
Alvaro tengah sibuk membaca berkas laporan mengenai perkembangan perusahaan. Matanya dengan jeli menatap deretan angka pendapatan yang dia peroleh setiap bulannya. Tangan kekarnya memijat kepalanya yang terasa pening, sebagian besar bisnis Alvaro mengalami kebangkrutan. Jika semua bisnis yang dijalaninya selama lima bulan kedepan tetap mengalami penurunan maka dia bisa memprediksi bahwa perusahaannya perlahan akan hancur. Alvaro beranjak berdiri dengan perasaan kalut, dia mengumpat dalam hatinya. Semua ini terjadi karena Elfarez, pemuda itu pasti sengaja ingin membuatnya terpuruk dengan merebut sebagian investor yang menanamkan saham diperusahaannya sehingga membuat Alvaro mengalami kerugian. Beberapa rekan bisnisnya terang-terangan memutuskan kerjasama dengan Mahendra Groub untuk beralih ke perusahaan GA Groub.
Farez saat ini pasti tertawa senang melihatnya hancur, pemuda itu memang sedari dulu membencinya sejak pertama kali bertemu. Apalagi Farez terbukti menjadi salah satu pria selingkuhan Bulan sehingga memicu kemarahan Alvaro. Namun saat ini rasa kesal dan cemburu dalam hati Alvaro tidak berarti apa-apa karena nyatanya hubungan pernikahannya bersama dengan Bulan telah kandas. Mereka resmi bercerai, sekarang Alvaro tidak mempunyai tanggung jawab lagi kepada Bulan. Apapun yang dilakukan Bulan bukan menjadi urusannya, wanita itu telah bebas dari segala tuntutan dan obsesinya. Sampai saat ini dan detik ini Alvaro masih belum merelakan Bulan meski dia sadar bahwa kesempatan itu tidak ada untuknya.
“Arrrgghhh.” Alvaro membanting laptop canggihnya hingga pecah menjadi dua, dia menyalurkan luapan emosinya. Tangannya terkepal kuat hingga otot-otot dijemarinya menonjol, rahangnya mengeras dengan gigi bergemelatuk. Amarah Alvaro memuncak, dalam fikirannya kini dipenuhi dengan bayangan mantan istrinya.
“Bulan aku tidak akan membiarkanmu hidup bahagia tanpa diriku.” Gumam Alvaro sembari mengusap wajahnya yang gusar. Perceraiannya dengan Bulan tidak akan terjadi jika Farez tidak ikut campur dalam urusan ini, pemuda itu memanglah penghancur dalam rumah tangganya.
“Sialan kamu Farez!” Desia Alvaro mengamuk dengan menggebrak meja didalam ruangannya hingga semua berkas laporan maupun barang-barang diatas meja berhamburan jatuh kelantai. Kepalanya sakit, dia tidak bisa berfikir jernih.
Dadanya bergemuruh tidak mampu menahan emosi yang menggebu-gebu, Alvaro ingin Bulan kembali kesisinya. Jika dia tidak bisa memiliki Bulan, maka siapapun pria juga tidak bisa mendapatkannya. Hanya satu jalan satu-satunya agar Alvaro bisa menjerat Bulan yaitu bayi yang berada dalam kandungannya. Bayi itu bisa dia pergunakan sebagai alat agar dirinya mendapatkan akses untuk tetap dekat dengan Bulan, setelah bayi itu lahir maka Alvaro akan berusaha mendapatkan hak asuhnya. Dia tidak peduli bayi itu dari darah dagingnya ataupun bukan, karena satu-satunya cara membuat Bulan kembali menurut padanya hanya dengan seorang anak. Alvaro memanfaatkan kelemahan Bulan untuk mendapatkan keinginannya.
...****************...
