sudah tersaji di meja makan. Seperti biasa,anak-anak makan di tempat yang mereka inginkan. Ada yang duduk di lantai beralaskan karpet,duduk di kursi,bahkan makan sambil berdiri. Sementara itu,Jennifer bersama dengan Ruby,Felix dan Thomas memulai makan malam mereka di meja makan setelah selesai membersihkan tubuh mereka.


"Bagaimana perjalananmu hari ini?" Felix berbasa-basi pada kekasihnya.


"Menyenangkan,karena aku suka alam bebas," jawab Ruby.


"Kenapa kau hanya menanyainya saja?" Thomas menyela.


"Karena Ruby sedikit pecemburu,aku takut dia marah jika aku menanyai Jennifer. Kau saja yang tanya," Felix menjawab pertanyaan Thomas.


"Apa maksudmu? Aku bukan wanita yang suka cemburu," Ruby tidak terima dengan "gelar" yang disematkan Felix pada dirinya.


"Baiklah,baiklah sayang. Aku hanya bercanda hahaha," Felix kini tertawa diikuti oleh teman-teman yang lain.


Mereka kemudian terdiam dan menghabiskan makan malamnya.

__ADS_1


"Oh iya. Soal adopsi Zoe,apa saja yang harus aku siapkan?" tanya Ruby. Kini pembicaraan mereka berjalan sedikit serius.


"Masalah adopsi,aku harus mendiskusikannya dulu dengan pemilik panti asuhan ini karena aku tidak memiliki kewenangan di bidang itu. Aku hanya bertugas menaga anak-anak ini," Jennifer menjawab.


"Baikah. Kapan aku bisa bertemu dengan pemilik panti asuhan?" Ruby kembali bertanya.


"Akan aku kabari secepatnya," Jennifer tidak memberikan jawaban yang pasti.


"Baik. Langsung kabari aku kalau kau sudah mendapatkan informasi dari pemilik panti asuhan," kini Thomas yang menyahut.


"Memangnya siapa pemilik panti asuhan ini?" Felix yang seperti biasa,selalu penasaran dengan apapun kini berusaha mencari informasi mengenai panti asuhan itu.


"Sepasang suami istri. Aku juga baru bertemu dengan mereka sekali. Sangat jarang mereka datang ke apnti asuhan ini karena sibuk dengan bisnis mereka. Sebagian uang yang mereka dapatkan akan digunakan untuk menghidupi anak-anak di panti asuhan ini," terang Jennifer.


"Wah,pasti mereka sepasang suami istri yang sangat baik," puji Ruby.


"Tidak juga," celetuk Zoe.


"Zoe,makanlah sambil duduk. Habiskan makananmu baru berbicra," Jennifer segera menasehati Zoe.


Zoe kemudian pergi dan duduk bersama teman-temannya.


"Zoe memiliki kebiasaan buruk makan sambil berjalan. Dan sedikit keras kepala," Jennifer mengatakan keburukan Zoe untuk menguji apakah Ruby yakin ingin mengadopsi anak itu.


Jawaban yang diberikan oleh Ruby membuat Felix dan Thomas saling pandang karena mereka merasa ada sesuatu yang terjadi antara Ruby dengan Jennifer di perjalanan tadi.


"Ah,mungkin aku kurang baik mengurus Zoe," Jennifer segera memecah keheningan.


"Ada apa sayang?" tanya Felix di depan Thomas dan Jennifer.


"Aku tidak tau kau sudah bertukar nomor ponsel dengannya," Ruby menjawab pertanyaan Felix.


"Astaga kau marah? Aku bertukar nomor ponsel untuk berjaga-jaga," Felix memberi alasan.


"Menurutku,akan lebih baik kau mengkomunikasikan segala sesuatunya dengan Ruby," Thomas menengahi sekaligus mengompori Ruby dan Felix karena walaupun kini mereka berteman,tetap saja Thomas cemburu jika melihat mantan kekasihnya akur dengan kekasih barunya.


"Kau memang pengertian. Seandainya kau tidak bermain di belakangku dulu mungkin sampai saat ini kita masi bersama," Ruby memuji kepekaan Thomas.


"Aku tidak tau bahwa bertukar nomor telepon dengannya akan membuatmu semarah ini," Felix kembali beralasan bahwa ia tidak menduga Ruby akan marah.


"Jika kau memang bertujuan untuk mengantisipasi jika ada situasi darurat aku bisa memaklumi. Tapi ketika ponselku mati,kalian berdua malah bertukar pesan di belakangku. Ku pikir aku wanita bodoh? Sudah berapa kali aku memberimu kesempatan?" Ruby tidak bisa membendung lagi air matanya.

__ADS_1


Anak-anak yang sudah selesai makan memperhatikan keributan apa yang terjadi di meja makan.


"Sayang. Astaga,aku minta maaf. Tadi aku menanyakan kenapa ponselmu mati dan karena Thomas menghilang aku merasa kesepian. Jadi aku bertukar pesan dengannya. Aku jamin tidak ada sesuatu yang terjadi dengan kami," Felix berusaha memberikan penjelasan sembari membela diri.


