Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 93 : Dalang Dibalik Kejadian Ini


__ADS_3

Sebuah mobil mini cooper silver terparkir di depan indonesia national university. Seorang wanita paruh baya berambut blonde dengan memakai kacamata hitam tengah berdiri didepan pintu mobilnya nampak menunggu seseorang. Dua mahasiswa yaitu seorang gadis dan juga pemuda berlari mendekatinya.


"Maaf tante, saya tadi masih ada kelas jadi telat menemui tante." Ujar seorang gadis ngos-ngosan karena berlari, dia mengatur nafasnya merasa lelah.


"Tidak masalah, aku datang kesini hanya untuk memastikan bahwa kalian melakukan tugas kalian dengan baik. Aku sudah mentransfer uang untuk kalian masing-masing limapuluh juta. Aku harap kalian tetap malanjutkan pekerjaan kalian, jangan buang-buang uangku dengan sia-sia!" Tegas Laura memberitahu kedua bocah itu.


"Terimakasih tante." Mereka berdua tersenyum senang. Pekerjaan cukup mudah untuk menyebarkan rumor tidak sedap mengenai Bintang bisa mendatangkan cuan sebanyak ini dari Laura. Wanita paruh baya itu memang sengaja menyuruh mahasiswa jurnalistik untuk membuat artikel mengenai scandal pernikahan Bintang dan Alvaro dibumbui dengan sedikit tambahan kebohongan agar lebih dramatis.


Uang bagi Laura tidak ada apa-apanya, dia akan mengeluarkan berapapun biaya untuk keadilan putrinya. Laura fikir rumor itu hanya akan menjadi perbincangan mahasiswa kampus saja, ternyata diluar ekspektasi bisa memancing media televisi untuk mengulik lebih dalam mengenai Bulan yang selama hampir setahun tidak ada kabarnya. Berita mengenai Bulan sekarang tengah viral, banyak media yang ingin meliput tentang keluarga Bramasta maupun Mahendra. Tujuan Laura hanya satu, membalaskan semua dendam derita yang dia dan putrinya alami. Dia ingin mereka semua sama-sama menderita, Laura tidak peduli lagi meskipun dia harus menghancurkan keluarganya sendiri.


"Ingat! Jangan pernah kalian membocorkan jika aku yang menyuruh kalian untuk menyebarkan rumor ini, apakah kalian paham?!" Tegas Laura menunjuk kedua bocah didepannya. Mereka berdua mengangguk, berjanji akan tutup mulut.


Laura bernafas lega, karena mereka berdua menurut. "Sudah kembalilah kalian ke kampus, perbincangan kita cukup sampai disini." Ujarnya berbalik masuk kedalam mobilnya karena tidak betah dengan teriknya matahari terasa panas membakar. Lagipula hari ini Laura ingin segera pergi ke supermarket untuk membeli kebutuhan bulanan dirumah.


Laura menyalakan kendaraan beroda empat miliknya, dia segera menuju supermarket terdekat. Tidak berselang lama dia akhirnya sampai, Laura turun dari mobilnya bergegas masuk kedalam supermarket. Tidak lupa Laura mengambil keranjang troli, dia memilih barang-barang kebutuhannya dirak susun.


Laura mengambil beras, telur dan beberapa makanan beku seperti daging sapi, ayam dan ikan. Dia mendorong trolinya menuju rak tempat sayur-sayuran dan buah-buahan. Laura lantas mengambil sayur kangkung, sawi, brokoli dan bayam serta dia juga mengambil buah apel dan jeruk kesukaan putrinya. Mata Laura melirik rak yang tersusun makanan ringan disebelah kirinya. Dia mengingat jika Bulan yang tengah hamil besar sering merasa lapar, jadi Laura juga memborong cemilan seperti cokelat, popcorn, biskuit, keripik kentang dan roti vanilla.


Semua kebutuhannya sudah dia masukkan kedalam keranjang troli, dia rasa ini sudah cukup. Laura bergegas mengantri menuju kasir untuk membayarnya. Seorang pria yang berdiri mengantri disamping Laura nampaknya sedang menatapnya intens, Laura tidak sadar jika sedari tadi pemuda itu mengamatinya.


"Tante Laura." Panggil pemuda itu akhirnya memberanikan diri. Sontak saja Laura menoleh, dia melihat seorang pemuda tampan dihadapannya. Laura melepas kacamata hitamnya, pemuda itu nampak menghela nafas lega karena dia tidak salah mengenali seseorang.


