
“Al aku sama sekali tidak mengerti, mengapa kamu marah kepadaku? Apa salahku?” Tanya Bulan kebingungan. “Jika kamu marah karena aku pulang malam, aku bisa menjelaskannya.” Ujarnya mencoba ingin menenangkan suaminya, Bulan tidak ingin fitnah ini terjadi berlarut-larut.
Alvaro merogoh saku celananya, dia melempar beberapa lembar kertas foto tepat diwajah Bulan. Wanita itu seketika memungut lembaran kertas yang berceceran dilantai penasaran, betapa terkejutnya Bulan tatkala dia melihat foto dirinya bersama dengan Daren dalam keadaan sama-sama telanjang di atas kasur, seolah dirinya dan Daren sedang melakukan hubungan badan bersama. Bulan segera bangkit berdiri, dia menatap lekat Alvaro.
“Al foto-foto ini tidak benar Al. Ap-apakah ka-kamu mempercayainya?” Bulan menangis, dia berjalan mendekati suaminya mencoba meraih tangan pemuda itu namun Alvaro memilih menghindar.
Pemuda itu benar-benar muak dengan Bulan, selama ini Alvaro masih bisa mentolerir Bulan yang sering keluar dengan laki-laki lain tanpa seizinnya. Tapi kali ini perbuatan Bulan sungguh keterlaluan, dia menjatuhkan martabatnya sebagai seorang suami. Alvaro tidak menyangka hubungan Bulan dengan Daren sejauh ini, mereka bahkan sampai dititik berhubungan intim.
Sebelumnya Bulan tertangkap basar berciuman dengan Elfarez, sekarang istri pertamanya itu malah terbukti melakukan hal mesum dengan Daren. Berapa banyak pria yang sudah menjamah tubuhnya? Batin Alvaro terluka mendapati kenyataan ini, tadi siang seorang kurir memberikan paket untuknya ketika dia masih berada di kantor. Rupanya isi paket tersebut berisi dengan foto-foto menjijikkan istrinya bersama dengan pria lain.
Jelas saja Alvaro murka, dia tidak peduli siapa orang yang telah mengiriminya paket tersebut tapi yang jelas Alvaro akan sangat berterimakasih karena telah membongkar kebusukan istrinya selama ini.
“Al hiks…hiks…hiks, aku mohon kamu tolong dengarkan penjelasanku.” Ujarnya disela-sela isakannya. Semua tuduhan ini salah, pasti Bintang dan juga Daren sengaja menjebak dirinya dengan memutarbalikkan fakta.
“Aku rasa aku tidak perlu mendengarkan apapun dari mulutmu, aku lebih percaya dengan adanya bukti daripada hanya sekedar ucapan semata.” Tegas Alvaro membuat Bulan kecewa.
Bintang melangkah maju, dia memandangi kakaknya yang saat ini tersudut. “Ya ampun kak, aku tidak menyangka ternyata kamu diam-diam selingkuh dengan Daren.” Timpal Bintang sengaja memanasi situasi ini, terlihat jelas bahwa adiknya tengah tersenyum mengejek kearahnya. “Jika selama ini kak Bulan dan Daren telah melakukan hubungan ranjang, berarti anak yang berada dalam kandungan kak Bulan kemungkinan adalah anaknya Daren.”
“Tutup mulutmu Bintang!” Bentak Bulan dengan penuh luapan emosi, dadanya rasanya terbakar mendengar ucapan adiknya barusan. Dia bankan berani bersumpah jika bayi didalam perutnya adalah benih dari Alvaro. “Bukan aku yang menghianati Alvaro, tapi kamu.” Tunjuk Bulan tepat di depan wajah Bintang membuat adiknya mendelik kesal karena Bulan berani mengacungkan jarinya kearahnya.
“Kamu yang telah selingkuh dengan Daren dan kamu selama ini telah berhubungan badan bahkan sebelum menikah dengan Alvaro. Kamu yang pelacur Bintang, membiarkan pria lain menyetubuhimu--”
PLAK
__ADS_1
Rasa panas menjalar di pipi kanan Bulan, dia mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar. Rasanya sakit sekali sampai ke ulu hati. Dadanya sesak bahkan Bulan seperti sulit untuk bernafas, dia meringis pilu karena tamparan keras itu berasal dari tangan Alvaro. Ini bukan pertama kalinya pemuda itu menamparnya, jauh sebelum ini pipi Bulan adalah tempat pelampiasan emosi bagi suaminya.
Air mata Bulan meluruh, dia menatap nanar Alvaro dengan perasaan sedih. "Jangan pernah menghina Bintang! Dia adalah wanita baik-baik, tidak seperti dirimu yang rela melemparkan tubuh untuk dicicipi pria lain.” Hinanya lagi tanpa memikirkan perasaan Bulan, siapapun wanita pasti akan merasa sedih jika suaminya melontarkan kalimat sarkas seperti itu kepadanya.
Selama ini Bulan menjaga hati dan raganya hanya untuk Alvaro. Dia tidak pernah sekalipun bermain api dengan pria manapun dibelakang suaminya karena Bulan hanya mencintai Alvaro, namun kesetiaannya malah dibalas dengan rasa sakit.
Bulan menyentuh pipinya bekas tamparan Alvaro, masih terasa perih. Lantas dia mengusap cairan bening yang sedari tadi menetes dari matanya yang sayu. "Aku tidak pernah berbohong Al hiks...hiks."
Alvaro semakin geram mendengar ucapan Bulan, wanita itu sudah terbukti salah tapi tetap ngeyel. "Bintang adalah orang yang licik, me-mereka yang merencakan semua ini Al. Tadi pagi Daren menculik dan menyekapku dirumahnya, aku tahu Bintang dan Daren bersekongkol ingin menghancurkanku." Bulan masih berusaha meyakinkan suaminya, tapi pemuda itu malah berdecih sinis.
