
Menjadi CEO perusahaan bukanlah perkerjaan yang mudah, akhir-akhir ini Alvaro sibuk dengan urusan proyek besar hingga dia merasa lelah. Namun itu bagus baginya yang memang tidak ingin berlama-lama dirumah menatap istri bebalnya itu. Dia lebih memilih berlama-lama di kantor daripada dirumah menanggapi istrinya yang cerewet. Pekerjaannya di kantor cukup menyita waktu bahkan untuk sekedar santai saja tidak bisa.
Mahendra Groub bergerak di puluhan bidang usaha yang tersebar di seluruh Indonesia. Bisnis wisata yang dikelolanya akhir-akhir ini mengalami kemajuan yang cukup pesat setelah melihat dulu perusahan ini hampir bangkrut karena investasi yang dijalankan ayahnya Alvaro mengalami kegagalan karena ditipu oleh rekannya sendiri. Hampir seluruh saham yang dimiliki oleh Dirga Suryo Mahendra dijual untuk membayar hutangnya, kejadian ini benar-benar membuat keluarga Mahendra kalang kabut.
Perusahaan yang susah payah dibangun oleh ayahnya mempunyai pengaruh besar di dalam dunia bisnis. Meskipun diambang kebangkrutan namun perlahan Alvaro pasti bisa membangkitkannya lagi sesukses dulu. Tidak dapat dipungkiri bahwa demi menyokong perusahaan sialan ini Alvaro harus menikah dengan Bulan, karena hanya perusahan milik keluarga Bramasta yang bisa menyelamatkan bisnis ayahnya.
Zhafran Hadi Bramasta bahkan dengan kekayaannya melunasi semua hutang ayahnya dan dia juga memberi suntikan dana yang cukup besar untuk Mahendra Groub. Karena kebaikan dari keluarga Bramasta ini membuat ayahnya Alvaro tidak mampu berkutik, dia dibuat tunduk oleh keluarga Bramasta. Karena tanpa bantuan dari keluarga kaya raya itu, keluarga Mahendra pasti telah menjadi gelandangan. Alvaro tahu bahwa ayahnya Bulan saatlah berjasa, namun pemuda itu tidak menyukai bagaimana tindakan ayahnya Alvaro yaitu Dirga yang malah menjodohkan dirinya dengan wanita itu.
Sedari kecil dia sudah dituntut ini dan itu menuruti kehendak ayahnya. Alvaro bahkan tidak mempunyai kebebasan untuk menyuarakan keinginannya, ayahnya terlalu keras dalam mendidiknya. Dirga mempunyai sifat yang egois, demi kepentingannya dia rela menukar kebahagiaan anaknya demi harta. Andai Alvaro lebih berani melawan ayahnya mungkin dia tidak akan pernah menikah dengan perempuan sialan seperti Bulan.
Alvaro menghela nafas lelah, setelah cukup lama dia melamun memikirkan hal yang tidak penting akhirnya fokusnya kembali pada satu titik yaitu seorang lelaki yang tengah melakukan presentasi. Pemuda itu menjelaskan gambaran rinci mengenai produk otomotif yang akan diluncurkan. Alvaro hanya diam memperhatikan dan menimbang usulan produk yang disampaikan pria itu.
Siang ini Alvaro memang mengadakan rapat dikantornya dengan perusahaan lain. Dia duduk di kursi sembari fokus memperhatikan seorang pria di depan.
"Kami yakin bahwa produk kami akan laris di pasaran. Jika perusahaan anda menanam saham pada perusahaan kami, kita dapat membagi hasilnya nanti. Jujur kami sangat membutuhkan modal untuk peluncuran produk ini." Ujar lelaki berjas di depannya dengan percaya diri.
"Bagaimana Pak Alvaro?" Tanyanya kemudian, sedangkan Alvaro masih mengamati layar monitor yang menyajikan produk penawaran dari rekan bisnisnya.
