
21.41 PM
Bintang tengah berkutat di dapur, dia memasukkan bubuk kopi dan sedikit gula kedalam cangkir lalu menuangkan air panas. Dia mengaduk kopi tersebut agar rasa manisnya merata, Bintang lantas mengambil nampan. Bintang meletakkan secangkir kopi serta mengambil setoples camilan di atas nampan. Dia membawa nampan itu menuju kamar, Alvaro terlihat duduk selonjoran bersandar ditiang kasur tengah sibuk didepan layar laptopnya sedang mengerjakan tugas kantor.
“Kak Al aku telah buatkan kamu kopi dan aku membawakan camilan biskuit untukmu.” Ujar Bintang, dia meletakkan nampannya di atas nakas.
“Iya Bi nanti aku minum.” Balas Alvaro masih fokus dengan laptopnya.
Bintang duduk ditepian ranjang, menatap suaminya lekat. “Kak Al.” Panggil Bintang, wanita itu gelisah karena dia ingin mengatakan sesuatu.
"Ada apa Bi?" Tanya Alvaro, pemuda itu masih enggan untuk mengalihkan pandangannya dari benda canggih miliknya. Saat ini Alvaro tengah memeriksa laporan bisnis mengenai perkembangan perusahaannya.
"Kak aku dengar besok adalah jadwal untuk melaksanakan mediasi kakak dengan kak Bulan di pengadilan." Ujar Bintang membuat Alvaro seketika mendongak, pemuda itu menutup laptopnya. Dia memandangi Bintang, terlihat dari ekspresi wajah wanita itu tengah menunduk lesu.
"Iya Bi, memangnya kenapa?" Tanya Alvaro sembari meletakkan kembali laptopnya kedalam tas, pemuda itu sengaja menyudahi perkerjaannya karena matanya memang sudah lelah.
"Kak kenapa harus mengadakan mediasi terlebih dahulu? Kenapa kakak tidak langsung cerai saja, mediasi hanya akan menunda jalannya perceraian kakak dengan kak Bulan." Ujar Bintang menuntut penjelasan Alvaro, wanita itu tidak sabar menunggu kabar bubarnya rumah tangga antara Bulan dan Alvaro. Setelah mereka berpisah maka Bintang akan menjadi istri satu-satunya untuk Alvaro. Dia telah berhasil menghempaskan Bulan dari rumah ini.
Alvaro menukikkan alisnya tajam, itu malah yang Alvaro inginkan. Dia masih ingin mengulur waktu, dalam benak hati Alvaro dia memang tidak ingin berpisah dengan Bulan. Dia berharap mediasi besok membawa titik terang dalam rumah tangganya, semoga saja hasilnya memuaskan. Alvaro yakin bahwa dia bisa rujuk kembali bersama Bulan.
"Apakah kakak yang mengajukan untuk dilakukan mediasi?" Cerca Bintang mulai curiga.
"Bi, sebelum sidang perceraian dilaksanakan mediasi harus tetap dilakukan, itu sudah ketentuan." Ujar Alvaro menjelaskan agar Bintang mengerti. Istrinya ini lama-lama membuatnya kesal. Rasa cemburunya yang berlebihan itu kadangkala malah membuat Alvaro terganggu.
Bintang meghela nafas perlahan, mencoba menahan emosinya. Bintang benar-benar muak karena sedari dulu Alvaro bilang ingin bercerai dari kakaknya itu tapi sampai sekarangpun belum ada kepastiannya.
__ADS_1
"Tapi kali ini kak Al akan bercerai benerankan sama kak Bulan?" Tanya Bintang menyelidik, dia hanya ingin memastikan agar perasaannya menjadi lega.
"Sudah aku bilang, aku pasti akan berpisah dengan Bulan. Apa kamu sudah puas dengan jawabanku." Balas Alvaro, kali ini terlihat pemuda itu emosi membuat Bintang mengerutkan dahi bingung. Kenapa? Apakah Alvaro kesal karena dirinya bertanya terus. Apa salahnya Bintang bertanya untuk memastikan, dia sebagai seorang istri patut untuk mengetahuinya.
