Journeys End

Journeys End
Ruby's Birthday


__ADS_3

Suasana terlihat mencekam. Sangat banyak kain-kain berserakan di jalanan.


"Kain apa ini? Kenapa berserakan di jalan?" tanya Ruby pada Edsen.


Edsen hanya diam seribu bahasa. Ruby juga ikut diam setelah melihat Edsen tidak nyaman setelah Ruby bertanya.


"Turun disini saja," ujar Edsen. Felix yang menyetir mobil kemudian memarkir mobil ke pinggir jalan. Ruby,Thomas dan Felix turun dari mobil untuk mengucapkan selamat tinggal sekaligus terimakasih.


"Edsen,terimakasih atas bantuanmu ya," kata Ruby pada Edsen.


"Tidak apa. Aku juga berterimakasih pada kalian karena sudah membantuku kembali ke tempat ini," jawab Edsen sambil tersenyum.


"Dimana kau tinggal?" Thomas penasaran karena ia tidak menemukan bangunan lain selain rumah batu terbuka yang sepertinya bukan merupakan tempat tinggal. Selain itu hanya ada kandang sapi disana.


"Rumahku di sekitar sini,kalian pergilah dulu," Edsen seakan-akan tidak ingin Thomas mengulik ranah pribadinya.


"Baiklah kalau begitu kami pamit pulang ya," Ruby masuk kedalam mobil disusul oleh teman-temannya.


Tidak seperti kemarin,hari dimana Ruby mengantar Edsen pulang terasa berbeda. Beberapa mobil dan motor berlalu lalang di tempat itu.


"Kemarin disini sangat sepi,sekarang kenapa tiba-tiba ramai?" Ruby heran.


"Aku masih marah padamu," Felix menjawab diluar pertanyaan Ruby.


"Ya,ya,ya," respon Ruby.


***


Anton dan Reno sudah ada di depan rumah Ruby. Hari ini adalah hari yang spesial untuk Ruby karena ia berulang tahun.


Ruby tidak mengetahui rencana yang sudah Felix dan Thomas susun dan ketika melihat Anton serta Reno ada di rumahnya,ia sedikit heran karena tidak biasanya mereka tidak menghubungi Ruby lebih dulu.


"Hai,kalian sudah kembali," ujar Reno.


"Hari ini aku akan menerbitkan artikel berdasarkan video yang kau ceritakan tadi pagi," kata Anton pada Ruby.


"Apa itu tidak terlalu sadis?" Ruby sedikit ragu.


"Tidak. Aku akan mengatur semuanya. Kau tenang saja," jawab Reno.


"Baiklah,aku percaya padamu," Ruby menyerahkan segala urusan mengenai artikel itu pada Anton.


"Ngomong-ngomong bagaimana bisa kau sampai terjebak disana kemarin,Ruby?" Reno penasaran dengan apa yang Ruby alami tadi malam.

__ADS_1


"Aku pergi ke pemakaman dan tiba-tiba kabut. Dari kejauhan aku melihat gerombolan sekte itu,lalu aku sembunyi. Untung saja semuanya terekam dalam kamera belakang motorku," Ruby bersyukur selamat dari tempat itu dan menemukan bukti yang cukup kuat untuk menjatuhkan sekte yang sangat jahat itu.


"Tapi aku penasaran siapa Edsen sebenarnya," Ruby belum puas karena belum sempat mengobrol dengan Edsen.


"Sudahlah jangan memikirkan hal itu. Kita fokus saja pada apa yang kita kerjakan sekarang," sahut Felix.


"Tapi ada yang membuatku lebih penasaran," Ruby melanjutkan pembicaraan meskipun Felix sudah menyuruhnya untuk berhenti.


"Apa itu?" Thomas bertanya.


"Kain-kain itu. Kenapa kain berserakan di jalanan dan Edsen seakan-akan menutupi.."


"Sayang. Sudahlah," Felix memotong perkataan Ruby sebelum Ruby berhasil menyelesaikan apa yang ingin ia ungkapkan.


"Okey,baiklah," Ruby kini diam.


"Artikelnya biar aku yang urus. Hari ini aku akan menerbitkan lebih dari satu artikel," Anton mengungkapkan rencananya.


"Tidak biasanya," komentar Ruby.


"Anggap saja karena ini hari ulang tahunmu. Hadiah dariku," Anton memberikan jawaban.


"Happy Birthday Ruby!" tiba-tiba Kylie dan Ava muncul dari dapur.


Sebuah kue tart dengan warna lilac,warna kesukaan Ruby terlihat sangat cantik dibawa oleh Ava. Lilin dengan bentuk angka 21 tertancap pada kue itu,memperlihatkan bahwa hari ini Ruby sudah berusia 21 tahun.


"Selamat ulang tahun sayang," Felix mencium bibir Ruby.


