
Bulan baru saja ke apotik untuk menebus resep obat untuk mamanya. Tadi pagi dokter mengatakan bahwa mamanya sudah diperbolehkan pulang. Setelah dirawat selama seminggu akhirnya kondisi Laura sudah membaik, Bulan sangat bersyukur kepada tuhan. Dokter menyarankan agar Laura bisa menghindari tingkat stres karena dapat memicu serangan jantung. Mamanya memang mempunyai riwayat tekanan darah tinggi semenjak papanya membawa mama Nadia serta Bintang hadir dalam keluarganya, membuat kondisi mamanya menjadi terpuruk.
Bulan menghela nafas lelah, dia akan membujuk mamanya untuk tinggal bersamanya saja untuk sementara ini pumpung rumah suaminya kosong. Dia tidak ingin mamanya tertekan bertahan diatap yang sama dengan papanya dan istri kedua papa. Rumah papanya bagi Bulan penuh dengan konflik, sehingga tidak sehat jika mamanya kembali kerumah itu.
Ketika Bulan berjalan melewati lorong rumah sakit matanya membola tatkala dia berpapasan dengan pria paruh baya yang sangat dikenalinya. Pria gagah berkemeja formal itu menghentikan langkahnya bersitatap dengan Bulan, hatinya seketika bergemuruh menahan amarah.
"Kenapa papa datang kesini?" Tanya Bulan dengan raut wajah memerah menahan luapan emosi yang menggebu, dadanya bahkan naik turun mencoba menahan diri.
"Aku ingin menjenguk mamamu." Ujar Zhafran santai seolah dia tidak mempunyai kesalahan apapun. Bulan memutar bola matanya malas mendengar jawaban papanya barusan.
"Kenapa baru sekarang pa, hah?" Sentak Bulan menatap nanar pria paruh baya dihadapannya dengan sengit. "Sudah seminggu mama dirawat dirumah sakit ini, tapi papa baru sekarang menampakkan diri." Bulan heran dengan sikap papanya yang tanpa ada rasa malu menginjakkan kakinya dirumah sakit ketika mamanya dalam kondisi membaik dan sudah diperbolehkan pulang. Seharusnya papanya datang lebih awal. Dimana saja dirinya disaat mamanya sakit parah terus memanggil-manggil nama suaminya, namun pria itu malah enggan untuk datang.
"Alangkah lebih baik papa tidak perlu datang kesini sekalian." Tegas Bulan menohok. Dia sangat jengkel menghadapi papanya, sudahlah pulang saja sana! Mamanya hanya membutuhkan Bulan disisinya, tanpa kehadiran papanya dia bisa mengurus mamanya sendirian.
Aura dingin terpancar pada sosok Zhafran Hadi Bramasta, lelaki itu sama sekali tidak menggubris ucapan putrinya. "Ruangan mamamu dimana?" Tanyanya menatap lurus kedepan seolah bersikap acuh kepada Bulan. Tugasnya disini hanya untuk menjenguk Laura sebentar lalu dia akan kembali kekantor, dia bahkan meluangkan waktu berharganya untuk sekedar melihat kondisi Laura.
Bulan tersenyum sinis, dia merasa diabaikan. Setiap ucapan apapun yang terlontar dari mulutnya tidak pernah didengar oleh papanya. "Papa cari saja sendiri!" Balas Bulan tidak kalah dingin dengan sikap yang ditunjukkan papanya.
Zhafran memasukkan tangan kirinya pada saku celana, dia berjalan angkuh meninggalkan Bulan begitu saja membuat wanita itu semakin geram dengan tingkah papanya. Ruang anggrek nomer 1 VIP merupakan tempat dimana Laura dirawat, tidaklah sulit menemukannya. Zhafran tahu bahwa Bulan saat ini marah kepadanya, tapi itu bukanlah suatu masalah bagi Zhafran. Bisa dibilang Zhafran belum bisa memaafkan putri sulungnya itu, sampai saat ini rasa bencinya belumlah hilang.
Langkah kaki Zhafran berjalan memasuki ruangan rawat inap, dia melihat istrinya memejamkan matanya di atas brankar nampak begitu damai. Dia berjalan mendekat menatap wajah pucat istrinya, ada perasaan nyeri yang hinggap di relung hatinya. Meskipun Zhafran berulang kali mengutarakan bahwa dia tidak menyukai Laura namun kenyataannya dia sedikit menyisakan ruang dihatinya untuk Laura meskipun rasa sayangnya tidak sebesar dia mencintai Nadia. Bagaimanapun Laura telah menjadi teman hidupnya selama 45 tahun, bohong jika dia tidak mencintai wanita itu. Buktinya adalah kehadiran Bulan hasil buah cinta mereka, meskipun pernikahan Zhafran dan Laura awalnya atas dasar perjodohan tapi tidak dapat dipungkiri bahwa Zhafran kagum akan kegigihan Laura untuk tetap bertahan disisinya.
__ADS_1
Maaf selama ini aku telah egois Laura. Batin Zhafran tersenyum miris sembari mengusap surai rambut istrinya yang terbaring.
