Journeys End

Journeys End
i want you to be happier


__ADS_3

"Seharusnya kita bisa saja pergi dari sini dengan mudah. Kenapa semua terasa serba sulit sekarang?" gerutu Ruby.


"Semuanya hanya karena sebuah pohon," Felix ikut mengeluh.


"Sebenarnya aku bisa saja menikmati waktu disini lebih lama,seandainya kau tidak merusak suasana hatiku," ujar Ruby.


"Ya,aku tau. Aku yang memulai semua kekacauan ini," jawab Felix dengan santai. Namun hal itu justru terasa aneh bagi Ruby,karena biasanya Felix menjawab dengan wajah tertekannya karena merasa bersalah. Namun kali ini ia tampak berbeda.


"Lalu apa yang dia lakukan? Apa tidak ada upaya memindahkan pohon yang tumbang?" tanya Ruby.


"Dia siapa yang kau maksud? Mereka memiliki nama!" jawab Felix dengan sedikit membentak.


"Kenapa kau marah? Aku bertanya baik-baik," Ruby sangat kesal dengan tingkah Felix.


"Semakin kesini aku tidak menyukai sifatmu," Felix mengeluarkan pernyataan yang cukup mengejutkan bagi Ruby.


"Kau sangat sering marah," tambahnya.


"Memangnya kenapa? Kekasihku sekamar dengan wanita lain,kemudian membelanya dan menuduhku tanpa tau apa sumber masalahnya. Apa itu tidak cukup untuk membuatku marah? Kenapa sepagi ini kau memancing pertengkaran?" Ruby tidak terima dengan perkataan Felix.


"Kalau kau tidak suka,tinggalkan saja aku. Aku juga baru mengetahui sifat aslimu yang kasar,suka menuduh dan mudah tergoda," Ruby pergi meninggalkan Felix.


Felix awalnya asal bicara tanpa memikirkan dampak yang akan ditimbulkan dari ucapannya. Kini ia telah membuat Ruby kembali marah. Orang-orang yang melihat itu mungkin akan mengecap Ruby dengan label wanita pemarah,namun dibalik itu semua ada alasan yang jelas,yang membuat sikap Ruby seperti itu.


"Baik. Kali ini apa yang kau katakan pada kekasihmu,bodoh!" Felix memaki dirinya sendiri.


Ruby terlihat berjalan menuju rumah Poppy,ia berniat untuk berbicara dengannya.


"Permisi," sapa Ruby di luar rumah.


Ibu Poppy yang sampai saat ini belum ia ketahui namanya,sedang menyeruput teh panasnya.


"Silahkan masuk," jawab ibu Poppy dengan ramah. Tidak seperti biasanya,kali ini ia banyak tersenyum pada Ruby padahal biasanya selalu memandang Ruby dengan sinis,setelah perdebatan pertama mereka.


"Ada apa? Pasti sesuatu yang penting sehingga kau datang sepagi ini," ibu Poppy mengawali pembicaraan.


Karena disambut dengan sangat baik,Ruby menjaga sikapnya walaupun ia masih sedikit kesal dengan wanita itu,dan terutama pada anaknya.


"Aku ingin menanyakan,apakah perlu bantuan untuk memindahkan pohon yang tumbang itu? Sebenarnya aku ingin pulang karena sudah kehabisan uang untuk menyewa motel ini," Ruby sebelumnya sudah mencari alasan untuk dapat segera meninggalkan motel itu.


"Tidak usah dibayar. Kau boleh tinggal dengan gratis," jawab ibu Poppy.


Rencana yang sudah Ruby susun tadi malam dengan rasa percaya diri tinggi akan berhasil kini hancur begitu saja.

__ADS_1


"Gratis? Tidak,aku tidak bisa menerima sesuatu seperti itu," Ruby menolak tawaran ibu Poppy karena ia benar-benar ingin pergi dari sana.


"Pohon itu akan segera disingkirkan tapi entah kapan mereka datang," kata ibu Poppy.


"Mereka? Petugas.."


"Kami tidak mengizinkan sembarang orang masuk ke wilayah ini mulai hari ini," ibu Poppy tersenyum menyeringai,membuat Ruby bergidik ngeri.


Namun di sisi lain,ia berusaha memanfaatkan kesempatan mengobrol berdua dengan wanita itu untuk mendapatkan banyak informasi.


"Aku kurang nyaman disini. Ada yang mengintipku dan kekasihku dari lubang udara," Ruby memancing wanita itu.


Ibu Poppy terlihat sangat terkejut dengan matanya terbelalak. Namun dengan cepat ia kembali tersenyum.


"Hanya perasaanmu. Disini tidak ada hantu hahaha," ia tertawa nyaring. Suara tawanya cukup menyeramkan membuat suasana menjadi mencekam walaupun saat itu masih pagi.


"Masalahnya,aku melihatnya sendiri. Dan aku mempunyai bukti rekamannya. Aku tidak mengira itu adalah hantu,aku tau itu manusia. Seorang wanita," Ruby tersenyum.


Ia mulai memainkan permainan yang telah dibuat oleh ibu Poppy dan putrinya.


"Apakah ada akses masuk ke atas sehingga ada orang yang bisa mengintip dari ventilasi?" Ruby mulai mencerca wanita itu dengan pertanyaannya. Sebagai seorang mahasiswa hukum sudah biasa baginya mengeluarkan pertanyaan yang membuat lawan bicaranya merasa tersudutkan.


