Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 70 : Musuh Alvaro


__ADS_3

Alvaro rasanya muak melihat perangai Elfarez yang menurutnya songong. Dibandingkan dengan dirinya, Elfarez tidak ada apa-apanya. Dia dihormati semua orang hanya karena Farez adalah penerus kerajaan bisnis keluarga Abraham, tanpa ayahnya Farez bukanlah siapa-siapa. Mahendra Groub memang masih kalah jauh dari perusahaan Abraham, namun Alvaro akan berusaha selangkah lebih maju untuk mengalahkan Elfarez.


Pemuda itu duduk di kursi kebesarannya, lalu dia menginstruksikan kepada semua orang diruangan rapat untuk kembali duduk ditempatnya masing-masing. "Maaf aku datang terlambat, karena aku masih menemani kekasihku yang saat ini tengah sakit." Alvaro membulatkan matanya menatap Farez tajam, entah mengapa dia mulai curiga dengan Farez. Siapa kekasih yang dimaksutkan oleh pemuda itu? Setahunya Farez hanya menyukai Bulan, apakah kekasih yang dibicarakannya adalah Bulan.


Alvaro mengepalkan kedua tangannya, semalam dia mengusir Bulan dari rumah. Apa jangan-jangan Bulan pergi kerumahnya Farez? Fikirannya kini kembali dipenuhi dengan Bulan, dadanya bergemuruh menahan amarah. Dia nanti akan memastikannya sendiri, kemana Bulan tinggal saat ini karena semua atm dan kartu kredit milik Bulan sudah dibekukan oleh Alvaro. Sehingga kemungkinan Bulan tidak akan menginap dihotel, dia tidak mungkin bisa membayarnya tanpa menggunakan kartu-kartu itu. Alvaro malah mengira jika Bulan pulang kerumah orang tuanya, jika benar Bulan terbukti berada dirumah Farez maka dia akan menyeret wanita itu untuk pergi dari sana.


“Tidak apa-apa pak Elfarez, kami tahu betapa sibuknya anda sehingga kami bisa memakluminya.” Ujar salah satu pria seraya tersenyum.


“Kami disini sudah menunggumu lama, seharusnya kamu bisa mengatur waktu agar tidak terlambat. Kamu disini hanya untuk mewakili papamu, sesungguhnya kamu tidak mempunyai wewenang dalam mengambil keputusan dalam rapat ini.” Sahut Alvaro dengan berani membuat semua orang melongo menatapnya. Alvaro sama sekali tidak takut dengan Farez, pemuda itu hanyalah seorang pecundang yang bersembunyi dibelakang jabatan ayahnya.


Farez menyunggingkan senyumnya. "Terimakasih pak Alvaro atas sarannya. Alasan pak Giandra menyerahkan wewenangnya kepada saya karena beliau saat ini berada di luar kota. Beliau sepenuhnya melimpahkan tanggung jawabnya kepada saya. Jadi bagaimana pak Alvaro, apakah kita bisa memulai rapatnya?"


Alvaro mendengus kesal, pria bodoh seperti Farez tahu apa? Dia tidak terlalu handal dalam urusan bisnis. Seharusnya Giandra tidak memasrahkan dudukannya kepada putranya yang dungu. Farez tertawa dalam hatinya, dia tahu bahwa Alvaro saat ini geram kepadanya. Alvaro merupakan pria yang mempunyai ambisi besar dalam pekerjaannya jadi tidaklah mengherankan jika pemuda itu arogan dan egois. Entah mengapa Farez merasa jika Alvaro memancarkan aura permusuhan dengannya.


Rapat hari ini berjalan dengan lancar meskipun cukup menyita waktu karena keterlambatan Elfarez. Sejauh ini presentasi dari perusahaan Alvaro memang yang terbaik, dari uraian produk yang disampaikan sungguh menjanjikan. Farez akui Alvaro memang orang cerdas, meskipun dia adalah pria yang otoriter. Bahkan Farez pernah mendengar beberapa karyawannya selalu membicarakan Alvaro karena sifatnya yang dingin dan jutek. Farez heran mengapa Bulan bisa mencintai pria membosankan seperti Alvaro, jika hanya karena tampan dirinya bahkan jauh lebih menawan dari Alvaro.

__ADS_1


"Bagaimana Elfarez? Apakah kamu bersedia bekerjasama dengan kami dalam menjalankan bisnis otomotif ini?" Tanya Alvaro dengan nada tegas. Jujur saja Alvaro sebenarnya malas sekali meminta bantuan dana kepada Farez, namun bagaimana lagi dia terpakasa melakukannya karena hanya GA groub yang bisa menggelontorkan uang besar untuk bisnis yang dikembangkannya ini.


"Baik, saya akan menyetujui kerjasama ini." Elfarez dan Alvaro akhirnya menjabat tangan, sebuah simbolis bahwa mereka akan saling berjalan beriringan dalam menjalankan sebuah bisnis ini.


Ini hanyalah pekerjaan Farez, diluar kantor kamu adalah musuh terbesarku. Batin Alvaro tersenyum sinis.


