Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 62 : Upaya Pembunuhan


__ADS_3

Seorang wanita terbaring di atas kasur, mata lentiknya mulai terbuka perlahan berusaha menyesuaikan cahaya lampu yang menembus retina. Reflek wanita itu memegangi kepalanya yang terasa berat dan pusing.


Kedua matanya melihat sekeliling ruangan besar bernuansa maskulin dengan background gelap. Ini bukan kamarnya, dan ini bukanlah rumahnya. Kening wanita cantik itu mengernyit heran.


"Aku ada dimana?" Gumamnya bertanya, lalu dia menatap tubuhnya yang terbalut selimut. Bulan terkejut bukan main tatakala dia membuka selimut tubuhnya dalam keadaan telanjang. Astaga! Apa yang telah terjadi? Kepalanya tambah merasa pening. Bulan mengingat tadi pagi ada seorang pemuda yang membiusnya, berarti dia sekarang sedang diculik. Lalu apa yang dia lakukan kepada tubuhnya, apakah dia berbuat macam-macam? Bulan lantas menggeleng mengenyahkan fikiran buruknya.


Ceklek


Bulan beringsut mundur, dia semakin mengeratkan selimutnya. Matanya terbelalak mendapati Daren berdiri diambang pintu kamar menatapnya dengan senyuman licik khas miliknya.


"Akhirnya kamu telah sadar, Bulan." Pria bersetelan tuxedo coklat itu berjalan mendekat.


Seakan melihat hantu Bulan mulai gemetar takut. Alaram diotaknya memberitahu tanda bahaya padanya. Bahkan dia merasa sesak karena pasokan oksigen seolah menipis. Jujur dia merasa trauma jika berhadapan dengan Daren mengingat masa lalu mereka yang tidak berakhir dengan baik. Pria psikopat yang hampir merusak masa depannya dulu sewaktu SMA, jelas Bulan saat ini merasa was-was. Daren duduk ditepi ranjang membuat wanita itu mendelik. Dia nampak senang melihat tubuh gemetar wanita dihadapannya menjadi kesenangan tersendiri bagi Daren.


Bulan mulai meneteskan air mata saking takutnya. “Daren apa yang telah kamu lakukan kepadaku?” Tanyanya menuntut penjelasan karena dia terbangun dalam keadaan naked berharap Daren tidak menjamah tubuhnya disaat dia kehilangan kesadaran. Daren mengetahui isi fikiran dari Bulan, terlihat wanita itu berusaha menutupi tubuhnya dengan selimut.


“Bajumu yang jelek sungguh mengganggu penglihatanku, apakah Alvaro semiskin itu hingga dia tidak membelikanmu baju yang bagus.” Hina Daren meremehkan, dia akui bahwa dirinya sangatlah membenci Alvaro. Ya Daren iri dengan keberhasilan Alvaro didunia kerja maupun dalam percintaan, bayangkan saja dua wanita cantik dengan mudah Alvaro dapatkan apalagi salah satu dari mereka adalah wanita yang dicintai Daren yaitu Bintang.


“Lagipula aku tidak suka berhubungan badan dengan wanita yang sedang pingsan, bukanlah lebih menyenangkan bermain dalam keadaan sadar.” Bulan terperangah mendengar ucapan vulgar dari mulut Daren barusan, otak pemuda itu benar-benar mesum. Dia memandangi Bulan lekat, meneliti setiap lekuk tubuh wanita itu membuat Bulan tambah takut. “Tidak perlu malu, aku sudah melihat semuanya.”


Bulan mengepalkan kedua tangannya, jujur dia benar-benar kecewa karena meskipun Daren belum menyentuhnya tapi mata pemuda itu telah melihat tubuhnya. “Kamu benar-benar brengsek Daren!” Umpat Bulan menggebu-gebu, bahkan tangannya terayun memukuli dada Daren dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


Bulan tidak terima! Bukankah ini termasuk pelecehan, orang seperti Daren pantas untuk dipenjara. Seakan tidak merasakan sakit Daren malah menyunggingkan senyumnya seolah menikmati pukulan Bulan.


“Hiks…hiks…hiks. Aku akan memberitahukan kelakuan bejatmu kepada Alvaro, kamu telah menculikku dan mencoba melecehkanku hiks…hiks. Alvaro pasti akan menggiringmu menuju kepenjara.” Bulan menangis sesenggukan, berulangkali dia mengusap air matanya yang membasahi pipinya. Dia beranjak dari tempat tidurnya memunguti bajunya yang tergeletak dilantai.


“Kepenjara heh?” Tanya Daren lagi-lagi meremehkan Bulan. “Sejak kapan Alvaro peduli denganmu? Alvaro itu sama brengseknya denganku, dia menikahimu hanya menginginkan tubuhmu.” Dada Bulan berdenyut nyeri mendengar penuturan Daren, namun dia tidak ingin hanyut dalam permainan pemuda itu yang sengaja ingin mengacaukan hati dan fikiran Bulan.