"Apa kau tidak melihat ada anak kecil," Thomas protes setelah melihat adegan ciuman Ruby dan Felix di depan matanya.


"Kenapa kau selalu protes jika aku bermesraan dengan pacarku," sahut Felix.


"Selamat ulang tahun mantan pacarku," kini giliran Thomas yang mengucapkan selamat ulang tahun pada Ruby.


"Terimakasih Thomas," jawab Ruby.


Anton,Ava,Kylie,Reno dan yang terakhir dua orang anak kecil yang selalu mengisi hari-hari Ruby dengan suara tawa mereka yang sangat bising memberikan ucapan selamat atas usia Ruby yang kini sudah mencapai 21 tahun.


"Terimakasih semuanya sudah merayakan ulang tahunku," Ruby mengucapkan banyak terimakasih.


"Tidak masalah,sekalian kita berkumpul juga," jawab Reno.


Selesai meniup lilin dan memotong kue,mereka kembali menuju pembicaraan yang serius.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang kau lakukan ke pemakaman itu?" Thomas sangat ingin tau.


"Bi Ellen menyuruhku kesana,disana ada sebuah makam. Miranda Anderson. Tapi aku tidak mengenalnya," jawab Ruby.


"Jadi yang kau katakan tugas rahasiamu itu adalah mengunjungi makam seseorang yang tidak kau kenali?" Felix mengejek.


"Ini sangat penting tau," Ruby membalas Felix yang mengejeknya.


"Apanya yang penting?" Felix sengaja memancing Ruby agar ia mau memberitahu apa yang sebenarnya Ruby sedang kerjakan.


"Baiklah aku akan menceritakan semuanya pada kalian," Ruby memutuskan untuk memberitahukan apa tugas rahasia yang sedang ia jalani kepada teman-temannya.


Ellen menghubungi Ruby dan menyuruhnya untuk melakukan sesuatu yang akan membuat pria yang selalu mengikuti Ruby berhenti mengikutinya.


Ruby harus pergi ke pemakaman di gunung fan berziarah ke sebuah makam baru,Miranda Anderson. Ruby tidak mengetahui siapa wanita itu dan ia hanya menjalankan apa yang Ellen minta. Namun,setelah Ruby menyetujui permintaan Ellen,ia segera mengirim pesan teks pada Ruby untuk menceritakan apa tujuan misi itu.


Ruby,terimakasih sudah menjalankan apa yang aku minta. Miranda adalah temanku yang dulu aku ceritakan kabur dalam keadaan hamil. Kini dia sudah meninggal dunia. Aku berbohong mengatakan Miranda masih hidup dulu,aku harus melakukan itu. Jadi,yang pertama tolong maafkan aku karena sudah membohongimu. Pria itu tidak percaya Miranda mati jadi dia akan terus mencari tau dimana keberadaan Miranda. Aku tidak mau dia terus mengikutimu jadi agar ia makin percaya Miranda telah tiada kau harus memancingnya ke makam Miranda agar dia sendiri dapat melihat makam wanita yang sudah ia "bunuh". Aku tau ini sangat merepotkanmu,tapi bertahanlah. Semuanya akan selesai sebentar lagi.


Ruby memperlihatkan pesan itu pada teman-temannya.


"Ibu," sepatah kata keluar dari bibir Kylie.


"A.. Apa? Mana ibumu?" Ruby menengok kesana kemari mencari keberadaan ibu Kylie.


"Wanita yang meninggal itu adalah ibuku,Miranda," jawab Kylie kemudian ia menangis.


"Apa maksud kakak? Ibu kan sedang menjalankan misi rahasia," Andy dengan polosnya menganggap Kylie bercanda.


Suasana hening sejenak. Hanya isak tangis Kylie yang terdengar di ruang tamu rumah Ruby.


"Sebenarnya ada apa? Kenapa masalahnya semakin kemana-mana," Ruby sangat kebingungan.


"Sejak ayah dipenjara,ibu kembali ke sekte itu untuk mendapatkan uang. Tapi seperti yang bi Ellen katakan,pria kejam itu terus menerus menghamili ibuku," jawab Kylie.


"Ngomong-ngomong kenapa kau bisa sampai disini? Bukankah kau pergi bersama bi Ellen?" Felix penasaran.


"Apa maksudnya pergi bersama bi Ellen?" Ruby merasa tidak mengetahui apa-apa.


"Kau ingat ketika bi Ellen mengatakan ia pergi dengan anak temannya yang hilang? Orang itu adalah Kylie," jawab Felix.


"Tapi bagaimana kau bisa tau lebih dulu dibandingkan aku?" mata Ruby melotot menatap Felix.


"Sebenarnya kedatangan Kylie adalah kejutan yang kami siapkan," Thomas membuat alasan untuk melindungi Felix dari amarah Ruby.

__ADS_1


__ADS_2