
Laura mengambil sekotak susu khusus ibu hamil di almari pantry, dia membuka bungkusnya lalu membuatkan segelas susu hangat rasa coklat untuk putri kesayangannya. Sudah tiga hari Bulan berada dirumah ini bersamanya. Kesehatan mentalnya berangsur membaik meskipun rasa traumanya masih membayanginya. Laura menghela nafas, setidaknya Bulan akan merasa aman berada disampingnya.
Dia tidak akan membiarkan satu orangpun menyakiti Bulan lagi. Laura meletakkan segelas susu yang telah jadi di atas nampan dan dia juga menyiapkan soto ayam didalam mangkuk untuk sarapan putrinya. Laura berjalan membawa nampan menuju kamar Bulan. Diatas kasur Bulan duduk selonjoran melamun sembari mengusap lembut perut besarnya. Entah apa yang ada difikiran putrinya saat ini karena Laura akhir-akhir ini sering memergoki Bulan melamun sendirian membuat Laura khawatir.
Tangan lembut wanita itu mengusap surai rambut putrinya membuat Bulan berjengkit kaget tersadar dari lamunannya. "Ma, mama." Bulan menyunggingkan senyum manisnya melihat Laura telah duduk dihadapannya.
"Mama bawakan kamu sarapan, cepat makan keburu dingin." Ujar Laura menyodorkan semangkuk soto ayam didepan putrinya. Bau harum bawa goreng menyapa indra penciuman Bulan membuat perutnya seketika bergejolak lapar.
Bulan terlihat berbinar senang. "Soto buatan mama ya?" Tanyanya antusias.
Laura mengulum senyum. "Iya sayang." Balasnya menatap lekat putri semata wayangnya.
"Pasti rasanya enak banget." Ujarnya sembari melahap soto ayam yang masih hangat. Benar soto ayam buatan mamanya selalu enak, Bulan sangat menyukainya.
Laura memandangi putrinya. "Sayang makannya pelan-pelan." Ujar Laura, tubuh putrinya terlihat ringkih membuat Laura merasa miris. Apalagi melihat cara makan Bulan seperti orang yang tidak pernah makan selama satu tahun.
Laura menduga bahwa Alvaro mungkin tidak memberikan kebutuhan nutrisi yang baik untuk Bulan, padahal putrinya tengah mengandung. Hanya karena alasan dia mencurigai janin yang berada dalam kandungan Bulan adalah anak haram dari pria lain membuat Alvaro mentelantarkan putrinya.
Memang benar, Bulan di apartemen Alvaro jarang makan karena saat pemuda itu sibuk bekerja kadang Alvaro lupa menyediakan makanan. Bulan disekap didalam kamarnya, sehingga membuat Bulan tidak bisa keluar untuk sekedar pergi kedapur untuk memasak. Alvaro tidak setiap hari mengunjungi apartemennya, bahkan pernah Bulan seharian bahkan hingga 2 hari tidak makan karena pemuda itu lupa. Nasip Bulan memang miris, Alvaro memperlakukannya secara sadis.
Ting...tung...ting...tung
Bel rumah berbunyi membuat Bulan mendongak menatap mamanya. Laura seketika beranjak berdiri. "Mama akan bukakan pintu, kamu lanjut saja habiskan makananmu." Ujarnya dibalas anggukan patuh oleh Bulan.
Laura berjalan keluar dari kamar Bulan, dia menuju ruangan utama penasaran siapa orang yang bertamu dirumahnya. Laura membukakan pintu, dia terkejut tatkala sosok pemuda tinggi besar menjulang di ambang pintu rumahnya. Tangan kanan Laura terkepal kuat, dadanya bergemuruh menatap wajah menantunya yang berani menampakkan diri dihadapannya setelah pemuda itu berbuat hal yang keji kepada putrinya.
Alvaro mengedarkan pandangannya kedalam rumah seolah mencari seseorang, dia percaya bahwa Bulan berada disini. Papanya Bulan saat ini berada diluar negeri, Alvaro semakin yakin jika Bulan memanfaatkan situasi ini untuk melarikan diri pulang kerumah orang tuanya. Luka yang ditorehkan Bulan diperutnya belumlah mengering, tapi Alvaro menyempatkan diri berharap bisa menemui istri pertamanya itu. Semoga saja Bulan tidak bercerita macam-macam kepada mamanya.