Alvaro mengangguk. "Baiklah, saya bersedia menanam saham di perusahaan anda." Ujarnya tegas.
Terlihat lelaki yang menyandang sebagai pimpinan perusahaan itu tersenyum puas dengan keberhasilannya dalam mempresentasikan produk, sehingga bisa menarik minat perusahaan besar seperti Mahendra Groub untuk bekerjasama.
"Terimakasih pak." Ujar lelaki itu sembari menjabat tangan Alvaro.
Alvaro beranjak berdiri dari tempat duduknya. "Sepertinya rapat hari ini sudah selesai, saya akhiri sampai disini. Selamat siang." Ujarnya singkat dengan nada tegas.
"Baik, pak." Jawab mereka semua serempak sembari mengangguk patuh, lalu berpamitan keluar dari ruangan rapat.
Alvaro ingin beranjak pergi ke kafetaria untuk membeli makanan sekaligus menenangkan fikirannya dari rutinitas pekerjaan yang sibuk, cukup membuatnya stres. Namun ketika dia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan rapat dia sudah dihadang sekretarisnya.
"Maaf pak saya mengganggu, saya ingin memberitahu bahwa Pak Zhafran ingin bertemu dengan anda. Beliau saat ini menunggu di ruangan kerja anda." Alvaro menaikkan sebelah alisnya, rupanya mertuanya sudah pulang dari Swedia. Setidaknya sebagai menantu yang baik, bukankah dia harus menyambutnya. Dia tidak ingin lelaki tua itu menganggapnya sebagai seorang menantu yang tidak sopan karena mengabaikan kehadiran mertuanya.
Alvaro melihat jam rolex di tangannya, kurang 30 menit lagi jam istirahat makan siang. Dia memutuskan untuk menemui mertuanya terlebih dahulu.
__ADS_1
Alvaro menoleh menatap sekretarisnya. "Rim tolong beritahu OB untuk membuatkan 2 kopi dan antarkan ke ruanganku segera." Perintahnya.
"Baik Pak." Rima sang sekretaris mengangguk patuh.
Alvaro menghela nafas berat, dia melangkahkan kakinya berjalan menuju ruangan kerjanya. Dia membuka pintu, ruangan besar dan dingin itu terlihat kentara dengan kedatangan pria paruh baya berjas abu-abu tengah duduk di sebuah sofa sembari memainkan ponsel mahalnya.
Alvaro memejamkan matanya sejenak, jujur saja sebenarnya dia terlalu malas bertemu dengan mertuanya.
Beberapa detik kemudian dia membuka matanya kembali. "Papa." Panggil Alvaro kemudian.
Mendengar suara sang menantu, Zhafran beranjak berdiri mengulurkan tangannya untuk bersalaman sembari menepuk-nepuk bahu Alvaro. "Ahh, Alvaro cukup lama kita tidak bertemu ya. Bagaimana kabarmu?" tanya Zhafran basa-basi.
Alvaro tersenyum sembari menjabat tangan mertuanya. "Kabarku baik Pa. Papa bagaimana?"
"Sangatlah baik, aku sangat bahagia seperti terlahir muda kembali." Ujar Zhafran dengan wajah berseri-seri membuat Alvaro ikut senang mendengarnya.
"Silahkan, duduklah Pa." Alvaro mempersilahkan mertuanya untuk duduk kembali.
"Aku dengar kamu telah berhasil bekerjasama dengan Giandra untuk proyek pembangunan hotel di Bali, apakah itu benar?" Tanya Zhafran membuka topik pembicaraan.
"Hm, iya Pa itu benar." Ujar Alvaro, dia jadi kesal sendiri jika mengingat kejadian dimana dia hampir gagal mendapatkan tender besar bersama Giandara karena ulah Bulan. Karena malam panas itu, dimana Bulan mengerjainya dengan obat perangsang membuat Alvaro telat menghadiri rapat dengan Pak Giandra.
