Journeys End

Journeys End
afraid


__ADS_3

Felix mempercepat laju mobilnya. Thomas mengikuti di belakang Felix.


"Halo," Ruby menjawab panggilan masuk Thomas.


"Kalian pulanglah aku akan menghambat laju kendaraan mereka," ujar Thomas.


"Tidak,kita pulang bersama-sama. Aku tidak mau tau," Ruby menolak bantuan Thomas kemudian langsung mematikan ponselnya. Sementara itu Felix mempercepat laju mobilnya hingga sampai di tempat ramai.


"Syukurlah kita kembali ke jalan raya," Ruby merasa bersyukur.


"Benar," jawab Felix sambil membuka ponselnya kemudian ia taruh kembali di saku celananya.


"Dimana Thomas. Kenapa lama sekali," Ruby menunggu Thomas yang tiba-tiba hilang di belakang mobil Ruby.


"Sayang,telepon dia," suruh Ruby.


"Dia akan baik-baik saja. Aku akan mengantarmu pulang," Felix kembali menjalankan mobilnya dengan pelan untuk mengantar Ruby pulang.


"Sayang,nanti aku pinjam mobil ya. Aku lupa membeli beras," kata Felix.

__ADS_1


"Baiklah. Kenapa tidak langsung sekarang saja?" tanya Ruby.


"Aku akan langsung bertemu teman," jawab Felix.


"Sekarang kau sudah punya teman ya disini," ledek Ruby.


"Hey,aku kan memang mudah bergaul. Memangnya kau,temanmu hanya itu-itu saja," Felix meledek balik Ruby.


"Walaupun itu-itu saja tapi semua teman-temanku adalah orang baik," Ruby mengeluarkan argumennya.


"Baiklah sayang,aku tidak ingin berdebat. Aku akan menemui Thomas dan Reno habis ini. Urusan pria," Felix memberi tahu Ruby dengan siapa ia akan bertemu.


"Oh baiklah kalau begitu," Ruby kemudian diam sambil bermain Instagram.


Malam semakin larut namun Felix belum juga pulang. Begitu juga Thomas dan Reno,mereka berdua sangat sulit dihubungi.


Ruby memutuskan untuk pergi berjalan-jalan mengendarai motornya.


Sebuah tempat makan dengan masakan rumahan menjadi menu utamanya ialah tempat yang Ruby kunjungi,biasanya ia makan di sana bersama dengan keluarganya.

__ADS_1


"Nak,sudah lama tidak mampir," sapa seorang ibu tua yang merupakan pemilik rumah makan itu.


"Iya bu,saya sedikit sibuk akhir-akhir ini," jawab Ruby.


"Apa yang ingin kau pesan? Seperti biasa?" tanya ibu itu lagi.


Ruby hanya mengangguk sambil tersenyum dan wanita tua itu pun pergi meninggalkan Ruby duduk di meja makannya.


Sembari menunggu makanan datang,para pengunjung menikmati acara TV lokal yang tayang malam itu. Sebuah berita pembunuhan muncul di TV,sebuah rumah makan yang merenggut nyawa sepasang suami istri yang sudah lansia.


Sebuah pembunuhan terjadi sore tadi,sepasang suami istri yang sudah lanjut usia menjadi korban pembunuhan dari cucunya sendiri. Dua orang pria muda menjadi saksi mata dalam kejadian itu,namun identitasnya dirahasiakan untuk menjaga keamanan dari saksi mata. Belum diketahui apa motif dari pembunuh dalam kasus pembunuhan ini,hingga saat ini polisi masih berada di TKP.


Seorang pria dengan tangan terborgol terlihat berjalan menuju mobil polisi dengan pengawalan ketat. Wajahnya tidak menunjukkan adanya penyesalan sedikitpun. Awak media berkerumun dan mencerca pria muda itu dengan berbagai pertanyaan,namun hanya satu hal yang pria itu katakan,yaitu "aku mengkhianati kakek dan nenekku" dan baru saat itu ia terlihat sedikit emosional.


Pemilik rumah makan membawakan makanan yang Ruby pesan. Sementara itu,Ruby masih sibuk menghubungi Thomas,Felix dan Reno.


"Apa mereka yang menjadi saksi? Kakek,nenek,maafkan aku. Tidak seharusnya aku meninggalkan kalian. Seharusnya aku mengajak kalian pergi bersamaku tadi," ungkap penyesalan Ruby.


Pemilik rumah makan tidak mengerti dengan apa yang Ruby ucapkan karena ia juga belum mendengar berita pembunuhan itu sebab jarak dapur dari meja tempat Ruby duduk cukup jauh.

__ADS_1


"Ada apa,nak?" tanya ibu tua itu.


"Mereka terbunuh karena menyelamatkanku," Ruby dengan mata merah dan tatapan tajam mengatakan hal yang tidak masuk akal menurut si pemilik rumah makan.


__ADS_2