Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 67 : Kecemasan Elfarez


__ADS_3

Farez merebahkan tubuh Bulan diranjangnya, dia menatap nanar Bulan yang nampak terkulai lemah tidak berdaya. Tangan kekar Farez menyentuh kening Bulan, dia terkejut merasakan suhu tubuh Bulan seperti es didalam kulkas. Wajah wanita itu pucat seperti mayat hidup semakin membuat Farez takut dengan kondisi Bulan saat ini. Pemuda itu lantas merogoh ponselnya dari saku celana untuk menelfon seseorang, dia tidak bisa menanganinya sendirian. Setidaknya dia akan merasa tenang jika dokter telah memeriksa kondisi dari Bulan.


"Hallo, Dea tolong kamu kerumahku sekarang!" Perintah tegas Farez, seorang wanita muda dari sebrang sana terdengar mengeluh karena Farez memerintah dengan seenaknya sendiri padahal hari ini Dea mengambil cuti dari rutinitas pekerjaannya untuk persiapan pernikahannya. Meskipun dia merupakan dokter pribadi keluarga Abraham tapi Farez seharusnya juga mengerti waktu. Apalagi ini sudah larut malam, waktunya untuk beristirahat.


Dea berdecak kesal. "Ada apa Rez? Siapa yang sakit?" Tanyanya sembari menguap karena masih mengantuk.


"Dea aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskannya, cepat datang kesini atau aku akan memecatmu!" Ancam Farez tidak main-main dengan ucapannya. Dea terperanjat, dia tidak ingin kehilangan pekerjaannya. Karena bekerja dengan keluarga Abraham dia mendapatkan gaji yang besar.


Siapa yang sakit? Batin Dea bertanya dalam hatinya, tidak mungkin om Giandra karena lelaki paruh baya itu sedang berada diluar negeri. Apa Farez yang sedang tidak enak badan? Tapi dari suaranya barusan, dia sepertinya baik-baik saja.


Wanita itu menghela nafas kasar. "Iya aku akan kesana." Balasnya, pada akhirnya Dea tetap menurut membuat Elfarez lega. Dia menutup telfonnya sepihak, seperti biasanya pemuda itu selalu berbuat semaunya sendiri hingga Dea menjadi dongkol.


Awas saja kalu dia sampai dirumahnya ternyata Farez hanya ngeprank dirinya. Dea dan Elfarez memang sahabat sejak kecil, dia cukup tahu tabiat Farez. Jadi wajar jika Dea sedikit ragu dengan pemuda itu karena kadangkala Farez menjahilinya. Dia bahkan pernah tertipu karena ulah Farez yang berbohong mengatakan ada salah satu keluarganya yang sakit, setelah dia datang kerumahnya ternyata kucingnya yang bermasalah. Farez fikir dirinya adalah dokter hewan apa bagaimana? Sungguh membuat Dea geram dengan sifat kekanak-kanakan Elfarez. Namun meskipun begitu Farez mempunyai perilaku yang hangat hingga membuat siapapun yang berada di dekatnya merasa nyaman.


Jujur Dea dulu sempat menyimpan perasaan kepada Farez, namun dia menyerah karena beberapakali dia menunjukkan rasa sukanya tapi Elfarez dengan halus menolaknya. Dea cukup sadar diri bahwa Farez hanya menganggapnya sebagai sahabat tidak lebih, Dea memahaminya. Dia berlapang dada mencoba membuka hati untuk pria lain dan Dea sudah menemukannya. Memang tidak mudah untuk move on, akan tetapi seiring berjalannya waktu hati juga bisa berubah atas kehendak tuhan.


