
“Kak Al, kapan kamu akan menikahiku kak?” Tanya Bintang menuntut kepastian kepada pria yang saat ini tengah menatap layar laptopnya, nampak serius dengan pekerjaannya.
“Tidak bisakah kita membicarakannya besok Bi.” Alvaro mengacuhkan keberadaan Bintang. Hari ini lelaki itu memang sibuk, namun Bintang malah datang membicarakan perihal pernikahan yang membuat Alvaro tambah pusing.
Alvaro memang sudah berjanji bahwa dalam waktu dekat ini dia akan segera meresmikan hubungan mereka berdua. Bintang seharusnya sabar menunggu, bukan malah menuntut terburu-buru seperti ini. Alvaro tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan, karena pernikahannya kelak bersama dengan Bintang akan membuat banyak pihak kecewa terutama Bulan.
Bintang kesal dengan Alvaro karena lelaki itu terlihat sama sekali tidak peduli. “Kak aku hamil.”
Alvaro mendongak terkejut mendengar ucapan wanita yang duduk dihadapannya. Dia menatap lekat kearah Bintang dengan tatapan dinginnya. Tidak perlu dipertanyakan lagi siapa ayah dari janin yang dikandung oleh Bintang, beberapa kali Alvaro berhubungan badan bersama dengan Bintang dan sekarang hubungan itu menghasilkan sebuah nyawa yang berada dalam kandungan Bintang, wanita yang dia cintai.
“Aku meminta kak Al untuk segera menikahiku karena aku hamil, bayi yang ada di dalam perutku ini adalah anakmu kak hiks...hiks…hiks.” Ujar Bintang berurai air mata. “Aku ketakutan dan bingung ketika aku tahu bahwa aku hamil hiks…hiks…hiks. Kak Al terlihat tidak peduli dengan kami hiks..hiks.” Bintang menangis sesenggukan sembari mengelus perut ratanya menegaskan bahwa dia butuh perhatian lebih apalagi sekarang Bintang berbadan dua.
Bintang mengusap air mata yang membasahi pipinya. “Maaf kak Al jika aku egois dengan memintamu untuk menikahiku. Aku takut jika perutku semakin membesar, orang-orang pasti akan mencemooh diriku karena hamil tanpa suami. Lebih baik aku menggugurkan janin ini daripada aku menanggung malu aku—“
“Suusttt, jangan katakan itu Bintang.” Alvaro beranjak dari tempat duduknya mendekati wanita rapuh itu. Alvaro memeluk Bintang untuk menenangkannya, jika Bintang sedih maka Alvaro akan lebih terluka.
"Dengar Bi, aku sangat bahagia mendengar kabar baik ini." Ujar Alvaro seraya mengurai pelukannya, lantas dia mengusap lelehan air mata yang menggenang di pipi Bintang. "Anak kita harus tumbuh sehat didalam kandunganmu." Alvaro mengelus lembut perut Bintang dengan penuh kasih sayang.
Alvaro tidak menyangka jika Bulan dan Bintang akan hamil secara bersamaan. Sebenarnya Alvaro ingin fokus untuk menjaga kehamilan Bulan terlebih dahulu, dan mengundur rencana pernikahannya bersama Bintang. Lagipula berdiskusi dengan Zhafran bukanlah hal yang mudah karena ini menyangkut dengan kedua putrinya. Namun nampaknya waktu tidak akan bisa ditunda-tunda lagi, melihat Bintang yang berurai air mata membuat Alvaro kalut.
Dia tidak ingin Bintang yang kini tengah hamil mengalami stres, dia sangat menantikan mempunyai anak bersama Bintang. Membina keluarga bahagia bersama dengan Bintang adalah impian Alvaro sejak dulu. Dan mungkin ini saatnya untuk mengakhiri kebohongan mereka, dia akan jujur kepada Zhafran apa yang sebenarnya terjadi. Alvaro berharap Zhafran akan memaafkan perilaku buruknya, dan merestui pernikahannya bersama Bintang.
"Besok aku akan berbicara kepada Papa mengenai keinginanku untuk menikahimu." Bintang menyunggingkan senyum manisnya, ini yang dia inginkan. Bintang sungguh terharu, apapun yang Alvaro lakukan demi kebaikan mereka berdua maka Bintang akan selalu mendukungnya. Jika nanti Papanya menolak pernikahan mereka, Bintang akan membujuk Papanya bagaimanapun caranya.
