Journeys End

Journeys End
what the hell i'm in hell


__ADS_3

Darah mengalir di kaki wanita itu. Sesuatu yang bulat tampak menggelinding dan berhenti di motor Ruby karena tertahan oleh ban motor.


"Tidak. Ini pasti bukan seperti yang aku pikirkan," Ruby menutup mata dan berusaha keras menenangkan dirinya.


"Angkat dia ke gerobak itu," suruh wanita tua yang kejam tadi. Dua orang langsung mengangkat tubuh yang kepalanya sudah dipenggal oleh wanita tua tadi. Terlintas di pikiran Ruby untuk menerbitkan artikel bertemakan sekte yang membunuh anggotanya sendiri. Ia sedikit bersyukur kamera di motor bagian belakangnya tertinggal sehingga ada harapan apa yang sekte itu lakukan tadi terekam kamera.


Mulai dari warna jubah hingga simbol aneh sama persis seperti sekte yang sedang Ruby hadapi. Ia yakin mereka adalah anggota dari sekte kanibal itu.


"La.. Lalu bagaimana dengan wanita itu?" tanya seseorang dengan gugup.


"Kau tidak mendengar perintahku tadi?!" bentak wanita tua itu.


"Kami akan mencarinya," empat orang berjubah pergi meninggalkan gerombolan orang yang mulai berjalan sambil membawa gerobak itu.


Ruby perlahan-lahan berjalan menuju motornya namun kepala yang tadi ia lihat masih disana. Ruby segera menghubungi polisi. Teleponnya dengan Felix yang dari tadi masih terhubung ia matikan begitu saja tanpa berbicara dulu dengan Felix. Ruby memfoto kepala itu dan segera mengirimnya pada Felix. Ia tau setelah ini dirinya tidak akan lolos dengan mudah dann untung saja Ruby berhasil mengirim foto dan langsung menghapus history chat dengan Felix agar jika terjadi sesuatu,orang yang menemukan ponselnya khususnya anggota sekte itu tidak dapat melakukan unsend pada foto yang Ruby kirim ke Felix.


"Simpan baik-baik foto ini," pesan Ruby pada Felix. Ruby menyembunyikan kamera yang ada di belakang motornya tadi dan menukarnya dengan kamera yang sebelumnya terpasang di depan motor.


Derit suara gerobak kayu yang ia lihat ketika bersembunyi tadi kini kembali terdengar. Suaranya semakin dekat dan terus mendekat. Tanpa menoleh ke belakang Ruby naik ke motornya kemudian ia menggas motornya dengan kencang sehingga kepala yang tadi tertahan di ban motor Ruby kini menggelinding ke semak-semak. Ia hanya berpikir untuk segera menjauh dari tempat itu,dingin yang ia rasakan tidak Ruby pedulikan lagi. Kabut yang masih saja tebal ia terobos begitu saja. Ruby mengirim pesan suara pada Felix dan mengatakan dirinya dalam bahaya.


"Aku dikejar oleh anggota sekte dekat pemakaman di pegunungan. Makam yang ada patung Yunani," kata Ruby melalui pesan suara. Semakin jauh ia dari tempat Ruby bersembunyu tadi,entah kenapa perasaan Ruby malah semakin tidak enak karena setelah kabut menipis jalan yang ia lihat tidak ia kenali.


"Sial,dimana aku? Aku tersesat," umpat Ruby.


Ruby memfoto area di sekitar tempatnya menepi. Hanya ada pohon dan sebuah gubuk dan kandang sapi. Ruby mengirimkan lokasinya kepada Felix,serta mengirim foto-foto tadi ke sosial medianya berharap ada seseorang yang akan memberitahu Ruby kemana ia harus pergi mengingat Felix bukanlah orang yang berdomisili di kota tempat Ruby tinggal jadi ia pasti akan lebih sulit mencari keberadaan Ruby.


Ruby menelepon Thomas dan meminta bantuan agar Thomas menemani Felix. Thomas langsung mengiyakan kemudian berangkat menuju rumah Ruby.


Hari mulai sore dan langit mulai gelap. Ruby mencoba memutar arah dari tempat ia tersesat berharap menemukan jalan pulang. Ruby tidak tau kenapa ia bisa sampai di tempat terpencil itu.


"Oh iya,tikungan. Harusnya aku melewati jalan menikung untuk menemukan jalan pulang tapi sepertinya tadi aku hanya berjalan lurus saja. Aku akan kembali," Ruby menghidupkan motornya dan bergegas pergi dari tempat itu.

__ADS_1


Kabut semakin lama semakin menipis,Ruby kini bisa melihat jalan dengan lebih jelas. Perlahan-lahan ia mencari jalan menikung yang sepertinya sudah terlewat tadi.


"Oh itu dia. Astaga,untung saja aku tidak nyasar terlalu jauh," Ruby bersyukur karena belum sampai 10 menit berkendara ia sudah berhasil menemukan tikungan yang seharusnya ia lewati jika mencari jalan pulang ke rumahnya. Namun sialnya,para anggota sekte itu sudah ada disana sekarang,mereka menutup jalan itu dengan cara duduk dari pinggir hingga tengah jalan. Ruby memundurkan motornya agar tidak ketahuan,kemudian ia menghubungi Felix dan mengatakan apa yang ia lihat. Ruby juga memberitahukan grup yang beranggotakan teman-temannya yang ikut terjebak di motel dulu.


