
"Sekarang pikirkan saja bagaimana cara keluar dari tempat ini!" bentak Reno.
"Eh,sebenarnya kita sudah bisa pergi," kata Thomas.
"Tunggu apa lagi? Ayo," Felix berjalan keluar kamar diikuti oleh teman-temannya yang lain.
"Bagaimana dengan Anne?" Ruby bertanya pada Felix.
"Bukannya dia juga pengikut sekte itu? Biarkan saja," jawabnya dengan santai.
"Bagaimana kalau ternyata ia melakukan hal itu untuk menyelamatkan kita?" Ruby berdebat dengan Felix disaksikan oleh teman-temannya yang lain.
"Ah,ya sudahlah. Ayo kita cari tau keberadaan Anne," Felix dengan kesal berjalan menuju hutan yang tidak terlalu lebat dimana di tempat itu adalah tempat dilakukannya ritual besok.
Ruby dan teman-temannya mengikuti Felix. Mereka memutuskan menyerang secara terang-terangan.
"Biar kami saja. Kalian tunggu disini," Thomas menghentikan teman-temannya yang baru saja datang. Namun,mereka tetap ingin membantu Ruby,Felix dan Thomas menjemput Anne karena takut terjadi sesuatu yang buruk.
Mereka memutuskan pergi bersama. Bella dan Cassie tetap menjalankan tujuan utama mereka datang ke tempat itu yaitu untuk melakukan live. Di perjalanan menuju tempat ritual akan dilakukan,Cassie kembali melakukan live di YouTube nya. Seperti biasa,banyak orang yang berkomentar di live chat ketika Cassie melakukan live.
"Kami sedang dalam perjalanan menuju tempat ritual sekte itu. Pastikan kalian menonton siaran ini hingga akhir," ujar Bella di kamera.
"Stop!" langkah Felix terhenti tiba-tiba. Secara otomatis teman-teman yang berjalan di belakangnya ikut berhenti.
"Kalian lihat gerbang itu? Itu adalah gerbang masuk menuju tempat ritual. Aku dan Ruby akan masuk karena kami adalah target mereka dalam ritual ini. Kalian diam disini saja," kata Felix.
"Tapi,jika terjadi sesuatu.."
"Kami bisa berteriak atau menelepon kalian," Ruby berusaha menenangkan.
"Baiklah," semua teman-teman Ruby dan Felix setuju dengan ide Felix.
Ruby berjalan lebih dulu,diikuti oleh Felix. Tidak seperti biasanya,tempat itu sangat sepi. Tidak terlihat seorang pun di sekitar altar.
"Mungkin mereka rapat lagi," gumam Ruby.
"Rapat apa?" tanya Felix yang tidak paham dengan apa yang Ruby katakan.
"Ikuti aku," Ruby berjalan lebih dulu karena ia yang mengetahui tentang tempat itu lebih banyak dibandingkan Felix.
Mereka berjalan dengan sangat hati-hati menuju tempat dimana Ruby menguping pembicaraan tetua sekte yang sedang berkumpul beberapa hari yang lalu.
"Aku lupa,untuk pergi kesana kita harus melewati aula itu. Mungkin mereka sedang berkumpul di aula," kata Ruby sambil terus berjalan. Dengan hati-hati mereka berjalan menuju aula yang Ruby maksud.
"Apa? Tidak ada orang," ujar Ruby setelah mereka mengintip aula yang dimaksud oleh Ruby.
"Mungkin di tempat lain yang tadi kau katakan," bisik Felix.
Mereka kembali mengendap-endap menuju tempat berkumpulnya tetua sekte yang Ruby lihat.
"Kau lihat ruangan itu? Itu tempat yang aku maksud," Ruby memberitahu Felix ruangan yang ia lihat beberapa waktu yang lalu.
__ADS_1
"Aku saja yang kesana. Kau tolong awasi dari sini," Felix berjalan mendekati ruangan itu dengan sangat hati-hati. Sementara Ruby mengawasi dari balik pot tanaman.
Felix berkeliling mengintip dari jendela namun tidak ada seorang pun yang ia lihat. Tiba-tiba ponsel Felix bergetar,ada telepon masuk dari Thomas.
"Ada apa?" tanya Felix.
"Mereka datang dan baru saja memasuki gerbang," jawab Thomas yang kemudian mematikan teleponnya.
"Sialan,apa mereka sengaja menjebak kami," Felix kembali ke tempat Ruby berada dan berlari menjauhi tempat itu.
"Ada apa?" bisik Ruby.
"Mereka datang," jawab Felix sambil berjongkok dibalik sebuah patung kambing yang sangat besar.
Ruby dan Felix menutup mulut mereka dengan tangan setelah melihat pemandangan mengerikan dan sangat menjijikan dengan mata mereka sendiri.
"Gila! Orang-orang ini tidak waras," kata Felix.