Thomas hanya geleng-gelengĀ  kepala melihat tingkah Felix,sementara Jennifer hanya diam.


"Kenapa kau diam?" Thomas bertanya pada Jennifer.


"Aku minta maaf,aku tidak bermaksud membuat kekacauan seperti ini. Sejak aku berkirim pesan tadi aku menyadari aku telah melakukan kesalahan," jawab Jennifer.


"Sayang,aku bersalah. Maafkan aku,aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku mengaku salah," setelah melihat Jennifer mengaku,kini Felix ikut mengakui kesalahannya.


"Wah hebat sekali. Setelah dia mengaku kau baru mau mengakui kesalahanmu. Jika tidak,kau pasti akan terus membuat alasan," ujar Ruby.


"Aku beri tau. Bukannya Ruby overprotective,tapi tidak wajar jika kalian berdua bertukar nomor telepon tanpa sepengetahuan Ruby seperti itu," Thomas kembali mengompori.


"Sepertinya kau sudah banyak berubah," Ruby berkata pada Thomas.


"Aku salah. Apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkanku? Aku akan menghapus nomor ponselnya," Felix mengambil ponsel dan menunjukkan pada Ruby bahwa ia akan menghapus nomor Jennifer.


Sebenarnya Ruby biasa saja namun semakin hari ia merasakan ada sesuatu yang janggal,ditambah Ruby memergoki Jennifer berkirim pesan tidak penting pada Felix.


"Felix,sejak masalah di motel itu aku sudahkatakan bahwa aku merasa tidak cocok denganmu. Kita akhiri saja hubungan ini. Jujur aku tidka bisa menaruh kepercayaan lagi padamu. Aku lelah menghadapi hubungan seperti ini. Ternyata kau sangat manipulatif," Ruby mengungkapkan isi hatinya.


"Ruby,aku tidak ada maksud sedikitpun untuk merusak hubungan kalian.Au mohon kau jangan melakukan ini karena masalah tadi," Jennifer merasa sangat bersalah setelah melihat apa yang dirinya dan Felix lakukan berujung pada Ruby yang ingin mengakhiri hubungannya dengan Felix.


"Penggoda memang akan selalu ada,tergantung bagaimana dia menanggapinya. Dan lihat saja,dia di belakangku seperti itu dan ini tidak hanya sekali terjadi," Ruby menjawab agar Jennifer tidak usah merasa bersalah. Meskipun Ruby kesal dengan Jennifer tapi ia masih bisa menahannya. Namun berbeda dengan rasa marahnya pada Felix,karena bagi Ruby kunci hubungan ada pada dirinya dan pasangannya itu sendiri. Meskipun ribuan penggoda datang,jika Felix tidak membuka pintu maka mereka tidak akan dapat masuk.


Felix yang melihat masalah ini menjadi semakin serius kini menyadari ia telah melakukan kesalahan dan melukai Ruby lagi.


"Tidak,aku tidak mau hubungan kita berakhir seperti ini. Maafkan aku. Ini yang terakhir aku melukaimu seperti ini," Felix menolak untuk berpisah.


"Lalu besok kau akan melukaiku dengan cara yang berbeda? Hari ini berkirim pesan,besok saling menelepon. Begitu maksudmu?" Ruby sengaja memancing amarah Felix.


"Jujur,rasa sayangku padamu semakin berkurang," tambah Ruby.


"Aku tidak peduli. Aku sangat mencintaimu," Felix tidak peduli dengan apa yang Ruby katakan.


"Bukankah pasangan harus memiliki rasa cinta yang sama besar? Bagaimana hubungan seperti ini akan bertahan?" Ruby berusaha menggoyahkan pendirian Felix yang masih ingin bersamanya.


"Aku tidak peduli. Aku tidak peduli rasa cintamu sebesar apa. Aku tidak akan pernah mau berpisah," Felix masih tetap pada pendiriannya.

__ADS_1


"Terimakasih untuk makan malamnya. Aku harus pulang," Ruby bangun dan mengambil tas nya. Setelah menyapa anak-anak sebentar,ia berjalan menuju pintu disusul oleh Thomas.


"Felix,kau menginap saja disini," Ruby menyindir Felix yang bangun dari tempat duduknya untuk menyusul dirinya dan Thomas,namun Felix tidak peduli dengan apa yang kekasihnya itu katakan. Ia masih beranggapan karena Ruby marah makanya ia mengatakan hal seperti itu padahal Felix tau,Ruby bukan tipe orang yang dengan mudah mengungkapkan kata berpisah. Felix membohongi dirinya sendiri. Setidaknya itu yang bisa ia lakukan sekarang untuk menenangkan perasaanya yang sedih dan marah. Ia sedih telah menyakiti Ruby lagi,dan mendengar bahwa Ruby sudah tidak mencintainya sebesar dulu. Dan di satu sisi,Felix marah karena ia tidak bisa menjaga perasaan kekasihnya,ia terus melakukan kesalahan dan tidak pernah menyadari apa yang ia lakukan akan menyakiti perasaan wanita yang sangat ia cintai.


__ADS_2