Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 32 : Pilih Kasih


__ADS_3

Bulan menyantap sarapan paginya yaitu nasi dengan telur dadar mata sapi diatasnya, makanan sederhana yang rasanya hambar. Dia sebenarnya tidak terlalu bisa memasak, oleh karena itu dia memilih menu yang simpel. Baginya yang terpenting perutnya terisi, tidak peduli dengan rasanya. Dia tidak sudi untuk sekedar mencomot masakan dari adiknya yang telah disiapkan diatas meja hanya diperuntukkan Alvaro seorang.


Di meja makan telah terhidang cumi asam manis, ikan gurami goreng, udang saus tiram dan tidak lupa sayurnya tumis kangkung. Masakan adiknya memang terlihat menggugah selera, Alvaro memang beruntung menikah dengan Bintang karena setiap hari dia bisa makan enak dirumah. Sebelum menikahi Bintang pemuda itu sering makan diluar, padahal Bulan sudah capek-capek memasak berbagai menu tapi Alvaro tidak pernah sekalipun menyentuhnya. Bulan akui bahwa masakannya tidak enak, tapi setidaknya pemuda itu menghargai usahanya.


Melihat Alvaro dan Bintang turun dari tangga, Bulan segera menghabiskan sarapannya. Dia sebenarnya malas bertemu dengan mereka berdua, Bulan bertahan dirumah ini saja membetahkan diri. Wanita itu lantas beranjak dari tempat duduknya setelah menyelesaikan sarapannya, dia menaruh piring bekasnya pada westafel.


“Kak Al ayo sarapan.” Ujar Bintang menggema mempersilahkan Alvaro duduk dimeja makan, Bulan yang tengah mencuci piringnya melirik mengamati interaksi dua sejoli dibelakangnya.


“Aku harap kamu menyukai masakanku kak.” Bintang nampak antusias membanggakan dirinya, seolah menunjukkan bahwa dia seorang koki yang handal. Bintang dengan cikatan mengambilkan nasi beserta lauk pauk dalam piring untuk suaminya.


“Makanlah kak.” Ujar Bintang meletakkan sepiring makanan didepan Alvaro. Pemuda itu mulai mencicipi makanan buatan istrinya, seperti biasa rasanya sangat enak.


Suara gemericik air kran westafel sedikit mengganggu pendengaran Bintang, wanita itu nampak geram dengan keberadaan kakaknya di dapur. Tidak berselang lama Bulan keluar dari dapur berjalan melewati meja makan dengan santai tanpa menyapa keberadaan suami dan adiknya yang menikmati sarapannya.


“Bulan berhenti!” Perintah tegas Alvaro membuat Bulan terdiam ditempat, dia sekilas melirik suaminya. Mengapa Alvaro memanggilnya? Padahal dia ingin kembali kekamar karena tidak ingin mengganggu. "Kemarilah." Bulan mendelik, perlahan langkahnya mendekati pemuda itu dengan perasaan bingung.


"Duduklah Bulan." Perintah Alvaro lagi, dituruti oleh Bulan. Dia menggeser kursi lalu duduk dihadapan suaminya. "Apa kamu sudah makan? Jika belum makanlah bersama kami." Bintang seketika melotot mendengarnya, bisa-bisanya Alvaro mengajak kakaknya untuk makan bersama. Keberadaan Bulan membuat selera makan Bintang hilang. Dia menatap sengit kakaknya yang duduk bersebelahan dengannya, sorot mata kebencian terlihat jelas pada raut wajah Bintang.


"Aku sudah makan Al." Balas Bulan lirih.


"Oh sudah makan." Alvaro meminum kopinya, lalu dia mengelap mulutnya dengan tissue. "Aku ingin memberitahumu bahwa besok aku dan Bintang akan berangkat ke London." Bulan mendongak memandang Alvaro dengan sendu, jadi dia akan ditinggal sendirian dirumah besar ini?


