Journeys End

Journeys End
Night time


__ADS_3

Akhirnya Felix dan Ruby mengunjakkan kaki di tanah kelahiran mereka. Ruby dan Felix menghidupkan ponselya masing-masing. Spam chat dari Key masuk ke ponsel mereka. Felix mengabari Key bahwa mereka sudah sampai.


"Kau tidak mau membalas pesannya?" tanya Felix ketika ia melihat Ruby mengabaikan pesan dari Key.


"Aku lelah," jawab Ruby.


Mereka sebelumnya sudah memesan hotel karena tidak memungkinkan untuk langsung pulang ke rumah setelah 24 jam menempuh perjalanan.


Mereka naik taksi menuju hotel yang sudah mereka pesan.


***


Jam dinding di kamar mereka sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Ruby tertidur pulas di sebelah Felix. Ruby memberi batas diantara mereka dengan menggunakan bantal guling. Karena hanya menginap semalam,mereka hanya memesan satu kamar.


Felix tidak bisa tidur sama sekali. Kali ini ia merasakan kalau Ruby benar-benar marah padanya. Memang,semua orang tidak suka dibentak. Apalagi jika tidak melakukan kesalahan. Ia menyesal karena telah mengacaukan momen kebersamaannya dengan Ruby. Felix menyingkirkan bantal guling yang menjadi pembatas diantara mereka. Ia menatap wajah Ruby yang sedang tertidur pulas.


Felix kembali membaca pesan-pesan yang dikirimkan Key tadi. Ternyata ada satu pesan yang belum terjawab.


"Kalian pacaran?" tanya Key pada pesan itu.


"Hanya pura-pura," balas Felix.


Ia kemudian tertidur di samping Ruby.


Pukul 11 siang mereka baru terbangun karena mendengar ponsel Felix berdering. Ternyata ada telepon masuk dari Key.


"Apa maksudmu pura-pura?" Key membentak Felix sementara Ruby sudah tau kemana arah pembicaraan mereka berdua dan pura-pura tidak peduli namun tetap sambil mendengarkan.


Ruby menarik selimut hingga ke batas hidungnya,kemudian ia menguping pembicaraan Felix dan Key.


"Aku membantu Ruby agar Andrew tidak terus mengganggunya. Dengan pura-pura menjadi pacarnya,Andrew tidak akan mengganggu Ruby lagi," kata Felix via telepon.


Ruby mengangguk-angguk setuju dengan perkataan Felix walaupun Felix tidak menyadarinya.


"Kau jangan mempermainkannya. Dia gadis yang baik," kata Key pada Felix.


Ruby mendengar dengan jelas pembicaraan mereka karena Felix mengaktifkan speaker ketika sedang menelepon. Ruby merasa Felix sengaja melakukan itu agar Ruby mendengar pembicaraan mereka.


"Sudah? Ayo siap-siap pulang," kata Ruby pada Felix.


Saat ini mereka berada di hotel yang jaraknya dekat dengan bandara. Dan rencananya dari hotel mereka akan berangkat ke rumah masing-masing. Jarak rumah Felix dari bandara hanya membutuhkan waktu 2 jam dengan mobil sedangkan Ruby harus naik pesawat lagi karena rumahnya berada di luar kota.


Ruby menoleh ke jendela,awan gelap pada pagi itu.


"Wah,feelingku tidak enak. Sepertinya akan badai," ujar Ruby.


Beberapa hari terakhir memang sering terjadi badai disana,bahkan banyak penerbangan yang dibatalkan. Ruby menyuruh Felix cepat berkemas agar tidak terjebak badai saat perjalanan pulang nanti.


"Tidak. Aku tidak jadi pulang. Aku mau menemanimu saja," kata Felix yang kembali merebahkan diri di kasur.


"Aku bisa sendiri," jawab Ruby.


"Feelingku juga tidak baik. Tapi bukan mengenai badai,tapi tentang dirimu," ujar Felix.


Ruby hanya diam dan tidak memaksakan kehendak Felix.


"Berarti kita menginap satu malam lagi ya. Aku mau mengurus administrasi," kata Felix yang keluar kamar dengan tampilan acak-acakan.


"Apa-apaan dia," Ruby mengabaikan tingkah polah Felix dan mandi pagi.


Setelah keluar dari kamar mandi,sudah tersedia sarapan di kamar mereka. Felix asik menonton berita tentang ramalan cuaca dan benar saja,badai terjadi hari itu dan seluruh penerbangan ditunda.


"Kapan ya penerbangan berikutnya," Ruby mengecek situs online untuk membeli tiket lagi karena ia memutuskan untuk stay lebih lama disana. Jadi,ia membatalkan rencana keberangkatan hari ini dan membiarkan tiket pesawatnya hangus begitu saja.


"Tiket biar aku yang urus nanti. Percuma mencari sekarang,tidak ada sinyal," kata Felix.


 Mendengar perkataan Felix,Ruby sedikit lega. Ia tidak perlu memusingkan masalah tiket lagi.


"Kenapa tadi pagi aku melihatmu tidur di sampingku?" tanya Ruby pada Felix.


