
Bulan berdiam diri dikamarnya, dia trauma dengan kejadian dikantor pengadilan tadi ketika Alvaro tiba-tiba menariknya kedalam toilet lalu pemuda itu kembali melecehkannya. Alvaro memanglah suaminya, tapi bukankah itu termasuk tindakan tidak pantas. Tinggal menghitung hari sidang perceraian mereka dilaksankan, setidaknya jika Alvaro membencinya hina saja dirinya tapi jangan menyentuh tubuhnya. Bulan benar-benar kalut, dihadapan Alvaro dia seolah tidak ada harga dirinya sebagai seorang perempuan.
"Hiks...hiks...hiks." Bulan menangis, menumpahkan kekesalannya dikamar.
Laura masuk kedalam kamar putrinya membawa segelas minuman untuk Bulan, melihat secara langsung putrinya diperlakukan kasar oleh orang lain membuat hati Laura turut terluka. Laura bingung dengan isi fikiran Alvaro, pemuda itu membenci putrinya namun mengapa dia malah berusaha keras menolak perceraian dilakukan. Laura benar-benar bingung, apakah Alvaro sengaja ingin mempermainkan putrinya? Huh sudahlah, yang pasti Laura akan selalu menjaga putrinya dan cucunya dengan baik karena Laura hanya punya mereka berdua dihidupnya.
Wanita paruh baya itu mendekati putrinya, dia mengulurkan segelas air kepada Bulan. "Minumlah sayang, ini teh hangat untuk kamu." Bulan menerima minuman pemberian mamanya, dia lantas meminumnya hingga tandas.
Laura duduk ditepi ranjang, dia mengusap sayang surai rambut panjang putrinya. "Katakan sayang apakah Alvaro melukaimu tadi?" Tanya Laura dengan lembut, dia penasaran. Bulan sampai menangis terisak seperti ini jelas Alvaro pasti telah menyakiti perasaan putrinya.
Bulan menatap nanar mamanya yang berada dihadapannya. "Ma, mama Alvaro mengancamku ma hiks...hiks." Laura mengerutkan dahinya heran, mengancam bagaimana maksut Bulan? Laura menghela nafas, berusaha menahan emosinya.
"Alvaro bilang dia akan merebut anakku ma jika aku tetap melanjutkan sidang gugatan perceraian ini. Ma aku takut, aku takut anakku akan direbut dari tanganku ma hiks...hiks...hiks." Laura mengusap deraian air mata yang menggenang di pipi Bulan.
"Tenanglah Bulan, tidak akan ada satupun orang yang berani mengambil cucuku." Ujar Laura berusaha menenangkan putrinya.
Sungguh saat ini Bulan dihantui dengan rasa ketakutan akan kehilangan buah hatinya. Bulan mengusap lembut perut besarnya, sebentar lagi putrinya akan lahir kedunia. Ada rasa senang dalam benak Bulan karena dia akan segera melihat bayi mungilnya, namun ada juga kekhawatiran jika Alvaro akan merebut hak asuh anaknya. Bayangkan saja dia sudah mengandung sembilan bulan lamanya, lalu tiba-tiba seorang ayah yang tidak bertanggung jawab merebut anaknya Bulan. Bagaimana perasaan Bulan? Jelas dia akan sangat sedih.
"Ma Alvaro itu mempunyai kuasa ma, apalagi selama ini papa juga mendukung setiap tindakannya. Dia bisa dengan mudah mendapatkan hak asuh anakku. Ma aku tidak rela putriku diasuh oleh Alvaro dan Bintang ma." Bulan ingin merawat bayinya, dia ingin membesarkan anaknya. Impian seorang ibu ingin melihat tumbuh kembang anaknya hingga dewasa.
Laura menghela nafas pasrah, dia tahu bagaimana berpengaruhnya kekuasaan dari suaminya. Meskipun Laura adalah istrinya dan Bulan adalah putri kandung dari pria itu namun Zhafran tidak pernah memihaknya bahkan Laura sempat berfikir bahwa suaminya tidak pernah menganggap keberadaan Laura dan putrinya didalam anggota keluarga Bramasta.
__ADS_1
"Ada satu orang yang bisa menandingi kekuasaan ayahmu Bulan. Suamimu saja tidak ada apa-apanya dengan dirinya." Ujar Laura memberitahu putrinya.
Bulan megerutkan dahinya, dia bingung dengan ucapan mamanya barusan. "Apa maksut mama, bulan sama sekali tidak mengerti ma."
Wanita paruh baya itu menatap putrinya dengan intens. "Kamu tahukan betapa kuasanya keluarga Abraham? Dia orang paling kaya di negara ini. Bayangkan Bulan jika kamu menjadi bagian dari keluaraga Abraham, hidup kamu pasti akan bahagia karena tidak ada satupun orang yang berani macam-macam kepada istri dari seorang konglomerat terkenal. Papamu saja tunduk kepada keluarga Abraham karena sebagian usahanya mengandalkan kucuran dana dari GA groub."