"Kami berdua ingin liburan bulan madu disana kak selama tiga bulan, jadi kuharap kamu jaga rumah ini selagi kami pergi." Timpal Bintang sengaja membuat perasaan Bulan menjadi panas. Dia anggap apa Bulan, seolah-olah mereka menganggap Bulan adalah satpam yang dimanfaatkan untuk menjaga rumah ini. Huh! Jujur Bulan kesal, tapi setelah difikir-fikir jika mereka berdua tidak ada disini akan lebih baik karena Bulan bisa bebas melakukan apapun tanpa kekangan Alvaro.

__ADS_1


"Bulan kamu tidak apa-apakan kami tinggal sendirian?" Tanya Alvaro dengan perasaan cemas, sungguh sebenarnya dia berat meninggalkan istri keduanya. "Jika kamu takut, kamu besok bisa ikut dengan kami ke London." Bintang terkejut bukan main mendengar ucapan suaminya barusan, ini diluar rencana mereka. Alvaro malah ingin mengajak Bulan liburan bersamanya, Bintang tidak habis fikir.


"Kak papa hanya membelikan kita dua tiket." Kilah Bulan, dia tidak ingin kakaknya merusak liburan mereka berdua.


"Aku akan membelikan tiket untuk Bulan jika dia mau." Ujar Alvaro seolah membantah membuat dada Bintang terasa mendidih. Ini adalah acara bulan madu mereka berdua, bisa-bisanya suaminya malah mengajak wanita lain ikut serta. Jika Alvaro tetap kekeuh mengajak Bulan maka Bintang memilih untuk membatalkan liburan mereka.


"Kak tapi--."


"Aku tidak ingin ikut." Sahut Bulan tersenyum kecut menengahi perdebatan antara Alvaro dengan adiknya. Bulan tahu jika Bintang berusaha keras untuk menjauhkannya dari sisi Alvaro. Dia cukup sadar diri, lagipula jika dia ikut ke Londoan dirinya pasti akan menjadi obat nyamuk melihat kemesraan mereka.


Alvaro mengehela nafas kecewa, dari lubuk hatinya dia ingin Bulan menyetujui ajakannya. Dia tidak bisa melepaskan Bulan begitu saja dari pengawasannya. Bulan yang sekarang sudah berubah tidak sebucin dulu kepada Alvaro, mungkin memang benar jika rasa cinta Bulan terhadap Alvaro sudah mulai luntur. Pemuda itu bisa merasakan bahwa Bulan mulai menjaga jarak darinya semenjak dia menikahi Bintang. Jika Alvaro beberapa bulan kedepan menetap di London pasti istrinya akan memanfaatkan situasi ini untuk melakukan apapun sesuka hatinya termasuk kebebasan menemui pria lain. Dia jadi teringat ucapan Bulan dua minggu yang lalu.


"Terserah, aku tidak suka hidupku diatur olehmu. Setelah anak yang kukandung lahir kita akan bercerai." Tegas Bulan mutlak, dia terlihat sudah muak dengan Alvaro. "Setelah aku fikir-fikir sudah saatnya aku membuka hati untuk pria lain yang bisa mencintaiku dengan tulus."


Alvaro tidak bisa memaksa Bulan untuk ikut, memang sedari awal ini adalah liburannya hanya bersama dengan Bintang, namun dia ragu. Jalan tengahnya adalah Alvaro akan menyewa seorang pesuruhnya untuk mengawasi aktifitas Bulan. Jika istri pertamanya itu macam-macam dirumahnya dengan pria lain maka ketika Alvaro pulang dari liburan, Bulan akan menerima hukuman darinya. Alvaro tidak pernah main-main dengan ancamannya! Dan Bulan tahu betul akan hal ini.


"Nikmatilah liburan kalian, aku disini saja." Ujar Bulan terlihat biasa menanggapi. Seolah dirinya tidak masalah jika ditinggal dirumah sendirian. Alvaro menukikkan alisnya tajam, pasti Bulan senang karena dirinya bisa bebas kelayapan. Batinya merasa kesal.