Mendapati Bulan tidak meresponnya membuat Daren geram, dia lantas menarik pergelengan tangan Bulan untuk menghadapnya hingga membuat pakaian yang digenggamnya terjatuh kembali. Bulan menatap sengit Daren dengan tatapan tajamnya, dia sungguh muak dengan pemuda ini. “Lepaskan aku!” Bentaknya disela-sela isakannya, dia berusaha memberontak sekuat tenaga agar terlepas dari cengkraman tangan Daren.


“Lepaskan aku Daren, aku ingin pulang!” Bentaknya lagi penuh dengan emosi, namun Daren malah mendorong tubuhnya di atas kasur. Tenaga Bulan tidak sekuat itu untuk melawan Daren yang mempunyai perawakan tinggi besar.


“Diamlah Bulan, seharusnya kamu senang bersamaku. Ayolah kita bernostalgia seperti SMA dulu ketika kita masih berpacaran, bukankah itu adalah masa yang indah?" Mulut manis Daren kembali membual membuat Bulan seketika begidik ngeri. Berpacaran dengan Daren adalah suatu penyesalan bagi Bulan, membuat luka menganga didalam hatinya.


Daren menyentuh bahu Bulan, dia menindih tubuh wanita itu. Bulan dengan segala rasa traumanya dia mendorong tubuh Daren. Dulu pemuda itu hampir memperkosanya, dan sekarang apakah pemuda itu akan mengulangi kejahatan yang sama. Bulan menangis, dia berharap seseorang menolong dirinya.


"Aku telah capek-capek mendapatkan mangsaku. Bodoh jika aku melepasnya secara percuma." Balas Daren seraya melepas tuxedo beserta kemejanya memperlihatkan dada telanjangnya yang berotot dan penuh dengan tatoo. "Tubuhmu terlalu indah Bulan, jika hanya ditonton tanpa dicicipi."


Bulan menggelengkan kepalanya, dia merasa cemas. Dia menjaga tubuhnya hanya untuk suaminya, Bulan tidak rela dirinya dijamah oleh lelaki lain. "Tidak...tidak...tidak!"


Daren menahan kedua tangan Bulan agar wanita itu berhenti memberontak. Pemuda itu mendekatkan kepalanya pada leher jenjang Bulan, mendaratkan ciuman disana. Bau vanilla yang cukup memabukkan membuat hasrat Daren terpancing.


"Hiks...hiks, Daren aku mohon jangan lakukan ini." Ujar Bulan memelas, selama ini hidupnya sudah terasa sulit lantas apakah hidupnya juga akan hancur hari ini? Bulan merasa jijik menatap wajah Daren yang berada diatas tubuhmu.

__ADS_1


Tangan Daren bergerak membuka balutan selimut yang menutupi tubuh polos Bulan sehingga membuat tangan kanan Bulan bebas dari cengkraman Daren. Dia memanfaatkan kesempatan ini untuk meraba-raba nakas. Tatapan Daren terfokus pada nafsunya saja, hingga dia tidak melihat bahwa Bulan kini menggenggam sebuah vas bunga.


Prak


Prak....prak


Daren tersungkur, dia merasakan kepalanya sakit dan pusing menjadi satu. Bukan hanya satu kali Bulan memukulnya dengan vas bunga hingga kacanya pecah, namun sebanyak tiga kali. Bulan mengumpulkan kekuatan, dia mendorong tubuh tak berdaya Daren yang ambruk menimpanya. Bulan segera beranjak turun dari ranjang, dia meraih pakaiannya yang tergelak dilantai lalu memakainya.


Daren terdengar merintih kesakitan, tangannya perlahan menyentuh bagian belakang kepalanya. Darah segar mengalir, sial! Kalau begini caranya bukan dia yang akan membunuh Bulan, tapi malah dialah yang akan mati karena kehabisan darah. Bulan tidak bisa dianggap remeh, Daren berusaha bangun tapi tubuhnya kembali limbung. Pandangan matanya mulai mengabur.


"Ja-jangan pergi kamu wanita sialan!" Sentak Daren dengan suara yang masih menggelegar karena emosi.


Tubuh Bulan gemetaran, setelah memakai bajunya dia masih menyempatkan diri mengambil tas selempangnya karena berisi bukti penting yang akan dia berikan kepada Alvaro. Bulan berlari menuju pintu, saking paniknya Bulan dia beberapa kali tidak bisa memasukkan kunci pintu kamar kedalam lubang.


Ya tuhan, tolong selamatkan hamba. Doanya dari dalam hati.


Daren bangun, dia sempoyongan mengambil sebuah pistol dari dalam laci. Pemuda itu memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya kembali untuk menfokuskan penglihatannya yang buram. Pukulan keras dari Bulan memberikan efek yang besar bagi Daren. Dia mengarahkan pistolnya pada bayang-bayang siluet Bulan.


Doorrr


"Aaaaa."

__ADS_1


Tembakan shotgun revolver terdengar nyaring memekakkan telinga. Daren menyunggingkan senyum kemenangan sebelum kesadarannya hilang. Dia ambruk terkapar di dinginnya lantai karena misinya telah berhasil yaitu mengirim Bulan kedalam neraka.


Bersambung....


__ADS_2