Disisi lain Farez tengah duduk ditepi ranjang menemani Bulan, jujur dia bingung apa yang harus dia lakukan sekarang? Dea pasti masih lama perjalanan menuju kesini. Farez menatap sendu tubuh ringkih Bulan, tatapan matanya jatuh pada pipi kanan Bulan yang nampak membiru seperti bekas tamparan seseorang. Tangan besarnya membelai lembut pipi halus wanita itu lalu jempol tangannya mengusap sudut bibir Bulan yang terdapat bercak darah mengering. Tidak sampai disitu rasa mirisnya, dia mengeryitkan dahi tatkala melihat lengan tangan Bulan terdapat luka goresan benda tajam.


"Ya tuhan, apakah Alvaro menyiksamu dengan sadis seperti ini? Dia sungguh kasar sekali memperlakukanmu." Gumam Farez merasa sedih, sungguh hatinya juga turut merasakan sakit. Dia tidak rela jika Bulan dianiyaya dengan kejam oleh suaminya. Sudah semestinya Bulan pergi saja dari belenggu Alvaro sejak dulu, Farez tidak mengerti mengapa Bulan tetap bertahan dirumah itu.


"Alvaro jangan tinggalkan aku hiks...hiks." Gumam Bulan meracau dalam tidurnya membuat dada Farez berdenyut nyeri mendengarnya.

__ADS_1


Apakah dia secinta itu kepada suaminya? Padahal pemuda itu banyak menorehkan luka dihidup Bulan, tapi Bulan masih mengharapkan kehadirannya. Tidak bisakah Bulan sedikit saja melihatnya, Farez ingin lebih dari sekedar teman. Ketahuilah bahwa rasa sayang Farez terhadap Bulan sangatlah tulus, jika Bulan menjadi miliknya Farez pasti akan menjaga wanita itu sepenuh hati.


Elfarez mengusap lelehan air mata yang menggenang disudut mata Bulan. "Jangan kamu sebut nama pria brengsek itu dalam tidurmu Bulan, kamu bisa bermimpi buruk karena memikirkannya." Gumam Farez terlihat kesal, telinganya panas setiap kali Bulan menyebut nama suaminya. Farez membenci Alvaro hingga rasanya dia ingin membuat pemuda itu menderita turut merasakan apa yang dialami Bulan selama ini.


"Dingin..." Gumam Bulan menggigil, mata wanita itu masih terpejam dengan dahi berkerut. Bulan terlihat tidak nyaman dalam tidurnya. "Mama Bulan kedinginan ma." Racaunya seolah dia mengadu, padahal disini mamanya tidak ada. Farez merutuki dirinya sendiri karena membiarkan Bulan tertidur memakai baju yang basah. Bodoh kamu Farez! Kalau begini sakit Bulan akan tambah parah.


Farez menoleh menatap pintu kamarnya, dia berdecih karena Dea belum kunjung datang. Dia bimbang apakah Farez saja yang menggantikan bajunya Bulan? Bagaimana ini? Kasian jika Bulan berlama-lama memakai baju basah seperti ini.


"Dingin." Ujar Bulan lagi di alam bawah sadarnya, Farez semakin tidak tega melihat Bulan. Pemuda itu berjalan menuju lemari, dia mencari baju yang sekiranya pas untuk dipakai oleh Bulan. Ayolah, dia sama sekali tidak mempunyai pakaian perempuan. Alhasil Farez memutuskan untuk mengambil kemeja putihnya, mungkin ini akan kebesaran ditubuh Bulan. Sudahlah yang terpenting baju ini bisa dikenakan oleh Bulan sehingga dia tidak akan kedinginan lagi.


Farez beranjak mendekati Bulan, dia menatap tubuh Bulan sejenak. Dia menghela nafas panjang, mengganti pakaian seorang wanita sebenarnya cukup mudah tapi yang Farez takutkan adalah melawan nafsunya. Farez hanyalah lelaki biasa, melihat Bulan dalam keadaan telanjang mungkin akan membangkitkan hasratnya. Sebisa mungkin dia harus menahannya, dia ingin menjaga Bulan bukan malah merusaknya. Dia bukanlah pria mesum yang akan mengambil kesempatan untuk melecehkan seorang wanita. Apalagi Bulan adalah wanita yang dia sayang, Farez tidak akan menyakiti perasaan Bulan. Niatnya baik, hanya ingin membantu wanita itu.