"Akhirnya ada kasus," balas Reno.


Teman-teman ikut pergi ke tempat Ruby diam saat ini. Area di gunung dekat dengan pemakaman yang sangat indah namun orang-orang yang berkunjung kesana sangat menyeramkan.


"Tunggu,jubah itu berbeda dengan sekte yang aku lihat tadi," Ruby baru menyadari adanya perbedaan pada jubah mereka yang sedang duduk di jalanan.


Jubah yang mereka gunakan setengah hitam dan setengah putih,dalam satu jubah terdapat dua warna. Ruby kembali mengirim pesan ke grup bahwa orang-orang yang duduk menghalangi jalan itu bukan sekte yang sedang mereka hadapi.


Ruby memberanikan diri untuk lewat jalan yang dipenuhi oleh orang-orang berjubah hitam putih.


Semakin dekat ia dengan kumpulan itu,Ruby kemudian memarkir motornya dan mulai mendekat.


"Permisi,bolehkan aku ijin lewat? Aku akan pulang ke rumah," Ruby meminta izin.


"Tadi aku ke pemakaman namun sepulangnya aku dari sana ada gerombolan orang berjubah lewat dan aku melihat wanita tua itu memenggal salah satu temannya," Ruby bercerita apa adanya.


"Apa? Dimana?" tanya kakek-kakek itu lagi.


"Di dekat sebuah pohon besar yang tidak jauh dari sini. Mereka membawa sebuah gerobak. Kemudian mereka mengetahui keberadaan ku dan wanita tua itu menyuruh anggota lain untuk menangkap ku namun anehnya mereka tidak mau menuruti perintah wanita tua hingga akhirnya salah satu dari mereka dipenggal. Aku berhasil melarikan diri ketika aku mendengar suara gerobak mendekat," Ruby menceritakan semuanya pada kakek itu.


Entah kenapa rasa takut Ruby hilang ketika bersama dengan orang-orang itu. Mereka tampak baik dan sangat ramah pada Ruby,namun tetap saja belajar dari pengalaman sebelumnya ketika Ruby ditipu oleh Anne,Ruby tetap waspada.


"Kalau kau takut panggil saja temanmu suruh menjemput karena kami tidak membawa kendaraan jadi tidak bisa mengantarmu. Untuk ke jalan raya menuju kota kau lurus saja lewat sini," ujar kakek itu setelah mendengar cerita Ruby.


"Terimakasih kek. Teman-temanku sedang menuju kemari," jawab Ruby.


"Tunggu saja mereka bersama kami. Kami akan menjagamu. Kami juga adalah sebuah sekte tapi kami tidak melakukan ritual aneh apalagi mengorbankan manusia," kakek itu tersenyum pada Ruby. Ruby semakin penasaran dengan siapa mereka sebenarnya.

__ADS_1


"Kakek mengenal sekte yang baru saja aku temui tadi?" Ruby mencari informasi.


Sebuah pulpen berisi alat perekam sudah ia bawa dari tadi ketika akan turun untuk menemui sekte yang sepertinya baik ini.


"Tentu saja. Mereka musuh kami. Cucuku mereka culik dan mereka jadikan bahan ritual," jawab kakek itu.


"Tapi mereka mulai terpecah sekarang," seorang nenek tua menambahkan.


Ruby tersenyum kearah nenek itu dan si nenek tersenyum sambil melihat Ruby.


"Sebenarnya aku juga sempat akan dijadikan korban sekte itu dan kini aku sedang berusaha melawan mereka lewat media," Ruby mengatakan sejujurnya pada orang-orang yang ia temui itu.


"Aku melihatnya di laptop anakku. Bagaimana jika aku memberi saran?" tanya si kakek.


"Boleh saja kek," jawab Ruby dengan sangat excited.


"Kau pancing orang-orang yang pernah menjadi korban sekte itu atau setidaknya keluarga dari korban sekte itu. Aku akan membantumu. Aku yang pertama akan memberikan informasi terkait cucu ku dan aku yakin korban lain akan terpancing," ujar kakek itu.


"Kakek benar-benar mau membantuku?" Ruby sangat bahagia.


"Tentu saja. Ini,simpanlah," kakek itu memberikan kartu nama.


Beberapa menit kemudian orang-orang tua yang duduk di sana tiba-tiba bangun,menyisakan anggota sekte yang masih muda. Kebanyakan dari mereka adalah laki-laki. Yang Ruby lihat hanya nenek tadi saja perempuan dalam sekte itu.


"Hai,siapa namamu?" tanya seorang pria yang tampak sebaya dengan Ruby.


"Aku Ruby,kau siapa?" Ruby bertanya balik setelah memberitahukan namanya.


"Aku Edsen,kau bisa memanggilku Ed," Edsen mengulurkan tangannya. Ruby dan Edsen kemudian saling berjabat tangan.


"Tenang saja,ini wilayah kekuasaan kami. Kau akan aman disini," ujar Edsen.

__ADS_1


"Terimakasih ya sudah mau menjagaku," Ruby merasa sangat bersyukur karena Tuhan mengirimkan banyak orang untuk membantunya.


__ADS_2