Journeys End

Journeys End
I Love My Friend


__ADS_3

Hanya tersisa dua hari untuk Ruby dan Felix menghabiskan waktu bersama-sama. Mereka memutuskan untuk tetap tingga di rumah Ruby. Awalnya mereka berencana untuk berpiknik namun terpaksa diurungkan karena terlihat langit diselimuti awan gelap. Pertanda hujan akan turun.


"Felix," panggil Ruby pada Felix yang sedang duduk di sampingnya.


"Ada apa?" tanya nya.


"Boleh aku mempertimbangkan kembali tawaranmu beberapa waktu lalu?" Ruby bertanya pada Felix.


"Tawaran apa? Aku pernah menawarkan sesuatu padamu?" Felix pura-pura tidak tau. Ia benar-benar menahan senyum bahagianya ketika mendengar perkataan Ruby.


"Tawaran perpanjangan kontrak," jawab Ruby.


"Boleh saja. Namun,apa alasanmu berubah pikiran?" Felix penasaran.


"Takut Andrew mengganggu lagi," Ruby menjawab dengan gugup.


Dari sorot mata Ruby,Felix sudah mengetahui bahwa itu bukanlah alasan sesungguhnya dibalik perubahan keputusan yang Ruby ambil.


"Bukankah dia sudah tidak pernah menghubungimu lagi?"


"Hanya untuk antisipasi," Ruby berusaha mencari-cari alasan.


"Sayang," Felix memeluk Ruby.


"Kenapa?" jawab Ruby.


"Aku tidak mau tau. Mulai hari ini tidak ada lagi kontrak apapun diantara kita. Kau mau menjadi kekasihku?" Felix menyatakan perasaan yang sesungguhnya pada Ruby.


"Kau bercanda ya?" Ruby tertawa mendengar pernyataan cinta Felix.


"Serius. Aku mencintaimu," jawab Felix.


"Hahaha tentu saja aku mau," Ruby memeluk erat Felix yang kini sudah menjadi kekasihnya itu. Mungkin karena sudah lama tinggal bersama,perasaan mereka mulai terasa semakin erat bahkan Felix enggan meninggalkan Ruby lusa. Waktu yang diperlukan Ruby untuk berpindah hati dari Thomas kepada Felix cukup singkat,hanya tiga bulan. Ruby sendiri bingung dengan perasaannya,apakah ia benar-benar menyayangi Felix atau hanya sebagai pengisi kekosongan hati Ruby yang sepi setelah ia putus dari Thomas.


"Cium," Felix merengek pada Ruby.


***


"Chagiya," kata Ruby.


"Chagiya itu sebenarnya apa?" Felix baru menanyakan tentang arti dari panggilan ini.


"Chagiya itu bahasa Korea,artinya sayang," Ruby menjelaskan.


"Wanita pecinta Korea," kata Felix sambil meminum teh nya.


"Adikmu tau kita pacaran?" tanya Ruby.


"Tidak. Kau saja yang beritahu dia," Felix menjawab sambil mengelus kepala Ruby yang sedang tidur di pahanya.


"Aku telepon saja ya," Ruby segera menelepon Key.


"Hai kak," sapa Key lebih dulu.


"Sayang,kerjai dia," bisik Felix pada Ruby.


"Hai Key. Bagaimana harimu?" Ruby berbasa-basi terlebih dulu.


"Aku baik-baik saja. Hari yang menyenangkan karena kau meneleponku," jawab Key.


"Sebenarnya aku ingin memberitahukan sesuatu padamu. Ini perihal aku dan Felix," ujar Ruby.


Belum apa-apa Felix sudah tidak mampu menahan tawanya.


"Ada apa kak? Apa Felix menyakitimu?" Key terdengar khawatir.


Felix kembali tidak mampu menahan tawanya. Ia menutup wajahnya dengan menggunakan bantal sambil tertawa terpingkal-pingkal.

__ADS_1


"Tidak,sebenarnya kami telah melakukan sesuatu yang salah," Ruby segera memberikan ponselnya pada Felix. Kini giliran Ruby yang tidak mampu menahan tawanya.


"Apa?" Key mulai tidak sabar mendengar apa yang sebenarnya terjadi.


"Key,kau akan segera memiliki keponakan," jawab Felix.


Ruby dan Felix berusaha menahan tawanya. Key terdengar berteriak memanggil ibunya.


"Bu! Kakak menghamili temanku," kata Key lantang.


"Hey bodoh! Aku hanya bercanda," Felix panik ketika mendengar Key memanggil ibunya.


"Hahaha itulah akibatnya jika kau mengerjaiku. Lagi pula aku di rumah bersama teman karena ayah dan ibu pergi," jawab Key.


Ruby dan Key saling bertatapan. Niat awal mereka untuk mengerjai Key gagal,dan malah dikerjai balik. Setelah berbincang beberapa saat,Felix mematikan sambungan teleponnya.


"Aku memiliki kabar bahagia lain untukmu," kata Felix pada Ruby.


"Kabar apa?" tanya Ruby penasaran.


"Mulai hari ini sampai dengan waktu yang tidak ditentukan,aku mengikuti kuliah daring karena penyakit yang mewabah ini. Jadi aku bisa lebih lama tinggal denganmu," Felix menjelaskan.


Ruby yang mendengar itu langsung melompat kegirangan,ia memeluk Felix dan berterimakasih pada kampus Felix.