"Elfarez." Balas Laura menyapa, dia tidak menyangka bisa bertemu mantan tunangannya Bintang disini. "Kamu sedang membeli apa?" Tanya Laura basa-basi.


Elfarez menyungginggkan senyumnya. "Aku hanya membeli kopi tante." Ujarnya seraya menunjukkan sebotol kopi kemasan dihadapan Laura.

__ADS_1


Kini giliran Laura yang menyerahkan barang-barangnya untuk ditotal didepan kasir. Satu persatu barang belanjaan Laura di scan barcode. "Berapa mbak?" Tanya Laura menanyakan harga semua belanjaannya.


"Satu juta delapan ratus ribu rupiah bu." Laura mengangguk, dia membayarnya dengan kartu atmnya. Kasir wanita itu memberikan dua kantong besar berisi barang belanjaan Laura.


Farez masih berada didalam supermarket melihat Laura yang kesusahan membawa barang belanjaannya apalagi wanita paruh baya itu memakai high heels. Dia mendekati Laura, dengan kerendahan hati Farez tiba-tiba mengambil alih kedua kantung plastik yang dibawa oleh wanita itu membuat Laura terkejut.


"Tante biar Farez saja yang bawa barang ini ke mobil tante." Ujarnya menawarkan diri, Laura seketika mengulum senyum. Selain mempunyai wajah yang tampan, rupanya Elfarez adalah pemuda yang baik dan perhatian. Laura mengangguk, dia mempersilahkan Farez untuk membantu membawakan semua barang belanjaannya karena memang sangat berat.


Laura berjalan mendahului Farez, diikuti dengan pemuda itu yang menjinjing dua kantong plastik berjalan dibelakangnya menuju parkiran dimana mobil Laura berada. Diparkiran Laura membuka bagasi mobilnya, Farez memasukkan semua barang yang dibawanya kedalam bagasi.


Farez nampak gelisah menatap Laura, membuat wanita paruh baya itu mengerutkan dahinya. "Ehm, tante kalau boleh tahu. Bagaimana kabar Bulan sekarang?" Tanyanya memberanikan diri. Farez sempat melihat sebuah pemberitaan di televisi mengenai keretakan rumah tangga Alvaro dan Bulan terekpos dimedia. Farez memang sudah tahu sejak lama mengenai rencana perceraian mereka berdua bahkan Bulan sendiri yang mengatakannya. Tapi apakah benar jika Bulan akan mepercepat persidangan mereka? Jika iya itu sangatlah baik untuk dilakukan.


Jujur dia sangat merindukan Bulan karena selama sebulanan ini dia belum pernah bertemu dengan wanita itu. Rumor yang memberitakan aib rumah tangga Bulan tengah viral disosial media. Farez sangat khawatir, apakah Bulan juga mengetahuinya? Mungkin saja wanita itu saat ini tengah depresi memikirkan keluarganya menjadi perbincangan hangat di masyarakat.


Laura menyunggingkan senyumnya, meneliti penampilan Farez yang rapi dengan kemeja putih dilengkapi dengan jas abu-abunya yang nampak pas ditubuh atletisnya. "Setelah ini apakah kamu akan pergi ke kantor?” Bukannya menjawab Laura malah balik bertanya kepada Elfarez.


"Apakah kamu ingin menemui putriku?" Tawar Laura memberitahu, dia bisa menebak gelagat Elfarez bahwa pemuda itu menyimpan rasa kepada putrinya.


Sebenarnya Laura sudah tahu sejak mereka pertama kali bertemu di acara makan malam keluarga untuk merencanakan pertunangan antara Farez dan juga Bintang, pemuda itu tidak henti-hentinya memandangi Bulan padahal calon istrinya adalah Bintang. Dari situ Laura bisa menyimpulkan bahwa Farez telah terpesona dengan putrinya. Sayang pertunangan Farez dan Bintang gagal karena rupanya Bintang diam-diam menjalin hubungan dengan Alvaro hingga hamil.


