
Bistro Classic Resto merupakan tempat makan mewah bintang lima di Jakarta. Entah mengapa tiba-tiba keluarga Bulan mengajaknya untuk makan malam bersama hari ini, makan malam biasa yang mungkin akan terasa membosankan bagi seorang Alvaro.
Bulan turun dari mobil, dia sedikit membenahi rambutnya karena Alvaro yang mengendarai mobil secara ugal-ugalan membuat rambutnya berantakan. Tanpa memperdulikan keberadaan istrinya, Alvaro malah berjalan duluan memasuki restourant. Melihat suaminya meninggalkan dirinya, segera Bulan mengambil langkah cepat mengekori Alvaro di belakang.
Bulan mencebikkan bibirnya, Alvaro benar-benar sama sekali tidak ingin berjalan bersisihan dengannya. Alhasil Bulan memilih menjauh darinya. Kedatangan Alvaro di dalam ruangan disambut baik oleh keluarganya Bulan. Dia melihat disini ada istri pertama dan kedua mertuanya yaitu Laura dan Nadia, tidak terkecuali Zhafran yang telah merencanakan pertemuan ini. Namun Alvaro bingung ketika dia melihat seorang lelaki seumurannya duduk disamping Zhafran. Siapa dia? Mengapa lelaki asing itu ikut dalam acara makan malam keluarga disini?
"Silahkan duduk Al." Ujar Zhafran mempersilahkan, Alvaro mengangguk seraya duduk di kursi yang kosong.
Zhafran menepuk bahu Alvaro. "Dia ini menantuku, namanya Alvaro Artha Mahendra. Dia adalah CEO Mahendra Groub." Ujarnya memperkenalkan Alvaro kepada pria asing entah siapa dan darimana, Alvaro tidak mau ambil pusing.
Pria asing itu hanya tersenyum menanggapi ocehan Zhafran. Ditengah perbincangan mereka Bulan datang. Sama seperti Alvaro, Bulanpun terdiam bingung tatkala melihat keberadaan seorang pria asing di acara makan malam keluarga ini. Pria asing itu memakai kemeja putih dipadukan dengan tuxedo bewarna hitam, nampak formal. Kelihatannya dia adalah tamu terhormat disini. Batin Bulan menerka-nerka.
Pria asing itu melihat lamat-lamat ke arah Bulan. Tiba-tiba lelaki itu berdiri dari tempat duduknya, dia tidak melepas pandangan sedikitpun dari Bulan. Dia keheraan mengapa lelaki asing ini melihatnya seperti itu, bahkan tidak berkedip.
Menyadari keberadaan Bulan, Zhafran menunjuknya. "Dia adalah putriku." Ujarnya memberitahu.
Lelaki asing itu tersenyum, dia terlihat senang. Tangannya terulur menghadap Bulan. "Perkenalkan namaku Elfarez Roy Abraham. Kamu bisa memanggilku Farez." Ujarnya memperkenalkan diri.
Bulan merasa canggung, namun dia tetap membalas dengan menjabat tangan lelaki dihadapannya. "Bulan Cahaya Bramasta. Panggi saja Bulan." Balasnya sembari tersenyum ramah.
Sejak kedatangan Bulan, Farez memang tidak melepas pandangan dari wanita itu. Jujur saja dia terpesona dengan kecantikannya. Farez cukup tahu siapa Bulan, wanita itu adalah model terkenal. Bisa dibilang Farez adalah salah satu penggemarnya.
__ADS_1
"Tidak kusangka aku bisa bertemu denganmu disini. Ternyata kamu aslinya lebih cantik dibanding dengan fotomu yang sering muncul di media sosial."
Bulan hanya bisa tersenyum menanggapi pujian pria itu. Tampang Bulan memang kerap wara-wiri di media sosial maupun di televisi karena itu merupakan tuntutan pekerjaan dimana dia sering menjadi langganan untuk menjadi model iklan suatu produk.
Melihat langsung wajah ayu Bulan siapapun pria pasti akan jatuh cinta, begitu juga dengan Farez. Dia menyukai wanita itu, sejak pandangan pertama. Ini adalah acara perjodohan yang disusun oleh ayahnya dan Zhafran. Jika Bulan adalah putrinya Zhafran berarti Bulan merupakan calon istrinya. Jika benar dia akan dijodohkan dengan wanita itu maka Elfarez tanpa pikir panjang akan melamarnya segera.
Lama kelamaan Bulan merasa risih ditatap terus oleh lelaki asing itu sedangkan Alvaro melemparkan pandangan tidak suka terhadap Elfarez. Apalagi ketika lelaki itu terang-terangan memuji kecantikan istrinya, entah mengapa membuat dirinya geram.
"Farez." Panggil Zhafran membuat lelaki itu menoleh. "Aku lupa memberitahumu bahwa Alvaro adalah suaminya Bulan."
"Apa?" Elfarez terkejut, dia fikir Bulan masih lajang. Dia tersenyum kecut, dia sudah merasa senang karena Farez fikir gadis yang akan dijodohkan dengannya adalah Bulan.
"Benar, Bulan adalah istriku." Tekan Alvaro dengan angkuh dan nada yang dingin seolah menegaskan kalau Bulan adalah miliknya.