"Bukankah kita memang tidur seranjang?" Felix bertanya balik pada Ruby.


"Maksudku,tadi malam kan sudah aku beri batas bantal guling," sahut Ruby.


"Lagi pula aku tidak menyentuhmu. Hanya melihat wajahmu saja," Felix membela diri karena ketahuan memindahkan batas yang sudah Ruby buat.


Ruby terdiam menatap jendela yang basah karena hujan badai. Ia teringat kenangan bersama Thomas ketika kejadian penculikan itu. Thomas selalu berusaha melindunginya,selalu berada di samping Ruby. Banyak hal yang mereka lakukan bersama-sama. Kenangan itu tidak akan pernah bisa Ruby lupakan. Felix diam-diam memperhatikan Ruby. Kini Ruby mulai meneteskan air mata. Felix tau bahwa ingatan itu muncul kembali di ingatan Ruby karena Ruby sudah menceritakan dengan detail tentang kejadian penculikan itu,bagaimana situasi disana dan apa saja yang mereka lakukan.

__ADS_1


"Hey,kenapa?" Felix mendekati Ruby.


"Tidak. Tidak apa," Ruby segera menyeka air matanya.


"Bohong," jawab Felix.


"Sudahlah. Nanti saja aku lupa dengan kejadian itu," Ruby berusaha menenangkan dirinya sendiri.


"Ada aku," Felix menemani Ruby yang akhirnya tertidur.


Badai masih berlanjut hingga siang. Felix yang juga ikut tertidur,bangun lebih dulu. Ruby masih tertidur lelap di sampingnya.


"Sepertinya aku benar-benar menyukai wanita ini," ujar Felix sambil menatap Ruby yang terlelap.


Plak!


Tangan Ruby tidak sengaja mengenai pipi Felix. Ia langsung terbangun ketika mendengar suara Felix yang kesakitan.


"Ah,maafkan aku," Ruby memegang pipi Felix.


"Hehe," Felix memegang tangan Ruby yang sedang menyentuh pipinya.


"Apa?"


"Sebenarnya tidak sakit hahaha," Felix sengaja berteriak agar Ruby bangun.


"Mana makan siangnya?" taya Ruby.


"Apa maksudmu baru bangun sudah meminta makan siang padaku?"


"Katanya kau suamiku," canda Ruby.


"Hahaha baiklah. Mau makan apa? Ayo kebawah," Felix mengajak Ruby makan di restoran yang ada dibawah.


"Ayo!" jawab Ruby dengan semangat.


Mereka makan siang bersama-sama. Menghabiskan waktu bersama dengan perasaan yang semakin bertumbuh.


"Sekarang apa?" tanya Felix.


"Tidak tau," jawab Ruby sambil tertawa.


"Mana aku tau,kan kau sendiri yang ingin ikut," jawab Ruby.


"Ya sudah. Aku menginap di rumahmu ya," Felix sebenarnya bisa saja untuk menyewa hotel atau tempat tinggal sementara,namun karena tujuan ia ikut dengan Ruby adalah untuk menghibur Ruby maka ia memberanikan diri untuk meminta izin menginap di rumahnya.


"Sebenarnya boleh saja. Nanti kau tidur di atas," jawab Ruby.


Kini mereka hanya tinggal mengurus tiket kepulangan mereka saja.


***


Hari yang ditunggu-tunggu tiba. Mereka sudah siap untuk pergi menuju rumah Ruby. Pagi-pagi mereka sudah berada di bandara dan sarapan disana. Tidak butuh waktu lama mereka sampai di kota tempat Ruby tinggal. Hanya sekitar 1 jam penerbangan mereka berhasil sampai dengan selamat.


"Sekarang kita tinggal naik taksi. Hanya 30 menit dari sini menuju rumahku," kata Ruby.


"Baik,ayo cari taksi dulu," ajak Felix.


Mereka mencari taksi yang ada di sekiar bandara untuk mengantar mereka pergi ke rumah Ruby. Sekitar pukul 3 sore mereka sudah sampai di kediaman Ruby. Tidak lupa Felix mengabari Key.


Tit.. Tit.. Tit..


Ponsel Felix berdering menunggu panggilan teleponnya diangkat oleh Key.


"Halo," Key mengangkat teleponnya.


"Aku sudah di rumah Ruby," kata Felix pada adiknya itu.


"Kenapa bersama kak Ruby? Katanya kau pulang?" Key memperlihatkan tanda-tanda akan marah.


Ia pasti sangat ingin ikut pergi ke rumah Ruby. Di daerah tempat Ruby tinggal memang terkenal akan banyaknya tempat wisata yang bagus.


"Ya bagaimana. Ini diluar kendaliku. Istriku meminta ditemani," kata Felix sambil menahan tawa.


"Kalian kawin lari?!" teriak Key.


Tawa Ruby dan Felix pecah mendengar perkataan Key. Felix kemudian menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan ujung-ujungnya tetap saja Key merengek seperti anak kecil.

__ADS_1


"Baik,obrolan berakhir. Sekarang ayo pergi," ajak Felix.


