
Alvaro tengah mengadakan rapat tertutup bersama dengan karyawannya untuk membicarakan perkembangan binisnya. Pemuda itu masih mendengarkan laporan mingguan dari semua penghasilan bisnis yang mereka jalankan.
"Maaf pak Al, dari laporan yang saya dapat. Bisnis kita mengalami penurunan dibeberapa sektor. Saya melihat sejauh ini untuk usaha akomodasi nampak menonjol kerugiannya. Hotel kita yang tersebar di Indonesia mulai sedikit peminatnya untuk menginap, apalagi dengan villa dan serviced apartment sepi penyewa." Ujar sang manager sembari melihat data laporan didalam iPad canggih miliknya. Alvarao masih mendengarkan seksama para bawahannya berbicara.
"Lalu beberapa supermarket yang kita jalankan baru-baru ini juga sepi pengunjung pak." Lanjut sang manager membuat Alvaro memijat pangkal hidungnya merasa pusing.
"Pak Al beberapa produk yang perusahaan kita luncurkan saat ini ditolak oleh masyarakat. Semua barang berlebel dari pabrik kita, masyarakat enggan untuk membelinya karena--." Alvaro mengangkat jemari tangannya memberi kode agar sang manager tidak melanjutkan ucapannya, Alvaro sudah tahu apa yang menjadi penyebabnya.
Ini masih menyangkut dengan berita viral yang ramai di dimedia. Dampak yang ditimbulkan dari berita itu bahkan sampai merembet pada beberapa bisnisnya. Saking kesalnya masyarakat mereka bahkan tidak mau membeli produk apapun yang dikeluarkan dari Mahendra Groub. Tidak sampai disitu kerugian yang dialami oleh Alvaro, para rekan bisnisnya yang telah bekerjasama dengannya lebih memilih mundur karena takut akan mengalami kerugian jika terus bekerjasama dengan Mahendra Groub.
Kalau seperti ini perusahaan yang dijalankan oleh Alvaro terancam bangkrut. Sialan! Sebelum semuanya menjadi runyam maka Alvaro harus bertindak secepatnya. Rumor tidak sedap mengenai rumah tangganya harus segera diselesaikan agar tidak menggiring opini publik lebih jauh lagi. Saat ini namanya sudah tercemar dengan pemberitaan miring itu. Pertama-tama Alvaro harus mencari tahu siapa dalang yang membuat rumor tidak jelas itu, Alvaro mencurigai bahwa orang terdekatlah yang menyebarnya. Dua orang yang harus dia selidiki, antara Bulan ataukah mama Laura. Jika Bulan bukan pelakunya, maka satu-satunya orang yang patut dia curigai adalah Laura karena manita tua itu merupakan orang yang licik dengan sejuta akal bulusnya.
"Masih ada beberapa rekan bisnis yang bertahan untuk menjalankan kerjasama dengan perusahaan kita. Bahkan dia rela menggelontorkan dana besar untuk menjalankan beberapa bisnis dengan Mahendra Groub, setidak itu bisa menutupi kerugian yang kita alami untuk sementara ini. Aku yakin bisa memperbaiki kekacauan ini dan bisnis kita bisa bangkit kembali memenuhi terget penjualan dipasaran." Ujar tegas Alvaro, dia masih optimis.
Dulu perusahaan Mahendra juga hampir mengalamai kebrangkutan hingga membuat papanya yaitu Dirga kalang kabut mengurus perusahaan karena mengalami kerugian yang besar. Namun nyatanya Alvaro yang saat itu merintis binisnya bisa membantu ayahnya untuk bangkit kembali. Melihat kebelakang melalui pengalamannya terjun dalam dunia bisnis, Alvaro yakin bahwa dia bisa menyelesaikan permalasahan ini.
"Untuk laporan hasil pendapatan setiap bisnis yang kita jalankan, aku harus mendapatkan datanya setiap hari agar aku bisa tetap memantaunya. Aku harap kalian semua bisa koordinasi satu sama lain dan bekerjasama dalam tim dengan baik." Ujar tegas Alvaro menginstruksi.
"Baik pak Al, terimakasih." Jawab semua karyawan dengan sopan.
"Baiklah kalau begitu saya akhiri rapat hari ini. Silahkan, kalian bisa kembali ke ruangan kalian masing-masing."
"Baik pak." Para karyawan keluar dari ruangan rapat untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda meninggalkan Alvaro sendirian di ruangan masih enggan untuk pergi.
