
"Dengan ini pasangan baru kita telah resmi. Tepuk tangan semuanya," Reno terus-terusan menggoda Ruby dan Thomas.
"Kami sudah lama resmi berpacaran hanya saja baru mengatakannya sekarang," kata Thomas.
Ruby mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan keberadaan dosen.
"Oh iya,aku hampir lupa. Dosen memberikan tugas. Aku sudah mengirimkannya di grup kelas," kata Reno.
Dalam hati Ruby berkata,"padahal baru saja aku berbohong kepada Kylie mengatakan tidak ada dosen makanya aku ke kampus lebih siang,ternyata memang benar tidak ada dosen".
Ruby keluar dari kelas diikuti oleh Thomas.
"Sayang," bisik Thomas.
Ruby berbalik badan dan tersenyum.
"Ada apa sayangku?" tanya Ruby.
"Aku ingin mencium mu. Dari pagi kita belum berciuman," jawab Thomas.
Ruby segera membekap bibir Thomas sebelum ada yang mendengar perkataan Thomas.
"Ini kampus astaga," jawab Ruby.
Thomas tampak manja dengan Ruby. Entah mengapa sikap manjanya kambuh ketika berada di kampus.
"Ayo pulang," ajak Thomas.
"Jam kedua bahkan belum dimulai," jawab Ruby.
"Misiku selesai. Kita bisa tidur sampai malam," Thomas menarik tangan Ruby.
Mereka benar-benar kembali ke rumah Ruby.
"Aku tidak sabar untuk menjadikanmu istriku," kata Thomas.
Setiap kata yang keluar dari bibir Thomas selalu membuat Ruby merasa bahagia yang tak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata.
"Pasti kau akan memasak untukku setiap hari. Menyiapkan barang-barang yang akan aku bawa kerja. Mengurus anak-anak kita," khayal Thomas.
"Lucu jika kita memiliki anak," Ruby ikut berkhayal.
"Nanti anak kita ada dua. Yang pertama laki-laki. Saat dewasa dia akan menjadi polisi," kata Thomas.
"Yang kedua perempuan. Dia akan menjadi dokter," sambung Thomas.
Ruby hanya menyimak kehaluan Thomas.
"Kenapa kau diam?" tanya Thomas.
"Sayang. Ponselmu berbunyi," Ruby menunjuk ponsel Thomas.
Thomas segera mengangkat teleponnya di luar. Sekilas terbaca oleh Ruby bahwa itu adalah Evelyn. Tidak sampai lima menit,Thomas kembali ke kamar.
"Dari siapa?" tanya Ruby.
"Mama," jawab Thomas.
Ruby tersenyum seakan-akan tidak terjadi sesuatu. Namun dalam hatinya berkecamuk perasaan sedih karena Thomas berbohong padahal baru saja mereka membuat janji tidak akan ada yang ditutupi.
Seketika rasa percaya yang sangat Ruby yakini bahwa Thomas tidak akan berbohong sirna.
Ia menjadi waspada dan menerka-nerka apa yang sebenarnya Thomas mau.
__ADS_1
Ruby hanya diam dan Thomas memperhatikan. Thomas mengetahui ada yang salah.
"Sayang. Sebenarnya itu.."
"Ternyata ucapanmu tidak bisa dipegang," kata Ruby sambil mendorong Thomas keluar dari kamarnya.
Seketika air mata Ruby tumpah. Dia menaruh harapan besar pada Thomas. Ia sangat mempercayainya. Walaupun hanya hal kecil tetapi tetap saja Thomas sudah berbohong.
Thomas menggedor-gedor pintu kamar Ruby. Ruby menyeka air matanya dan duduk sebentar untuk menenangkan diri.
"Sayang dengarkan aku dulu. Aku mohon," Thomas memohon dengan sangat kepada Ruby.
"Aku mau menjelaskan dulu apa yang terjadi. Buka pintunya!"
Ruby diam tidak menggubris apa yang Thomas katakan..
"Sayang," Thomas terus memanggil-manggil Ruby dari luar kamar.
"Pulanglah!" seru Ruby.
"Aku tidak akan pulang sebelum kau membuka pintu ini," ancam Thomas.
Ruby membuka pintu kamarnya dan berjalan keluar dengan mata sembab.
"Sayang kamu menangis? Maafkan aku," kata Thomas.
Ruby hanya diam sambil mengutak-atik ponselnya.
"Katakan apa yang ingin kau katakan,Thomas!" Ruby memulai pembicaraan yang serius.
"Evelyn meneleponku menanyakan kenapa kau dan aku tidak ke kampus. Dosen menanyakan kita saat tadi di absen. Dia meneleponmu tadi tapi tidak ada jawaban," terang Thomas.
"Lalu?" tanya Ruby.
Memang benar ada panggilan tidak terjawab dari Evelyn di ponsel Ruby. Namun bukan itu yang ia permasalahkan.
"Aku tidak melarang kau berbicara atau bergaul dengan siapapun selama kau tau batasannya. Aku tidak akan membatasi karena aku yakin kau tau batasan. Aku kecewa kau berbohong. Kenapa kau tidak jujur kalau itu telepon dari Evelyn? Aku tidak posesif seperti itu,aku tidak akan melarang kekasihku berteman dengan teman sekelasnya. Thomas,kau sudah menodai kepercayaanku. Aku kira kau benar akan memegang ucapanmu ketika berkata tidak akan ada yang kita sembunyikan satu sama lain. Ternyata hanya omong kosong," Ruby mengeluarkan semua isi hatinya. Ia sangat kecewa.