"Kak--."
"Aku mengantuk, ingin tidur!" Ujar Alvaro memotong ucapan Bintang barusan. Dia beranjak merebahkan diri di kasur. Alvaro memejamkan matanya, enggan untuk menanggapi istrinya. Bintang menatap nanar Alvaro, jujur Bintang merasa marah dengan perubahan sikap suaminya. Bintang tidak suka diabaikan, tapi bagaimana lagi. Dia harus memakluminya, mungkin memang Alvaro hari ini lelah sehingga pemuda itu ingin segera tidur.
Bintang melirik secangkir kopi yang dia buatkan untuk Alvaro. Kali ini suaminya tidak meminumnya padahal Bintang sudah capek-capek membuatkan untuk Alvaro. Alhasil daripada mubadzir Bintang meminum secangkir kopi itu dengan perasaan kalut dalam benaknya.
Dia melirik suaminya yang kini tertidur pulas di atas ranjang. Entah mengapa, aku merasa bahwa kamu masih mengharapkan kak Bulan untuk tetap bertahan disisimu kak. Batin Bintang curiga, bagaimanapun prasangka seorang istri kepada suami kebanyakan terbukti benar adanya.
...****************...
Alvaro datang duluan dikantor pengadilan agama, dia duduk dikursi menunggu Bulan sebagai penggugat yang mengajukan perceraian ini. Sampai saat ini Alvaro percaya bahwa Bulan pasti akan kembali ke pelukannya, mengingat dulu wanita itu begitu tergila-gila kepadanya. Alvaro yakin bahwa Bulan masih mencintainya, tidak semudah itu untuk menghilangkan rasa yang pernah ada dari dalam hatinya. Sidang mediasi ini adalah harapan bagi Alvaro agar dirinya bisa rujuk kembali bersama istri pertamanya.
Tidak berselang lama kemudian, orang yang sedari tadi terus berputar di fikiran Alvaro akhirnya datang. Wanita itu didampingi mama Laura dan juga pengacaranya, tatapan Alvaro menyorot tajam kearah istrinya membuat Bulan seketika mendelik. Ini adalah pertama kalinya Bulan bertemu dengan suaminya semenjak dia kabur dari apartemen pemuda itu. Jujur saja melihat wajah bengis suaminya membuat Bulan takut, rasa traumanya belum sepenuhnya pulih. Laura menggenggam tangan dingin putrinya, wanita paruh baya itu cukup tahu jika putrinya saat ini ketakutan karena berada satu ruangan dengan Alvaro, terlihat dari tubuh putrinya yang gemetar.
“Tenang sayang, Alvaro itu manusia bukan setan.” Bisik Laura berusaha menenangkan putrinya. “Mama akan selalu berada didekatmu, jadi kamu jangan takut ya sayang.” Bulan mengangguk, Laura lantas menggiring putrinya untuk duduk dikursi tepat disamping Alvaro. Pemuda itu sedari tadi menatap Bulan intens seolah ingin mengulitinya, sedangkan Bulan hanya menunduk berusaha menghindar dari pandangan mata Alvaro. Mediasi ini dilakukan karena memang Alvaro yang mengajukan, padahal dari pihak Bulan ingin langsung saja maju dipersidangan. Tidak usah melakukan mediasi yang berbelit-belit seperti ini malah akan membuang waktunya dan memperlambat proses perceraian mereka.
Mereka berdua berhadapan langsung dengan hakim mediator. “Baiklah kita mulai, disini saya selaku hakim mediator dari pengadilan jakarta pusat yang telah dipilih oleh hakim ketua dan telah disetujui oleh bapak dan ibu untuk melakukan sidang mediasi.” Mendengar hakim mediasi mulai berbicara membuat Bulan grogi, berbeda dengan Alvaro yang bersikap santai karena dia percaya bahwa Bulan pada akhirnya juga pasti akan memilih rujuk.
