
Perlahan mata Bulan terbuka, penglihatannya masih mengabur. Dia mengucek matanya untuk memperjelas pandangannya. Bulan terkejut saat ini dia berbaring di atas dada bidang suaminya. Ya ampun, jika Alvaro tahu bahwa saat ini Bulan tertidur sembari memeluk tubuhnya pasti pemuda itu akan marah. Bulan harus segera pergi, dia tidak ingin mengganggu suaminya yang sedang tidur. Tapi tatkala dia beranjak bangun, tangan Alvaro kini malah memeluknya semakin erat seolah menganggap Bulan adalah sebuah guling yang empuk.
Bulan berusaha melepaskan diri, tapi tidak bisa karena tangan kekar Alvaro membelit tubuhnya. Bulan mencoba memberontak pelan, namun dia malah merasa pengap karena mulai kehabisan nafas. "Ennghhh, Al bangun!" Ujar Bulan berusaha membuat lelaki itu bangun dari tidurnya.
"Bangun Al!" Bulan memukul dada Alvaro membuat tidur pemuda itu mulai terusik, dia nampak menyipitkan matanya setengah sadar.
"Aku masih ingin tidur Bi." Bulan mengernyitkan dahinya. Lihatlah Alvaro malah melantur dengan menganggap dirinya adalah Bintang.
"Aku Bulan, bukan Bintang!" Dengan raut wajah kesalnya Bulan meninju perut Alvaro cukup keras hingga pemuda itu mengaduh kesakitan.
"Uhuk...uhuk." Alvaro terbatuk, dia seketika membuka matanya lebar memastikan siapa yang berani memukulnya. Bulan akhirnya bisa terbebas dari rengkuhan Alvaro, dia bernafas lega sembari menghirup nafas untuk memenuhi rongga paru-parunya.
Alvaro beranjak duduk, pemuda itu nampak menatap sengit wanita dihadapannya. "Kenapa kamu ada disini?" Tanyanya menyelidik sembari mengusap perutnya yang masih terasa nyeri.
Bulan melongo dengan pertanyaan aneh Alvaro, dia terpaksa tidur dikamar pemuda itu juga karena paksaan darinya. Kenapa Alvaro dalam sekejap melupakannya? Dia malah seperti orang yang habis hilang ingatan lupa begitu saja.
"Kamu yang menyeretku untuk tidur dikamarmu!" Tandas Bulan memberitahu dengan dada bergemuruh karena emosi.
Alvaro memijat pangkal hidungnya, iya benar memang dia semalam yang memboyong Bulan untuk menemaninya tidur. Dia terlalu terlelep sampai bangun kesiangan seperti ini, padahal dia harus berangkat bekerja.
__ADS_1
"Kamu berani sekali memukulku!" Ujar Alvaro tidah habis fikir dengan Bulan, dia merasa istrinya mempunyai kepribadian ganda. Kemarin padahal wanita ini masih ketakutan ketika berbicara dengannya, tapi sekarang dia sudah berani membentak dan bahkan memukul dirinya.
"Kamu pantas mendapatkannya!" Ujar Bulan tidak kalah menatap tajam suaminya. Jujur sudah sedari lama rasanya Bulan ingin menyalurkan kekesalannya kepada Alvaro. Setidaknya dengan memukul pria itu bisa sedikit melunturkan emosinya.
Alvaro diam-diam tersenyum mendengarkan ocehan istrinya yang sedang menahan emosinya. Pagi-pagi seperti ini dia melihat muka bantal Bulan yang terlihat cantik meskipun sedang cemberut. Untuk hari ini Alvaro akan memaafkan tindakan Bulan, dia sebenarnya tidak suka dengan sikap lancang Bulan yang mulai berani melawan dan bahkan memainkan tangan. Alvaro lebih suka dengan Bulan yang penurut dan takut kepadanya agar wanita itu bisa dengan mudah dia kendalikan.
"Aku tidak mau tidur bersamamu lagi, titik!" Bulan memberenggut kesal, dia beranjak berdiri mengambil kunci pintu kamar Alvaro di atas nakas. Tanpa mengucapkan pamit wanita itu meloyor keluar dari kamar begitu saja.
Kita lihat saja Bulan, kamu pasti menyesali ucapanmu barusan. Akan aku buat kamu melayang dan mendesah diatas ranjang ini nanti malam. Batin Alvaro tersenyum sinis sembari membayangkan bagaimana tubuh istri keduanya itu berada dibawah rengkuhannya.
...****************...
Bulan melangkah keluar dari kamarnya dengan wajah berbinar. Akhirnya dia bisa bebas, memanfaatkan kepergian Alvaro yang sedang bekerja di kantor. Dia akan menikmati me time ke mall. Sebelumnya Alvaro sudah mengingatkan Bulan bahwa dirinya tidak boleh lancang keluar dari rumah tanpa izin dari pemuda itu.