Untung saja Alvaro pandai berbicara untuk membuat alasan yang tepat, dia bahkan rela berjam-jam menunggu orang tua itu agar memberinya kesempatan sekali lagi dalam mempresentasikan idenya dan mendiskusikan kepastian kerjasama mereka untuk mendirikan hotel.
"Akan sangat menguntungkan bekerjasama dengan orang hebat seperti Giandra, mengingat dia adalah seorang pemilik tempat produksi kapal pesiar terbesar di Indonesia dan dia ingin menambah bisnisnya dengan mendirikan hotel-hotel mewah. Kamu tidak akan pernah rugi." Alvaro masih senantiasa mendengarkan ucapan mertuanya. "Yahh, aku akui bekerjasama dengan Giandra sangat sulit karena dia benar-benar memperhatikan kualitas dan dia orang yang sangat disiplin. Aku salut dengan kegigihanmu Al, kamu bisa mendapatkan kepercayaan seorang Giandra."
Alvaro tersenyum tipis, dia menjadi besar kepala mendengar dirinya dipuji oleh mertuanya. Alvaro pasti bisa membuktikan bahwa dia mampu membangun perusahaan ini lebih besar dengan jerih payah dan usahanya sendiri sehingga dia bisa lepas dari naungan sang mertua. Cukup di awal dia mengalami kebangkrutan lalu Zhafran membantunya untuk melunasi semua hutang keluarga Mahendra dan itu malah menjadi beban untuk Alvaro. Dia ingin mertuanya yang sombong ini tahu bahwa sekarang tanpa bantuan dana dari keluarga Bramastapun dia akan mampu mendirikan kembali perusahaan ini dengan baik.
Zhafran mengedarkan pandangan pada sekeliling ruangan menantunya, ruangan besar bergaya maskulin dengan dinding bercat putih dan hitam. Tatapan Zhafran berhenti pada tumpukan kertas-kertas di atas meja. Rupanya menantuku sangat sibuk hari ini. Ujarnya dalam hati sembari tersenyum tipis.
"Aku lihat semakin hari, perusahaanmu semakin berkembang. Aku dengar kamu juga menggeluti bidang transportasi dan otomotif." Ujar Zhafran dengan senyum sumringah. "Hah, aku jadi tidak khawatir lagi kalau cucuku akan kelaparan dimasa depan, karena hidupnya pasti terjamin dengan baik."
Alvaro mengernyitkan dahinya bingung mendengar ucapan sang mertua. "Cu-cucu?" Tanya Alvaro bingung sedangkan Zhafran malah terkekeh melihat ekspresi wajah menantunya.
__ADS_1
Tok...tok...tok! Di tengah pembicaraan mereka berdua, seseorang tiba-tiba mengetuk pintu.
"Pak saya OB ingin mengantarkan kopi." Ujarnya dari luar pintu.
"Masuklah." Perintah Alvaro dengan nada dingin. Pria berseragam biru itu masuk dengan menunduk sopan membawa nampan berisi kopi. Dia meletakkan secangkir kopi itu di atas meja.
Tidak ingin berlama-lama mengganggu pembicaraan bosnya, OB itu segera pamit undur diri. "Saya permisi pak." Ujarnya dengan nada sopan. Alvaro hanya menganggukkan kepalanya. Office boy itu keluar dari ruangan untuk melanjutkan pekerjaannya.
Alvaro beralih menatap sang mertua, dia masih penasaran dengan ucapan Zhafran barusan. "Maksut papa dengan cucu tadi apa ya?" tanyanya kemudian to the point.
"Sudah aku katakan bahwa aku sangat bahagia, saking senangnya aku ingin kembali muda karena jika aku semakin menua aku takut tidak sanggup untuk menggendong cucuku." Cucu lagi yang dibicarakan mertuanya, sebenarnya ada apa? Alvaro tambah pusing.