“Sebelumnya apakah bapak dan ibu sudah membicarakan bersama mengenai permasalahan rumah tangga kalian, apakah diantara keduanya tidak bisa menemukan jalan keluar selain berpisah?” Tanya hakim mediator menatap kedua belah pihak untuk mencari jawaban masing-masing penggugat dan tergugat.
“Istri saya tidak pernah memberikan kesempatan saya untuk berbicara dengannya, bahkan orang tuanya juga menghalangi saya untuk bertemu dengan istri saya.” Balas Alvaro menyempatkan diri menoleh kebelakang menatap nyalang Laura, seolah menunjukkan bahwa Lauralah yang selama beberapa hari ini menjauhkan Bulan darinya.
__ADS_1
Laura yang duduk dibelakang putrinya sontak mendongak, dia sedikit tersentil dengan ucapan menantunya barusan. Bagaimana bisa Alvaro berkata demikian? Dia menjauhkan Bulan dari Alvaro demi kebaikan putrinya, setiap hari putrinya selalu disiksa oleh Alvaro. Jika Laura membiarkan Bulan tinggal lama bersama dengan pemuda bajingan itu maka putrinya bisa mati karena setiap hari disiksa batin maupun fisiknya.
Bulan menghembuskan nafas panjang, dia mengumpulkan tenaga dan keberanian untuk bicara. “Sebelumnya mohon maaf pak hakim, saya mengajukan gugatan perceraian karena saya sudah tidak kuat dengan perlakuan suami saya yang telah melakukan kekerasan verbal dan non verbal kepada saya. Bahkan dia tidak segan memukul saya hingga babak belur, jika saya tetap memaksakan diri untuk tetap bersamanya mungkin saya bisa mati ditangan suami saya sendiri.” Ujar Bulan dengan lugas, dia tidak ingin kalah dari Alvaro. Dia sebagai seorang wanita harus berani mengungkapkan kebenaran yang terjadi meskipun Bulan harus membongkar semua aib dari suaminya sendiri.
“Bukan hanya itu saja pak hakim.” Lanjut Bulan menatap pria paruh baya dihadapannya yang masih mendengarkan penjelasan darinya. “Hati dan perasaan saya sakit tatkala mengetahui suami saya selingkuh dengan adik saya hingga hamil. Bodohnya saya, meskipun tahu suami saya telah selingkuh bahkan dia sampai menikahi selingkuhannya, saya dengan lapang dada tetap bertahan disisi pria itu. Namun apa yang saya dapatkan atas ketulusan yang saya berikan kepada suami saya? Dia menghina saya, menfitnah, dan menyiksa saya tanpa alasan yang jelas. Untuk yang kesekian kalinya saya tidak ingin menjadi wanita yang bodoh dengan memberikan suami saya kesempatan kedua.”
“Itu tidak benar pak hakim!” Sentak Alvaro terlihat menggeram marah dengan pernyataan Bulan barusan seolah memojokkan dirinya, dan melimpahkan semua kesalahan ada padanya. “Selama saya berumah tangga bersama Bulan, saya selalu bersikap lembut dan sabar. Tidak pernah sekalipun saya mengangkat tangan saya untuk menyakiti Bulan. Saya selingkuh bukan tanpa sebab pak hakim, sebagai seorang istri Bulan selalu cuek. Dia tidak menjalankan kewajibannya, dia selalu membangkang, kelayapan tidak jelas dan enggan untuk melayani kebutuhan biologis suami. Oleh karena itu saya mempunyai wanita idaman lain, apakah itu salah saya?” Kini Alvaro malah memutar balikkan fakta, dia telah berbohong didepan hakim membuat Bulan marah. Dada Bulan bergemuruh berusaha menahan emosinya, sifat manipulatif Alvaro kembali terlihat. Pemuda itu memang handal bersilat lidah, Bulan tidak akan menyerah. Dia akan tetap maju untuk segera berpisah dari Alvaro!