"Maaf, apakah aku terlambat?" Ujar seorang wanita, suara itu terdengar dari arah belakang Bulan. Dia tahu itu adalah suara adiknya yaitu Bintang.
Bulan menoleh, menatap lekat adiknya yang telah berdiri disampingnya. "Maaf ya, kalian pasti menungguku lama." Ujarnya merasa bersalah. "Aku harus menyelesaikan tugas kuliahku terlebih dahulu, sebelum kesini. Sekali lagi maafkan aku." Lanjutnya seraya menyunggingkan senyum manisnya. Senyum manis yang memikat, dia selalu bisa menarik perhatian Alvaro. Lihatlah bagaimana Alvaro menatap khawatir ke arah Bintang itu cukup membuat Bulan sadar diri.
"Tidak apa-apa sayang, papa memaklumi kesibukanmu." Balas Zhafran angkat bicara. "Kalian duduklah." Semua orang duduk di tempat duduk masing-masing, begitupula Bulan duduk disamping mamanya.
"Farez, dia adalah putri keduaku namanya Bintang Berlian Bramasta. Dia masih kuliah di jurusan fashion design, tapi sebentar lagi dia akan lulus setelah menyelesaikan skripsinya. Bagaimana menurutmu? Bukankah putriku terlihat cantik dan manis?" Tanya Zhafran memancing Elfarez. Lagi-lagi Farez hanya melontarkan senyumnya menanggapi Zhafran. Bintang memang gadis yang manis tapi Farez sama sekali tidak tertarik dengannya, dia hanya tertarik dengan wanita yang duduk dihadapannya saat ini yaitu Bulan.
__ADS_1
Bulan yang dilirik oleh pemuda tampan didepannya sama sekali tidak terpengaruh. Dia malah asyik menyantap hidangan sirloin steak yang menggugah selera. Berulang kali Laura menyenggol bahunya, mengingatkan putrinya untuk menjaga tata krama di depan semua orang termasuk dalam hal menyantap makanan harus anggun. Namun Bulan tidak menghiraukannya, dia dengan lahap menyantap berbagai jenis makanan di atas meja. Masa bodoh apa yang sedang keluarganya bicarakan, dia sama sekali tidak peduli. Perutnya kelaparan karena sedari pagi dia belum makan apapun, salahkan saja Alvaro yang dengan tega mengunci dirinya dikamar tanpa memberinya makan.
"Kamu tahu Al, Elfarez ini adalah putra tunggal dari Giandra." Alvaro sempat tercengang mendengarnya, rupanya pria asing itu bukanlah sembarang orang. Dia adalah seorang anak dari konglomerat pemilik pabrik kapal pesiar terbesar di Indonesia.
"Alvaro baru-baru ini bekerjasama dengan GA groub untuk membangun sebuah hotel di Bali." Ujar Zhafran dengan bangga.
"Itu sangatlah hebat karena tidak mudah untuk bisa bekerjasama dengan perusahaan Papa." Balas Elfarez ikut memuji Alvaro. "Bahkan dengan anaknya sendiri saja Papa kadang tidak bisa mempercayakan beberapa proyeknya kepadaku."
"Jangan berkecil hati, aku lihat kamu bisa diandalkan dalam proyek besar. Kamu sangat membantuku dalam mengerjakan bisnisku di Swedia." Ujar Zhafran menyanjung Elfarez. Dia memang ditugaskan oleh Ayahnya untuk memimpin salah satu bisnisnya di Swedia bersama sahabat ayahnya yaitu Zhafran.
Zhafran mengedarkan pandangannya. "Aku sangat senang keluarga kita bisa berkumpul disini, karena kita jarang bisa makan bersama seperti ini." Dia terlihat sumringah. "Kalian pasti bingung kenapa aku mengundang Elfarez bergabung untuk makan malam bersama?" Semua orang tidak bergeming, baik Bintang, Bulan maupun Alvaro dibuat penasaran. Berbeda dengan orang tua mereka yaitu Nadia dan Laura mereka sama-sama sudah tahu alasannya.
"Giandra adalah sahabat baikku, kami berdua berencana menjodohkan Bintang dengan Farez."
"Uhuk...uhuk...uhuk..." Bulan tersedak makanan ketika mendengar ucapan Papanya barusan. Farez dengan tanggap penyodorkan segelas air putih kepada Bulan begitupun Alvaro dia sudah memegang gelas untuk diberikan kepada istrinya namun dia urungkan karena melihat Bulan yang telah meminum air pemberian Farez. Sial! Tangan Alvaro yang berada di meja terkepal kuat karena kesal.
"Terimakasih." Ujar Bulan sembari mengelap bibirnya, dia menatap suaminya bergantian dengan Bintang penasaran dengan reaksi kedua sejoli itu. Farez memanglah pria yang tampan, dia tidak kalah keren dengan Alvaro apalagi pria itu juga kaya raya pasti kehidupan Bintang nantinya akan terjamin jika menjadi seorang istri dari keluarga Abraham.
Kenapa Papa dengan seenaknya menjodohkan Bintang? Alvaro pasti akan marah dan pria itu pasti akan menyalahkannya atas rencana ini. Dia tidak ingin lagi menjadi kambing hitam.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa untuk like dan komentar agar aku semangat update❤️