Journeys End

Journeys End
Start the game and I'll finish it


__ADS_3

"Pagi kak. Aku ingin berkunjung ke rumah mu. Apakah boleh?" isi pesan Key pada Ruby.


Tanpa berpikir panjang Ruby langsung mmperbolekan Key untuk berkunjung ke rumahnya. Tentu saja Ruby senang karena ada yang menemani dirinya di rumah,setidaknya untuk hari itu. Mereka berjanji akan bertemu pada siang hari di rumah Ruby.


Sembari menunggu siang,Ruby pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan. Ia berencana membuat chicken salad untuk Key.


Setelah mandi,Ruby pergi ke supermaret untuk berbelanja bahan makanan,sekaligus membeli stok bahan makanan untuk beberapa hari kedepan.


Beberapa kali ponsel Ruby berdenting menandakan ada pesan masuk ke ponselnya,namun Ruby mengabaikan pesan-pesan itu.


Waktu sangat cepat berlalu,ia pulang ke rumah dan membuat chicken saladnya. Sambil memanggang ayam,Ruby mengambil ponselnya. Pesan teratas ternyata dari Key.


"Kak,aku berangkat sekarang," isi pesan itu.


"Baik," jawab Ruby.


Ia membuka pesan yang lain,ternyata dari Thomas. Perasaannya campu aduk menerima pesan dari mantan kekasih yang sangat ia cintai itu.


"Kau dimana? Kenapa tidak ada kabar?" isi pesan yang Thomas kirimkan pada Ruby.


"Aku di Belanda," jawab Ruby.


"Aku mau minta maaf. Aku juga mengakui aku telah memfitnahmu. Aku menyesal," pungkasnya.


"Kenapa kau meninggalkanku? Kau tau aku mencintaimu," mata Ruby mulai berkaca-kaca.


"Sebenarnya aku tidak menyukai sifatmu ketika kita bertengkar terakhir kali. Hanya itu," jawab Thomas.


"Kenapa kau bersamanya?"


"Tidak. Aku sendiri saat ini," jawab Thomas.


"Setelah apa yang aku berikan untukmu,kau seperti ini," Ruby tidak mampu lagi membendung tangisnya.


"Ruby. Jika kita berjodoh pasti akan kembali. Aku juga ingin fokus pada pendidikan," itu obrolan terakhir mereka sebelum benar-benar tidak berkomunikasi untuk beberapa lama.


Ruby menangis terisak-isak. Ia merasa sia-sia pengorbanan yang selama ini ia lakukan untuk Thomas. Ia bahkan selalu mengalah namun Thomas tetap meninggalkannya. Ternyata Key sudah ada di depan pintu rumah Ruby yang terbuka lebar,bersama Felix. Mereka saling bertatapan,tidak tau apa yang harus mereka lakukan. Felix masuk terlebih dahulu.


"Ruby,ada apa?" Felix memeluk Ruby.


Pertanyaan Felix membuat tangisan Ruby semakin pecah. Ia benar-benar sudah kehilangan mood baiknya hari itu.


"Thomas," dengan terisak-isak Ruby memberikan ponselnya pada Felix. Felix membaca isi pesan itu. Ia paham bahwa Ruby masih sangat mencintai Thomas,ia pasti sangat merindukan Thomas.


"Ingat saja kata-kata yang ia kirim. Jika kalian berjodoh pasti akan kembali. Anggap saja Tuhan hanya memisahkan kalian sesaat," hibur Felix.


Ruby sekakan-akan melupakan masalah yang terjadi kemarin antara dirinya dengan Felix. Ruby masih memeluk Ruby dengan erat. begitu juga dengan Felix,ia memang paling tidak bisa melihat wanita menangis.


Key memperhatikan tingkah laku kakak-kakaknya.


"Aw sangat romatis," kata Key.


"Merusak suasana saja," jawab Felix.


Ruby tersadar ia terlalu lama memeluk Felix. Ia merasa tidak enak.


"Oh,maafkan aku Felix," kata Ruby.


"Tidak apa,sungguh. Aku tidak keberatan," jawab Felix.


"Aw," goda Key.