"Terimakasih kampus," ujar Ruby.


"Bodoh," bisik Felix sambil mencium kekasihnya.


"Ah,aku sudah punya pacar baru ya," Ruby berujar.


"Aku suami mu," Felix menggendong Ruby ke kamar.


"Apa? Aku tidak ingin tidur siang," Ruby bangun dari tempat tidur.


"Kau tidak usah pura-pura tidak paham.."


***


"Sayang," Felix telah bangun dari tidurnya.


"Aku juga kuliah daring,baru mendapatkan info dari kampus," kata Ruby pada Felix.


"Kita bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama ya," ujar Felix.


"Dan melakukan hal yang menyenangkan bersama-sama di rumah," tambah Ruby.


"Hal menyenangkan seperti tadi?"


"Sayang," Ruby yang merasa malu menepuk punggung Felix.


"Hahaha tidak apa sayang. Kau kekasihku," Felix mencium tangan Ruby.


"Apa yang ingin kau lakukan hari ini?" tanya Thomas.


"Aku akan.."


Tok.. Tok.. Tok..


Pembicaraan mereka terputus ketika terdengar ada seseorang mengetuk pintu.


"Iya," sahut Ruby dari dalam rumah. Ia bergegas membuka pintu.


"Selamat pagi," sapa Ruby.


"Aku mau bertanya lagi. Kemarin tidak ada yang membuka pintu ketika aku berkunjung ke rumah Ellen. Apa kau bisa mengantarku kesana?" tanya wanita itu.


Tamu yang datang ke rumah Ruby hari itu ialah wanita yang sama dengan yang tadi malam datang untuk menanyakan alamat.

__ADS_1


Felix yang mendengar perbincangan mereka namun ia bersembunyi bergumam dalam hati.


"Bertamu tengah malam mana mungkin dibuka kan pintu," gumamnya.


"Akan aku antar," terdengar suara Ruby yang mau membantu wanita itu.


"Sayang! Kemana?" Felix memperlihatkan dirinya di depan kedua wanita itu.


"Aku mau mengantar bibi ini ke rumah bi Ellen," Ruby memberi isyarat agar Felix ikut dengan mereka.


"Oh,baik," Felix masuk ke kamar Ruby.


Ruby tidak paham kenapa Felix malah masuk kamar. Ia menyangka Felix tidak memahami kode yang ia berikan.


"Ayo bi," Ruby berjalan di depan wanita itu. Rumah Ruby dan tetangganya itu sangat dekat,keluar dari pintu gerbang dan berjalan enam langkah saja mereka sampai di kediaman bi Ellen.


Mereka sampai di depan rumah bibi Ellen,Ruby memanggil-manggil namun tidak ada yang menyahut.


"Bibi!" panggil Ruby sekali lagi.


"Lebih baik aku masuk saja ke rumahnya," Ruby membuka pintu gerbang rumah bibi Ellen. Ia mengetuk pintu rumah namun tidak ada jawaban. Tapi Ruby yakin di dalam rumah ada seseorang,karena ia melihat bayangan manusia lewat tadi.


"Sepertinya tidak di rumah," kata Ruby pada wanita itu.


"Baiklah kalau begitu aku pulang saja," jawab wanita itu.


"Kalau boleh tau,bibi tinggal dimana?" tanya Ruby.


"Di dekat sini," kata wanita itu sambil berjalan melewati Ruby.


Ruby keluar dari halaman depan rumah bibi Ellen. Di gerbang,Felix sudah menunggunya.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Ruby.


"Ya,mengikutimu. Apa lagi?" jawab Felix sambil melontarkan pertanyaan.


"Aku merasa ada yang aneh. Apakah benar-benar tidak ada orang? Aku merasa ada orang di dalam," Ruby mengutarakan kecurigaannya.


Wanita tadi tampak menoleh ke arah mereka,Ruby dan Felix melontarkan senyuman namun wanita itu tetap dengan wajahnya yang tegang.


"Kita cek saja," Felix masuk kedalam setelah memastikan wanita itu keluar dari gang mereka.


"Bibi,ini aku dan Felix," panggil Ruby.


Tampak sesosok wanita mendekati mereka dari kebun belakang. Ternyata itu bibi Ellen.


Ia memberi isyarat untuk diam dan pergi dari rumahnya. Ia juga berbicara dengan sangat pelan,nyaris berbisik.


"Aku tidak apa,kalian pulanglah. Disini berbahaya," bisik bibi Ellen sambil tersenyum.


"Tapi bagaimama denganmu?" tanya Felix.


"Tidak apa. Kalau aku butuh bantuan pasti aku akan memanggil kalian," jawabnya.


"Dari kemarin ada wanita yang mencari bibi," kata Ruby.


"Abaikan dia. Dia jahat,dia berbahaya," bibi Ellen segera masuk kedalam rumahnya.


Ruby dan Felix kebingungan. Mereka memutuskan pergi dari rumah itu karena sudah diperingatkan akan adanya bahaya.


"Kenapa kau tinggal di lingkungan yang berbahaya seperti ini?" tanya Felix.


"Mana ku tau. Ini bukan rumah asliku," jawab Ruby.


"Sayang,sebaiknya kita pindah. Kita sewa rumah saja dulu," ajak Felix.


"Kau takut ya?" goda Ruby sambil tersenyum jahil.

__ADS_1


"Bahaya!"


__ADS_2