Seorang wanita terbaring di atas brankar, matanya mengerjab karena mencium bau obat-obatan menyengat. Cukup lama dia tertidur, bukan lebih tepatnya pingsan karena beberapa jam lalu dia terkurung ditempat yang sempit dan pengap. Kedua matanya terbuka, dia mengedarkan pandangan kesekeliling ruangan. Rupanya dia dibawa ke rumah sakit oleh seseorang yang menolongnya, seingat Bintang dia meminta pertolongan karena terkunci digudang belakang kampus.
Remang-remang dibawah sadarnya dia bisa melihat siluet seorang pria menolongnya, pria itu membukakan pintu gudang lalu membawanya kerumah sakit. Setelah itu Bintang kehilangan kesadarannya, dia juga tidak mengenali wajah pemuda itu. Mungkin salah satu siswa dari fakultas sebelah yang kebetulan melewati gudang karena mendengar teriakan kencangnya, pria itu lantas menolong Bintang.
Dia meringis tatkala kaki kirinya terasa sakit ketika digerakkan, Bintang menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Matanya membulat melihat kaki kirinya diperban, dia ingat bahwa kakinya tertimpa lemari besar digudang. Astaga! Ketiga gadis sialan itu ingin membunuhnya, batin Bintang merasa kesal dengan tingkah kejam mereka.
“Ssssttt, kakiku sakit sekali.” Rintih Bintang merasakan linu, dia menatap nanar ruangan rawat inap sangatlah sepi. Dia sendirian, tidak ada keluarganya. "Hiks...hiks, sakit." Gumamnya, dia tidak bisa membendung air matanya yang menetes membasahi pipi.
__ADS_1
Bintang memaksakan diri untuk bangun, dia menahan rasa sakit dikakinya. Pandagan matanya jatuh pada tas selempang miliknya berada di atas nakas. "Itukan tas milikku." Cicit Bintang merasa bingung. "Bukankah tas itu dibawa oleh Ratna?" Syukurlah tasnya tidak hilang, karena didalam tasnya terdapat flasdisk yang berisi file penting.
Tanpa pikir panjang Bintang meraih tas selempangnya yang tergeletak di atas nakas, dia mengambil ponsel dari dalam tas. Tangan lentiknya bergerak mencari nomer telefon suaminya, Bintang berharap Alvaro datang kesini untuk menemani dirinya. Kejadian hari ini dikampus benar-benar membuat Bintang trauma hingga dia ketakutan. Perbuatan ketiga gadis itu tidak bisa dimaafkan, ini semua gara-gara kakaknya. Andaikan rumor pemberitaan buruk tentangnya tidak beredar pasti Bintang tidak akan mengalami pembullyan.
Bintang ingin hidup tenang, dia sama sekali tidak bersalah justru Bulanlah wanita licik yang sesungguhnya. Orang-orang seharusnya mencaci maki Bulan, dia yang telah merebut Alvaro dari Bintang tapi mereka salah paham tidak tahu kebenaran ini. Semua orang terlanjur membencinya, Bintang bingung bagaimana cara untuk membersihkan nama baiknya. Bintang merasa kalut, dia jadi berfikir untuk pindah keluar negeri saja bersama dengan Alvaro agar bisa terhindar dari kemelut masalah yang membelanggu dirinya.
Bintang menelfon Alvaro, dia berharap pemuda itu mau meluangkan waktunya untuk sekedar mengangkat telefon darinya. “Hallo Bi.” Bintang sumringah mendengar suara Alvaro dari sebrang.
“Hallo kak Al, kak tolong kamu datang kesini jemput aku—“
“Bi, cukup! Kamu jangan manja.” Bentak Alvaro memotong ucapan Bintang dengan lantang, wanita itu hanya bisa melongo mendengar bantahan Alvaro barusan. “Ini masih jam tujuh malam Bi, biasanya kamu juga pulang sendiri. Aku sibuk dikantor, tidak mempunyai waktu untuk menemuimu.” Tegas Alvaro seolah menganggap bahwa pekerjaannya lebih penting daripada keselamatan istrinya.