“Jadi saudari Bulan, apakah anda tidak ingin mempertimbangkan kembali keinginan anda untuk bercerai dengan saudara Alvaro?” Tanya hakim mediasi kepada Bulan.
“Tidak pak hakim. Saya tetap dengan keputusan saya untuk memilih bercerai.” Jawab Bulan mantap, tidak terpengaruh dengan tatapan Alvaro yang duduk disampingnya tengah menatapnya tajam seolah mengintimidasinya. Pemuda itu terlihat mengepalkan jemari tangannya kuat mulai tersulut emosi membayangkan Bulan berpisah darinya. Bulan adalah miliknya, dia ingin mempertahankan hubungan pernikahannya namun pemikiran Bulan tidak sejalan dengan suaminya karena wanita itu tetap akan melanjutkan perceraian mereka.
Laura yang duduk dibelakang mendampingi Bulan merasa bangga karena putrinya sangat tegas dalam mengambil keputusan. Dia juga mendukung perceraian ini karena Alvaro telah berbuat jahat kepada putrinya. Lagipula setelah perceraian Bulan dengan Alvaro, Laura sudah mendapatkan calon pengganti yang tepat untuk menjadi suami putrinya. Elfarez Roy Abraham pewaris tunggal keluarga Abraham yang akan segera dia jodohkan untuk putrinya kelak. Batin Laura tertawa girang, karena akan mendapatkan menantu baru yang kaya raya.
“Baiklah kalau begitu." Balas hakim, pria paruh baya itu beralih menatap Alvaro. "Lalu bagaimana dengan saudara Alvaro, apakah saudara juga mempunyai keinginan yang sama dengan istri saudara untuk bercerai? Bukankah sebaiknya anda sebagai kepala keluarga mencoba mempertahankan rumah tangga yang anda bina?
Dalam hati Bulan terus berdoa agar jawaban Alvaro tidak bertolak belakang dengannya, Bulan ingin mediasi kali ini akan berlanjut ke persidangan agar mereka bisa segera resmi bercerai. Bulan ingin menikmati hidup bebas tanpa bayang-bayang dari Alvaro. Dia akan menjemput kebahagiaannya sendiri, hidup damai tanpa Alvaro.
“Saya masih ingin mengusahakan perdamaian pak hakim.” Balas Alvaro berusaha agar Bulan bisa kembali padanya.
Bulan menatap sengit Alvaro, bukankah di awal Alvaro yang getol ingin menceraikannya agar dia bisa hidup damai berdua bersaama dengan Bintang. Pemuda itu bahkan sesumbar bahwa ingin menyingkirkan Bulan dari kehidupannya karena dia sangat membenci Bulan. Tapi mengapa sekarang Alvaro jadi enggan berpisah dengannya? Dia telah bersatu dengan kekasih gelapnya yaitu Bintang, seharusnya Alvaro membebaskan Bulan dari pernikahan toxic ini. Bulan menjadi kesal mendengar jawaban Alvaro barusan. Pemuda itu selalu berbuat semena-mena senang sekali mempersulit hidup orang lain.
“Bagaimana dengan saudari Bulan sebagai penggugat, apakah saudari mau mempertimbangkannya kembali?” Tanya hakim untuk yang kedua kalinya.
Bulan memutar bola matanya malas, hakim mediasi terus bertanya membuat kepala Bulan bertambah pusing. Dia benar-benar sudah mantap untuk bercerai dari Alvaro, tapi hakim itu masih saja bertanya untuk mempertimbangkannya. “Tidak pak hakim, kesalahan yang dia buat sudah sangat fatal bagi saya.” Balas Bulan tetap kekeuh pada pendiriannya.
__ADS_1