Journeys End

Journeys End
the b***h is dead


__ADS_3

Ruby bangun pagi-pagi sekali,lantas ia menyiapkan sarapan untuk kekasihnya.


"Aku mau pergi..."


"Kemana lagi? Akhir-akhir ini kau tidak pernah ada waktu sedikit pun untukku," protes Felix.


"Ke perkemahan," jawab Ruby.


"Apa yang kau lakukan ke tempat itu? Aku akan menemani mu pergi," Felix memaksa ikut.


Sebenarnya Ruby senang jika Felix ikut namun ia gengsi untuk mengajak Felix pergi bersama,untungnya Felix menawarkan diri untuk menemani Ruby.


Selesai bersiap-siap,Felix dan Ruby berangkat ke perkemahan. Felix tidak tau apa yang akan mereka lakukan sampai di sana nanti,namun ia hanya menuruti Ruby yang mengatakan ingin ke perkemahan.


"Sebenarnya apa yang kau cari?" tanya Felix.


"Hanya melihat apakah disana ramai atau tidak," jawab Ruby.


"Apakah sepenting itu? Pasti ada alasan lain," Felix menduga-duga.


"Kau ini ingin tahu saja ya," Ruby tidak mau memberitahu apa yang ingin ia cari ke perkemahan.


Sampai disana,tempat mereka dulu berkemah cukup banyak pengunjung. Anak-anak muda seumuran mereka sedang berkemah disana,bahkan ada juga sebuah keluarga yang mengajak balita. Felix memarkir mobil di tempat parkir kemudian ia menyusul Ruby ke perkemahan.


"Sudah cukup. Ayo kembali," kata Ruby pada Felix yang baru saja menginjakkan kaki di perkemahan.


"Sayang,kau ingin mengerjaiku ya?" tuduh Felix


"Haha tidak. Bukankah kau yang ingin ikut? Aku sudah mengecek dan ternyata ramai," Ruby menjawab sambil tertawa.


"Sayang," Felix memasang wajah jengkel.


"Baik,baik. Aku penasaran dengan wanita itu," jawab Ruby jujur.


"Apa dia akan datang kesini lagi sehingga kau ingin datang ke perkemahan?" tanya Felix.


"Aku hanya berharap menemukan petunjuk di tempat ini," jawabnya.


"Lalu sekarang kita harus mencari petunjuk?" Felix terus bertanya.


"Ayo jalan ke tempat kita bersembunyi kemarin," ajak Ruby.


Felix hanya menurut untuk menyenangkan hati pasangannya itu. Ketika akan memasuki jalan setapak kecil berlumpur,sebuah benda berkilau tidak sengaja Ruby injak.


"Sayang,aku menginjak sesuatu," ujar Felix sambil menunjuk ke arah kaki Ruby.


Ia mengangkat kakinya dan menemukan sebuah cincin berlumuran lumpur.


"Apa ini milik wanita itu?" tanya Ruby.


"Aku juga tidak tau. Anderson?" Felix membaca ukiran yang ada pada cincin itu.


"Mungkin dia berasal dari keluarga Anderson," jawab Ruby.


"Aku jadi teringat sesuatu," Felix tersenyum ngeri.

__ADS_1


"Apa sayang?" Ruby penasaran.


"Bukankah Ann memiliki nama Anderson di belakang namanya? Nama keluarga suaminya," jawab Felix.


Mereka berdua bergidig ngeri dan memutuskan untuk kembali ke mobil dan pergi dari tempat itu.


Mereka berdua kembali ke mobil. Sebuah mobil sedan biru tampaknya juga baru saja datang ke perkemahan itu karena saat Felix parkir tadi mobil itu belum ada.


"Aku sudah selesai memastikan sesuatu. Sekarang ayo kita jalan-jalan," ajak Ruby.


"Kau ingin kemana?" tanya Felix.


"Beli es krim," jawaban Ruby.


Felix dan Ruby memutuskan untuk pergi ke kedai es krim yang biasa mereka kunjungi bersama.


"Sebenarnya.."


"Di rumah saja sayang," Ruby memotong pembicaraan Felix.


Mereka asik menyantap es krim berdua. Es krim rasa cokelat mint menjadi pilihan Ruby,sementara Felix lebih menyukai es krim vanila dan karamel.


Kedai es krim itu tidak terlalu ramai karena cuaca juga agak dingin,membuat orang tidak terlalu ingin memakan es krim.


Pemilik kedai terduduk lesu melihat orang wara-wiri di pinggir jalan,sebuah restoran sup ayam yang terkenal di kota itu penuh dengan pengunjung.


"Cuaca sedang dingin membuat orang banyak yang ingin menyantap sesuatu yang hangat dan berkuah," ujar Ruby sambil melihat tumpukan pengunjung penjual sup ayam.


"Semoga saja kedai ini bisa ramai seperti tempat itu," doa Felix.


"Bukankah itu mobil yang tadi?" bisik Felix.


