Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 77 : Berdebat


__ADS_3

Alvaro mengeluarkan jam tangan luminox miliknya dari saku celananya. Dia memberikan benda mahal itu secara percuma kepada sopir taxi. “Sebaiknya bapak kembali pulang.” Perintah Alvaro dibalas anggukan patuh.


Sopir taxi itu menatap jam tangan pemberian Alvaro dengan mata berbinar. Barang yang diberikan Alvaro bisa untuk menghidupi keluarganya selama 2 bulan, fikir sopir taxi itu dengan perasaan girang mengabaikan Bulan yang sedari tadi meminta pertolongannya. Lagipula dari penampilan, Alvaro tidak nampak seperti orang jahat. Dari bajunya saja sopir itu bisa menyimpulkan bahwa Alvaro merupakan pria kaya raya. Ah sudahlah, dia lebih mempercayai Alvaro daripada berpihak kepada orang gila seperti Bulan.


“Tidak-tidak, pak tolong saya.” Bulan menatap nanar sopir itu yang malah memasuki mobilnya kembali. “Hiks…hiks…hiks, tolong tolong pak tolong saya!” Tidak ada harapan lagi bagi Bulan, pengemudi taxi sudah pergi meninggalkannya.


Alvaro tersenyum sinis sembari menatap tajam istrinya. “Ikut denganku!” Perintahnya mutlak, dia menarik tangan Bulan hingga jalannya terseok-seok mengimbangi langkah lebar suaminya. Alvaro mendorong tubuh Bulan untuk masuk kedalam mobilnya, pemuda itu melepaskan dasi yang melingkar dilehernya lalu mengikat kedua tangan Bulan agar wanita itu tidak memberontak dalam mobilnya.


“Hiks…hiks…hiks.” Bulan menangis tersedu-sedu. “Al lepaskan aku hiks...hiks.” Pergelangan tangannya terasa sakit, bahkan kulitnya nampak memerah karena bekas cengkraman Alvaro apalagi kini pemuda itu tega mengikat tangannya bergitu erat menggunakan dasi miliknya.


“DIAM!” Bentak Alvaro. Dia menyalakan mobilnya, mengendarai kendaraan beroda empat itu dengan kencang melewati jalanan ibu kota. Lelehan air mata membasahi pipi Bulan, dia tidak tahu akan dibawa kemana oleh Alvaro. Bulan pasrah, dia bingung apa maksut dan tujuan Alvaro membawanya paksa seperti ini.


Mobil Alvaro memasuki graharaja residence, ini adalah apartemen milik Alvaro. Bulan seketika mengerutkan dahinya. “Ke-kenapa kamu membawaku kesini Al hiks..hiks?” Alvaro menatapnya dingin, pemuda itu enggan untuk menjawab.


“Turun!” Perintahnya arogan, Bulan menggeleng. Dia tidak mau menuruti suaminya, Bulan ingin pergi dari sini.


Alvaro bukanlah pria penyabar, pemuda itu kembali menarik Bulan dengan kasar agar turun dari mobilnya. Dia tidak peduli dengan kondisi bulan yang tengah berbadan dua, lagipula anak yang berada dalam kandungan istri pertamanya itu bukanlah darah dagingnya. Alvaro melepas ikatan pada pergelangan tangan Bulan, disaat Alvaro lengah Bulan berlari kabur. Sialan! Umpat Alvaro emosi, dia segera berlari untuk menangkap Bulan.


Kekuatan berlari Bulan tidak sebanding dengan Alvaro apalagi dirinya tengah hamil besar, dengan mudah Alvaro mengejarnya memeluk tubuh wanita itu dari belakang lalu mendorongnya hingga membentur badan mobil. Bulan seketika merasakan nyeri pada punggungnya, dia meluruh tersungkur di lantai. Alvaro mencengkram dagu Bulan hingga dia mendongak menatap wajah suaminya yang menakutkan. Pemuda itu menggeram marah, untung parkiran apartemen seluas ini sepi jika ada orang yang melihatnya pasti dia akan mendapatkan teguran.

__ADS_1


“Cepat hapus air matamu Bulan!” Bulan tambah menangis dengan kencang, dia tidak menggubris perintah dari Alvaro. “Jika kamu terus-terusan menangis maka aku tidak segan-segan untuk menyakitimu disini."


"Hiks...hiks, Al le-lepaskan aku. A-aku ingin pulang." Cih, Alvaro berdecih. Pulang kemana? Kerumah bajingan Farez maksut Bulan? Dia tidak akan membiarkan Farez untuk bertemu Bulan lagi. Alvaro mengusap linangan air mata dipipi Bulan, dia tidak ingin orang-orang melihatnya membawa Bulan dalam keadaan menangis karena mereka pasti akan berfikiran buruk tentangnya.


"DIAM! Jangan menangis." Alvaro menarik Bulan untuk beranjak berdiri, dia memaksa Bulan mengikutinya. Alvaro menggiring Bulan masuk kedalam unit apartemennya. Tidak lupa pemuda itu mengunci pintu agar Bulan tidak kabur darinya lagi.