Sejauh ini Bulan masih belum paham dengan alur pembicaraan mamanya. "Kenapa mama malah membicarakan papanya Farez?" Tanya Bulan dengan polos, membuat Laura gemas dengan putri cantiknya ini.
"Setelah kamu dan Alvaro bercerai, mama ingin kamu menikah dengan Elfarez. Karena hanya dia yang bisa membantumu mempertahankan bayimu agar tidak jatuh ketangan Alvaro. Papamu dan juga Alvaro tidak akan berani mengusikmu jika kamu sudah menjadi bagian dari keluarga Abraham sayang." Bulan seketika mendelik mendengar penuturan mamanya, bisa-bisanya Laura merencanakan hal seperti ini.
"Ma, ak-aku--."
"Ma tapi aku--."
"Kamu mau bilangkan bahwa kamu tidak mencintai Elfarez?" Tebak Laura lagi-lagi memotong ucapan putrinya. "Cinta akan datang karena telah terbiasa, semakin lama kamu dekat dan mengenal Elfarez mama yakin kamu akan merasakan kenyamanan bersama dengannya. Lagipula Elfarez adalah pria yang baik dan sopan. Tidak seperti Alvaro, pria begajulan itu suka selingkuh dan main kasar."
"Ma dengarkan bulan dulu." Bulan benar-benar kesal karena sedari tadi mamanya terus memotong ucapannya. Padahal Bulan ingin menjelaskan sesuatu.
"Iya sayang kenapa?" Tanya Laura menatap lekat putrinya.
"Mama kalau bicara jangan ngawur, mimpi mama terlalu tinggi. Keluarga Abraham tidak mungkin menyetujui anak tunggalnya menikah dengan perempuan yang telah mempunyai anak satu sepertiku." Ujar Bulan berusaha menyadarkan mamanya.
__ADS_1
Laura mengambil kotak P3K didalam laci lalu menyerahkan kotak tersebut kepada putrinya. "Iya benar mama memang sedang bermimpi, maka dari itu kamu harus mewujudkan mimpi mama agar menjadi kenyataan." Ujarnya tetap kekeuh pada pendiriannya.
"Pergilah, temui Elfarez diruang tamu. Pemuda itu terluka karena berusaha menolongmu, tugasmu adalah mengobatinya." Ujar Laura menggiring Bulan keluar dari kamarnya. "Hapus air matamu Bulan, kamu akan terlihat jelek dihadapan Elfarez karena habis menangis." Laura kembali mengusap bekas air mata yang masih tersisa dipipi Bulan.
Dia lantas berjalan menuju ruang tamu, Bulan melihat Elfarez duduk disofa dalam keadaan babak belur bahkan kemejanya sampai koyak. Pemuda itu menyunggingkan senyumnya tatkala melihat Bulan mendekatinya, wanita itu beranjak duduk disamping Elfarez, dia menatap wajah Farez dengan miris.
"Pasti sakit ya Farez?" Tanya Bulan sembari membuka kotak P3K yang dibawanya.
“Ini hanyalah luka kecil Bulan, jadi tidak terlalu sakit." Kilah Farez berbohong padahal dia meringis menahan nyeri. Bibirnya sedikit perih ketika dia gunakan untuk berbicara. Alvaro menghantam pipinya dengan keras hingga sudut bibirnya robek, tapi rasa sakit ini tidak sebanding dengan luka yang dia torehkan Alvaro kepada Bulan selama ini.
Bulan mengambil kapas yang telah diberi alkohol untuk membersihkan luka. Melihat Farez meringis kesakitan membuat perasaan Bulan teriris, dia dengan lembut mengusap sudut bibir Elfarez untuk membersihkan darah yang mengering.
“Tahan sebentar ya Rez.” Ujar Bulan, dengan hati-hati dia memberikan obat merah disetiap luka ditubuh Elfarez bahkan wanita itu meniupnya untuk mengurangi rasa perih. Farez tidak bisa mengalihkan pandangan matanya dari Bulan, dia terpesona dengan kelembutan hati wanita ini.
“Farez, kamu kenapa liatin aku terus?” Tanya Bulan menyelidik.
Pemuda itu malah menggenggam jemari Bulan membuatnya bingung dengan tingkah Farez. “Bulan, entah kenapa aku menjadi takut jika kamu akan meninggalkanku” Kenapa tiba-tiba Farez berkata demikian? Lagipula tidak ada niat sedikitpun Bulan pergi. Memangnya pergi kemana?
Farez terlalu takut jika Bulan meninggalkan dirinya demi rujuk kembali bersama dengan Alvaro, dia tidak akan bisa menerimanya jika hal itu sampai terjadi. Ciuman mereka tempo hari di pantai sangat berkesan bagi Elfarez. Mengingat Bulan menerima sentuhannya, Farez menyimpulkan jika Bulan juga mempunyai perasaan yang sama sepertinya. Jujur Farez menyadari jika dirinya memang menyayangi Bulan, dia akui bahwa hatinya telah dimiliki sepenuhnya oleh Bulan. Kekesalannya dan emosinya tersulut karena Alvaro menyakiti wanita yang dia cintai.
Bersambung...
__ADS_1