...****************...


Bulan habis selesai mandi, dia bingung harus memakai baju apa? Dia tidak memiliki baju ganti, karena tidak ingin ribet wanita itu akhirnya tetap memakai kemeja putih milik Elfarez lagi. Bulan menghela nafas lelah, jujur Bulan sangatlah bingung karena dia baru tahu jika semua atm dan kartu kreditnya sengaja diblokir oleh suaminya. Bulan tadi sempat ingin memesan sebuah hotel lewat aplikasi online tapi ketika dia ingin membayarnya lewat m-banking ternyata tidak bisa. Bulan sudah tidak memiliki uang lagi, karena dia sudah lama resign dari pekerjaannya semenjak hamil sehingga Bulan hanya mengandalkan uang dari suaminya saja.


Bulan keluar dari kamarnya, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling menatap seisi rumah supermegah milik keluarga Abraham. Perlahan Bulan menuruni tangga, dia heran dirumah besar seperti ini Elfarez hanya tinggal berdua bersama dengan ayahnya tanpa adanya seorang pembantu. Bisa dibilang Farez merupakan pria yang cukup mandiri, huh Bulan sebenarnya cukup canggung berada dirumah ini. Bulan menggosokkan tangan pada kedua bahunya karena merasakan udara dingin dari AC menusuk kulitnya. Ini sudah malam akan tetapi Farez belum pulang, Bulan sangat paham bahwa pemuda itu pasti dikantor sangat sibuk.


Saat ini perut Bulan merasa lapar, dia hanya makan bubur ayam pagi tadi pemberian dari Elfarez. Langkah kakinya berjalan menuju dapur, dia lantas membuka kulkas. Matanya berbinar tatkala dia melihat ada beberapa telur di dalam kulkas. Bulan jadi ingin memasak nasi goreng omelet. Dia memang tidak jago memasak menu-menu berat, namun dalam urusan membuat nasi goreng Bulan akan menjamin masakannya pasti enak.


Dia membuka rice cooker, masih terdapat banyak nasi disana. Seketika senyum Bulan mengembang, dia mengambil beberapa bahan yang dibutuhkan. Bulan menyiapkan sebuah teflon yang telah diberi sedikit margarin. Dia mengocok telur setelah itu Bulan menuangkannya di atas teflon. Dia membentuk kocokan telur itu melebar agar pas untuk dijadikan selimut nasi goreng. Bulan menyiapkan satu teflon lagi diatas kompor untuk menumis irisan bawang putih dan bawang merah hingga mengeluarkan aroma harum, kemudian dia menaburinya merica. Dia juga memasukkan saus tiram, garam, kecap, dan nasi. Mengaduk bahan-bahan tersebut sampai merata.

__ADS_1


Karena sibuk dengan masakannya, Bulan sampai tidak sadar bahwa seseorang masuk kedalam rumah. Farez berdiri menatap nanar punggung Bulan yang tengah sibuk didapur, wanita itu terlihat cikatan menggoreng sesuatu. Karena penasaran Farez berjalan mendekatinya, dia menyentuh bahu Bulan membuat wanita itu berjengkit kaget. Bulan seketika menoleh, dia mengelus dadanya karena terkejut dengan keberadaan Farez yang tiba-tiba muncul di sampingnya.


“Maaf membuatmu terkejut.” Ujar Elfarez merasa bersalah.


Bulan menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa.” Balas Bulan seraya tersenyum, dia senang Farez akhirnya sudah pulang kerumah. Jujur saja dia sebenarnya takut ditinggal dirumah sendirian, tapi Bulan cukup tahu diri dia tidak boleh mengeluh. “Farez aku memasak makan malam untuk kita berdua. Kamu cepatlah mandi, kita makan bersama.” Tutur Bulan memberitahu dengan antusias.


“Kamu masak apa Bulan?” Tanya Elfarez sembari melongok menatap teflon didepannya.


“Hm, aku memasak nasi goreng omelet.” Bulan menuangkan nasi goreng di atas telur yang telah matang, dia melipatnya sampai semua nasi goreng tertutupi dengan telur. Setelah jadi Bulan mematikan kompornya, dia meletakkan kedua nasi omelet di atas piring. Farez bisa mencium bau harum menguar membuat perutnya seketika menjadi lapar.


“Aku akan mandi.” Ujar Elfarez dengan semangat, dia lantas berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Bulan tersenyum, melihat betapa antusiasnya Farez dengan masakannya membuat perasaan Bulan menghangat.


Impiannya dalam berumah tangga sebenarnya sederhana, Bulan ingin menyambut suaminya pulang bekerja dengan senyuman manis. Dia ingin membuatkan masakan yang spesial untuk suaminya, Bulan ingin menyantap makanan bersama dengan suaminya sembari berbincang dengan tenang. Namun selama menikah dengan Alvaro dia tidak pernah mendapatkan kesempatan itu, Alvaro tidak pernah menghargai apapun yang Bulan lakukan untuknya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2