Alvaro menghela nafas kasar, dia benar-benar stres memikirkan masalah yang bertubi-tubi menimpanya, mulai dari rumah tangganya dengan bulan diambang perpisahan hingga bisnisnya yang terancam bangkrut.
...****************...
Mobil mercedes benz memasuki pelataran rumah keluarga Bramasta. Seorang wanita muda bergegas turun dari mobilnya. Dari ekspresi wajah dinginnya nampak dia sedang menahan emosi. Dia memencet bel rumah beberapa kali tidak sabar.
__ADS_1
Ting...tung...ting...tung
Bel berbunyi, namun sang penghuni rumah tidak kunjung membukakan pintunya membuat wanita muda itu bertambah geram.
Ting...tung...ting...tung
Ceklek
Pintu akhirnya dibuka, Laura menatap sinis anak tirinya yang tengah menjulang berdiri dihadapannya. "Selamat siang anakku, tumben kamu datang kerumah ini menjenguk mama tirimu." Ujar Laura terkekeh pelan menyapa Bintang. Wanita muda itu sudah repot-repot meluangkan waktunya untuk datang, Laura fikir sapaan hangat sudah cukup untuk menyambutnya.
Bintang hanya diam, tidak ingin menanggapi ocehan dari mama Laura. Dia nylonong begitu saja berjalan memasuki rumah tanpa permisi membuat Laura mengerutkan dahinya. Memangnya kenapa? Tidak ada yang salah, ini adalah rumah papanya. Jadi Bintang bebas keluar masuk rumah ini kapanpun dia mau. Tatkala langkahnya melewati ruang tamu, Bintang dikejutkan dengan beberapa wanita tua yang sedang mengadakan arisan dirumah ini. Ada sepuluh orang wanita yang duduk disofa ruang tamunya sedang melihat-lihat cincin dan kalung berlian yang dijejer rapi di meja.
Jelas Bintang tahu bahwa mereka adalah teman sosialitanya Laura. Istri pertama papanya itu memang gemar sekali menghambur hamburkan uang dengan ikut arisan sana sini tidak jelas, membeli barang mewah dengan alasan investasi yang sama sekali tidak ada untungnya. Kenapa Bintang bisa berkata demikian? Karena papanya kerap marah ketika uang yang disimpan di brankasnya kerap raib dicuri Laura hanya untuk arisan dan mempermak diri ke salon.
Laura memang tipe wanita yang hedonisme, jadi jangan salahkan papanya jika kerap emosi menghadapi Laura. Berbeda dengan mamanya yaitu Nadia, wanita sederhana itu selalu menurut. Dia tidak pernah membuang waktunya untuk menghabiskan uang suami berfoya-foya bersama teman-temannya. Mengingat dulunya Nadia lahir dari keluarga yang terbilang miskin membuatnya menghargai uang, meskipun Zhafran kaya raya tidak pernah sedikitpun terlintas difikiran Nadia untuk mengkuras habis harta suaminya. Sikap dewasa mamanya itu yang menyebabkan Zhafran lebih menyayangi Nadia dibanding Laura.
Bintang menatap nanar para wanita tua itu yang duduk santai disofa, mereka melihat Bintang heran. “Ekhem, Laura dia putrimu?” Tanya salah satu temannya Laura meneliti penampilan Bulan dari bawah sampai atas.
Laura seketika menyunggingkan senyum. “Iya dia adalah putriku.” Balas Laura melirik Bintang yang tengah berdiri disebelahnya. “Meskipun dia tidak lahir dari rahimku, namun dia adalah bagian dari darah daging suamiku. Bukankah aku harus menganggapnya anak sendiri, bukankah begitu Nia?” Tanya Laura balik kepada temannya yang bernama Nia.
“Ohh, jadi dia anak dari selingkuhan suamimu?” Tanya Nia menatap sengit Bintang, terlihat bahwa wanita tua bergincu tebal dengan bulu mata anti badai itu melirik Bintang dengan sengit. Laura mengangguk, menjawab jujur memang benar jika Bintang anak dari Nadia sipelakor murahan.
Sialan! Bintang yang tidak ingin terjebak disini, dia memilih untuk pergi karena tujuannya datang kerumah ini untuk melabrak kakaknya yang telah menyebarkan rumor tidak jelas di media mengenai dirinya. Bintang ingin menaiki tangga dimana lantai atas merupakan letak kamar Bulan berada, dia akan membalas perbuatan orang-orang yang telah menghakiminya untuk dilampiaskan kepada Bulan.