"Sstt," Ruby memberi isyarat untuk diam.


Seorang pria sedikit tua keluar dari mobil itu. Ia masuk kedalam kedai dan memesan es krim. Dari es krim yang ia dapatkan setelah membayar,sepertinya itu adalah es krim cokelat.


Ruby dan Felix tetap saling bercanda satu sama lain tanpa memperdulikan siapa yang datang ke kedai itu.


"Sayang,kau tau wanita itu tewas," ujar Ruby.


Felix yang tidak paham apa maksud Ruby hanya pura-pura terkejut. Ia paham jiks Ruby bersikap aneh tiba-tiba berarti ada sesuatu yang tidak beres.


"Wanita itu? Ibu.."


"Betul. Dia sedang hamil muda tapi ditemukan tewas. Sepertinya ia berusaha menggugurkan kandungannya," sahut Ruby.


"Bukankah anak adalah anugrah yang Tuhan berikan? Kenapa dia harus menggugurkan anaknya?" Felix hanyut dalam obrolan yang ia sendiri tidak paham.


"Yang aku dengar,bayi yang ia kandung bukan anak dari suaminya. Seseorang memaksanya berhubungan suami istri hingga dia hamil," terang Ruby.


"Lalu sekarang bagaimana nasibnya?" Felix penasaran dengan cerita Ruby. Ia merasa apa yang Ruby katakan adalah sesuatu yang benar-benar terjadi.


"Wanita itu awalnya ditemukan dalam keadaan hidup namun mengalami pendarahan hebat. Anak-anaknya yang menemukan dia di dalam kamar. Kemudian ketika dilarikan ke rumah sakit,sayangnya ia menghembuskan nafas terakhir dalam ambulans yang mengantarnya," jawab Ruby.


"Dimana anak-anaknya sekarang?" Felix semakin penasaran.

__ADS_1


"Di rumah bibi Ellen,tetangga kita. Ah,kita beli es krim lagi untuk mereka bagaimana?" tanya Ruby.


"Setuju. Biar aku pesan untuk dibungkus," Felix bangun dari tempat duduknya dan memesan es krim dalam porsi besar.


Pemilik kedai yang merupakan seorang pria bertubuh gempal dengan kepala botak itu terlihat sumringah setelah Felix memborong es krim yang ia jual.


"Semoga kedai ini ramai pembeli Ya Tuhan," doa Ruby.


***


"Hahahahahaha," suara Andy terdengar keras hingga kamar Ruby. Seperti biasa,Andy sedang bermain bersama Amy. Mereka bermain puzzle sambil memakan es krim yang sudah Felix beli tadi.


"Sayang,aku menuntut penjelasanmu," Felix mendesak Ruby untuk menceritakan apa yang terjadi.


"Besok saja ya," jawab Ruby dengan terkantuk-kantuk.


"Baru jam 8 kau sudah mengantuk. Tidak biasanya," Felix mengerenyitkan dahi.


"Aku lelah. Satu jam kau meniduri ku," jawab Ruby.


"Hahaha baiklah. Kau tidur saja biar aku yang menjaga anak-anak itu," Felix berjalan keluar untuk menjaga Andy dan Amy.


"Hai," Andy tiba-tiba muncul sebelum Felix keluar dari kamar.


"Kenapa disini? Main dibawah saja," ajak Felix sambil menggandeng tangan Andy.


"Aku menginap disini ya. Kak Kylie pergi," ujar Andy.


"Baiklah. Kemana Kylie?" tanya Felix.


"Tidak tau,dia dengan pacarnya," jawab Andy sambil nyelonong masuk ke kamar Ruby di lantai dua.


"Kak aku tidur disini ya. Amy pulang," ujar Andy.


"Kenapa dia pulang? Tidak biasanya dia pergi tanpa berpamitan denganku," Ruby bertanya kepada Andy.


"Tadi diantar kak Kylie. Mamanya menelepon karena ayah Amy sudah kembali," jawab Andy.


"Lelaki itu,setelah meninggalkan kakakku.." Ruby menghentikan ucapannya karena menyadari Andy masih tetap mendengarkan.


"Baik,kau tidur denganku ya," Ruby berbaring bersama Andy yang masih memegang boneka kelincinya.


"Aku tidur dengan siapa?" tanya Felix.


"Bertiga sayang," Ruby menjawab


Felix turun untuk mematikan lampu dan mengunci semua pintu dan jendela. Setelah selesai mengecek ke sekeliling rumah,Felix naik keatas untuk berkumpul bersama Ruby dan Andy.


"Siapa pacar kakakmu?" Felix penasaran.


"Kakak itu yang suka mengetik," jawab Andy.


"Siapa? Anton?" Felix terkejut.


"Betul. Kak Anton," Felix masih tetap memainkan boneka nya.

__ADS_1


"Bisa-bisanya mereka," Ruby dan Felix bergosip sambil saling menahan tawa sementara Andy mulai tertidur diantara Ruby dan Felix.


__ADS_2