Felix membawa makanan untuk Ruby,tentu saja makanan sehat karena Felix mengetahui bahwa Ruby memiliki pola hidup sehat. Dapat dilihat dari unggahannya di instagram.

__ADS_1


"Rumah kakak sangat besar," puji Key.


"Sayangnya aku tinggal seorang diri," jawab Ruby.


"Kakak bisa menemani Kak Ruby kan?" goda Key.


"Apa? Tentu saja," jawab Felix.


Mereka makan bersama salad yang dibawa oleh Felix.


"Salad buah ini kami buat sendiri. Spesial untuk kakak dari kakakku," kata Key.


"Tentu saja ini semua ideku," kata Flix dengan bangga.


"Sebenarnya aku juga membuat chicken salad untuk kalian hahaha," tawa Ruby.


"Mana? Aku sangat menyukai chicken salad," jawab Felix.


Niat Ruby awalnya membuatkan chicken salad untuk Key namun ternyata Felix ikut bersamanya. Ruby melupakan keberadaan Felix dan Key tidak menyukai sayuran. Alhasil Felix dan Ruby makan berdua menghabiskan chicken salad yang sudah Ruby buat.


"Key! Key!" teriak seorang anak di kejauhan.


Key langsung keluar rumah dan mendapati teman masa kecilnya ada di halaman rumah kakaknya.


"Kak,aku pergi sebentar," Key berlari menghampiri temannya.


"Anak itu. Maafkan dia,ya. Itu teman masa kecilnya.Dia tetangga kita juga. Kakaknya seumuran kita," terang Felix.


"Wah,aku tidak terlalu mengenal orang-orang di sekitar sini," kata Ruby.


"Aku akan mengajakmu jalan-jalan nanti. Sepertinya Key sengaja meminta kesini agar dapat bertemu dengan temannya itu. Sebenarnya kemarin ia sudah meminta izin ingin bermain ke rumah teman namun ayah tidak mengizinkan," terang Felix.


"Lalu kenapa akhirnya ia diizinkan kemari?" tanya Ruby.


"Jadi seperti itu. Key sempat tinggal disini ya?" Ruby sedikit penasaran dengan kehidupan Key.


"Jika aku berlibur kemari dia aku ajak menginap di rumahku," jawab Felix.


"Ruby.."


"Iya?" jawab Ruby.


"Lupakan Thomas. Dia bukan pria yang baik," saran Felix.


"Hahaha aku akan berusaha. Mungkin ini petunjuk dari Tuhan bahwa aku harus mendapatkan pria yang baik," jawab Ruby.


Keberadaan Felix di sisinya membuat Ruby merasa lebih baik. Ia benar-benar sudah melupakan masalah kemarin. Felix sebenarnya berniat untuk meminta maaf,namun karena sudah melihat mood Ruby yang membaik Felix mengurungkan niatya. Ia takut membuat mood Ruby kembali hancur.


"Oh,Ruby. Ini ponselmu," Felix mengembalikan ponsel Ruby yang tidak sengaja ia masukkan kedalam kantong jaketnya. Ia baru menyadari salah memasukkan ponsel ketika mendengar noifikasi dari ponsel Ruby.


"Sepertinya ada pesan," kata Felix.


Ruby membuka ponselnya dan membaca beberapa pesan yang masuk.


"Oh Lucy!" seru Ruby.


"Siapa Lucy?" tanya Felix.


"Seseorang yang membantuku ketika melarikan diri," jawab Ruby.


Ruby membaca pesan yang dikirimkan oleh Lucy. Ia mengatakan polisi sudah menangkan Miranda dan suaminya yang bersembunyi ketika mengetahui Ruby dan Thomas berhasil melarikan diri. Sedikit terlintas di benak Ruby bagaimana kabar Kylie saat ini. Namun ia malah teringat kembali pada Thomas karena saat mereka diculik,mereka menghabiskan sangat banyak waktu bersama.


Felix menyadari bahwa Thomas kembali muncul di ingatan Ruby.

__ADS_1


"Cukup Ruby. Lebih baik kau menerima cinta Andrew," kata Felix sambil tertawa terbahak-bahak.


