
Suara tawa pecah di dalam kamar Felix dan Ruby. Thomas juga ikut bergabung disana,mendengarkan semua yang dialami Ruby sejak kemarin.
Tok.. Tok..
Terdengar suara ketukan pintu,Felix bangun dan membuka pintu untuk melihat siapa yang mengganggunya yang tengah beristirahat.
"Hai,ada apa?" sapa Felix pada Poppy.
"Aku hanya ingin memastikan keadaan Ruby," jawab Poppy.
"Ruby tidak ada disini. Sebenarnya ia menghilang dari kemarin," Felix tanpa sadar mengatakan masalah yang sedang terjadi. Untungnya saat Poppy datang Ruby pergi ke kamar mandi. Mendengar perkataan Felix,Thomas mencegah Ruby keluar dari kamar mandi.
"Kami akan beristirahat sebentar dan lanjut mencari Ruby lagi nanti," timpal Thomas. Ia sengaja berbicara dengan keras agar Ruby mendengar dari kamar mandi.
"Apa perlu aku membantu? Ah,maksudku aku akan membantu mencari Ruby," kata Poppy dan ia pergi begitu saja meninggalkan Felix dan Thomas.
Saat Poppy dipastikan sudah pergi dari kamar mereka,Ruby keluar dari kamar mandi secara perlahan.
"Ada apa?" tanya nya.
"Felix keceplosan mengatakan kau hilang dan dia malah mengatakan kau sampai saat ini belum ditemukan," jawab Thomas.
"Maafkan aku,aku sedikit kacau," Felix meminta maaf pada mereka.
"Seterpesona itukah kau melihat Poppy?" sindir Ruby.
"Terpesona apa? Aku hanya kelelahan," Felix mengatakan apa yang memang sebenarnya ia rasakan.
"Bertengkarnya nanti saja saat aku kembali ke kamarku. Lanjutkan ceritanya," Thomas menengahi.
Saat Ruby pergi ke tempat dimana pohon besar itu tumbang,ia hampir saja ketahuan oleh penjaga karena ia secara tidak sengaja menginjak ranting pohon. Ruby perlahan-lahan mundur dan menenggelamkan diri kedalam sungai. Ketika ia melihat bayangan seseorang di pinggir sungai,secara bersamaan terdengar suara panggilan yang entah itu kode apa,semua orang berkumpul di depan pohon besar yang tumbang itu. Ruby sedikit mengintip dari dalam air namun yang ia lihat justru sesosok mayat perempuan seusianya. Ia merasa pernah melihat wanita itu,lalu ia memotret mayat yang ia lihat dengan ponselnya.
"Bagaimana ponselmu bisa hidup padahal ada di dalam air?" Thomas heran.
"Apa kau tidak mengikuti perkembangan teknologi? Ponselku ini anti air," ledek Ruby.
"Mana fotonya?" Felix sangat ingin melihat mayat itu.
"Tapi,setelah seharian berendam ponselku mati," jawabnya dengan lesu.
"Hahahahaha ponselnya rusak," Thomas kini berbalik meledek Ruby.
Mereka sedikit becanda satu sama lain yang membuat Felix sedikit kurang nyaman.
"Dimana ponselnya?" Felix berniat untuk mengecek ponsel Ruby.
Ruby menunjuk ke arah jendela dan terlihat ponsel Ruby sedang dijemur.
"Kenapa kau jemur?" Felix protes.
__ADS_1
"Ya,supaya kering," Ruby menjawab dengan santai.
"Untung saja aku mempunyai ponsel cadangan," tambahnya sambil memainkan ponsel lamanya.
"Pindahkan saja kartu memorinya," saran Thomas.
"Ah iya. Aku lupa sudah memasang memory card," Ruby bangun dan mengambil ponselnya di dekat jedela. Ia mengutak-atik ponsel yang belum lama ini dia beli,karena terlalu canggih Ruby sedikit kebingungan,begitu juga Thomas.
"Biar aku saja," Felix mengambil ponsel itu dari tangan Ruby. Setelah mencoba-coba,ia berhasil mengeluarkan kartu memori itu. Felix kemudian memasukannya kedalam ponsel lama Ruby.
"Sejak kapan kau memiliki dua ponsel? Aku melihat ponselmu ini di tempat tidur jadi aku kira kau pergi tanpa membawa ponselmu," Felix sedikit jengkel karena ia merasa tidak mengetahui apa-apa tentang kekasihnya.
"Sebelum kita pergi ke tempat ini,aku mengambil ponsel baruku ini. Aku dulu membelinya untuk Thomas tapi karena kami putus ya sudah aku pakai sendiri," jawab Ruby.
Thomas tersenyum dan tersipu malu dengan apa yang Ruby katakan. Pemandangan itu terlihat menjijikan bagi Felix.
"Sudah masuk. Ayo cek fotonya," Ruby mencari galeri dimana foto itu tersimpan. Syukurnya ia menyimpan semua foto di memory card,bukan di penyimpanan telepon.
"Bukankah dia orang yang juga pernah menginap disini?" kata Felix dengan suara keras.
