Journeys End

Journeys End
tell your mom I said what's up


__ADS_3

Berjalan di pinggir pantai selama berjam-jam membuat kaki Ruby sedikit pegal,ia memutuskan untuk duduk di sebuah batu karang besar. Air mulai pasang,deburan ombak menyentuh batu karang memecah kesunyian di sore yang sepi. Pantai yang Ruby kunjungi memang ditutup sementara untuk wisatawan dikarenakan sebuah wabah yang sedang melanda banyak negara.


"Kenapa ibu melakukan itu?" Ruby berbicara pada dirinya sendiri.


Krek..


Terdengar suara sesuatu di dekat Ruby. Entah ranting atau dedaunan yang terinjak atau sesuatu yang lain,Ruby juga tak tahu.


"Hm.. Anjing itu mengganggu saja," gerutu Ruby. Ia bangun dari tempat duduknya kemudian berjalan menuju tempat mobilnya terparkir.


Sebuah sedan biru juga berjalan di belakang Ruby. Ia merasa sedikit lega karena tidak sendirian di tempat yang sepi itu.


"Untung saja ada orang lain. Apa yang aku lakukan di tempat ini hingga gelap? Sekarang aku malah ketakutan sendiri," Ruby semakin mempercepat laju mobilnya hingga akhirnya ia sampai di rumah dengan selamat.


Reno dan teman-teman yang lain sudah pulang sejak sore tadi karena takut Ruby tiba-tiba datang.


Di rumah,Felix sudah menyiapkan makan malam yang ia masak sendiri khusus untuk Ruby.


"Kau sudah pulang ya. Mandi dulu,aku sudah menyiapkan makan malam," ujar Felix.


Ruby bergegas ke kamar mandi dan membasahi dirinya dibawah shower dengan air hangat. Ia berjongkok sambil mengusap-usap rambutnya yang mulai basah karena air.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya nya pada diri sendiri.


*


Malam semakin larut. Ruby dan Felix masih belum tertidur satu sama lain.


"Mau aku temani?" Felix menghampiri Ruby di ruang kerjanya.


"Boleh saja," jawab Ruby.


"Kemana kau tadi?" Felix bertanya.


"Setelah ke studio aku sempat pergi ke pantai sebentar," jawab Ruby sambil terus menulis.


"Oh iya,apa kabar ibumu?" tanya Ruby.


"Eh,ibu? Baik-baik saja," Felix menjawab dengan terbata-bata.


"Ada apa? Kenapa kau tampak terkejut?"


"Tidak. Hanya saja kau tumben menanyakan tentang ibuku," Felix menjawab dengan lebih tenang.


"Katakan padanya bahwa aku menanyakan kabar ibumu ya," Ruby mengatakan kalimat terakhir sebelum ia menyelesaikan pekerjaannya dan kembali ke kamar untuk tidur.

__ADS_1


"Sayang," Felix mengikuti Ruby.


"Iya? Ada apa?" sahut Ruby.


"Apa ibuku melakukan sesuatu padamu? Katakan semua padaku,aku akan mengatasi semuanya," ujar Felix.


"Tidak. Bahkan kami tidak pernah berkomunikasi. Aku kan belum mengenal ibumu," jawaban Ruby.


"Jika ada apa-apa katakan saja padaku ya," pinta Felix.


"Tentu saja sayang," Ruby berusaha menormalkan suasana agar terlihat tidak ada sesuatu yang terjadi karena memang situasi sedang baik-baik saja,tidak ada hal buruk yang menimpa Ruby.


"Ayo tidur," ajak Ruby.


Malam itu Ruby dan Felix menghabiskan malam berdua setelah sekian lama mereka tidak tidur bersama.


***


Jadwal Ruby sangat padat. Setelah menyelesaikan kuliah online nya ia harus menemui seorang teman untuk membicarakan naskah. Ada sebuah project short movie yang segera diproduksi,Ruby mendapat pekerjaan untuk mengurus naskah nya.


"Sayang,aku pergi. Jika kau mau jalan-jalan pakai saja motorku," seru Ruby pada Felix yang sedang mandi.


"Baiklah," jawab Felix.


"Kemana lagi anak ini. Tadi ia berkata sudah berada di cafe," gerutu Ruby.


Ruby menghubungi temannya itu namun belum sempat ia memencet tombol panggilan,muncul seorang wanita sambil melambaikan tangan kearah Ruby.


"Itu dia," Ruby melambaikan tangan kembali pada wanita itu.


