
Matahari mulai terbenam. Cuaca sedikit mendung. Felix dengan terpaksa mengikuti Thomas yang diam-diam membuntuti kemana Zoe pergi. Entah darimana Thomas mendapatkan dua buah sepeda,perlahan-lahan mereka mengikuti mobil itu.
"Aku baru tau ada jalan seperti ini," ujar Felix.
"Aku juga," jawab Thomas.
Jalanan tanpa aspal namun rata mereka lalui. Di pinggir jala,tumbuhan mawar rambat tumbuh di pagar kayu yang terpasang di sepanjang jalan. Jarak antara mobil yang membawa Zoe dengan Thomas dan Felix cukup jauh. Namun,mobil masih tetap terlihat karena jalanan yang lurus dan hanya ada mereka bertiga disana.
"Kenapa disini sangat sepi,ya?" Felix penasaran.
"Apa mungkin ini jalan milik pribadi? Lihatlah semua tanaman hias ini,sangat indah seakan-akan bukan jalan milik negara," Thomas menjawab.
Setelah beberapa saat,Thomas dan Felix hanya terdiam sambil mengayuh sepeda. Energi mereka mulai habis,jalanan sangat gelap sekarang. Tidak satu pun terlihat ada lampu penerangan di pinggir jalan. Hanya cahaya dari lampu mobil yang mereka ikuti satu-satunya penerangan yang bisa mereka manfaatkan.
"Tunggu. Lampunya mati,apakah mobilnya berhenti?" Thomas berhenti mengayuh sepeda.
"Sebaiknya kita mendekat daripada kehilangan jejak," Felix kembali mengayuh sepedanya perlahan setelah tadi sempat berhenti.
Thomas mengikuti Felix dari belakang. Di kegelapan malan,tidak terlihat dimana mobil itu berhenti. Dengan mengandalkan cahaya bulan,Felix dan Thomas menyibak gelapnya malam dengan sepeda curiat Thomas.
"Itu! Itu!" Felix menunjuk ke sebuah mobil.
"Kita taruh sepedanya disini saja," ujar Thomas.
Mereka berdua mengendap-endap mendekati mobil yan sedang terparkir. Tidak ada suara sedikit pun. Perlahan,Thomas mengintip di kaca belakang mobil namun tampak kosong.
"Sial,apa mereka pergi?" Thomas mengumpat.
"Aaaaa!" tiba-tiba saja Felix berteriak.
"Astaga Zoe!" Felix agak kesal karena dikejutkan oleh kemunculan Zoe secara tiba-tiba.
"Kenapa kau disini Zoe?" Thomas berbisik.
"Lihat apa yang aku lakukan," Zoe menarik tangan Thomas dan Felix ke bagian depan mobil.
Pintu mobil masih tertutup dan saat Thomas mengintip tadi,tidak terlihat ada siapapun di dalam mobil. Dan ternyata,sang pengemudi mobil sudah pingsan di dalam mobil.
"Zoe apa yang kau lakukan padanya?" Thomas panik.
"Aku hanya memukul kepalanya dengan tongkat kasti," Zoe cekikikan.
"Ayo pergi," Thomas segera mengajak Zoe pergi disusul oleh Felix di belakangnya. Dengan menggunakan sepeda,mereka bertiga melarikan diri dari tempat itu.
"Kita harus menyusun rencana untuk menyelidiki tempat ini," ujar Felix.
"Ya kan tempat ini milik sekte," celetuk Zoe.
"Apa yang kau tau tentang sekte itu Zoe?" Thomas tidak menyangka bahwa Zoe tau begitu banyak.
"Karena aku adalah anggota sekte," Zoe menjawab sambil tersenyum lebar.
Thomas dan Felix berhenti sejenak,saling bertatapan lalu tertawa.
"Hahahaha,apa yang kau katakan Zoe?" kata Thomas sambil tertawa.
"Kakek-kakek itu berkata bahwa ibuku sudah bergabung dengan sekte dari lama dan aku harus bergabung agar bisa bertemu dengan ibu. Jadi saat kakek itu bertanya apakah saat ini juga aku mau bergabung,aku jawab saja iya. Artinya sekarang aku sudah menjadi anggota sekte bukan?" Zoe tampak tidak paham bahwa sekte adalah suatu kelompok yang berbahaya.