Ruby terus menyaksikan pemandangan itu dimana mayat seseorang yang ia duga adalah mayat wanita yang ia temukan di pinggir sungai,tengah dibaringkan diatas altar.
"Wanita ini melakukan bunuh diri sehingga memiliki dosa yang besar," kata pria tua yang berdiri di hadapan belasan anggota sekte yang hadir disana.
Ruby sebenarnya setuju dengan apa yang dikatakan oleh pria tua itu,bunuh diri memang perbuatan yang sangat dilarang.
"Maka kita harus melakukan ritual untuk memusnahkan dosa wanita ini," lanjut pria tua itu.
Ruby dan Felix sangat penasaran dengan ritual apa yang akan mereka lakukan disana,dengan mayat yang kulitnya sudah terkoyak.
"Kenapa polisi tidak datang ketika aku mengatakan menemukan mayat," Ruby sangat menyesal melihat wanita itu tewas dan dijadikan bahan ritual.
Disini Ruby mengetahui bahwa anggota sekte yang ada di depannya adalah anggota sekte baru. Sementara itu Felix sibuk merekam kejadian yang tengah terjadi di depan matanya.
Sebuah pisau dengan ukuran yang sangat besar diambil oleh pria tua itu. Ia menyayat bagian perut mayat dengan hati-hati.
"Ah,aku tidak bisa melihat ini," Ruby membalikkan badannya menghadap Felix sementara Felix terus merekam walaupun sebenarnya ia merasa ngeri.
"Apa kita akan disayat hidup-hidup besok?"
"Kita kabur setelah ini," Felix memeluk Ruby.
"Ehem," seorang wanita berdehem di samping mereka.
"Anne!" Ruby kegirangan melihat keadaan Anne yang tampak baik-baik saja.
"Ayo pergi bersama," ajak Felix.
"Pergilah. Aku akan tetap tinggal disini," jawabnya sambil tersenyum.
"Hey! Korban kita untuk besok menyerahkan diri!" seru Anne tiba-tiba.
Semua mata tertuju pada mereka yang tengah berjongkok untuk bersembunyi.
__ADS_1
"Apa-apaan kau?" Felix secara spontan membentak Anne.
"Aku menipu kalian. Aku anggota sekte ini hahaha," tawanya memekakkan telinga.
Diam-diam Ruby menelepon Thomas namun tidak berbicara agar mereka mendengar percakapan antara Ruby,Felix,dan Anne
"Kalian terlalu mudah percaya," kata seseorang yang ikut mendekati mereka.
Kini sepasang saudara kembar itu tertawa puas melihat Ruby dan Felix diam terpaku di tempat itu. Ruby kembali berjongkok dan mengambil segenggam pasir. Ia melemparkan pasir itu ke wajah Ann dan Anne. Mereka berlari namun tidak keluar dari tempat itu karena mereka sudah dikepung. Pintu gerbang dijaga oleh sangat banyak aggota sekte. Mereka berlari menuju aula.
"Thomas kami terkepung," Ruby berbicara di telepon.
"Tunggu,aku akan datang dengan teman-teman," jawabnya.
Felix dan Ruby bersembunyi di sekitar aula namun tidak terlihat ada orang yang mendekati mereka.
"Hai," sebuah tangan mungil menepuk bahu Felix.
Seorang anak kecil dengan pakaian biasa datang menghampiri mereka.
"Kau mau main?" tanya anak kecil itu.
"Kami tidak ada waktu," Felix mengabaikan anak kecil itu.
"Bersembunyilah di rumahku," jawab anak itu.
"Siapa namamu?" tanya Ruby.
"Andy," jawabnya.
Ruby dan Felix saling bertatapan karena bingung mau mengikuti anak itu atau tidak.
"Ikut saja," kata Felix pada Ruby.
"Baiklah,tolong bantu kami," Ruby meminta bantuan pada Andy.
"Ayo ikuti aku," anak laki-laki bernama Andy itu berjalan menuntun mereka.
Mereka berjalan dengan hati-hati melewati bagian belakang aula. Di sana ada tembok yang cukup rendah,sehingga dengan mudah mereka bertiga bisa melewatinya dengan cara memanjat.
"Akhirnya sampai diluar tempat itu," ujar Andy.
"Jika klian berjalan lurus ke selatan,kalian akan menemukan tempat masuk ke area itu. Sebuah pintu gerbang," imbuhnya.
Ruby dan Felix mengingat baik-baik perkataan Andy agar mereka mudah kembali nanti. Mereka berjalan menerobos semak-semak yang lebat hingga sampai di tepi sungai.
"Sungai ini,tinggal kalian ikuti arusnya untuk kembali," Andy terus memberikan petunjuk agar mereka dapat melarikan diri.
"Terimakasih Andy,sudah membantu kami," kata Felix.
"Tunggu,Andy?"
__ADS_1
Andy membalikkan badannya dan tersenyum sangat lebar sambil menatap Ruby.
"Kakak ingat denganku?" tanya nya.