"Kau mencari-cari ku ya? Aku tadi ke toilet," ujar Ava.


"Ah,aku kira kau berbohong saat berkata sudah berada di cafe," jawab Ruby.


Setelah memesan kopi,mereka berdua membicarakan naskah yang sudah mereka bicarakan via telepon tadi malam.


"Ini naskahnya. Coba dibaca dulu," Ruby memberikan naskah yang sudah ia buat pada Ava.


"Nanti saja di rumah," Ava memasukan naskah itu kedalam tas nya.


"Hey aku penasaran. Kau ingin meminta tolong masalah apa?" tanya Ava.


"Bisakah kau menjadi pengantar pesan ku?" tanya Ruby.


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


Ruby mengeluarkan sebuah novel yang di dalamnya terselip sebuah surat. Ava menyadari mungkin hal ini bersifat sangat rahasia jadi ia berpura-pura santai dan berkata akan mengembalikan novel Ruby minggu depan. Ruby dan Ava berbincang cukup lama mengenai masalah kuliah mereka dan janji temu dengan dosen siang ini. Mereka pergi ke kampus bersama-sama.


Matahari mulai terbenam. Ruby sudah mengantar Ava kembali pulang ke rumahnya sementara itu Ruby pergi ke sebuah museum lukisan kuno. Tempatnya terlihat antik dan indah ala kastil jaman dulu,namun sayang tempat itu tidak terlalu ramai pengunjung.


Ruby masuk sambil membawa sebuah paper bag berisi makanan.


Seorang wanita tua menyambut Ruby dengan hangat,ia adalah penjaga museum itu yang berjaga bersama dua orang anaknya. Ruby memberikan bingkisan yang ia bawa pada wanita itu kemudian ia masuk dan berkeliling museum seorang diri. Meskipun sepi,tapi tetap masih ada orang yang mengunjungi museum itu,terlihat di parkiran ada sebuah mobil sedan biru yang baru saja datang ketika Ruby masuk kedalam museum.


Ruby duduk di sebuah bantalan empuk yang letaknya di depan sebuah lukisan wanita berpakaian ala kerajaan Inggris. Ia duduk dan menatap lukisan itu untuk beberapa saat kemudian Ruby pergi dari tempat itu. Ia memutuskan untuk singgah ke supermarket,membeli beberapa daging yang Felix sukai. Entah kenapa ia sangat ingin ke perkemahan karena ia sangat penasaran dengan wanita misterius yang berlari di tengah hutan saat Maghrib.


"Apa dia korban baru sekte itu?" Ruby terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Sesampainya di rumah,Ruby menyiapkan daging itu untuk ia panggang dan akan ia hidangkan untuk Felix.


"Sayang," ujar Ruby pada Felix.


"Iya?" jawab Felix.


"Aku ingin menghabiskan malam denganmu," goda Ruby sambil duduk di pangkuan Felix.


"Apa maksudmu sayangku?" Felix pura-pura tidak mengerti. Felix memeluk erat pinggang Ruby sambil mengecup belakang leher Ruby.


Ruby berbalik badan dan mencium Felix yang tengah asik memainkan rambut Ruby.


"Hm,tidak biasanya," bisik Felix.


"Aku merindukanmu," balas Ruby.


"Aku juga," Felix menggendong Ruby ke kamar untuk menghabiskan waktu bersama.


"Apa ibumu tidak marah aku menelanjangi anaknya seperti ini?" tanya Ruby sebelum memulai.


"Jangan sampai ada yang tau," jawab Felix sambil berbisik.


"Tapi tunggu. Aku sudah memanggang daging,makanlah," Ruby lantas bangun dari pangkuan Felix dan berjalan menuju meja makan.


Felix yang hampir saja menerkam Ruby hanya menurut dengan wajah lesu.


"Kenapa wajahmu seperti itu. Kita bisa melakukannya sehabis makan," ujar Ruby.


Felix makan dengan lahap dam cepat agar bisa segera menghabiskan waktu bersama Ruby di kamar.


"Selesai," Felix menggendong Ruby yang baru saja meneguk minumannya. Piring-piring dam sisa makanan masih berantakan di atas meja namun Felix sudah keburu menggendong Ruby masuk kedalam kamar.


Mereka beradu satu sama lain tanpa menutup pintu kamarnya. Seakan-akan mereka ingin semua orang tau bahwa tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka,termasuk keluarga mereka sendiri.

__ADS_1


__ADS_2