Bintang berderai air mata, dia tidak menyangka jika respon Alvaro malah membuat hati Bintang teriris pilu. “Kak, aku takut pulang sendirian hiks…hiks…hiks. Aku sedang hamil kak, tidakkah kamu mencemaskan keadaanku kak?” Kekeuh Bintang menangis terisak masih berusaha membujuk suaminya agar meninggalkan pekerjaannya demi dirinya yang saat ini membutuhkan keberadaan Alvaro disampingnya.
“Aku tidak bisa Bi, kamu lebih baik pulang menggunakan taxi saja jika kamu takut.” Terdengar dari nada suaranya Alvaro begitu emosi menghadapi Bintang.
“Kak aku—“
Tit….
“Kak, hallo kak Al.” Bintang menggeram marah tatkala dia mendapati Alvaro rupanya mematikan sambungan telefonnya secara sepihak. Bintang termangu mendapati kenyataan jika suaminya tidak lagi peduli dengannya. Ada apa dengan Alvaro? Kenapa sifat pria itu berubah? Padahal Alvaro adalah orang yang sangat diandalkan oleh Bintang. Dia bergantung kepada suaminya, tidak bisakah pemuda itu meninggalkan pekerjaannya sebentar saja demi dirinya.
__ADS_1
Bintang tidak menyerah, dia kembali menelfon suaminya mungkin saja tadi sinyalnya ponsel Alvaro buruk sehingga mendadak mati. Dia berharap bisa mengobrol banyak dengan Alvaro, dia ingin memberitahu bahwa dirinya saat ini berada dirumah sakit karena kakinya terluka.
Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat menerima panggilan...
Bintang mengumpat kesal, Alvaro pasti sengaja mematikan ponselnya. Sial! Sebenarnya sepenting apa sih pekerjaan Alvaro? Ya tuhan Bintang tidak habis fikir. Baru kali ini Alvaro tega bersikap kejam seperti ini kepadanya, Bintang menjadi curiga dengan perubahan sifat suaminya. Semenjak perceraiannya dengan Bulan suaminya menjadi pribadi yang cuek dan dingin kepadanya.
“Hiks…hiks…hiks. Kak Al kenapa kamu jahat sekali hiks…hiks.” Gumam Bintang menangis pilu, dia tidak bisa diperlakukan seperti ini terus-menerus. Bintang benar-benar capek, tidak ada satu orangpun yang mengerti keadaanya saat ini sungguh menyedihkan.
Bintang harus segera bertindak, dia bisa gila jika masalahnya tidak kunjung usai. “Hiks…hiks, aku harus meminta bantuan papa, iya papa dan mama harus pulang. Hiks…hiks, aku tidak akan bisa menghadapi masalah ini sendirian.” Dia mengusap lelehan air matanya, Bulan memanggil nomer telfon mamanya.
Tidak butuh waktu lama suara lembut wanita paruh baya menyapa indra pendengarannya. “Hallo sayang.”
“Hiks…hiks ma, mama.”
Nadia seketika cemas mendengar putrinya terisak menangis. “Bi, Bintang kamu kenapa? Kenapa kamu menangis sayang?” Tanyanya menuntut penjelasan dari putri semata wayangnya, bayangkan saja seorang ibu mana yang hatinya tidak teriris mendengar putrinya menangis sedih.
“Ma Bintang saat ini berada dirumah sakit hiks…hiks. Kaki Bintang terluka ma, temanku tega membuatku celaka ma hiks…hiks.” Nadia terkejut bukan main, dia bingung dengan penuturan putrinya. Mengapa teman-teman Bintang tega melakukan tindakan sadis kepadanya?
“Bi katakan, apa kamu berbuat salah? Kenapa, kenapa mereka berbuat jahat kepadamu?” Bintang memaklumi jika mamanya bingung, mungkin mamanya belum mengetahui rumor mengenai dirinya yang telah tersebar se Indonesia. Semua orang mencibirnya dan bahkan tega menyakitinya hanya karena percaya dengan fitnah kejam dari orang yang tidak bertanggung jawab.
Bersambung...
__ADS_1