Bintang kembali memeluk tubuh tegap Alvaro, calon suaminya. "Kak aku sangat senang, aku janji aku akan menjaga buah hati kita dengan baik. Aku janji kak." Ujarnya dengan penuh semangat. Meskipun Alvaro adalah kakak iparnya, Bintang tidak peduli. Baginya Bulan adalah musuh, bukan keluarganya. Bintang tidak merebut suami kakaknya, dia hanya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.
Alvaro menyambut pelukan hangat Bintang, dia mengecup kepala Bintang beberapa kali. "Iya sayang." Balasnya seraya tersenyum. Bintang memanglah perempuan yang berhati lembut, Alvaro percaya dia akan menjadi seorang ibu yang hebat untuk anak-anaknya kelak.
Bintang mendongak menatap Alvaro dengan sendu. "Aku mencintaimu kak, sangat mencintaimu." Ujar Bintang memberitahu betapa besarnya Bintang menaruh hatinya hanya untuk Alvaro seorang.
Alvaro mengangguk, dia tahu bagaimana perasaan Bintang. Tidak seharusnya Bintang menderita, dia rela menjadi wanita simpanannya karena ulah Bulan yang memaksa Alvaro untuk menikahinya. Jika Bulan tidak melakukan hal sebodoh itu, pastinya Alvaro sudah menjadi suaminya Bintang saat ini.
Mereka berdua saling menatap secara intens satu sama lain, perlahan tangan besar Alvaro membelai pipi Bintang membuat Bintang terpejam merasakan sapuan hangat di kulitnya. Mata lentik Bintang terbuka, tangannya meraih pergelangan tangan Alvaro membuat lelaki itu mengernyitkan dahi.
"Kak." Panggil Bintang, tangannya beralih menyentuh dada Alvaro yang dilapisi kemeja putih. "Kak, aku--" Dia mulai meraba dada Alvaro sensual, nada bicaranya mendesah seraya menatap Alvaro lekat. "Ah, aku menginginkamu kak." Bintang menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Alvaro, dia malu karena entah kenapa dia malah menggoda Alvaro.
__ADS_1
Lelaki itu menangkup pipi Bintang agar mendongak menatapnya, beberapa detik kemudian Alvaro menautkan bibirnya merasakan sesapan manis bibir ranum Bintang. Alvaro menggiring tubuh wanita itu untuk duduk di sofa, merebahkan tubuh mungil Bintang terlentang di sofa kantor. Alvaro menekan tengkuk leher Bintang untuk memperdalam ciumannya sedangkan Bintang mengalungkan tangannya pada leher Alvaro. Wanita itu tidak kalah untuk mengimbangi Alvaro, dia membalas dengan ******* bibir pemuda itu.
"Hmpppttt." Alvaro membelit lidah Bintang, membuat wanita itu melenguh. Perlahan dia membuka satu persatu kancing baju yang dipakai Bintang hingga menampakkan buah dada menyembul dari balik bra putih. Bintangpun juga membuka kancing kemeja Alvaro, membelai dada tegap dan perut sixpack Alvaro menjalar pada bagian bawah pria itu.
Tanpa melepas pagutan bibir mereka, Alvaro membuka kaitan bra milik Bintang. Dia meremas lembut buah dada Bintang merangsang tubuh wanita itu, sesekali Alvaro juga mengusap pucuk buah dadanya Bintang membuatnya menggelinjang dan reflek melengkungkan tubuhnya. Alvaro melepas tautan bibirnya memberi kesempatan wanita dibawah rengkuhannya untuk bernafas. Dia beralih mencium dan mensesap leher jenjang Bintang memberi tanda kemerahan.
Bintang merasa bergairah, setiap sentuhan Alvaro ditubuhnya terasa nikmat. "Aaahh, kak Alvaro." Desahnya tidak karuan tatkala bibir Alvaro mensesap buah dadanya. Setiap kali mereka bercinta, Alvaro selalu memperlakukannya dengan lembut. Bintang bagaikan kaca yang mudah pecah, oleh karena itu Alvaro tidak pernah berbuat kasar kepada wanita yang dicintainya.
"Kak, ennggghhh kak Al." Panggil Bulan disela-sela desahannya, dia membuka kedua kakinya mempersilahkan Alvaro untuk memuaskan dirinya. Namun Alvaro membisikkan sesuatu di dekat telinga Bintang.