"TIDAK!" Ruby langsung memukul lengan Felix.


Felix tidak peduli dengan pukulan Ruby yang lemah. Ia masih terus tertawa terbahak-bahak.


"Lupakan Thomas. Hari ini kau milikku," kata Felix.


"A.. Apa maksudmu?" jantung Ruby berdetak sangat kencang ketika mendengar perkataan Felix.


"Temani aku jalan-jalan," Felix menggandeng tangan Ruby dan mereka pergi keluar bersama-sama.


Ruby mengunci pintu rumah. Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah rumah Felix. Walaupun jaraknya sangat dekat tapi Ruby belum pernah sama sekali bertamu ke rumah Felix.


"Masuklah. Tidak ada siapa-siapa disini," kata Feix.


"Kemana Key?" Ruby mengira Key ada di rumah Felix.


"Dia di rumah temannya. Bukan disini," jawab Felix.


Ruby diajak berkeliling rumah Felix. Rumah itu cukup besar namun masih lebih besar rumah Ruby. Banyak ornamen-ornamen kuno terpajang disana. Maklum saja,kakek dan nenek Ruby sangat menyukai barang antik.


"Aku berencana memodifikasi ulang rumah ini," kata Felix.


"Bagian mana yang ingin kau modifikasi? Semua ini sudah tampak bagus," Ruby sebenarnya kurang setuju dengan rencana Felix namun ia menahan pendapatnya dalam hati. Ruby memang menyukai hal-hal kuno jadi ia merasa rumah Felix adalah tempat yang sangat bagus untuknya.


"Semuanya akan aku ganti," Felix menggandeng tangan Ruby menuju lantai dua.


"Ini sudah cukup bagus kok," Ruby memberikan pujian pada rumah Felix.


"Kau menyukainya?" Felix bertanya pada Ruby.


"Tentu saja. Aku sangat menyukai hal-hal antik dan kuno," Ruby menjawab pertanyaan Felix.


"Kalau begitu tidak jadi aku ubah," Felix mengajak Ruby masuk ke sebuah ruangan sambil terus mengobrol.


"Kenapa?"


"Karena kau menyukainya,Ruby sayang," jawab Felix.


Dalam hati Ruby merasakan ternyata benar yang dikatakan oleh Key. Sebenarnya ketika Key dan Ruby sedang mengobrol via telepon,Key mengatakan bahwa kakaknya dulu adalah seorang playboy. Ia sering mendekati banyak wanita namun tidak dipacarinya. Ruby berpikir Felix mungkin ingin menjadikan dirinya target berikutnya.


"Playboy mulai mencari mangsa baru ya setelah sekian lama," goda Ruby sambil melepaskan genggaman tangan Felix.


"Apa maksudmu?" Felix menatap Ruby dengan tatapan tajam. Matanya yang sipit menatap tajam kearah Ruby yang hanya tersenyum sinis.


"Ah,aku sudah tau kau sering mempermainkan wanita. Tidak usah mengelak,adikmu sendiri yang mengatakan hal itu padaku," Ruby menjawab juga dengan tatapan tajam.


"Key? Kau mempercayainya?" kini Felix semakin dekat dengan Ruby. Perlahan-lahan Ruby mundur hingga punggungnya menyentuh tembok.


"Dulu memang benar. Tapi aku sudah tidak begitu lagi sejak Key sakit. Aku takut suatu hari ia disakiti pria," Felix menambahkan.


"Oh,jadi begitu ya?" Ruby berkeliling di ruangan yang berisi sangat banyak lukisan. Lukisan itu dibuat oleh kakek Felix sendiri yang merupakan seorang seniman.


"Aku tidak akan mempermainkan dirimu," kata Felix meyakinkan Ruby.


Ruby hanya diam sambil terus memperhatikan lukisan yang ada di ruangan itu.


"Kau jangan menghindariku," Felix menarik tangan Ruby.


"Aku tidak mengindarimu,sayangku," Ruby keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Felix seorang diri.


"Apa ini? Perasaan macam apa yang sedang aku rasakan ini?" Felix memukul-mukul dadanya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2