Journeys End

Journeys End
this place gives me the creeps


__ADS_3

Ruby sibuk dengan ponselnya. Sudah lama ia tidak memposting sesuatu di Instagram.


"Sayang," Ruby mengarahkan kamera ke arah Felix.


Felix dengan percaya diri berfoto di depan kamera.


"Sudah tampan belum? Mana aku lihat," Felix melihat hasil fotonya di ponsel Ruby.


"Aku post ya?" Ruby memposting foto Felix di Instagram story nya.


**


Tok.. Tok.. Tok..


Terdengar suara ketukan di pintu kamar mereka.


"Tunggu," Felix bangun dan membuka pintu.


"Oh,hai. Ada apa?" Felix menyapa Thomas yang sedang berdiri di depan pintu.


"Poppy dan ibunya sedang pergi," kata Thomas.


"Sayang,kesempatan emas!" kata Ruby dari dalam kamar.


Felix mempersilahkan Thomas untuk masuk ke kamar mereka.


"Ngomong-ngomong,mereka memberiku kesempatan menginap gratis disini," kata Thomas.


"Kami juga. Tapi awalnya kami membicarakan mengenai pohon itu agar kami bisa pergi. Dan alasanku adalah kehabisan uang untuk membayar motel ini," cerita Ruby.


"Lalu?" tanya Thomas.


"Ya,dia malah membiarkan kami menginap gratis disini," jawab Ruby.


"Dimana teman-temanmu? Yang kau ajak datang kemari?" tanya Felix pada Thomas.


"Tadi malam aku keluar dan melihat mereka tidak ada disana. Ada dua orang pria menyuruhku kembali ke motel," jawab Thomas.


"Kau sudah menghubungi mereka?" Ruby merasa sedikit khawatir. Bukan apa-apa,karena tempat itu sedikit aneh Ruby taku terjadi sesuatu yang buruk pada mereka karena kedatangan mereka ke tempat ini atas suruhan Ruby.


"Aku menelepon mereka berempat tapi tidak dijawab. Namun,tenang saja,mereka sudah membalas pesanku dan mengatakan bahwa mereka sudah di rumah," Thomas menjawab pertanyaan Ruby agar ia tidak merasa khawatir.


"Ngomong-ngomong aku merasa aneh dengan sikapnya," kata Thomas.


"Kami juga," jawab Felix.


"Ditambah aku mendengar suara aneh di atas," tambah Thomas.


"Suara aneh bagaimana?" Felix penasaran.


Terlihat hubungan mereka disini baik-baik saja,antara Felix dan Thomas terlihat berteman baik. Hal itu membuat Ruby merasa lega.


"Seperti ada seseorang," jawab Thomas.


"Sama seperti yang kamu rasakan," kata Ruby.


"Ayo naik keatas. Kita cek," ajak Thomas.


"Kau tau tempat masuknya?" Felix penasaran.


"Tadi malam saat aku duduk dekat jendela,aku melihat ibu Poppy dan seorang pria ke belakang rumah membawa tangga," jelasnya.


Mereka pergi ke belakang rumah bersama-sama.

__ADS_1


"Dimana?" tanya Felix.


"Kita harus cari tau dulu karena aku tidak mengikuti mereka sampai sini," jawab Thomas.


Mereka mendongak keatas,mencari sesuatu yang bisa menjadi petunjuk karena menurut mereka,pasti jalan masuk itu ada di atas sana sehingga harus menggunakan tangga untuk menuju tempat itu.


"Itu,dalam mimpiku," ujar Felix.


"Kau juga melihat tempat ini dalam mimpimu?" tanya Ruby.


"Iya sayang,naik kesana" Felix menunjuk kearah atas. Disana terlihat sebuah celah yang bisa dimasuki,namun dari luar terlihat gelap.


Ruby mengintip dari jendela yang ada di dekat sana.


"Ini bukannya kamar Poppy?" tanya Ruby.


Thomas dan Felix ikut mendekat dan mengamati ruangan itu dari luar jendela di halaman belakang.


"Iya memang benar ini kamar Poppy," Felix sangat yakin karena ia sudah pernah masuk kesana beberapa kali.


"Lalu dimana kita bisa menemukan tangga?" tanya Felix.


"Di rumah ibu Poppy. Kemarin aku melihat mereka mengeluarkan tangga dari sana," jawab Thomas.


"Baiklah,aku kita menyelinap," ajak Felix.


"Kau jaga disini saja sambil mengamati situasi," kata Thomas.


Ruby menyetujui dan Thomas bersama Felix pergi menyelinap ke rumah ibu Poppy.


"Aku mengambil tangga,kau jaga di luar ya," kata Thomas.


"Baik," Felix menyetujui usulan Thomas.


Thomas memang sudah beberapa hari mengamati ibu Poppy yang selalu pergi pagi dan malam akhir-akhir ini tanpa mengunci pintu.


"Tunggu!" teriak Felix.