__ADS_1
Laura menatap nanar menantunya, dia menahan emosinya mencoba bersikap tenang didepan Alvaro. "Ada apa kamu datang kerumahku?" Tanya Laura dengan to the point, dia tidak ingin basa-basi terlebih dahulu kepada menantunya itu. Bahkan Laura enggan untuk mempersilahkan Alvaro untuk masuk kedalam rumahnya, walaupun hanya sekedar duduk dikursi.
Pemuda itu bisa merasakan aura dingin yang terpancar dari mertuanya. "Aku ingin menjemput Bulan ma."
PLAK
Tamparan keras Laura layangkan dipipi kanan Alvaro membuat pemuda itu sedikit terkejut dengan respon mertuanya. Alvaro diam membisu, baginya tamparan ini tidak seberapa sakit baginya. Sampai disini Alvaro paham bahwa Bulan ternyata sudah membongkar keburukannya kepada Laura. Pemuda itu tidak merasa bersalah sedikitpun, baginya tindakannya sudah benar. Meskipun menurut pandangan orang lain perilakunya kepada Bulan kejam, namun baginya itu adalah hukuman yang tepat untuk wanita yang gemar selingkuh seperti Bulan.
"Menjemput putriku?" Laura tersenyum meremehkan Alvaro dihadapannya. "Kamu ingin menjemput putriku untuk menyiksa dirinya lagi hah?!" Ujar Laura menggeram marah, terlihat di wajah keriputnya yang menegang terbawa emosi.
"Aku tidak akan membiarkanmu membawa putriku pergi." Tegas Laura mutlak.
"Bulan pasti mengadu kepada mama. Percayalah ma semua keburukan tentangku yang diceritakan oleh Bulan tidaklah benar." Kilah Alvaro membela diri, dia berusaha meyakinkan mertuanya agar tetap berpihak padanya. Laura bukanlah orang bodoh, Alvaro memang pandai bersilat lidah dan manipulatif.
"Bagaimana aku bisa mempercayaimu Al, setelah aku melihat kondisi putriku dimalam itu dia pulang kerumah dalam keadaan ketakutan. Pipinya membiru, sekujur tubuhnya dipenuhi dengan memar dan bahkan dia mengalami trauma karena kekerasan yang dia alami. Apakah setelah aku melihat itu semua, aku akan tetap mempercayaimu hem?" Tanya Laura seakan menunjukkan bukti jika perilaku kasar Alvaro sudah sangat keterlaluan. "Jika aku tetap percaya kepadamu, berarti aku adalah orang yang buta dan bodoh."
"Ma, aku hanya memberikan dia hukuman karena putri kesayangan mama diam-diam telah selikuh dengan pria lain." Ujar Alvaro memberitahu. Jika Bulan mengadukan tindakan buruknya kepada Laura maka Alvaro juga akan membuka aib Bulan di depan mamanya.
"Kenapa memangnya jika dia selingkuh?" Tanya Laura menatap sengit Alvaro. "Seharusnya kamu berkaca pada dirimu sendiri. Kamu menghamili adiknya Bulan dan kamu bahkan menikahi pelakor licik itu. Dimana letak kesalahan putriku? Jika dia mencari laki-laki yang bisa membuatnya nyaman disaat status pernikahan kalian masih berlangsung itu adalah tindakan yang tepat. Adil bukan?"
Rahang Alvaro bergemelatuk, telinganya rasanya panas mendengar ocehan dari Laura yang memang sengaja memojokkan dirinya. Meskipun dia memang menduakan Bulan tapi dia tidak rela jika Bulan bersama dengan pria lain.
"Katakan Al, apakah kamu mencintai Bulan?" Tanya Laura lagi menuntut jawaban dari menantunya. Alvaro hanya diam enggan untuk menjawab pertanyaan dari ibu mertuanya. "Kamu tidak pernah mencintai putriku, kamu hanya menginginkan tubuhnya bukan hatinya." Ujar Laura seolah mengerti dengan isi fikiran Alvaro.
"Didalam hatimu hanya ada amarah untuk putriku karena tuduhan-tuduhan yang sama sekali belum terbukti kebenarannya. Kamu menfitnahnya selingkuh dan bahkan tega menghina cucuku yang berada dalam kandungan Bulan bukan darah dagingmu. Mana buktinya? Jika kamu punya bukti tunjukkan padaku." Tantang Laura seraya mengangat dagunya tinggi agar Alvaro tahu bahwa dirinya tidak bisa diremehkan.
