
Bulan berjalan menembus derasnya hujan, dia tidak peduli dengan guyuran air yang membasahi tubuhnya. Didepan ada sebuah ruko, dia memilih untuk berteduh disana. Bulan duduk dikursi panjang kebetulan tersedia didepan ruko yang telah tutup tersebut. Jalanan sepi tidak ada kendaraan satupun yang lewat karena ini memang sudah tengah malam, waktunya orang-orang beristirahat.
Bulan hanya ditemani dengan cahaya lampu temaram, dia duduk menggigil kedinginan. Bulan menggosokkan kedua tangannya untuk memberikan kehangatan, hembusan angin begitu menusuk kulitnya membuat Bulan semakin merasa beku disini.
"Dingin sekali uhuk...uhuk." Ujarnya disela-sela batuknya. Kemana dia harus pergi malam-malam begini? Dia bingung harus meminta bantuan siapa.
Bulan menunduk, dia mengusap perut besarnya. Saat ini yang dia khawatirkan adalah anaknya, bukan dirinya. Bulan menghela nafas lelah, dia merogoh tas selempangnya untuk mengambil benda pipih miliknya yang terlihat ikut basah karena rembesan air. Bulan menyalakan ponselnya, dia mencari nama seseorang dikontak.
Jemari tangannya terhenti tatkala Bulan menemukan sebuah nama yang tertera dilayar ponselnya yaitu Farez. Dia berfikir sejenak, sungguh Bulan dibuat bimbang haruskah dia meminta bantuan dari Elfarez. Hanya pemuda itu harapan satu-satunya yang bisa dimintai pertolongan. Bulan akhirnya memencet tombol panggilan, berharap Farez mau menjawab telefon darinya.
Ditempat lain, lebih tepatnya dirumah megah milik keluarga Abraham. Seorang pemuda tengah tertidur pulas diranjang kingsizenya, rutinitasnya dikantor hari ini sungguh menguras energi sehingga sehabis pulang bekerja dia langsung tertidur. Beberapa kali dering ponselnya berbunyi, saking lelapnya terpejam pemuda itu tidak mendengarnya.
Bulan hampir menyerah menelfon Farez, dia sudah 9 kali menghubungi pemuda itu namun tidak diangkat. Bulan memakluminya karena ini sudah larut malam mungkin Farez sudah tidur. Bagaimana ini? Bulan sebenarnya juga tidak ingin merepotkan pria itu tapi.., selain Elfarez dia harus meminta bantuan siapa lagi? Dia menghela nafas pasrah, Bulan akan mencobanya untuk yang kesepuluh kalinya. Ini yang terakhir, jika Farez tidak menerima panggilannya maka Bulan akan menyerah.
Tring...tring...tring
Tidur pulas Elfarez mulai terganggu dengan suara dering ponselnya yang cukup memekakkan telinga, dia sebenarnya malas untuk sekedar mengambil ponselnya. Akan tetapi lama-kelamaan dia geram juga karena suaranya tidak kunjung berhenti. Pemuda itu lamat-lamat membuka matanya dengan perasaan dongkol, dia mengulurkan tangannya untuk meraih benda pipih miliknya diatas nakas. Farez mengangkat telefon tanpa melihat siapa nama yang tertera di layar ponselnya.
__ADS_1
"Hallo." Ujar Elfarez dengan jutek, dia berdecak kesal karena orang ini telah mengganggu tidurnya. Farez mengira bahwa yang menelfonnya adalah sekretarisnya yang masih bingung dengan tugas yang dia berikan tadi sore, karena memang Elfarez menyuruhnya untuk lembur.
"Ha-hallo, Farez. Ap-apa, apa a-aku mengganggumu?" Cicit seorang perempuan dari sebrang sana membuat Farez seketika beranjak dari tempat tidurnya kaget karena dia sangat hafal dengan suara ini. Dia yang awalnya mengantuk menjadi terjaga dengan mata terbuka sempurna.
"Bulan, ini kamu?" Tanya Elfarez memastikan, ayolah dia tidak sedang melindurkan? Tidak biasanya Bulan menelfon dirinya begini, apalagi diwaktu larut malam pasti ada hal yang penting.
"I-iya i-ini aku." Elfarez mengernyitkan dahi mendengar nada bicara Bulan yang tersendat-sendat, entah mengapa Farez merasa cemas. "Farez, bo-bolehkah aku me-meminta bantuanmu?" Tanyanya dengan suara bergetar.
"Aku pasti akan membantumu Bulan." Balas Farez tegas, dia akan selalu ada untuk wanita yang dicintainya.
