Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 96 : Pembalasan Rasa Sakit


__ADS_3

Bintang duduk didepan meja rias kamarnya, dia menatap miris tubuhnya dipantulan kaca. Wajah cantiknya kini babak belur. Pipinya terdapat bekas cakaran kuku tajam sehingga mengeluarkan darah. Sudut bibirnya juga bahkan robek, terdapat sisa darah mengering karena pukulan dan tamparan keras ibu-ibu tadi di mall. Lengan dan tangannya juga memar kebiruan disebabkan cengkraman kuat ibu gila itu.


“Ah, sakit banget." Rintih Bintang meringis, karena pipinya yang terluka terasa nyeri.


Bintang mengambil kotak P3K yang berada di laci bawah meja riasnya. Dia membuka kotak P3K, tangan Bintang meraih kapas yang telah diberi alkohol. Dia mengusapkan kapasnya disetiap luka diwajahnya. Berulangkali Bintang merintih kesakitan tatkala kapas lembut itu menyentuh kulitnya yang tergores. Sungguh perih sekali sampai Bintang tidak bisa membendung air matanya yang keluar. Hatinya sakit beserta tubuhnya yang penuh dengan luka, amarahnya kini meletup-letup.


“Aarrrghhh!" Bintang berteriak, dadanya kini bergemuruh emosi. Dia menggebrak meja didepannya hingga beberapa alat make upnya jatuh berserakan.


"Hiks...hiks...hiks, aku tidak bisa menerima orang-orang itu menghinaku!" Teriak Bintang menatap sedih dirinya saat ini. Masa lalu mamanya juga terkuak dimedia hingga menjadi bahan olok-olokan mereka. "Kenapa hiks...hiks. Padahal aku sudah melangkah sejauh ini, tapi lagi-lagi kak Bulan mengacaukan segalanya. Aarrgghh!" Bintang menangis sesenggukan, sampai kapan rumor pemberitaan ini akan berhenti? Dimanapun Bintang berada cap pelakor akan selalu melekat padanya.


"Aku pasti akan membalasmu kak, aku akan membuat hidupmu lebih menderita lagi daripada rasa sakit yang aku alami selama ini." Ujar Bintang seraya mengusap linangan air matanya. Ini semua terjadi karena kakaknya itu, Bulan selalu menjadi pengacau dihidup Bintang.


"Bintang." Wanita itu menoleh tatkala dia mendengar suara suaminya. Bintang beranjak berdiri, dia berlari menghambur memeluk Alvaro. "Kak Al, aku ta-takut hiks...hiks...hiks."


Alvaro baru saja pulang dari kantornya, biasanya istrinya itu akan menyambutnya hangat dengan senyum manisnya. Tapi kali ini Bintang malah menangis dipelukannya, ada apa sebenarnya? Alvaro benar-benar bingung.


"Bi kamu kenapa?" Tanya Alvaro dengan lembut sembari mengusap punggung gemetar istrinya. Apa yang menyebabkan istrinya menangis tersedu-sedu seperti ini? Alvaro berusaha menenangkan Bintang agar dia berhenti menangis.


"Kak mereka semua membenciku kak hiks...hiks...hiks." Alvaro mengerutkan dahi, dia mengurai pelukannya menatap lekat istrinya. Betapa terkejutnya Alvaro ketika melihat wajah istrinya penuh dengan luka lebam dan juga tubuhnya terdapat memar yang nampak kontras dikulit putih mulusnya.


Alvaro menangkup wajah Bintang yang berderai air mata, dia menyorot tajam pada manik mata istrinya. "Bintang katakan siapa yang melukaimu seperti ini?" Tanya Alvaro menuntut jawaban, siapa yang berani menyakiti istrinya hingga luka-luka seperti ini? Alvaro miris melihat kondisi Bintang.


"Hiks...hiks...hiks." Bintang malah menangis semakin kencang, membuat hati Alvaro teriris mendengar kesedihan istrinya.


"Katakan Bintang, siapa yang melakukannya hah?" Tanya Alvaro menekan Bintang agar wanita itu jujur kepadanya.

__ADS_1


"Kak hiks...hiks, semua orang yang aku temui mereka hiks...hiks mereka membenciku kak bahkan mereka tidak segan memukulku untuk melampiaskan kekesalannya hiks..hiks." Alvaro masih bingung, dia sungguh tidak mengerti dengan ucapan Bintang barusan.