"Dengar Al, bukan kamu yang mempunyai kuasa untuk menghukum Bulan, tapi aku sendirilah selaku ibu kandungnya yang berhak menghukum Bulan apabila putriku memang terbukti melakukan kesalahan." Tegas Laura menatap tajam Alvaro, dia berkata seperti ini agar Alvaro paham dimana posisinya. Meskipun Alvaro adalah suaminya Bulan akan tetapi hak penuh atas diri Bulan tetap pada Laura.
__ADS_1
"Jika kamu membenci Bulan seharusnya sejak dulu kamu pulangkan saja dia kerumah orang tuanya. Jangan menyiksa putriku seperti ini Al, hati mama sakit mengetahui Bulan menderita hidup bersamamu." Air mata Laura jatuh menggenang dipipinya, dia segera mengusapnya.
"Bulan adalah istriku ma, sebagai seorang suami aku yang lebih berhak atas Bulan. Aku akan tetap membawanya untuk ikut bersamaku." Kekeuh Alvaro tidak ingin kalah dari Laura. Jangan sampai dia pulang dengan tangan kosong, Alvaro mengharapkan Bulan untuk kembali.
Laura heran dengan sifat keras kepala Alvaro, seakan pemuda itu ingin mengatur kehidupan putrinya. "Hanya karena kamu bestatus sebagai suami putriku jadi kamu ingin mengendalikan Bulan." Dia menyilangkan tangannya didepan dada sembari tersenyum sinis. "Kamu tidak mempunyai kuasa atas putriku karena sebentar lagi kalian akan berpisah."
Alvaro melotot, Laura malah mendukung perpisahan mereka. Pemuda itu merasa terancam pernikahannya bersama dengan Bulan akan kandas. Tidak, Alvaro masih ingin mempertahankannya.
"Tidak perlu menunggu cucuku lahir, sidang perceraian kalian akan berlangsung secepatnya. Surat persetujuan gugatan perceraian kalian menunggu tanda tangan darimu."
Deg
Alvaro sejenak tertegun dengan penuturan mertuanya, dia tidak habis fikir campur tangan dari Laura sejauh ini. "Pulanglah, istri mudamu sedang menunggumu dirumah. Tidak perlu cemas, Bulan akan baik-baik saja bersama dengan ibunya."
Brak
Laura menutup pintu rumahnya, dia mengepalkan tangannya kuat. Sedari tadi dia menahan emosinya sungguh rasanya tidak bisa dia bendung. Dulu Laura selalu membanggakan menantunya itu. Alvaro pemuda yang sukses dan keluarga Bramasta cukup mengenal keluarga Mahendra sejak lama, bahkan Bulan dan Alvaro berteman sejak kecil. Laura fikir dengan menikahkan Bulan dengan pemuda itu akan membuat putrinya bahagia, namun nyatanya tidak demikian.
Huh, Laura menghela nafas. Perpisahan mereka adalah jalan satu-satunya untuk menyelesaikan permasalahan ini. Laura berjalan menuju kamar Bulan namun langkahnya terhenti karena melihat Bulan berdiri dibalik tembok ruang tamu. "Sayang kamu ada disini?" Ujar Laura terkejut karena Bulan keluar dari kamarnya. Pasti Bulan mengintip perbincangannya bersama dengan Alvaro.
Bulan menunduk, Laura bisa melihat raut kegelisahan putrinya. "Al-Alvaro, itu tadi Alvaro ya ma?" Cicitnya bertanya.
Laura berjalan mendekati putrinya, dia mengusap lembut surai rambut Bulan. "Kamu lihat sendirikan, suamimu masih hidup. Dia sama sekali tidak terluka, jadi kamu tidak perlu khawatir." Ujar Laura memberitahu dibalas anggukan oleh Bulan.
Disisi lain, Alvaro berada didalam mobilnya. Dia beberapa kali mengumpat kesal, mertuanya mengusir dirinya bahkan tadi Laura tidak mengizinkannya masuk kedalam rumahnya. Bagaimana caranya dia mengambil Bulan kembali? Laura saat ini membencinya, padahal dulu mertuanya selalu mendukungnya dan bahkan Laura membantunya agar bisa tetap mempertahankan hubungan pernikahan mereka. Sial! Alvaro tidak ingin bercerai dari Bulan.
Bersambung...
__ADS_1