"Ah-aku diusir da-dari rumah oleh Alvaro, a-aku bingung harus pergi kemana hiks...hiks." Ucapan Bulan barusan membuat Farez melongo, Bulan diusir? Mengapa Alvaro tega melakukannya? Astaga! Farez menyugar rambut tebalnya, dia jadi tersulut emosi apalagi Bulan terdengar menangis sungguh menyayat hati dan perasaan Farez.
"A-aku berada di ruko toko ba-bangunan perempatan ja-jalan yang letaknya ti-tidak jauh dari perumahan nusa indah." Suara Bulan terputus-putus karena menggigil kedinginan. Setelah mendapat jawaban keberadaan Bulan, tanpa menunggu lama Farez bergegas memakai kaos untuk menutupi tubuhnya yang bertelanjang dada karena dia memang terbiasa tidur tanpa mengenakan baju.
Farez memasukkan ponselnya dalam saku celana, dia mengambil kunci mobilnya lalu bergegas menuju garasi. Ya tuhan tolong jaga Bulan, semoga tidak ada orang jahat yang ingin melukainya sampai aku datang. Doa Farez dalam hati berharap Bulan dalam kondisi baik.
Bulan menatap nanar ponselnya, dia sedikit lega karena sebentar lagi Farez akan datang kesini. Dia lantas meletakkan kembali ponselnya kedalam tasnya. Bulan meringis ketika merasakan nyeri luar biasa bersumber dari perutnya. "Aarrghhh." Reflek tangannya mencengkramnya kuat.
__ADS_1
"Nak tolong jangan seperti ini arrghh, sabar ya om Farez akan datang menjemput kita eengghh." Ujar Bulan sembari mengusap perutnya agar rasa nyeri yang dia rasakan berkurang. Bulan tidak bisa membendung air matanya yang terus menetes, dahinya bahkan sampai berkeringat.
"Aargghhh, sakit sekali hiks..hiks." Bulan menunduk, perutnya saat ini seperti ditusuk-tusuk dengan jarum tajam. Dia gusar, Bulan meremas rok pendek yang dikenakannya dengan kuat. "Kenapa dengan perutku?" Bulan menangis saking sakitnya dia tidak bisa menahannya.
"Mama hiks...hiks, perut Bulan sakit Ma. Bulan sudah tidak kuat, arrghh hah...hah." Cicitnya seolah mengadu kepada Mamanya, padahal Laura tidak berada disini. Perlahan pandangan mata Bulan mengabur, dia masih berusaha terjaga namun tubuhnya tiba-tiba terasa lemas.
Bruk
Bulan terjatuh dilantai, matanya terpejam karena kegelapan menyelimutinya. Dia sudah tidak kuat menahan sakit yang mendera perutnya hingga dia limbung tidak sadarkan diri. Sedangkan Farez, pemuda itu mengemudikan mobilnya dengan kencang membelah jalan raya menuju lokasi tempat Bulan berada. Terlihat raut wajah khawatir tergambar jelas dari raut wajahnya. Hujan deras membasahi ibu kota, cukup membuat penglihatan Alvaro terganggu, kini fikirannya melayang tidak karuan. Dia semakin tancap gas menambah kecepatannya, Farez tidak ingin hal yang buruk menimpa Bulan.
Akhirnya Farez sampai dilokasi, ruko yang disebutkan oleh Bulan ditelefon tadi. Elfarez segera turun dari mobilnya, mata Elfarez terbelalak tatkala melihat seorang wanita meringkuk terkapar di lantai.
Farez mendekat, dia berjongkok sembari menyentuh tubuh dingin wanita itu. "Bulan!" Panggilnya, Farez membalikkan badan Bulan. Dia menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah pucat wanita itu.
"Bulan bangun." Farez menepuk pelan pipi Bulan, namun dia tidak kunjung membuka mata. Farez tidak menyangka dia menemukan Bulan dalam keadaan mengenaskan seperti ini, dia basah kuyup kedinginan.
Tangan Farez terkepal kuat, Alvaro benar-benar brengsek. Dia tega memperlakukan istrinya yang hamil dengan sadis. Perbuatan Alvaro sungguh keterlaluan! Jika memang dia membenci Bulan seharusnya pemuda itu menceraikan Bulan saja, bukan malah mengusirnya tanpa melihat situasi maupun kondisinya. Farez yakin jika Bulan matipun Alvaro tidak akan peduli. Pemuda itu mengangkat tubuh ringkih Bulan memasukkannya kedalam mobil. Dia akan membawa Bulan menuju rumahnya.
__ADS_1
Bersambung...