Elfarez mulai membuka kancing baju Bulan sehingga menampilkan tubuh polosnya yang terbalut dengan bra di dadanya. Dia lalu menurunkan rok pendek wanita itu serta dalaman Bulan dengan perlahan bahkan Farez juga membuka penutup terakhir yang membungkus buah dada wanita itu.


Farez bernafas lega setelah selesai menggantikan bajunya Bulan dengan pakaian kering. Dia menyunggingkan senyumnya melihat Bulan berhenti mengigau setelah sebelumnya dia meracau mengeluh kedinginan. Farez lantas menyelimuti tubuh Bulan agar merasa hangat. Sekarang setidaknya Bulan terlihat lebih nyaman dalam tidurnya dibanding tadi yang terlihat gelisah, Bulan bahkan sudah tidak menggigil lagi.


Elfarez mengusap-usap lembut surai rambut Bulan dengan sayang. "Apa yang sebenarnya membebani fikiranmu?" Tanyanya sembari menatap wajah cantik Bulan, meskipun terlihat pucat namun tidak mengurangi pesonanya.


"Jangan memikirkan Alvaro, lelaki itu tidak pernah peduli denganmu. Ada aku disini yang akan selalu ada untukmu Bulan." Bisik Elfarez seraya menggenggam jemari tangan Bulan.


Mungkin Bulan belum mencintainya tapi Farez akan berjuang untuk mendapatkan hatinya Bulan. Pemuda bajingan itu telah mencampakkan Bulan bagai sampah, tidak ada salahnyakan Farez memungutnya karena bagi Farez dia telah menemukan sebuah berlian yang berharga.

__ADS_1


Farez meraih ponselnya kembali, dia nampak mengetikkan sesuatu. Pemuda itu terlihat tidak sabar menunggu seseorang, dia terlalu cemas dengan kondisi Bulan saat ini karena wanita itu tidak kunjung sadar membuka mata.


Farez


Dea cepatlah datang, jangan membuatku menunggu lama.


^^^Deandra^^^


^^^Aku hampir sampai^^^


Tidak berselang lama kemudian, mobil milik Dea memasuki pelataran rumah keluarga Abraham. Dia bergegas turun dari mobil lalu masuk kedalam rumah. Dea berjalan dengan tergesa-gesa karena Farez terus saja menelfonnya dan mengiriminya pesan membuat Dea pusing dibuatnya.


Ceklek


Dea membuka pintu kamar Elfarez, wanita itu mematung ditempat tatkala melihat seorang wanita terbaring dikasur. Farez seketika menoleh mendengar suara pintu dibuka, pemuda itu beranjak berdiri menatap Dea yang berada diambang pintu. "Akhirnya kamu datang." Ujarnya dengan tenang.


Dea menyipitkan matanya menyelidik. Om Giandra saat ini berada di luar kota. Mentang-mentang papanya tidak ada Elfarez berani membawa wanita kedalam rumahnya. "Dia siapa?" Tanyanya penasaran seraya berjalan mendekat ke sisi ranjang Bulan. Dea sedikit terkejut melihat wajah Bulan yang pucat, dia lantas menyibakkan selimut menatap nanar perut Bulan yang besar.


"Katakan Farez dia siapa? Aku akan melaporkanmu kepada om Giandra jika kamu berbuat macam-macam dengan wanita ini." Ancam Dea mengintimidasi Farez. Dea cukup tahu bagaimana kelakuan Farez dahulu yang playboy bahkan banyak perempuan dibuat menangis oleh Elfarez karena ditinggalkan. Wanita ini bukanlah salah satu korban Farezkan? Batin Dea menebak.


"Dia adalah calon istriku." Ucapan Farez barusan sukses membuat Dea melongo.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2