"Bi apa maksutmu?"


Bintang menatap sendu suaminya. "Kakak tahukan rumor yang tengah viral akhir-akhir ini mengenai rumah tangga kita?" Alvaro mengangguk, jelas dia sangat tahu karena seluruh stasiun televisi menjadikan pembahasan rumah tangganya menjadi topik utama diberbagai acara. "Kak fans kak Bulan, me-mereka menghinaku dan bahkan mereka menganiyaya aku didepan umum kak hiks...hiks. Mereka semua mengira penyebab hancurnya rumah tangga kak Bulan denganmu karena kehadiranku hiks...hiks."


Alvaro tertegun mendengar pengakuan Bintang barusan, berita viral itu ternyata telah mencuci otak masyarakat sehingga menggiring opini untuk membenci Bintang. Ya tuhan, mengapa orang-orang itu tega berbuat kasar kepada Bintang yang tengah hamil. Dimana letak hati nurani mereka, tangan Alvaro terkepal kuat mulai tersulut emosi.


"Kak mereka mencaci maki aku. Mereka bahkan menyebutku wanita binal, murahan dan-dan hiks...hiks." Bintang bahkan tidak mampu lagi meneruskan ucapannya, semua hinaan orang-orang sungguh menyakiti hati Bintang.


"Bi maafkan aku." Ujar Alvaro seraya mengusap lembut lelehan air mata yang menggenang dipipi istrinya. Bukan hanya Bintang yang terluka tapi Alvaro turut merasakan sakit tatkala melihat Bintang menangis.


"Bahkan yang lebih parahnya adalah bukan hanya aku saja yang dihujat hiks...hiks...hiks. Mereka juga tega menfitnah mamaku kak, mereka menghina mamaku sebagai seorang pelacur. Coba bayangkan anak mana yang tidak sedih dan sakit hati tatkala mendengar orang tua yang telah berjuangan melahirkan kita diolok-olok seperti itu hah?" Bintang semakin kencang menangis meluapkan emosinya yang menggebu-gebu didadanya.


"Kak sebelumnya aku tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar dari mama maupun papa hiks...hiks, ta-tapi mereka orang asing berani menyakitiku dengan tangan mereka. A-aku tidak bisa diperlakukan seperti ini kak, aku tidak terima!" Tegas Bintang mengadu.


Emosi Bintang kali tidak stabil, tekanan dan hujatan dari masyarakat membuat Bintang merasa kalut sehingga cukup mempengaruhi fikirannya.


Alvaro memeluk Bintang, mendekapnya di dada. "Suuusstt, Bi dengarkan. Sebelum aku menikahi Bulan, aku telah menjalin ikatan denganmu. Bulanlah yang tiba-tiba masuk dalam hubungan kita memaksaku untuk menikahinya padahal aku sama sekali tidak mempunyai perasaan apapun dengannya. Percayalah kamu adalah orang baik, istri yang paling aku sayangi. Seharusnya yang pantas dijuluki seorang pelakor itu adalah Bulan bukan kamu." Tutur Alvaro berusaha menangkan Bintang, pemuda itu mengusap surai rambut istrinya dengan lembut.


Bulan mengangguk, dia semakin mengeratkan pelukannya dalam rengkuhan suaminya yang terasa begitu nyaman. "Iya kakak benar." Gumam Bintang, kakaknya yang seharusnya mendapatkan sanksi sosial dari masyarakat, bukan dirinya.


...****************...


Green Cafe

__ADS_1


Seorang ibu paruh baya tengah menyantap makanan yang telah tersedia di atas meja dengan berbagai menu beef bowl, roti bakar, sandwich, dan milk tea. Dihadapan ibu paruh baya itu terdapat seorang wanita berpenampilan elegan tengah menatap ponsel canggihnya yang menayangkan sebuah vidio menarik. Dimana seorang wanita hamil dijambak, ditampar dan dipukul hingga babak belur. Sesekali tawa wanita itu menggelegar, untung saja saat ini cafe tengah sepi sehingga tidak ada yang terganggu dengan suara tawanya.


"Bagaimana nyonya Laura? Bukankah aku hebat." Ujar Laras menghentikan acara makannya, dia bertanya dengan sopan kepada bosnya mengenai hasil kerjanya hari ini.