Laura mencengkram lengan Bintang menahan langkahnya agar tidak naik ke atas. “Ma lepaskan aku!” desis Bintang mengeratkan rahangnya emosi. Tidak menggubris ucapan Bintang barusan, Laura malah menyeret Bintang menuju ruang tamu kembali.
“Ma lepaskan aku!” Kali ini Bintang membentak Laura cukup keras hingga membuat para tamu teman Laura terkejut dengan teriakannya barusan.
Apa sebenarnya maksud dari mama liciknya ini menyeretnya menuju ruang tamu? Batin Bintang merasa kesal, sungguh dia tidak ingin terjebak disini. Bintang ingin pergi namun cengkraman kuat tangan Laura dilengannya tidak bisa terlepas.
__ADS_1
"Berarti dia ini adalah wanita pelakor yang tengah viral di media sosial itukan Laura?" Tanya Nia masih penasaran dengan anak tirinya Laura.
"Iya bocah tengik ini yang tega merebut suami dari putriku, lihat saja perutnya. Dia hamil diluar nikah, cih jika aku menjadi ibunya tentu aku akan sangat malu mempunyai anak binal sepertinya."
Deg
Hinaan dari Laura membuat perasaan Bintang tersentil, hingga mebuat telinganya berdengung. Dadanya bergemuruh menahan amarah. Lagi, lagi dan lagi Bintang dihina didepan orang lain. Harga dirinya sungguh diinjak-injak, Laura seolah mempunyai kuasa untuk terus mencaci maki dirinya.
"Ma, lepaskan aku." Ujar Bulan berusaha melepaskan diri namun tidak dihiraukan oleh Laura.
"Kenapa Bintang hem?" Tanya Laura berbisisk didekat telinganya. "Aku ingin memperkenalkanmu kepada teman-teman, agar mereka tahu bahwa aku mempunyai seorang anak tiri pelakor sepertimu. Bukankah ini adalah suatu kebanggaan untuk dirimu? Kamu pasti senang."
"Tidak ma!" Ujar Bintang dengan sengit.
"Dasar bocah menjijikkan! Dia lebih pantas disebut sebagai seorang pelacur dari pada seorang istri." Hina Nia menambahi karena dia memang sangat membenci seorang pelakor.
"Laura usir dia dari rumahmu, aku muak ingin muntah melihat wajahnya yang menyebalkan." Ujar Nia melengos, tidak ingin Bintang berada disini. Akan lebih baik wanita muda itu pergi saja!
Laura memandangi satu-persatu temannya, dia mengulum senyum. "Maaf ya teman-teman, aku akan mengeluarkan bedebah kecil ini." Balas Laura, dia dengan garam menyeret Bintang mendekati ke arah pintu keluar. Dia lantas mendorong Bintang hingga dia jatuh terjerembab ke lantai.
"Ahh." Bintang mengusap perutnya yang terasa nyeri, kalau diperlakukan seperti ini secara terus-menerus Bintang bisa keguguran. Apalagi Laura mendorong dengan keras, membuat perutnya mengalami sedikit kontraksi.
"Sakit?" Tanya Laura kepada Bintang, namun enggan dijawab oleh wanita muda itu. Dia terlihat meringis kesakitan mencengkram perut besarnya. Lamat-lamat Bintang mendongak menatap tajam mama tirinya yang sangat dia benci sampai kerelung hati.
"Itulah yang dirasakan oleh putriku selama ini. Dia sakit, sedih dan sengasara karena kamu! Sekarang rasakan hukum karma yang datang padamu. Kamu bahkan akan lebih menderita daripada putriku." Tegas Laura menujuk sengit Bintang.
"Pergi dari sini! Aku jijik melihat wanita binal sepertimu!" Usir Laura dengan sarkas. Lantas dia langsung menutup pintu rumahnya lalu menguncinya agar Bintang tidak bisa masuk kedalam rumah ini lagi.
Bintang tertegun menatap pintu kayu itu tertutup rapat, tanpa bisa dibendung Bintang meneteskan air matanya. Mama tirinya itu sudah sangat keterlaluan, dia tidak bisa mentolerir ini. Bintang tidak bisa menanggung permasalahan ini, sungguh membuat hatinya hancur. Satu-satunya jalan yang bisa membantunya adalah lewat bantuan dari papanya. Tapi saat ini papa dan mamanya berada diluar negeri. Apa yang harus Bintang lakukan sekarang? Pemberitaan yang menyangkut dirinya semakin lama bukannya menghilang tapi malah semakin menyebar tidak terkendali.
__ADS_1