
Ting...tung...ting...tung! Bel rumah berbunyi, namun tidak ada tanda-tanda sang penghuni rumah membukakan pintu.
Ting...tung...ting...tung!
"Dimana wanita sialan itu?!" Geram Alvaro dengan kesal.
Ceklek
Pria itu membuka kenop pintu. Dahinya mengkerut mendapati bahwa pintu rumah rupanya tidak terkunci. Wanita bodoh itu lupa mengunci pintu, bagaimana jika ada maling yang masuk? Batinnya dalam hati.
Bukankah itu bagus, jika ada maling yang masuk Alvaro rela jika istrinya diculik, agar wanita itu lenyap dari muka bumi ini. Lelaki itu menghembuskan nafas kasar, dia berjalan memasuki rumahnya lalu menyalakan saklar lampu hingga seluruh ruangan terang benderang. Tatapan kedua mata Alvaro menajam mendapati istrinya tertidur pulas di atas sofa ruang tamu. Perempuan itu tadinya memang sengaja menunggu Alvaro pulang, tapi Bulan malah ketiduran karena seharian ini dia melakukan sesi pemotretan yang padat.
Lelaki itu berjalan mendekati Bulan, dia melonggarkan dasi yang mencekat lehernya.
Bukkk.
Tas kerjanya dibanting begitu saja di atas meja. Terlihat kilatan amarah terpancar di kedua mata Alvaro. "Bangun!" Alvaro menepuk pipi kanan istrinya dengan kasar.
"Bangun! Bulan bangun!" Ucapnya dingin dengan nada sedikit keras.
"Mama aku ngantuk ma." Gumam Bulan mengigau.
Bukannya bangun, istri bebalnya ini malah meracau tidak jelas. Alvaro tanpa mengurangi kesabarannya seketika menarik kasar bahu Bulan dengan kasar hingga membuat perempuan itu terkejut bukan main. Dengan kaki yang lunglai perempuan itu menahan beban tubuhnya untuk berdiri. Matanya menyipit, sesekali dia mengucek matanya untuk menetralkan rasa kantuknya.
Matanya membola tatkala penglihatannya menangkap sosok suaminya dihadapannya. Segera Bulan mengelap mulutnya, siapa tahu ada iler yang membekas. "Al-al Alvaro." Cicitnya, dengan raut wajah panik.
"Ka-ka kamu sudah pulang?" Tanyanya sembari tersenyum manis di depan suaminya. "Maaf ya tadi aku ketiduran." Wanita itu masih senantiasa tersenyum hangat menyambut suaminya. Namun berbeda dengan lelaki dihadapannya yang malah menatapnya dengan sorot mata tajam dan dingin.
Bulan hanya berani melirik takut-takut ke arah Alvaro, entah kenapa dia saat ini merasakan aura membunuh dari pria dihadapannya. "Kamu mau kopi?" Tanya Bulan akhirnya, dia bingung mengapa suaminya malah diam dan menatapnya seolah ingin menerkamnya hidup-hidup.
Tidak ingin suasana di ruang tamu menjadi canggung wanita itu bergegas berjalan menuju ke dapur namun Alvaro segera mencekal tangan wanita itu dengan kuat hingga Bulan meringis sakit.
"Sakit Al." Rintihnya tidak dihiraukan oleh Alvaro yang malah menekan tangan itu hingga memerah.
__ADS_1
"Rencana licik apa yang sedang kamu mainkan saat ini Bulan?" Tanya Alvaro mendesis tajam. Bulan menggelengkan kepala, dia sama sekali tidak mengerti maksut suaminya.
"Kamu fikir aku pria bodoh! Tega kamu Bulan, membohongi semua anggota keluarga." Bulan masih menahan rasa nyeri di pergelangan tangannya, sungguh dia tidak tahu apa yang saat ini Alvaro bicarakan.