Tidur Laura sedikit terganggu karena merasakan sentuhan lembut di kepalanya. Perlahan dia membuka kedua mata, remang-remang dia melihat siluet suaminya. Apakah dia sedang bermimpi? Batinnya bertanya dalam hati. Dia mengucek matanya, raut wajah Laura seketika sumringah menatap lekat keberadaan Zhafran.
Laura beranjak bangun. “Mas akhirnya kamu datang.” Dia memeluk tubuh Zhafran erat, Laura sangat merindukan suaminya. “Mas kemana saja kamu selama seminggu ini?” Tanya Laura menuntut penjelasan, tapi Zhafran malah diam saja tidak memberikan respon.
Laura sadar bahwa Zhafran tipe pria yang tidak suka dicerca banyak pertanyaan, dia berusaha kembali mencairkan suasana. “Oh iya kata Bulan kamu sibuk dengan pekerjaanmu dikantor, bagaimana aku bisa lupa hahaha. Aku bisa memaklumi itu, aku senang kamu datang kesini pasti ingin menjemputku pulangkan?” Zhafran mengurai pelukan Laura membuat wanita itu mendongak.
“Iya aku akan mengantarkanmu pulang.” Mendengar penuturan Zhafran membuat Laura tersenyum lebar.
Tatapan mata Zhafran jatuh pada makanan yang terkemas rapi tergeletak diatas nakas. Rupanya itu adalah jatah makan Laura pagi ini, Zhafran mengambil mangkok berisi bubur itu. “Makanlah aku akan menyuapimu.” Zhafran duduk disamping istrinya, dia mengulurkan sesendok bubur didepan mulut istrinya. Laura dengan senang hati menerima suapan bubur dari Zhafran, bubur putih yang sama sekali tidak ada rasanya namun Laura mampu menghabiskannya.
Dari balik pintu Bulan mengintip interaksi antara mama dan papanya, dia meremas kuat plastik obat di genggaman tangannya. Papanya begitu munafik, dia seolah menarik ulur hatinya mempermaikan perasaan mama. Air mata Bulan luruh membasahi pipi, sungguh dia tidak tega melihat mamanya yang selalu menaruh harapan besar kepada papanya, namun selalu dipatahkan oleh pria itu berkali-kali.
...****************...
Mama
Mama jaga diri baik-baik ma dirumah papa, jangan melakukan pekerjaan yang berat. Jika mama butuh teman atau butuh sesuatu, mama telfon saja Bulan ma. Bulan sayang mama, love you...
Bulan mengirim pesan whatsapp kepada mamanya, dia menatap nanar ponselnya. Seberapa keras Bulan membujuk mamanya untuk tinggal disini, Laura tetep kekeuh untuk pulang bersama dengan Zhafran. Bulan hanya bisa menghela nafas kasar, dia berharap papanya akan merawat mamanya dengan baik.
__ADS_1
Ting tung ting tung
Suara bel rumahnya berbunyi, Bulan beranjak berdiri dari sofa berjalan mendekat kearah pintu rumahnya. Siapa yang bertamu kerumahnya? Batin Bulan bertanya-tanya.
Ceklek
Mata Bulan berbinar senang tatkala dia melihat Mama Clara dan Tiara berada dihadapannya. "Mama." Bulan seketika memeluk Clara dengan sayang bergantian dengan Tiara. Bulan jarang bertemu dengan mereka karena kesibukan masing-masing. Tatapan Bulan jatuh pada kantong plastik besar yang dibawa oleh mertuanya, dengan sigap Bulan mengambil alih barang bawaan Clara.
"Heh tidak perlu itu berat, kamukan sedang hamil bulan." Wanita paruh baya itu merebut kantong plastiknya kembali, dia tidak ingin menantunya mengangkat beban berat. Bulan tersenyum, Clara adalah seorang ibu yang hangat dan ramah berbeda sekali sifatnya dengan putranya yang kejam dan tidak berperasaan.
"Mama, Tiara ayo silahkan masuk." Clara dan Tiara berjalan memasuki rumah, mereka menuju dapur meletakkan sekantong plastik diatas pantry.
"Kak aku tadi belanja ke supermarket bersama mama membeli berbagai bahan makanan untuk kakak. Kita masak dan makan bersama ya nanti." Ujar Tiara dengan antusias.
Bulan menatap nanar Tiara. "Makan bareng?" Gumamnya lirih seolah memastikan. Terakhir kali dia merasakan makan bersama dengan keluarga disaat menghadiri acara perjodohan antara Farez dan juga Bintang. Itupun Bulan datang dalam keadaan tertekan.
"Iya kakak." Ujar Tiara seraya tersenyum. Gadis itu nampak cikatan menata bahan-bahan makanan yang baru mereka beli kedalam kulkas. "Kak lihatlah kami juga membelikanmu susu untuk ibu hamil, haduh aku nggak sabar menunggu keponakanku lahir." Rasanya Tiara gemas sendiri membayangkan akan mempunyai keponakan yang lucu.
Bulan merasa tersentil hatinya mendengar ucapan Tiara barusan, dia reflek mengelus lembut perutnya. Jika boleh meminta kepada tuhan Bulan ingin waktu bisa diulur kembali agar dia bisa bersama dengan anaknya lebih lama lagi.
Bersambung....
__ADS_1
Clara adalah ibunya Alvaro sedangkan Tiara adalah adiknya Al