Tenggorokan Alvaro menjadi haus, dia mengangkat secangkir kopinya lalu mulai menyeruput kopi hitam pekat itu. "Saat ini Bulan hamil, kamu harus menjaga istrimu dengan baik."
"Uhuk...uhukk...uhuk." Alvaro tersedak karena terkejut, untung saja kopi yang berada di dalam mulut tidak sampai tersembur mengenai wajah mertuanya. "Apa? Siapa?! Hamil?" Ujar Alvaro spontan. Apa dia tidak salah dengar?
Zhafran lagi-lagi malah tersenyum melihat wajah terkejut Alvaro. "Bulan hamil 2 bulan, pernikahanmu dipercepat karena kehamilannya. Tenang saja aku tidak akan marah, aku senang meskipun dia hamil duluan sebelum pernikahan berlangsung, kamu tetap mau mempertanggung jawabkan perbuatanmu. Kamu adalah anak sahabatku, dan aku bisa tenang mengetahui bahwa kamu adalah pria yang putriku cintai."
Alvaro tidak habis fikir, dia tidak menyangka. Bulan kamu benar-benar hebat, mengarang sebuah kebohongan besar untuk menjebak dirinya. Alvaro menertawakan betapa bodohnya dia selama ini. Pantas saja pernikahannya dengan Bulan dulu dipercepat hingga tidak memberikan kesempatan bagi Alvaro untuk menyusun rencana pembatalan pernikahan. Ternyata Bulan mempunyai rencana licik dengan pura-pura hamil. Alvaro mati-matian menahan amarah di depan mertuanya, tangannya bahkan mencengkram cangkir kopi dengan kuat seakan ingin meremukkannya. Awas saja kamu Bulan!! Geram Alvaro di dalam hati.
"Pa aku--." Baru saja Alvaro ingin mengutarakan sesuatu tapi sudah dipotong oleh Zhafran.
"Papa tahu kamu pasti kerepotan mengurus Bulan, meskipun dia sudah dewasa tapi sifatnya kadang masih kekanak-kanakan dan manja." Ujar Zafran memberitahu. "Dia memang berbeda dengan adiknya Bintang yang pendiam dan mandiri. Bulan adalah wanita yang cerewet, egois dan sering membuat orang lain kesal karena tingkahnya. Namun ketahuilah bahwa putriku Bulan sebenarnya wanita yang baik dan lugu. Dia tidak bisa hidup sendirian, dia membutuhkan seorang pendamping yang bisa menyayanginya dan menjaganya. Aku lega mengetahui bahwa ternyata kamulah yang menjadi suami putriku. Aku yakin kamu mampu membahagiakannya." Ujar Zhafran dengan penuh keyakinan sembari menepuk bahu Alvaro.
Alvaro meredam amarahnya, dia menatap sang mertua dengan sorot mata tajam. "Aku tahu bagaimana watak Bulan karena dia sahabatku sedari kecil. Dia memang wanita yang egois dan berbuat semaunya sendiri." Alvaro menghentikan ucapannya sesaat, namun beberapa detik kemudian dia melanjutkannya. "Sekarang Bulan telah menjadi istriku, maka biarlah aku yang mengajarinya bagaimana layaknya seorang istri bersikap." Lanjutnya seraya tersenyum sinis.
Zhafran sebagai seorang ayah tersenyum bahagia mendengar ucapan Alvaro. Dia beranggapan bahwa Alvaro mampu menjadi suami terbaik untuk putrinya. Padahal dibalik janji manis Alvaro yang diucapkannya didepan Zhafran hanya bualan semata.
Wanita licik seperti Bulan tidak pantas mendapatkan kasih sayang, sebaliknya wanita itu berhak mendapatkan hukuman karena kebohongannya selama ini. Ujar Alvaro dari dalam hati.
Bersambung...
Jangan lupa untuk like dan komentar agar aku semangat update❤️
__ADS_1