"Zoe,apa kau tau sekte itu kelompok jahat?" tanya Felix.
"Felix,jangan sekarang," Thomas memperepat kayuhannya diikuti oleh Felix.
__ADS_1
"Cepat,akan hujan!"
**
Sampai rumah,hujan turun begitu deras.Bahkan teras rumah Ruby hampir kebanjiran.
"Lalu sekarang apa? Aku tidak tau harus berbuat apa," kata Ruby setelah melihat apa yang Thomas dan Felix lakukan tanpa sepengetahuannya.
"Apa kakak tidak senang aku ada disini?" tanya Zoe.
"Bukan begitu Zoe. Masalahnya tidak sesederhana itu," Ruby menjawab.
"Sudahlah Ruby. Besok kita bicarakan lagi," ujar Thomas.
"Tidurlah duluan," Ruby meninggalkan kamar menuju ke ruang tamu.
"Sayang," Felix menyusul Ruby yang terlihat sedikit jengkel.
"Dengarkan aku," kata Felix.
"Silahkan berbicara. Aku akan mendengarkan," Ruby menjawab.
"Karena kami takut Zoe diculik dan sesuatu yang buruk terjadi padanya,jadi kami memutuskan untuk mengajaknya kemari. Maaf tidak memberitahumu sebelumnya," Felix menjelaskan.
"Lalu bagaimana kalau kita yang dikatakan menculik Zoe? Siapa yang akan bertanggung jawab? Kita bahkan tidak tau apa yang terjadi dengan pria tua itu disana," Ruby merasa apa yang Thomas dan Felix lakukan justru akan menambah masalah.
"Dan,disini jaringannya begitu buruk. Kita tidak bisa melakukan perkuliahan dengan lancar kalau terus seperti ini," keluh Ruby.
"Sebentar lagi kita akan pulang," Thomas keluar dari kamar.
"Sebentar lagi kapan maksudmu?" Ruby menginginkan penjelasan.
"Bagaimana bisa hanya kau yang bertanggung jawab,sedangkan kita bertiga tinggal di rumah yang sama," Ruby tidak yakin dengan pertanggung jawaban macam apa yang ditawarkan oleh Thomas.
"Zoe pasti akan mengatakan kebenarannya jika terjadi sesuatu. Dia yang melarikan diri dan meminta tolong pada kita agar kita mengajaknya kemari," Felix mendukung Thomas.
"Apa kalian tidak berpikir,bagaimana jika kita dianggap mendoktrin Zoe gar mengatakan hal itu? Zoe tetaplah hanya seorang anak kecil. Kalian pikir seua orang akan percaya semudah itu" Ruby semakin kesal karena merasa Thomas dan Felix tidak berpikir panjang sebelum bertindak.
"Ditambah sepeda yang kalian curi," tambah Ruby.
"Em,masalah itu. Thomas yang akan bertanggung jawab," kata Felix sambil melirik Thomas.
"Tentu saja. Besok akan aku kembalikan sepedanya ke tempat semula," Thomas menjawab sambil menahan kantuk.
"Ayo kita tidur saja," Ruby bangun dan berjalan menuju kamar yang hanya ada satu di rumah itu.
"Zoe,kau sudah tidur?" Ruby dengan lilin di tangannya mencari-cari keberadaan Zoe.
"Zoe?" panggil Ruby.
Ruby membuka selimut dengan perlahan agar Zoe tidak terbangun. Gadis kecil itu sudah tidur lelap. Ruby merasa sedikit bersalah karena tidak setuju Thomas dan Felix mengajak Zoe ke rumah. Namun,bukan tanpa alasan. Masalah yang Ruby hadapi sudah cukup pelik,jika ditambah dengan kehadiran Zoe yang bisa saja akan menimbulkan masalah di kemudian hari,Ruby takut masalah yang ia hadapi akan semakin berat dan sulit untuk diselesaikan.
Sementara itu,Thomas dan Felix masih belum masuk ke kamar. Ruby yang sudah diserang kantuk kini berbaring di samping Zoe yang sudah tertidur pulas.
**
"Apa yang kau lakukan? Cepatlah!" seru Thomas.
Felix dengan perlahan meletakkan sepeda yang ia gunakan tadi sore di sebuah garasi yang entah milik siapa. Garase tua dengan dua sepeda dan sebuah mobil butut berdebu.