Laura memaklumi jika Farez menyukai Bulan karena putri semata wayangnya itu memiliki wajah cantik rupawan menurun darinya. Sejak dulu putrinya selalu digandrungi oleh banyak lelaki yang ingin meminangnya, namun Bulan selalu menolak dengan alasan belum siap menikah. Hingga akhirnya Laura memaksa putrinya untuk menikah dengan Alvaro, rupanya dia salah memilih menantu. Alvaro malah menyia-nyiakan putrinya, padahal Bulan tulus mencintai pemuda itu. Alvaro memang lelaki bodoh! Dia disuguhkan bunga mawar yang cantik malah memilih hidup bersama dengan rumput liar.


Elfarez mendongak menatap lekat wanita paruh baya dihadapannya dengan mata berbinar senang. Bolehkah dia menemui Bulan? Apakah saat ini Bulan bersama dengan mamanya? Farez merasa heran. "Tante apakah tante mengizinkan aku untuk bertemu dengan Bulan?" Tanya Farez, dia benar-benar ingin menemui wanita itu.


"Boleh, ayo kita kerumah sekarang." Balas Laura membuat perasaan Farez seketika sumringah. Laura masuk kedalam mobilnya sedangkan Farez mengendarai kendaraannya sendiri. Diperjalanan menuju rumahnya Bulan, dia selalu menyunggingkan senyum bahagia.

__ADS_1


...****************...


Bulan duduk bersantai disofa ruang tamu, dia melihat akun instagramnya dibanjiri oleh komentar-komentar dukungan oleh penggemarnya. Sampai saat ini Bulan penasaran siapa orang yang telah menyebar berita kekisruhan rumah tangganya? Entah bagaimana para awak media mendapatkan informasi tentang dirinya, padahal Bulan tidak pernah mengumbar apapun mengenai keluarganya. Bulan menjadi curiga dengan mamanya, apakah iya mamanya sengaja membuat rumor ini beredar untuk mendapatkan simpati masyarakat? Bulan menghela nafas lelah, selama ini dia menutup rapat permasalahan rumah tangganya namun ujung-ujungnya tetap terbongkar.


"Bulan semangat jangan menyerah, ingat anak yang berada dalam kandunganmu butuh seorang ibu yang kuat."


"Ceraikan saja suami brengsekmu itu Bulan, kamu berhak bahagia dengan pria lain yang tulus menyayangimu."


"Kamu cantik Bulan, banyak pria menyukaimu. Kamu jangan bodoh!Pisah saja dengan suamimu dan menikahlah lagi dengan pria lain yang tulus mencintaimu."


“Sabar ya Bulan, semoga suamimu dan adikmu mendapatkan karma yang setimpal!”


“Alvaro pasti akan menyesal karena telah menyia-nyiakan istri secantik dan sebaik dirimu Bulan.”


“Bulan menikah saja denganku, aku pasti akan menjagamu dan menjadi suami yang setia untukmu.”


“Bulan aku menunggu jandamu, kalau mau aku akan melamarmu.”


“Semoga saja Bulan pisah dengan Alvaro, kalau jandanya secantik Bulan pasti banyak lelaki yang mengantri untuk menikahinya.”


Bulan kembali meletakkan ponselnya diatas meja, dia tidak menyangka puluhan ribu orang turut mendukungnya dengan memberikan semangat di kolom komentar media sosialnya. Bulan sempat ngestalk akun media sosial Alvaro dan Bintang yang panen hujatan, dikolom komentarnya dipenuhi dengan ketikan pedas menghina dan mencaci maki mereka berdua. Sebenarnya Bulan merasa miris dengan situasi ini, kehidupan rumah tangganya sekarang menjadi konsumsi publik.


“Bulan.” Terdengar suara seorang perempuan memanggilnya sontak membuyarkan lamunan Bulan. Dia menoleh kebelakang, Bulan melihat mamanya menenteng dua kantong plastik besar ditangannya. Bulan beranjak berdiri, rupanya mamanya sudah pulang dari supermarket. Sebenarnya tadi Bulan ingin ikut untuk membantu mamanya belanja tapi Laura tidak memperbolehkan dirinya.


“Sayang lihatlah siapa yang datang.” Bulan mengerutkan dahinya. Siapa? Mamanya hanya datang sendiri, Bulan clingak-clinguk namun beberapa detik kemudian seorang pemuda tinggi besar muncul dari balik tembok membuat Bulan terkejut.

__ADS_1


“Farez?” Gumam Bulan membulatkan mata, langkah kaki pemuda itu berjalan mendekatinya. Tiba-tiba pemuda itu meraih tubuhnya, memeluknya erat dalam dekapan hangatnya.


Bersambung...


__ADS_2