Alvaro melepas cengkramannya, dia menatap sengit Bulan yang saat ini menangis dihadapannya. Bulan mengusap pergelengan tangannya yang lecet kemerahaan. "Kenapa kamu membawaku kesini Al hiks...hiks?" Tanya Bulan bingung, dia tidak tahu apa yang saat ini Alvaro fikirkan tentangnya. "Al mamaku sakit, aku harus segera kesana." Bentak Bulan dengan emosi.


Alvaro tertawa. "Sakit?" Tanyanya meremehkan, dasar wanita bodoh! Alvaro mengambil ponselnya dari saku celana. Dia menelfon seseorang, Alvaro sengaja mengaktifkan tombol loud speaker agar Bulan bisa turut mendengarkan dengan jelas percakapan apa yang mereka bicarakan.


"Hallo ma." Sapa Alvaro kepada seseorang dari sebrang telefon.


"Iya hallo Al, bagaimana apakah kamu sudah berhasil membawa pulang Bulan?"


"Iya ma, berkat bantuan mama aku bisa menemukan keberadaan Bulan. Terimakasih ya." Ujar Alvaro sembari melirik Bulan, dalam hati pemuda itu merasa puas. "Maafkan aku ya ma, aku sampai menyuruh mama pura-pura sakit untuk memancing Bulan keluar dari tempat persembunyiannya."


Bulan tertunduk lemas, dia tidak menyangka bahwa mamanya telah menipu dirinya. Rupanya Laura bekerjasama dengan Alvaro untuk menangkapnya. Kenapa? Kenapa mamanya tega membohonginya? Padahal Bulan cemas akan kondisi mamanya karena wanita itu mengeluh sakit.


"Sama-sama Al, mama ingin kamu memperbaiki hubungamu dengan Bulan. Tolong, jaga dia baik-baik ya Al." Balas Laura, wanita itu masih menaruh harapan besar agar putrinya mempertahankan hubungannya bersama dengan Alvaro.

__ADS_1


Pemuda itu tersenyum sinis, menjaga Bulan? Wanita murahan ini tidak pantas untuk dijaga tapi Bulan lebih pantas untuk disiksa. Laura fikir tindakannya adalah yang paling tepat, namun dia salah karena justru mengantarkan putrinya sendiri pada derita. Alvaro sangat membenci Bulan, wanita itu telah menghianatinya sehingga membuat Alvaro ingin memberikan hukuman setimpal atas perbuatan istri pertamanya.


Alvaro melangkahkan kakinya mendekat, dia meraih dagu Bulan untuk mendongak menatapnya. "Mama tidak perlu khawatir, aku pasti akan menjaganya dengan baik." Ujar Alvaro sembari meneliti wajah cantik Bulan yang nampak murung. Dia lantas mematikan panggilan telfonnya secara sepihak.


"Bagaimana hem? Bukankah kamu mendengarnya?" Tanya Alvaro menyindir Bulan. Dia enggan untuk menjawabnya, Bulan merasa jengah dengan tingkah Alvaro yang selalu berbuat semena-mena. Bahkan pria itu memanipulasi mamanya agar tunduk dengan perintahnya.


Bulan menghempaskan tangan Alvaro yang mencengkram dagunya. "Aku membencimu Al. Seharusnya aku tidak pernah mengenal pria kejam seperti dirimu."


Alvaro berdecih mendengar pengakuan dari Bulan. "Jadi kamu menyesal?" Tanyanya menyelidik menatap sengit Bulan.


Dia mengusap lelehan air mata yang membasahi pipinya. "Iya sangat menyesal, bahkan jika aku bisa memutar waktu aku tidak akan pernah sudi menikah denganmu!"


PLAK


Bulan tersungkur kelantai saking kerasnya tamparan suaminya. Dia menyentuh pipinya yang terasa panas bahkan sudut bibirnya mengeluarkan darah. Sejenak Bulan diam tidak bergeming karena kepalanya berdenyut pusing, tapi Bulan masih kuat berdebat dengan Alvaro untuk membela diri.


"Dengar, bukan kamu yang menyesal tapi aku yang telah menikahi sampah sepertimu." Hina Alvaro dengan dada bergemuruh emosi. Dia telah dijebak menikah dengan perempuan yang senang menggoda pria lain. Sebagai seorang lelaki harga dirinya diinjak-injak oleh wanita itu.


Bulan mendongak, dia justru berbalik menatap Alvaro dengan sorot mata tajam. "Iya benar, kamu bahkan telah membuang sampah ini agar tidak mengganggumu. Tapi kenapa kamu sekarang memungutnya kembali" Alvaro tercengang dengan pernyataan Bulan barusan, dia merasa tersindir.

__ADS_1


Bayangkan saja Alvaro telah tega mengusirnya dari rumah, Bulan patuh untuk tidak kembali menginjakkan kakinya dalam tempat tinggal Alvaro. Namun pemuda itu kini malah menyeretnya menuju apartemen, entah apa maksut Alvaro tapi Bulan bisa menebak bahwa pemuda itu pasti merencanakan niat buruk untuknya. Tidak ada gunanya berbicara kepada pria tempramental seperti Alvaro, dia benar-benar sudah lelah untuk sekedar bertanya apa yang sebenarnya pria itu inginkan darinya. Bulan baru saja menghirup udara bebas, namun lagi-lagi Alvaro mengacau kehidupannya kembali.


Bersambung...


__ADS_2