"Kamu pura-pura hamil agar kamu segera aku nilahi. Pantas saja pernikahan kita dipercepat dan seluruh anggota keluarga dengan mudahnya merestui pernikahan ini. Wow, rencana yang sangat hebat, aku benar-benar tidak menyangka. Ternyata kamu pintar dan cerdik." Ujar Alvaro sembari tersenyum sinis.
Bulan terbelalak, bagaimana Alvaro bisa tahu? Sungguh semua itu bukanlah rencananya. "Bukan aku Al, itu bukan aku." Bela Bulan, dia meneteskan air matanya.
Alvaro tertawa sumbang. "Kalau bukan kamu lalu siapa hah? Katakan! Siapa yang menyuruhmu?!" Cerca Alvaro murka, wanita dihadapannya memang pantas mendapatkan perlakuan kasar darinya.
Bulan terdiam, dia hanya bisa menunduk takut. Selama ini dia hanya disuruh Mamanya, Lauralah yang menyuruhnya untuk berbohong. Namun Bulan tidak ingin orang yang disayanginya terkena masalah, jadi lebih baik Alvaro memuntahkan amarahnya kepadanya daripada Mamanya yang kena semprot. Bulan sayang Mama, selama ini hanya Lauralah yang mendukungnya.
Alvaro beralih mencengkram rahang Bulan. "Kenapa diam?! Hah!" Bentak Alvaro membuat Bulan menangis sesenggukan.
"Hiks...hikss. Maaf." Hanya itu yang dapat Bulan ucapkan.
"Kemarilah biar aku tunjukkan bagaimana memperlakukan wanita murahan sepertimu." Alvaro menarik tangan Bulan untuk mengikuti langkah lebarnya, dia menaiki tangga.
"Pelan-pelan Al hikss, tanganku sakit hiks...hiks." Bulan berjalan terseok-seok berusaha mengimbangi langkah Alvaro.
Bulan memberontak. "Al-al hiks..hiks apa yang akan kamu lakukan?" tanya Bulan ketakutan. Wanita itu masih berusaha mempertahankan bajunya yang sudah koyak sana sini.
"Bersenang-senang denganmu, bukankah ini yang kamu inginkan?" Ujar Alvaro dengan senyum sinisnya tambah membuat Bulan ketakutan bukan main. Bersenang-senang apa maksutnya? Bulan menggeleng, dia tidak mau!
Bulan bangkit dari tempat tidurnya, dia mencoba ingin kabur namun Alvaro dengan sigap menarik kembali tangan wanita itu. Lagi-lagi dia merebahkan tubuh Bulan di atas kasur. Alvaro menindih wanita itu dalam rengkuhannya agar tidak lari. Bulan tahu kalau saat ini Alvaro sangat marah kepadanya, tapi bukanlah seperti ini cara untuk melampiaskan amarahnya.
"Al, tolong aku takut hiks..hiks." Cicit Bulan gemetar.
"Katanya kau ingin punya anak dariku hm. Jika kamu ingin punya anak dariku, bukankah akan lebih baik jika kita sering melakukannya." Bulan menggeleng cepat, dia trauma. Dia tidak akan melakukannya lagi, apalagi sekarang Alvaro dalam keadaan marah.
"Al hiks...tolong berhenti." Alvaro seolah tuli, dia sama sekali tidak menggubris ucapan istrinya. Lagipula apa salahnya? Bulan adalah istrinya yang sah, jadi dia bebas memperlakukan apapun terhadap istrinya sendiri termasuk memuaskannya.
Tetesan air mata membasahi pipi Bulan, rengekan dan teriakan dia lontarkan namun sia-sia. Alvaro seolah sudah menutup telinganya, Bulan tahu Alvaro sangat membencinya tapi setidaknya hargai dia sedikit saja sebagai seorang istri. Perlakukanlah dirinya dengan lembut, tidak sekasar ini yang malah membuatnya ketakutan dan trauma kembali.