Alvaro bukanlah anak kecil yang mudah percaya dengan alasan Bulan barusan yang menurutnya tidak masuk akal. Seperti biasanya Bulan bertingkah bak drama untuk dikasihani. Alvaro tidak akan tertipu dengan air mata buaya Bulan, selama ini dia sudah hafal dengan tabiat licik istri pertamanya.
"Al Bintang yang selingkuh dengan Daren, bukan aku." Ujar Bulan memberitahu.
"Hiks...hiks...hiks, a-aku punya buktinya." Kali ini Bintang terkejut dengan ucapan Bulan, bukti apa? Jangan-jangan ponsel Daren masih berada di tangan kakaknya, gawat! Bintang mulai merasa cemas. Bintang terdiam kaku ditempat dengan keringat mengucur dipelipisnya, dia tidak mengalihkan pandangannya pada Bulan yang sedang merogoh tas selempangnya mencari sesuatu.
"Mana buktinya hah?!" Bentak Alvaro cukup keras dengan mata menyorot tajam. Bulan menelan ludahnya susah payah, dia tidak menemukan ponsel Daren didalam tas selempangnya. Ya tuhan, dimana ponselnya? Apa mungkin Daren sudah mengambilnya? Bulan bingung, padahal dia sudah berjuang untuk mendapatkan bukti tapi lenyap begitu saja. Disaat Daren menyekapnya, pasti pemuda itu yang telah mengambilnya.
Alvaro mencelos melihat raut wajah Bulan yang murung dan kebingungan. Sudah dia duga lagi-lagi Bulan hanya membual, berbicara omong kosong tanpa adanya bukti. Bintang yang berdiri disamping suaminya bisa bernafas lega karena nampaknya Bulan tidak akan mampu membongkar rahasianya. Daren tidak setolol itu, hingga dia meninggalkan jejak dengan begitu mudah.
Dengan langkah lebar Alvaro berjalan mendekati Bulan, dia meraih lengan Bulan mencengkramnya kuat sehingga membuat wanita itu merintih sakit karena Alvaro menekan kuat bekas luka goresan ditangannya. "Al hiks..hiks, to-tolong dengarkan aku."
Pemuda itu tidak peduli lagi, dia seolah menutup telinganya rapat. Alvaro menyeret Bulan hingga wanita itu berjalan terseok-seok mengimbangi langkahnya. Sesampainya diambang pintu dia mendorong tubuh Bulan hingga terjerembab ke lantai.
__ADS_1
"Aahh." Bulan reflek memegangi perutnya untuk melindungi kandungannya, Alvaro dengan tega menyeret dan bahkan mendorongnya hingga dia terjatuh. Bulan bisa menerima jika dia mendapatkan perlakuan kasar darinya, tapi saat ini Bulan tengah mengandung. Apa hati nurani Alvaro telah mati?
Bulan meringis, perutnya terasa nyeri. Dia terduduk di dinginnya lantai sembari menatap nanar Alvaro yang berdiri dihadapannya. Suara hujan deras mengiringi tangisan Bulan yang saat ini memohon agar Alvaro memberikan kesempatan lagi untuk dirinya menjelaskan situasi yang sebenarnya terjadi.
"Aku tidak peduli lagi denganmu atau bahkan anak yang berada dalam kandunganmu!" Ujar Alvaro bengis membuat Bulan menangis pilu, hari ini Alvaro benar-benar murka kepadanya.
Tidak ada peluang bagi Bulan untuk sekedar bicara karena Alvaro lebih percaya dengan Bintang daripada dirinya. "Anak haram itu bukanlah anakku, dia ada karena hasil hubungan gelapmu bersama dengan pria lain diluaran sana."
Deg
Bulan tertegun, anak haram? Hati Bulan berdenyut nyeri bagaikan tertusuk beribu jarum mendengar lontaran ucapan Alvaro barusan. Perempuan mana yang tidak merasakan sakit tatkala suaminya menuduh anak dalam perutmu adalah benih dari pria lain.
"Pada kenyataannya selama ini aku bukan menikahi seorang perempuan yang baik, tapi aku malah menikah dengan pelacur murahan sepertimu." Bulan masih terdiam mendengar setiap cacian dari suaminya. Ingin berbicarapun mulut Bulan terasa kelu. "Keluarlah dari rumahku, aku tidak ingin melihatmu lagi disini."
Bulan menggeleng, dia tidak ingin diusir seperti ini. Setidaknya jika dia memang harus pergi meninggalkan rumah suaminya dengan keadaan yang baik, bukan membawa masalah yang pelik.
"Al tolong jangan mengusirku, ku mohon hiks..hiks." Bulan meraih tangan Alvaro berharap pria itu berfikir lagi, ini sudah tengah malam. Dia tidak mungkin tega membiarkan seorang wanita hamil sendirian diluarkan? Apalagi hujan deras membuat hawa dingin dan suasana gelap.
Alvaro dengan kasar menghempaskan tangan Bulan. "KELUAR DARI RUMAHKU, ******!"
Brak
Pemuda itu segera menutup pintu rumahnya, dia tidak ingin rumah mewahnya dipijak oleh wanita kotor seperti Bulan. Alvaro mengepalkan kedua tangannya, dadanya naik turun menahan emosi. Kalau boleh jujur, akhir-akhir ini Alvaro bersikap lembut kepada Bulan karena dia memang sayang kepada istri pertamanya bahkan dia membela Bulan didepan Bintang tatkala Bintang berbuat kasar kepada kakaknya. Namun sekarang empati Alvaro menghilang ketika dia tahu bahwa Bulan bermain api dibelakangnya.
__ADS_1
Bersambung...