"Aku tidak akan berbuat lebih jauh dari ini, aku tidak akan melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya." Mendengar ucapan Alvaro membuat Bintang mengernyit bingung. Kedua kalinya, apa maksutnya? Batin Bintang keheranan. Alvaro cukup tahu diusia kehamilan Bintang yang masih muda tidak baik untuk melakukan hubungan intim, jadi Alvaro akan menahannya demi keselamatan anak yang berada di rahim Bintang.
Rasa herannya sirna begitu saja ketika Alvaro membuatnya memekik tatkala tangan besar pria itu menelusup dibalik rok pendeknya menyusuri paha mulus Bintang. "Eeengghhh, aahh kak."
"Aku tidak akan menyakitimu maupun bayi yang berada dalam kandunganmu Bintang." Gumamnya berbisik, lantas Alvaro kembali memanggut bibir ranum Bintang melepaskan hasrat mereka yang menggebu.
...****************...
Seorang wanita nampak duduk termenung disisi ranjang, mata tajamnya menyorot jauh menatap kaca jendela kamar melihat jejeran pohon rimbun yang berada dari balik kaca. Pipinya basah karena lelehan air mata dan hidungnya memerah akibat menangis.
Ceklek
Alvaro menatap baki makanan di atas nakas yang telah habis, meninggalkan mangkok kosong. Dia tersenyum senang karena Bulan mau memakannya. Alvaro memang sengaja menyiapkan makanan terlebih dahulu sebelum berangkat bekerja, dia tidak ingin Bulan yang hamil kelaparan. Kalau Bulan tidak mengingat bahwa dirinya tengah hamil, dia juga tidak akan pernah memakan masakan dari Alvaro.
"Kelihatannya kamu sudah sembuh." Alvaro menempelkan punggung tangannya di dahi Bulan mengecek suhu badannya. Ternyata suhu badan istrinya sudah menurun.
Bulan memutar bola matanya malas mendapat perhatian Alvaro, tanpa sengaja pandangan matanya melihat sebuah bekas lipstik di lengan kemeja putih suaminya dan Bulan cukup mengenal dari warna lipstiknya dia tahu siapa pemiliknya. Dengan geram Bulan menampik kasar tangan Alvaro yang masih menempel didahinya.
"Jangan menyentuhku Al!" Tegas Bulan dengan berani membuat Alvaro mengernyitkan dahi heran.
"Kamu marah?" Tanya Alvaro menatap tajam istrinya yang nampak lesu. Bahkan Bulan enggan untuk menatap wajahnya.
Bukan marah, melainkan Bulan merasa jijik dan jengah dengan kelakuan Alvaro. Disaat dirinya hamil masih sempat-sempatnya Alvaro bercinta dengan adiknya sendiri hingga cap bibir wanita itu membekas dikemejanya.
"Kembalikan ponselku." Ujar Bulan mengalihkan pembicaraan tanpa menjawab pertanyaan dari suaminya. Ketika Bulan tebangun dari tidurnya, ponselnya sudah lenyap entah dimana. Bulan yakin jika Alvaro pasti mengambil ponselnya. Entah apa yang diinginkan oleh suaminya hingga dia sampai menyita ponselnya.
__ADS_1
"Aku akan mengembalikannya besok." Jawab Alvaro dengan nada dingin.
Bulan beranjak berdiri menatap sorot mata tajam Alvaro dengan jengah. "Al, kamu telah menahanku untuk pergi ke Amerika dengan mengunciku di kamar. Lalu kamu juga mengambil ponselku, sebenarnya apa sih maumu Al? Kenapa kamu membatasi ruang gerakku hah?" Tanya Bulan menahan emosinya. "Cepat kembalikan ponselku Alvaro!" Teriak Bulan dengan berani.
Alvaro mencengkram kuat bahu Bulan, dia tidak suka jika istrinya membentaknya. Seharusnya Bulan tunduk kepada Alvaro bukan malah melawan. "Sudah aku bilang, aku akan mengembalikannya besok." Desisnya didekat telinga Bulan.
Bulan mecoba bersabar, dia sadar jika Alvaro tidak bisa dibantah. "Aku ingin menelfon pihak agency, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku tanpa izin darinya." Bulan berharap Alvaro akan memberikan poselnya untuk sekedar menelfon beberapa menit saja. Bulan tahu pihak agency pasti akan kecewa karena dirinya tidak datang ke dalam acara new york fashion week. Bulan takut jika ketidak profesionalitasnya akan berdampak buruk pada karirnya.
"Al, aku mohon." Ujar Bulan dengan sendu, dia bingung harus bagaimana lagi.