"Aku akan menaruh uang disini. Anggap saja kita menyewa sepedanya tadi," Thomas meletakkan dua lembar uang seratus ribu di keranjang sepeda,tidak lupa dengan secarik kertas berisi ucapan terimakasih dan permintaan maaf karena telah mengambil sepeda-sepeda itu tanpa izin.
__ADS_1
"Ayo cepat pulang," Felix berjalan lebih dulu meninggalkan Thomas.
"Omong-omong,apa kabar teman-teman ya?" Thomas teringat dengan teman-teman yang ia tinggalkan di kota.
"Sudah lama kita tidak berkomunikasi. Disini tidak ada yang menjual paket data ya? Paket data kita habis berbarengan," keluh Felix.
"Dan kita juga tidak bisa mengikuti perkuliahan," Thomas ikut mengeluh.
"Bagaimana dengan Ruby?" tanya Thomas.
"Dia sudah kehabisan kuota sejak dua hari lalu. Lihat saja dia tidak mengunggah story Instagram," jawab Felix.
"Besok lebih baik kita tanyakan pada Jenn," Thomas mempercepat langkahnya agar bisa sampai di rumah dengan cepat.
"Kau takut ya?" goda Felix.
"Memangnya kau tidak takut di daerah terpencil seperti ini tengah malam?" Thomas balik menyerang Felix.
"Tentu saja tidak. Untuk apa aku takut," jawabnya.
"Sssstt" Felix menyeret Thomas ke belakang sebuah pohon.
"Ada orang," kata Felix.
Seorang pria dengan sebuah kapak di tangannya berjalan menuju garasi yang baru saja Thomas dan Felix tinggalkan tadi.
"Sepertinya dia pemilik sepeda-sepeda itu," Thomas menerka-nerka.
"Dia tampak menakutkan. Kita bersembunyi saja sampai dia pergi," Felix merasa sedikit khawatir.
"Terserah kau saja," Thomas secara tidak langsung mengatakan bahwa ia menyetujui usulan Felix.
Gubrak..
Terdengar suara sesuatu yang jatuh,tepat di dekat mereka bersembunyi. Sebuah pohon tumbang di dekat mereka. Kemungkinan karena tadi sempat hujan angin dan pohon sudah terlalu rapuh jadi pohon itu tidak kuat lagi bertahan.
"Sial,jangan bilang pria itu akan datang," Felix ketakutan.
Mereka berdua masih bersembunyi karena pria itu tidak kunjung masuk ke garasi. Hanya mondar-mandir dengan kapak di tangan kanannya. Bahkan saat sebuah pohon tumbang,pria itu seperti tidak terusik,ia tetap mondar-mandir tanpa menoleh sedikitpun ke sumber suara.
"Tuan Rick!" panggil seseorang.
"Akhirnya. Cukup lama aku menunggumu tadi," pria dengan kapak ditangannya itu berbicara dengan seseorang yang baru saja memanggilnya.
Kini Thomas dan Felix mengetahui nama dari pria itu adalah tuan Rick.
"Aku membawa pesananmu," kata pria yang baru saja datang.
"Bagus. Ini upah untukmu," Rick memberikan sejumlah uang untuknya.
Percakapan dua pria itu terdengar jelas karena suasana di tempat Thomas dan Felix bersembunyi sangat sepi. Hanya suara jangkrik dan hewan liar yang terdengar. Jika mereka salah berpijak atau menginjak ranting,pasti akan langsung ketahuan. Jadi Thomas dan Felix diam mematung di balik sebuah pohon besar. Sebuah karung berisi sesuatu yang terlihat cukup berat kini ada di tangan Rick. Entah apa isinya,Thomas dan Felix sangat penasaran tapi mereka memilih mengubur dalam-dalam rasa penasarannya karena takut berurusan dengan pria bersenjata.
"Pria itu masuk," bisik Thomas.
"Diam kau. Pria satunya masih disana," Feix menjawab dengan cara berbisik.
Pria yang datang membawa pesanan Rick sedang berdiri sambil menghitung uang yang ia dapatkan. Namun tidak lama setelah itu,ia pergi kearah yang berlawanan dari Thomas dan Felix.
"Tunggu dia agak jauh baru kita pergi," bisik Felix.
Thomas mengangguk yang menandakan bahwa ia setuju dengan apa yang Felix katakan.
__ADS_1