__ADS_1
Tidak ada rasa kasian dalam benak Alvaro, anggap saja ini adalah hukuman untuk Bulan. Wanita licik seperti Bulan pantas mendapatkan perlakuan kasar darinya.
Bulan hanya bisa meringis menahan sakit. Suara isakan tangisnya bahkan tidak terdengar lagi, hanya lelehan air mata yang menetes membasahi pipi. Suaranya telah habis untuk memohon ampun, Bulan sudah lelah dia ingin menutup matanya meninggalkan Alvaro yang masih menikmati tubuhnya.
Dia mendekatkan wajahnya pada telinga wanita di bawah rengkuhannya seraya berbisik pelan. “Kamu tidak pantas menjadi ibu dari anakku Bulan, kamu lebih cocok menjadi pemuas ranjangku saja.”
Deg
Meskipun Bulan menutup matanya karena kelelahan namun Bulan masih bisa mendengar ucapan suaminya barusan. Dadanya berdenyut nyeri, nafasnyapun tercekat meratapi nasipnya.
Aku ini pasanganmu Alvaro, aku adalah istrimu bukan musuhmu! Tapi mengapa kamu menyiksaku seperti ini. Batin Bulan dari dalam hati, wanita itu tidak mampu menghadapi suami seperti Alvaro. Tubuhnya remuk beserta hatinya yang tidak lagi utuh karena telah dipatahkan berkali-kali.
...****************...
09.00 AM
Bulan membuka matanya perlahan, dia mengamati sekitar lalu menoleh ke samping tempat tidur. Rupanya dia masih berada di dalam kamar suaminya dan laki-laki itu sudah tidak ada di kamar ini. Dia mengingat kejadian brutal tadi malam membuat kepalanya pusing dan seketika dia merasa mual. Baguslah kalau Alvaro sudah pergi, lagipula kalau lelaki itu masih ada disini ketika Bulan bangun dari tidurnya pasti dia akan pingsan karena ketakutan.
Bulan akui kalau Alvaro memang tipe orang yang gila kerja. Pagi-pagi buta lelaki itu sudah berpakaian rapi dan tanpa berpamitan nylonong begitu saja berangkat bekerja. Memangnya siapa dirinya? Di rumah ini Bulan hanya dianggap seonggok patung yang tak dihiraukan keberadaannya oleh Alvaro. Miris!
Dia mencoba bangkit dari tempat tidurnya namun tidak bisa karena tubuhnya terasa lemas, linu di sendi-sendi tubuhnya apalagi bagian bawahnya terasa sangat sakit bahkan menjalar ke kakinya terasa kebas. Perlahan tangannya memegang lemari, dengan langkah tertatih Bulan berjalan menuju kamar mandi.
"Hiks..hiks...hiks" Melihat tubuhnya dalam pantulan cermin Bulan menangis miris, banyaknya bercak kemerahan ditubuhnya dan mengingat bagaimana Alvaro memperlakukannya tadi malam seolah dia memanglah wanita murahan.
Alasanmu memperlakukanku seperti ini karena Bintang, jika aku berhasil mempersatukanmu kembali bersama Bintang apakah kamu akan menyudahi siksaan ini? Batin Bulan bertanya dalam hatinya.
Dengan langkah pelan wanita itu berdiri di bawah shower, air dingin seketika menusuk kulit putihnya. Bulan menengadah sengaja membiarkan wajah letihnya terguyur air dari atas. Dia mulai terisak kembali, wanita itu merosot terduduk. Dia meringkuk, menangis sekencang-kencangnya.
"Aku mencintaimu Alvaro hiks...hiks..." Gumamnya sembari terisak menumpahkan kesedihannya. "Tap--tapi aku tidak bisa menerima semua perlakuan kejammu padaku, hiks..hiks... aku tidak sekuat itu!"
Maafkan Bulan Ma, aku menyerah cukup sampai disini!
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen di cerita ini agar aku semangat update❤️