"Sayang tolong. Aku hanya takut kau marah. Aku tak mau kehilanganmu apalagi banyak yang ingin memilikimu," kata Thomas.
"Aku memilihmu berarti hanya kamu. Tidak ada yang lain. Apapun alasannya aku benci orang yang berbohong," jawab Ruby.
"Aku tidak akan mengulanginya," Thomas berusaha membujuk Ruby.
Ruby berjalan ke kamar dan menangis sekali lagi. Thomas merasa sangat menyesal kenapa ia berbohong pada kekasihnya. Ia tau setelah itu. Ruby tidak akan sepenuhnya percaya pada dirinya.
Thomas segera menyusul Ruby ke kamar. Ia hanya diam dan berbaring di samping Ruby.
Thomas memeluk Ruby dari belakang yang sedang memunggunginya.
"Maafkan aku sayang. Aku sangat menyesal. Mulai sekarang aku tidak akan takut lagi berkata jujur,apapun yang terjadi," kata Thomas.
Thomas tau bahwa Ruby hanya akan menganggap kata-katanya itu hanya sebagai omong kosong belaka,namun dari dalam hati Thomas sungguh-sungguh berjanji pada Ruby dan pada dirinya sendiri untuk berkata jujur apa adanya. Apapun resiko yang harus ia tanggung. Ruby tidak menjawab. Ia hanya diam dan sesekali sesegukan. Thomas memeluk kekasihnya itu semakin erat. Membelai rambutnya dan mencium pipinya. Ruby memejamkan mata dan tertidur di pelukan Thomas. Thomas pun ikut tertidur.
***
Hari sudah sore. Sudah dua belas jam Thomas dan Ruby bersama-sama. Mereka melewatkan makan siang,Ruby bergegas ke dapur dan memasak untuk kekasihnya.
"Sayang,kamu mau makan apa?" tanya Ruby seakan-akan tidak ada hal buruk yang terjadi.
Thomas yang nyawanya belum terkumpul menjawab dengan mata terpejam,
"Aku ingin nasi goreng pedas," jawabnya.
__ADS_1
Setelah menjawab pertanyaan Ruby,ia tidur kembali.
Ruby kembali ke dapur dan memasak apa yang diinginkan Thomas.
Ting...
Ponsel Ruby berbunyi. Ternyata itu adalah pesan dari Andrew.
"Mau apa lagi anak ini," gumam Thomas dalam hati.
Thomas membaca pesan itu dengan wajah cemberut. Ia menahan emosi membaca isi pesan Andrew.
Thomas hanya membaca pesan itu dan tidak menjawabnya namun Andrew memiliki tekad yang sangat besar. Ia kembali mengirimkan pesan.
Thomas membiarkan room chat terbuka agar pesan yang dikirimkan Andrew langsung terbaca. Thomas menghampiri Ruby ke dapur karena rasa kantuknya seketika hilang.
"Sayang," Thomas memeluk Ruby yang sedang sibuk dengan spatula dan wajannya.
"Tunggu ya. Sebentar lagi matang," jawab Ruby.
"Anak-anak di kelas sudah mengetahui bahwa kita pacaran," kata Thomas.
"Lalu?" Ruby tidak paham dengan apa yang ingin disampaikan Thomas.
"Tapi sepertinya ada yang tidak terima," jawab Thomas.
"Siapa?" Ruby mematikan kompornya dan menatap Thomas.
"Hah! Dia membangunkan singa yang tidur," Thomas kembali masuk ke kamar Ruby.
Sampai disini Ruby belum paham siapa yang tidak terima dengan hubungan mereka dan apa yang Thomas maksud dengan perkataan membangunkan singa yang tidur.
Ruby kemudian menyusun Thomas ke kamar.
"Lihat," seru Thomas sambil menyodorkan ponsel Ruby.
Ruby membaca pesan-pesan yang Andrew kirimkan dan tertawa.
"Sayang. Aku sedang serius sekarang," Thomas berbicara sambil menatap Ruby dengan tatapan tajamnya.
"Sayang. Abaikan saja," Ruby menggandeng Thomas keluar kamar.
Thomas duduk di meja makan setelah Ruby menghidangkan nasi goreng yang ia buat tadi.
Mereka makan bersama.
"Jelas-jelas dia tau aku kekasihmu kenapa berani sekali dia mengajakmu menjalin hubungan," gumam Thomas.
"Anak itu memang sedikit aneh," jawab Ruby sambil memakan sisa mentimun di piringnya.
"Bahkan dia memaksamu untuk menerima cintanya. Terang-terangan dia mengajakmu berselingkuh," Thomas kembali emosi.
"Sayang sudahlah. Yang penting adalah responku. Aku tidak akan menerimanya karena aku milikmu sekarang," Ruby berusaha menenangkan Thomas.
Thomas tidak bisa menikmati masakan Ruby dengan tenang karena pikirannya terganggu. Ia merasa khawatir jika Ruby sewaktu-waktu bermain di belakangnya.
Ting...
Ponsel Ruby kembali berbunyi. Thomas langsung merampas ponsel yang sedang Ruby genggam itu. Ia membaca pesan yang masuk.
"Berani sekali mereka di belakangku," Thomas terlihat benar-benar marah.
"Mereka? Siapa?" Ruby penasaran dan membaca pesan namun Thomas sudah menghapusnya sebelum Ruby melihat isi pesan itu.
__ADS_1
"Dua berandalan itu," jawab Thomas yang kemudian pergi meninggalkan Ruby dengan motornya..