"Jika tidak ada yang dibicarakan lagi aku kembali ke kamarku." Pamit Bulan, dia beranjak berdiri pergi meninggalkan adiknya dan juga Alvaro diruang makan.


Siluet kakaknya telah menghilang dari pandangan, Bintang beralih menatap suaminya dengan hati yang dongkol. "Kak kamu sudah gila!" Cerca Bintang mengernyit heran. "Kamu mengajak kak Bulan ikut ke London bersama kita."


"Iya memangnya kenapa?" Tanya Alvaro balik membuat Bintang memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Kak, kalau kak Bintang ikut yang ada dia bisa menghancurkan acara bulan madu kita." Balas Bintang dengan sengit.


"Bi sudahlah." Alvaro tidak ingin pagi-pagi berdebat dengan Bintang, lagipula ini hanyalah masalah sepele tapi Bintang malah terlihat marah kepadanya. Alvaro tahu bahwa Bulan dulu pernah melakukan tindakan yang buruk kepada Bintang yang berimbas pada keluarganya, namun sekarang wanita itu sudah mulai berubah. Tidak ada salahnyakan jika Alvaro memberi kesempatan untuknya.


Alvaro melihat jam tangannya menunjukkan pukul 08.15, dia beranjak berdiri dari tempat duduknya. "Bi aku berangkat ke kantor." Ujar Alvaro memberitahu.


Bintang menghela nafas berusaha menetralkan emosinya. "Iya kak." Balasnya sembari tersenyum tipis, sebenarnya ada rasa kecewa dalam benak Bintang. Suaminya begitu saja menyudahi pembicaraan mereka padahal Bintang masih ingin mengorek alasan suaminya sekarang menjadi lunak sikapnya kepada kakaknya.


Alvaro menangkup pipi istrinya, dia bisa melihat kerutan samar di kening Bintang. "Jangan terlalu memikirkan Bulan, aku hanya ingin sedikit berbuat baik kepadanya. Bagaimanapun dia masih berstatus sebagai istriku, meskipun aku mempunyai dua istri ketahuilah bahwa hanya kamu satu-satunya wanita yang ada dihatiku." Bintang tersentuh dengan ucapan suaminya, dilihat dari segi manapun Bulan jelas kalah jauh darinya. Alvaro begitu tergila-gila kepadanya sejak pandangan pertama, tidak mungkin pemuda itu dengan mudahnya pindah kelain hati. Dengan lembut Alvaro mengecup kening istrinya seraya mengusap puncak kepala wanita itu sekilas.


"Hati-hati dijalan ya papa." Ujar Bintang sembari mengelus lembut perutnya. Alvaro tersenyum melihat tingkah Bintang yang menggemaskan seolah mengajak anak mereka yang berada dalam kandungannya untuk menyapanya. Alvaro menunduk, dia mengecup perut Bintang dengan sayang.


"Iya papa pamit berangkat kerja ya nak." Setelah mengucapkan kata-kata manis kepada buah hatinya pemuda itu lantas berjalan pergi. Tanpa disadari Bulan sebenarnya belum kembali kekamarnya. Dia mengintip dari balik tembok mengamati hangatnya hubungan Bintang dengan Alvaro, berbeda dengannya yang tidak pernah mendapatkan perhatian yang sama seperti adiknya.


Bulan menatap punggung tegap suaminya dari kejauhan sampai hilang dari balik pintu. Tangannya bergetar terulur membelai lembut perut ratanya. "Papamu berangkat bekerja, semoga dia selalu diberi kesehatan dimanapun dia berada."


Air mata Bulan menetes, dia berharap semoga kelak ketika anaknya lahir akan mendapatkan kasih sayang yang sama dari Alvaro. Pemuda itu boleh membencinya, namun jangan lampiaskan kesalahannya pada anaknya yang tidak berdosa.


Aku yakin kamu nanti akan menjadi anak kesayangan papamu.


Bersambung...


Bagaimana menurut kalian episode kali ini? Jangan lupa untuk tinggalkan jejak agar aku semangat update❤️

__ADS_1


__ADS_2