"Tidak. Tidak ada. Hanya bisa naik dengan tangga dari belakang motel. Biasanya tukang yang memperbaiki motel naik keatas," jawab ibu Poppy.


"Aku akan membereskannya dan membuatmu tinggal dengan nyaman," jawaban ibu Poppy.


"Tidak,aku hanya penasaran bagaimana rasanya mengintip sepasang kekasih sedang bermesraan," Ruby tersenyum licik.


"Nanti kau jatuh,berbahaya. Aku berjanji malam ini akan aku pastikan tidak ada yang mengganggumu dan kekasihmu," katanya meyakinkan Ruby.


Ruby merasa lega mengetahui akses masuk keatas,diamana tanpa disadari ibu Poppy telah mengakui bahwa diatas sana ada sebuah tempat rahasia. Namun,di sisi lain Ruby juga menyadari bahwa dirinya dalam bahaya dan ia tidak ingin melibatkan orang-orang terdekatnya.


"Oh iya,aku dan Felix sudah tidak ada hubungan apa-apa jadi kau bisa memberitahu putrimu jika ia masih berminat dengan Felix," Ruby melemparkan senyum manisnya.


Ibu Poppy mati kutu,ia tidak menjawab untuk waktu yang lama.


"Ah,tidak. Aku tidak akan membiaran anak itu mengganggumu. Aku berjanji,kalian tidak perlu mengakhiri hubungan," ibu Poppy menjawab.


"Tapi hubungan kami telah hancur karena putrimu," Ruby masih tersenyum sambil meneteskan air mata.


Ibu Poppy menunduk. Ia merasa kasihan dengan Ruby yang datang kesana dengan bahagia bersama kekasihnya namun kini semuanya berantakan.


"Aku.. Aku akan berusaha.." ibu Poppy berbicara dengan terbata-bata.

__ADS_1


Tiba-tiba Poppy muncul dan ia berlutut di kaki Ruby yang sedang terduduk.


"Maafkan aku. Aku tidak bermaskud seperti ini. Bukan ini yang aku inginkan. Aku tidak berniat menghancurkan hubungan kalian. Maafkan aku," kata Poppy yang entah datang darimana.


"Kau pikir dengan seperti ini hubunganku bisa kembali normal?" Ruby yang memiliki hati lembut saat itu terlihat berbeda. Dia sama sekali tidak merasa iba pada Poppy.


"Kau seperti ini karena Felix disini bukan? Kau mau menarik perhatiannya dan membuat dia berpikir buruk tentangku," tambah Ruby.


Felix masuk tanpa permisi ke rumah itu. Ia memang mengikuti Ruby dari tadi dan menguping pembicaraan mereka dari luar. Felix cukup terkejut mengetahui Ruby yang menyadari kehadirannya.


Namun kedatangan Felix tidak merubah situasi. Semuanya terdiam,hanya Ruby yang terus berbicara seakan-akan mengungkapkan apa isi hatinya. Dari sorot mata ibu Poppy yang juga seorang wanita dan seorang ibu,ia terlihat iba pada Ruby.


"Dan kau. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa mulai sekarang," Ruby menatap Felix dengan dalam. Ia yang tersenyum sedari tadi walaupun tetap mengeluaran air mata,kini telah kehilangan senyumannya.


"Kau mulailah hidupmu tanpaku,sayang," Ruby bangun dan bergegas pergi dari rumah itu.


Tanpa memperdulikan Poppy yang masih terduduk di lantai,Felix mengejar Ruby. Ia sangat menyesal,seandainya tadi pagi ia tidak sembarangan berbicara dan menyakiti perasaan Ruby,ini semua tidak akan terjadi.


"Sayang,beri aku kesempatan," Felix mengejar Ruby menuju kamarnya.


"Aku sudah dua kali memberimu kesempatan. Sekarang kau meminta kesempatan lagi untuk menyakitiku?" Ruby tertawa dengan keberanian Felix.


"Aku hanya sedikit kesal tadi padamu karena kau seakan-akan tidak menghargaiku sebagai seorang pria,makanya aku berkata seperti itu. Tapi sekarang aku tidak peduli,aku memang tidak pantas dihargai. Tolong maafkan aku," Felix terus memohon persis seperti saat pertama kali mereka terlibat pertengkaran di motel itu.


"Pria sepertimu tidak pantas untukku," Ruby mengambil pakaiannya dan pindah ke kamar lain. Kamar Thomas.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kesana?" Felix tidak terima.


Poppy datang menghampiri mereka. Ia memang sangat merasa bersalah dan menginginkan maaf dari Ruby.


"Sekarang apa lagi?" kata Ruby setelah melihat Poppy datang.


"Kau lihat perangaiku? Aku kasar,tidak sopan. Pria baik sepertimu tidak cocok dengan wanita kasar sepertiku," kata Ruby. Kini ia tidak menangis lagi karena lega telah mengungkapkan isi hatinya.


"Tidak,kau bukan wanita seperti itu," Thomas datang membawa sebuah plastik besar.


"Kau tadi kemana?" tanya Ruby.


"Meminta makanan di rumah pemiliki motel ini," jawab Thomas tanpa rasa malu.


"Apapun akan aku lakukan agar kau memaafkanmu. Tolong,aku tidak mau hubungan kalian berakhir," Poppy berbicara sambil tertunduk.


"Baik,kau harus melakukan sesuatu untukku. Dan untuk Felix,ini semua demi kebaikan kita," Ruby menutup rapat hatinya untuk menerima Felix kembali.

__ADS_1


__ADS_2