Journeys End

Journeys End
Twins


__ADS_3

Nenek itu kembali bersama Dahlia. Tidak lama berbasa-basi,ia menyerahkan sebuah kunci rumah.


"Pergilah ke rumah itu,dari sana akan lebih mudah kalian berjalan ke panti asuhan tanpa diketahui oleh siapapun. Tapi kalian tidak boleh membawa kendaraan agar tidak ketahuan," ujar nenek.


"Panti asuhan? Panti asuhan apa?" Felix tidak mengerti.


"Nanti aku jelaskan," sahur Thomas.


"Dan satu lagi. Kalian bersikaplah seolah-olah di rumah itu tidak ada siapapun. Jangan membuat keributan,jangan menonton TV dan jangan menghidupkan lampu terlalu terang. Pakai lilin saja untuk menerangi kamar kalian," tambah nenek.


"Baik nek," jawab Thomas.


Ruby,Felix dan Thomas kemudian pergi dari rumah nenek itu. Mereka berjalan menuju area perbukitan yang letaknya dekat dengan pantai.


"Unik sekali ada bukit dekat pantai," Ruby merasa kagum.


"Tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan," Felix menjawab.

__ADS_1


Thomas hanya diam memimpin perjalanan mereka paling depan.


"Kenapa kau seolah-olah tau semuanya tentang tempat ini,Thomas?" Felix heran.


"Aku sudah diberitahu. Kalian tinggal mengikutiku," Thomas tidak memberikan jawaban seperti apa yang ingin Felix.


"Ngomong-ngomong aku belum cerita tentang kembaran palsuku," kata Felix di tengah perjalanan mereka yang terasa semakin berat karena jalan mulai menanjak.


"Apa maksudmu?" tanya Thomas tanpa menoleh kearah Felix yang ingin bercerita.


"Ketika aku dan Ruby di restoran tempat pembunuhan itu. Aku tidak tau kenapa aku ada disana ketika aku terbangun. Dan seseorang yang sangat mirip denganku mengeluarkanku dari tempat itu," Felix mulai bercerita.


"Apa saja yang kau lakukan dengannya?" Felix bertanya pada Ruby.


"Apa maksudmu? Kami tidak melalukan sesuatu yang aneh," jawab Ruby dengan jujur.


"Syukurlah. Karena biasanya tiap pagi kita pasti melakukan itu," Felix berbicara sambil cengengesan.

__ADS_1


"Astaga pembicaraan macam apa yang sedang aku dengarkan," Thomas yang berjalan di depan Ruby dan Felix menggerutu.


"Hahahaha. Tapi benar,dia sangat mirip denganku. Aku belum berterimakasih padanya. Sebelum dia membebaskanku,dia menyuruhku untuk bersikap seperti biasa. Jangan minta tolong ataupun bersikap aneh. Jadi aku berusaha tenang," Felix menyambung ceritanya.


"Aku pernah membaca tentang kembaran yang dimiliki manusia,mungkin ada lebih dari satu orang yang mirip denganmu. Begitu juga denganku,tapi sampai saat ini aku belum melihat seseorang yang sangat mirip denganku seperti apa yang terjadi padamu," tanggapan Ruby.


"Kenapa kembaran palsumu itu baik padamu?" Thomas heran karena jika secara logika pria itu ada disana berarti dia mengenal Edsen. Sementara Edsen ingin menyakiti mereka,harusnya kembaran Felix itu berusaha menyakiti Felix atau setidaknya menculik Felix,bukan malah membantunya.


"Mungkin pria itu sama seperti nenek dan kakek. Mereka ingin menyelamatkan kami namun aku merasa aneh karena Edsen selalu memantau mereka. Bahkan saat aku bermain ponsel,Edsen seolah-olah mengawasiku dari belakang sampai-sampai aku merasa tidak nyaman," Ruby menjawab.


"Sebenarnya nenek dan kakek itu bukanlah orang tua kandung Edsen. Edsen sepertinya berkhianat pada kakek dan nenek yang telah membesarkannya. Entah untuk siapa mereka bekerja,tapi jika dilihat dari apa yang terjadi,mereka berusaha menculik kalian bukan? Sepertinya dia bekerja untuk sekte itu," Thomas mengemukakan pendapatnya.


"Itu cukup masuk akal," Ruby mulai berpikir kemungkinan-kemungkinan lain selain kerja sama antara sekte itu dengan Edsen.


"Tapi aku memiliki pendapat lain," Felix menengahi diskusi antara Thomas dan Ruby.


"Bagaimana dengan pendapatmu?" Ruby sangat penasaran.

__ADS_1


"Dia seperti itu tidak ada hubungannya dengan sekte,tapi karena dia menyukaimu," jawab Felix.


__ADS_2