Masa bodoh! Bulan tidak peduli lagi, dia dirumah merasa stres karena kekangan dari Alvaro, seolah dirinya adalah seekor merpati dalam sangkar. Ini tidak adil untuk Bulan, dia juga ingin mempunyai kehidupan bebas seperti adiknya. Lihatlah Bintang saja diperbolehkan untuk pergi ke luar kota, tapi jika Bulan yang pamit pergi untuk sekedar jalan-jalan tidak jauh dari rumah saja Alvaro tidak memperbolehkannya. Huh, meskipun Bulan membenci adiknya namun Bulan berharap semoga Bintang cepat pulang kerumah dan mengurus suaminya.
Tidak butuh waktu lama Bulan sudah berada di mall yang berada dipusat kota, dia tadi kesini terpaksa naik taxi online karena kunci mobilnya telah disita oleh Alvaro. Suaminya sungguh menyebalkan! Pemuda itu selalu berbuat semena-mena terhadap Bulan tanpa memikirkan bagaimana perasaannya membuat Bulan selalu terpancing emosi. Dia menggeleng pelan mengenyahkan pemikiran buruk itu. Ayolah, Bulan ke mall untuk mencari hiburan tapi fikirannya malah berkelana kepada Alvaro.
Langkah kaki Bulan berhenti tatkala matanya melihat sebuah baju yang terpasang di manekin toko. "Dress yang cantik." Gumamnya merasa tertarik dengan dress merah dengan ornamen bunga sederhana.
__ADS_1
Bulan berjalan memasuki toko, dia menyentuh kain dress indah itu. Dia melihat bandrol harga untuk menyesuaikan isi dompetnya. Baju yang cantik dengan harga sesuai kantong, tanpa pikir panjang lagi Bulan membelinya. Dalam memilih baju Bulan bukanlah tipe wanita yang senang berlama-lama berada didalam toko, ketika dia sudah menemukan baju yang dia inginkan maka Bulan akan segera pergi.
Bulan menenteng paperbag berisi dress yang baru saja dibelinya, tujuan selanjutnya adalah ke counter untuk membeli ponsel baru. Sangat disayangkan ponsel lamanya rusak karena dibanting oleh Alvaro. Bulan harus sabar, tidak masalah dia bisa membelinya lagi.
Pandangan Bulan melotot ketika dia melihat siluet adiknya. Dia menajamkan matanya berusaha menelisik apakah benar itu adalah Bulan? Dia bersama dengan siapa?
"Hah, bukannya itu Daren?" Gumamnya sembari menutup mulut tidak percaya. Daren nampak menggandeng tangan Bintang entah mau kemana mereka berdua.
Bulan berusaha mengikuti mereka, dia teringat bahwa Alvaro mengatakan Bintang pergi ke Surabaya, tapi mengapa dia masih berada disini? Apakah Bulan membohongi Alvaro? Tapi kenapa? Aneh, Bulan penasaran mengapa mereka seakrab itu. Saking keponya Bulan sampai mengikuti mereka menuju parkiran. Bintang dan Daren memasuki sebuah mobil mercedez benz bewarna hitam. Bulan semakin berjalan mendekat secara diam-diam ingin tahu sejauh apa hubungan mereka berdua.
Bulan dibuat melongo tatkala dia melihat Daren mencumbu mesra Bintang didalam mobil. Bibir mereka saling tertaut satu sama lain, Daren nampak menggebu-gebu mensesap bibir ranum adiknya. Begitu juga Bintang turut membalas pagutan dari Daren bahkan Bintang membiarkan pemuda itu menggerayangi tubuhnya.
Dada Bulan bergemuruh menatap hubungan panas mereka dari balik kaca mobil yang nampak transparan itu, ternyata selama ini adiknya telah selingkuh dengan Daren. Tapi mengapa? Bukankah Bintang mencintai Alvaro? Bulan tidak habis fikir. Seharusnya ini menjadi kesempatannya untuk mendapatkan bukti penghianatan dari Bintang, tapi dia saat ini tidak mempunyai ponsel untuk mengambil foto mereka.
Ya tuhan, bagaimana ini? Apakah aku diam saja, seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi perbuatan curang ini tidak boleh dibiarkan, iya Alvaro harus tahu.
Bulan mengepalkan kedua tangannya, meskipun Alvaro selalu berbuat kejam kepadanya namun Bulan masih peduli dengan Alvaro. Sedari kecil mereka berdua selalu bersama bagaikan sahabat yang tidak terpisahkan, dia tidak pernah melupakan kebaikan Alvaro sewaktu kecil hingga remaja dulu selalu membantunya dan menjadi teman baiknya. Dalam benak Bulan dia tidak mempersalahkan jika dirinya dimadu oleh Alvaro, karena setelah difikir-fikir ini bukan sepenuhnya salah pemuda itu.
Sedari awal memang Bulanlah yang memaksa Alvaro untuk menikahinya padahal jelas-jelas Alvaro telah menolaknya. Mengetahui bahwa wanita yang dicintai Alvaro diam-diam selingkuh dengan pria lain sejujurnya membuat perasaan Bulan berdenyut nyeri, dia merasa kasian dengan Alvaro. Jika Alvaro tahu kebusukan Bintang pasti pemuda itu akan sangat kecewa.
__ADS_1
Bersambung...