"Aku sudah berbicara dengan atasanmu." Bulan terkejut mendengar ucapan Alvaro barusan. "Aku telah menjelaskan kepada atasanmu bahwa kamu telah memutuskan untuk keluar dari agency. Aku sudah mengajukan surat pengunduran dirimu dan mereka telah menerimanya dengan lapang dada." Mata Bulan seketika terbelalak, dia memukul dada bidang suaminya dengan keras.
"Sialan kamu Al!" Emosi Bulan tidak terkendali lagi, dia tidak habis fikir dengan suaminya. Kenapa pria itu malah membuat masalahnya semakin runyam. Susah payah Bulan masuk kedalam agency untuk menjadi seorang model namun Alvaro dalam sekejap meruntuhkan karirnya.
"Aku tidak ingin mengundurkan diri, aku ingin tetap bekerja." Bulan berusaha melepaskan tangan Alvaro yang masih mencengkram bahunya. "Lepaskan aku Al!" Bentak Bulan dengan emosi yang memuncak, dadanya bahkan naik turun mengatur nafasnya yang memburu.
Alvaro malah semakin mengeratkan cengkramannya membuat Bulan memekik sakit. "Berapa uang yang kamu butuhkan, kamu tinggal meminta padaku. Kamu sedang hamil Bulan, pekerjaanmu akan terlalu beresiko." Sebenarnya Alvaro hanya beralasan, dia memang membenci pekerjaan istrinya. Sebab menjadi seorang model kerap kali menuntut Bulan berpakaian minim menunjukkan kemolekan tubuhnya untuk konsumsi publik. Alvaro gerah melihat Bulan yang wara-wiri di media sosial menggunakan pakaian sexy dan tampil menggoda. Lelaki itu tidak rela istrinya menjadi tontonan pria hidung belang.
"Lepaskan!" Bulan sama sekali tidak menggubris ucapan Alvaro, dia ingin pergi keluar dari rumah ini. Bulan akan berbicara dengan atasannya, menarik balik surat pengunduran dirinya. Sumpah, Bulan tidak rela jika dia harus keluar dari agency yang membesarkan namanya.
"Bulan!" Bentak Alvaro dengan keras sembari menatap Bulan dengan sorot mata tajam menusuk. "Aku suamimu jangan membantah, pikirkan anak kita."
"Pekerjaanku lebih penting daripada anak ini."
PLAK
Rasa panas serta nyeri terasa dipipi kanan Bulan, tamparan keras Alvaro membuat Bulan sadar bahwa Alvaro hanya menginginkan anak yang berada didalam kandungannya saja bukan dirinya. Bulan memegangi pipi kanannya yang memerah, dia menatap lekat suaminya.
Alvaro mencengkram dagu Bulan dengan kasar. "Dengar Bulan, selama beberapa hari ini aku sudah bersabar menghadapi tingkah polahmu karena kamu sedang hamil. Tapi sekarang aku sudah tidak peduli lagi, jika kamu melakukan satu kesalahan saja maka aku akan menghabisimu." Ancam Alvaro kepada Bulan.
Dia melepas cengkramannya, mendorong tubuh Bulan hingga wanita itu terjatuh di atas kasur. "Renungkan kesalahanmu Bulan, aku tidak suka istriku melawan perintahku." Tegas Alvaro dengan emosi, dia lantas berjalan keluar dari kamar meninggalkan Bulan yang tertegun. Tak lupa Alvaro kembali mengunci pintunya agar Bulan tidak kembali berulah.
Bulan menggigit bibirnya, menahan isakan tangis. Air matanya meleleh di pipi, hancur sudah hidupnya. Impiannya berakhir ditangan Alvaro. Kenapa Alvaro selalu ikut campur dengan segala urusannya? Padahal dahulu pria itu tidak pernah peduli dengan apapun yang dilakukan oleh Bulan.
"Hiks...hiks...hiks." Bulan menangis tergugu, sampai kapan hidupnya seperti ini? Dia ingin segera terbebas dari Alvaro untuk melanjutkan hidup sesuai dengan keinginannya. Bulan sudah lelah hidup dalam tuntutan Mamanya dan apalagi sekarang Alvaro juga mengekang dirinya. Padahal Alvaro saja bisa hidup bebas bersama dengan selingkuhannya sedangkan Bulan hanya bisa diam saja. Hidup memang tidak adil bagi Bulan.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like dan komentar agar aku semangat update❤️