"Apa?" Thomas baru saja menyentuh gagang pintu untuk masuk.


"Aku rasa ini jebakan,maka dia tidak mengunci pintu," ujarnya.


Setelah terdiam beberapa saat,Thomas mundur dan mendekati Felix.


"Kau menjauhlah dari sini,aku akan masuk," bisik Thomas.


"Tidak,aku akan berjaga," jawab Felix.


Mereka terdiam lagi selama beberapa saat.


"Kau bisa mengecek ke belakang rumah ini? Mungkin ada cara lain untuk kita masuk," kata Thomas.


"Aku akan cek,kau diam dulu jangan masuk," jawab Felix.


Felix pergi ke belakang rumah dan mengamati di sekitar sana. Namun,tidak ada celah yang bisa mereka gunakan untuk menyelinap masuk kedalam rumah.


Felix kembali ke depan rumah namun menemukan bahwa Thomas sudah berada di dalam rumah.


Felix dari jendela mengamati Thomas dengan wajah marah. Namun,Thomas menenangkan Felix bahwa semua akan baik-baik saja. Tidak lama berada di dalam rumah,Thomas keluar dari rumah itu.


"Tidak ada tangga,hanya ada dua kamar dan satu dapur serta satu kamar mandi disana dan setelah aku cek tidak ada tangga," kata Thomas.


"Ya," jawab Felix marah.

__ADS_1


"Kenapa kau mengkhawatirkan ku? Bukankah awalnya kau kesal padaku hahaha," Thomas tertawa sambil berjalan menuju motel dan disusul oleh Felix.


Dari kejauhan,Felix melihat Ruby sedang berjongkok dengan seorang wanita tua.


"Wanita itu," kata Felix.


"Siapa dia?" tanya Thomas.


"Nanti akan aku jelaskan," jawab Felix.


Mereka bergegas mendekati Ruby yang tengah terlibat kedalam obrolan yang terlihat cukup serius.


"Kalian semua harus segera pergi," kata wanita itu.


"Ada apa,Bu?" Thomas penasaran.


"Mereka akan melakukan ritual saat bulan purnama nanti,kalian harus segera pergi atau kalian akan dijadikan tumbal," kata wanita itu.


Felix diam-diam merekam percakapan mereka.


"Ritual ini seharusnya dilakukan 10 tahun lalu dan aku bersama kekasihku yang dijadikan tumbal oleh kakakku sendiri,namun aku berhasil kabur dan kekasihku terbunuh," wanita itu mulai bercerita.


"Tapi,kenapa harus kami?" tanya Felix heran.


"Umur manusia yang menjadi tumbal maksimal 25 tahun. Dan selama 6 tahun aku bersembunyi dari kakakku dan muncul beberapa tahun lalu. Aku berusaha mengungkap semua ini ke publik tapi mereka menganggapku gila ditambah kakakku menyebarkan rumor bahwa aku memang benar terkena gangguan jiwa," lanjutnya.


"Lalu apa yang harus kami lakukan?" tanya Thomas.


"Pergi sejauh mungkin," jawab wanita itu.


"Namun,hati-hati. Di luar motel ini telah dilakukan penjagaan yang ketat. Jika kalian pergi dan lewat di pohon tumbang itu,disana sudah ramai anggota sekte berjaga," tambahnya.


"Siapa yang kau maksud kakakmu?" tanya Ruby.


"Ann," jawab wanita itu.


"Nama ibu siapa? tanya Ruby.


"Anne," jawabnya.


"Kami sepasang anak kembar namun entah sejak kapan ia memiliki sekte seperti itu. Dan dia mengorbankan sepasang kekasih,harus sepasang kekasih yang masih muda," tambah wanita bernama Anne tersebut.


"Tapi kau ternyata tidak setua yang ku bayangkan," kata Felix yang setelah mengamati Anne,ia menyadari ia belum terlalu tua. Masih sekitar 40 tahun,artinya kembarannya juga sama.


"Dimana kakakmu tinggal?" tanya Thomas.


"Pemilik motel ini,ibu Poppy," bisiknya.


Felix dan Ruby tidak terlalu terkejut karena mereka sudah merasa aneh sejak beberapa hari yang lalu.


"Rambut kami memang seperti berubah sejak usia muda,karena keturunan," Anne menambahkan.


Felix,Ruby,dan Thomas mencatat setiap informasi yang mereka dapatkan.


"Lalu ibu tinggal dimana?" tanya Felix.


Ruby tersenyum dan menatap Felix serta Thomas.


"Tanyakan saja pada gadis ini. Aku harus segera pergi," jawab Anne . Ia kemudian meninggalkan mereka bertiga disana.


"Sekarang kita masuk dulu," ajak Ruby.


Sambil berjalan menuju kamar,Felix dan Thomas terus mencerca Ruby dengan berbagai pertanyaan. Akhirnya mereka sampai di kamar dan Ruby mulai bercerita sambil mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.

__ADS_1


__ADS_2