Laura tersenyum sumringah. "Sangat memuaskan Laras, tapi aku rasa kamu kurang lama menyiksanya." Balas Laura mengomentari.


"Andai saja security sialan itu tidak muncul pasti aku akan membuat anak tirimu itu masuk rumah sakit nyonya." Laras memang wanita yang kasar dan nekat, demi mendapatkan bayaran besar dia rela melakukan apapun untuk menghidupi keluarganya termasuk menerima tawaran dari istri seorang konglomerat yaitu nyonya Laura yang terhormat. Pekerjaannya ini resikonya besar, karena tindakan kekerasan yang dia lakukan kepada Bintang mungkin saja bisa menyeretnya kedalam penjara dengan pasal 351 KUHP mengenai penganiayaan dengan ancaman pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan.


"Tidak apa-apa Laras, aku cukup senang. Rupanya aku tidak salah menunjukmu untuk melakukan pekerjaan ini." Ujar Laura menatap lekat Laras yang duduk dihadapannya.


Laura merogoh tasnya untuk mengambil sesuatu, dia menyodorkan sebuah amplop coklat di atas meja. Dengan sigap Laras mengambilnya, dia buru-buru membuka aplop itu. Matanya berbinar senang melihat segepok uang didalam sana membuat Laras seketika sumringah senang.


Laras langsung menghitungnya, membuat Laura berdecih menatap anak buahnya seolah tidak percaya dengan jumlah uang yang dia berikan. "Aku baru saja mengambilnya lewat atm, uang itu nominalnya sepuluh juta sesuai kesepakatan kita. Aku tidak ingin membuang waktuku untuk menunggumu mengitung uangmu itu disini." Ujar Laura memberitahu dengan ekspresi kesal.


Laras cengengesan, dia memasukkan uangnya kedalam tas selempangnya. "Ngomong-ngomong nyonya. Aku takut anak tirimu akan menjebloskanku kedalam penjara. Kamu tahu sendirikan nyonya, aku punya anak lima dan cucuku sebanyak 10 orang. Perekonomian kami sangat sulit, jika aku masuk penjara tamatlah riwayatku." Curhat Laras dengan memasang wajah memelas.


"Ck, tenang saja. Sebelum bertindak aku sudah memikirkan ini matang-matang. Bintang tidak akan memenjarakanmu, jika sampai dia berani melakukannya aku yakin kamu pasti akan segera dibebaskan. Banyak masyarakat yang membela Bulan, mereka malah akan mendukung tindakanmu karena orang-orang saat ini sangat membenci Bintang." Ujar Laura mencoba menenangkan anak buahnya, jika Bintang berani macam-macam dengan menghukum Laras berarti dia menggali kuburannya sendiri karena otomatis rumor malah akan semakin memanas apalagi melibatkan seorang penggemar yang terseret dalam permasalahan ini. Jelas Bintang akan berfikir dua kali jika dia memanglah wanita yang pintar.


"Hahaha, iya benar nyonya. Hah aku bisa bernafas lega." Balas Laras.


Laura beranjak berdiri dari tempat duduknya, dia merogoh dompet miliknya. "Ini tambahan uang untuk beli susu cucumu." Ujar Laura menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan dihadapan Laras.


Dengan senang hati Laras tentu menerima rezeki nomplok itu. "Terimakasih nyonya, saya sangat senang bisa bekerjasama dengan anda." Laras tersenyum menghitung uang bonusan pemberian bosnya sebanyak limaratus ribu rupiah.


Laura memakai kacamata hitamnya, dia lantas berjalan pergi keluar dari cafe. Laras masih sempat-sempatnya melirik Laura mengagumi tubuh bosnya itu yang langsing bak seorang model, apalagi wajah cantiknya yang terawat tidak termakan usia membuat Laras merasa iri. Namun dia heran bagaimana bisa suami bosnya itu malah selingkuh dengan wanita miskin yang bernama Nadia siapalah itu.

__ADS_1


Padahal Laura sangat cantik, hah semua pria kaya raya memang begitu suka sekali bermain dengan perasaan hati seorang wanita. Suaminya saja yang jelek dan miskin juga gemar selingkuh dengan biduan dangdut, apalagi suami sekelas nyonya Laura yang tampan dan memiliki uang berjibun pasti tetap tergiur dengan wanita idaman lain. Batin Laras dalam benaknya.


__ADS_2