"Mau kemana? Kita baru saja sampai," ujar Ruby.


"Ayolah,ayo pergi," kini giliran Felix yang merengek seperti anak kecil.


"Baik,tapi makan dulu. Aku akan memasak," jawab Ruby.


Ruby membeli bahan makanan di supermarket dekat rumahnya. Hanya dengan berjalan kaki selama 5 menit ia sampai disana dan membeli bahan yang ia butuhkan.


"Kenapa baru terlihat? Kemana saja?" tanya security yang berjaga disana.


"Saya baru pulang dari Belanda,Pak," jawab Ruby.


Ruby kemudian kembali ke rumah setelah menyapa beberapa orang yang bertanya mengenai keadaannya. Berita diculiknya Ruby ternyata sudah menyebar disana. Pantas saja ketika Ruby berjalan menuju supermarket maupun berjalan pulang,orang-orang memperhatikannya.


Ruby sampai di rumah. Terlihat beberapa orang ada di rumah Ruby. Ternyata itu adalah tetangga-tetangga Ruby.


"Oh,bibi!" seru Ruby.


"Kau kemana saja? Bagaimana kabarmu?" tanya bibi Eva yang merupakan tetangga dekat Ruby.


"Aku baru saja datang dari Belanda. Tadi aku pergi ke supermarket," jawab Ruby sambil memperlihatkan barang belanjaannya.


Felix hanya bengong karena tidak tau apa yang harus ia lakukan ditengah keramaian itu. Tetangga Ruby satu per satu mendatangi rumah Ruby. Mereka menanyakan kabar Ruby dan bagaimana kejadian itu bisa terjadi.


"Sebelumnya perkenalkan. Ini temanku,Felix. Dia dari luar kota," kata Ruby memperkenalkan Felix.


"Halo. Sebenarnya aku kekasih Ruby," ujar Felix memperkenalkan diri.


Semua orang tertawa melihat perilaku Felix yang sedikit lucu. Ruby melirik Felix seakan-akan memberi kode.


"Bukankah saat kejadian itu kekasihmu bukan yang ini?" goda bibi Eva.


"Hm,sebenarnya kami sudah putus," Ruby memberikan klarifikasi.


Karena Felix sudah tampak kelaparan,Ruby segera memasak untuknya sementara Felix mengobrol dengan tetangga-tetangga Ruby yang satu per satu pulang hingga tersisa bibi Eva.


Ahirnya bibi Eva pulang dan Felix menyantap spagethii buatan Ruby.


***


Suara jangkrik menemani malam mereka yang sunyi. Tanpa menghidupkan TV maupun bermain ponsel,mereka berbincang banyak hal. Tentang masalah-masalah yang telah mereka lewati.


"Kapan kontrak kita akan berakhir?" tanya Felix.


"Entah. Terserahmu saja," jawab Ruby.


"Baiklah,sampai bulan depan. Aku berencana pindah kampus,bagaimana menurutmu?" Felix menanyakan pendapat Ruby.


"Apa alasanmu pindah?"


"Hanya ingin. Tidak ada alasan khusus," Felix menjawab.


"Kampus tempat kau berkuliah sudah sangat bagus,kampusmu bertaraf internasional bukan? Aku rasa kau tidak perlu pindah," Ruby mengemukakan pendapatnya.


"Kau tidak ingin jauh dariku bukan?" goda Felix.


"Itu hanya pendapatku. Kalau kau ingin pindah ya silahkan saja," Ruby menyangkal bahwa ia tidak ingin jauh dari Felix.


"Jaga perasaanmu ya,selama hubungan palsu kita ini berjalan," pungkas Felix.


"Maksudnya?"


"Jangan sampai hatimu benar-benar menyukaiku," jawabnya.


"Memang kenapa?" Ruby tak paham.


"Aku bukan pria yang baik. Aku pemabuk,suka merokok. Dan aku tau dari Key bahwa tipe idealmu bukan pria seperti diriku," terangnya.


"Untuk apa kau menanyakan tipe pria idealku padanya?" Ruby penasaran.


"Hanya iseng saja karena aku sudah kehabisan topik chat dengan dia,dan ketika aku menanyakan tentang dirimu Key langsung bersemangat lagi," Felix menjelaskan.


"Sebenarnya,aku memang memiliki tipe pria ideal. Namun selama ini aku belum pernah berkencan dengan pria yang sesuai tipeku. Jadi aku sudah memutuskan mencari pria yang membuatku nyaman saja,tanpa memikirkan tipe ideal," Ruby menjelaskan perubahan yang telah ia tetapkan. Setelah berpisah dengan Thomas,Ruby lebih selektif lagi. Walaupun secara fisik pria yang mendekatinya adalah tipe idealnya,namun jika Ruby merasa tidak cocok dengan kepribadiannya,Ruby akan langsung menolak.


"Jadi,dari kepribadianku apakah aku termasuk dalam kriteria ideal bagimu?" tanya Felix.

__ADS_1


Ruby tidak mampu menjawab,ternyata Felix sengaja menjebaknya dengan obrolan itu.


__ADS_2