"Bisa pelankan suaramu?" Ruby terlihat sedikit jengkel.
"Benar,wanita ini istri dari orang yang memberitahuku bahwa tempat ini akan dikosongkan," Felix menambahkan.
"Pantas saja wajahnya seperti tidak asing," Ruby prihatin sekaligus penasaran dengan penyebab kematian wanita itu.
"Sebenarnya aku sudah menelepon polisi,tapi kenapa polisinya tidak datang?"
"Sudah ku bilang kita tidak bisa mengandalkan polisi," kata Felix.
"Lalu mayatnya kita biarkan begitu saja?" Ruby merasa buntu,tidak tau apa yang harus ia lakukan.
"Kita kuburkan saja nanti malam," jawa Thomas.
"Lanjutkan ceritamu," pinta Felix
Setelah Ruby melihat mayat itu,ia berenang melawan arus sungai agar menjauh dari tempat penjagaan,namun ia malah melihat segerombolan orang sedang menata tempat di dekat motel,namun letaknya di pinggiran hutan yang tidak terlalu lebat. Ia berpikir bahwa itu adalah anggota sekte yang diceritakan wanita yang mereka temui beberapa waktu yang lalu. Karena melihat jubah yang digunakan oleh beberapa orang disana mirip dengan jubah yang digunakan oleh mayat wanita yang ditemukan Ruby,maka Ruby mengganti pakaiannya dengan jubah itu,sementara pakaian Ruby ia pakaikan di tubuh mayat wanita yang ia temukan.
"Aku memiliki rencana," ujar Ruby.
"Aku tidak setuju," Thomas yang belum mengetahui apa rencana Ruby di awal sudah tidak menyetujui karena biasanya jika menghadapi situasi berbahaya seperti ini Ruby mengeluarkan ide yang cukup berbahaya.
"Bahkan kau belum tau apa idenya," kata Felix.
"Ternyata kau belum mengenal Ruby sepenuhnya," Thomas menatap Felix sambil tersenyum kecil.
"Aku ingin mendengar rencanamu," ujar Felix.
Ruby berencana akan menyamar menjadi anggota sekte itu,karena saat ia pergi keluar area yang akan dijadikan sebagai tempat dilakukannya ritual,sebelumnya ia mendapatkan tugas menyiapkan berbagai rempah-rempah yang sudah dikeringkan,dan Ruby menyelesaikan pekerjaan itu dengan cepat jadi ia mendapatkan waktu istirahat lebih dulu dan akan kembali berkumpul disana malam nanti.
__ADS_1
"Mereka tidak mengenali wajahmu?" tanya Thomas.
"Saat masuk kesana,semua menggunakan penutup wajah tipis,hanya pemimpinnya saja yang tidak memakai penutup," jawabnya.
"Kalau begitu biarkan saja mayatnya disana,agar mereka mengira bahwa akulah yang tewas. Selama misi ini,aku akan bersembunyi," tambahnya.
"Ide mu terlalu gila," kata Felix.
"Apa aku bilang," kata Thomas sinis.
"Jadi kalian paham kan kenapa Poppy mengkhawatirkanku?" tanya Ruby.
"Hah? Kenapa? Aku tidak paham," jawab Felix.
"Aku juga," Thomas ikut menjawab.
"Mantan dan kekasihku sepertinya sedikit bodoh," ujar Ruby.
"Apa? Katakan," Felix semakin penasaran.
"Sepertinya mayat wanita itu sudah ditemukan dan ia mengira aku adalah wanita itu," jawab Ruby.
"Dan untungnya Felix mengatakan aku belum ditemukan," tambahnya.
"Hahaha aku memang sangat pandai bahkan aku salah bicara saja bisa mengamankan situasi," ujarnya dengan bangga.
"Karena sudah sejauh ini,kalian harus membantuku. Aku akan mengacaukan rencana mereka," kata Ruby sambil tersenyum.
"Kau sudah benar-benar marah ya? Hahaha," tawa Thomas.
"Dia terlihat biasa saja,tidak marah," sahut Thomas.
"Kau belum mengenal Ruby lebih jauh," itulah kata-kata terakhir yang diucapkan Thomas sebelum ia kembali ke kamarnya.
"Memangnya kau marah?" Felix masih tak aham.
"Tentu saja,karena sekte ini aku harus membatalkan pekerjaanku yang harusnya aku lakukan hari ini," jawabnya.
"Pekerjaan apa?"
"Harusnya aku mengedit naskah seseorang dan janjinya hari ini. Tapi kami tidak bisa bertemu," ujar Ruby kesal.
"Kenapa dia tau kau marah,tadi kau terlihat biasa saja," Felix belum mendapatkan jawaban yang ia inginkan.
"Kalau aku marah,wajahku akan terlihat bahagia tapi aku akan melakukan hal yang ya,nekad," Ruby merebahkan tubuhnya dan memeluk Felix.
"Aku mohon berhati-hati lah," bisik Felix.
"Aku mencintaimu," Ruby tidak mengiyakan perkataan Felix agar berhati-hati dalam misi malam nanti.
__ADS_1