
Alvaro membuka kemejanya lalu membuangnya asal, Bulan hanya menatap nanar dada telanjang suaminya. Di situasi seperti ini dia hanya bisa pasrah membiarkan Alvaro untuk menggauli dirinya lagi seolah pemuda itu belum puas, Bulan diam membiarkan suaminya mengerayangi tubuhnya. Bulan tahu Alvaro menyentuhnya hanya karena nafsu semata, bukan karena cinta. Baju baru yang dibelinya tadi pagi bahkan dirobek oleh pemuda itu, sorot mata Alvaro menyusuri tubuh indah Bulan. Tanda kemerahan yang nampak kontras dikulit putih susu Bulan karena ulahnya kemarin malam masih membekas, belum pudar.
Alvaro mendaratkan ciuman lembut di bibir ranum Bulan membuat wanita itu mendelik merasakan pagutan pelan suaminya. Sebelumnya Bulan tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini oleh Alvaro seolah dirinya adalah sebuah kanvas kaca yang mudah pecah. Tangan kekar Alvaro membelai paha mulus istrinya lalu naik keatas mengusap perut besarnya.
Alvaro memperdalam ******* bibirnya, mensesap penyatuan manis yang memabukkan. Bulan merasakan desiran seperti aliran listrik tatkala tangan Alvaro menyentuh buah dadanya, meremasnya perlahan. Wanita itu reflek membusungkan dadanya merasa terangsang. Bulan bergerak gelisah dibawah tindihan Alvaro, nafasnya tercekat.
Alvaro merasakan dorongan tangan lentik Bulan didadanya, pemuda itu mendongak melepaskan tautan dibibirnya menatap lekat istrinya. Bulan mengirup nafas, dia bisa pingsan kehabisan oksigen.
"Eeengghh." Bulan melenguh tatkala milik Alvaro menyatu memenuhi Bulan. Alvaro menuntun tangan wanita itu agar mengalungkan pada lehernya. Melihat tubuh Bulan berkeringat semakin membuat Alvaro panas.
"Mendesahlah, sebut namaku Bulan." Bisiknya didekat telinga istrinya. Alvaro bergerak pelan menyalurkan hasratnya, sebentar lagi dia akan mencapai pelepasan.
Bulan dibuat melayang, tubuhnya menerima setiap sentuhan dari suaminya. "Ah hah, Al-Alvaro..." Alvaro tersenyum mendengarnya, dia menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Bulan.
"Engghh Al..." Suara lenguhan Bulan terdengar indah di telinga Alvaro. Pemuda itu mengecup perut Bulan beberapa kali dengan sayang.
"Aku tahu kamu masih mengharapkanku Bulan." Gumam Alvaro merasa senang, lantas dia kembali memagut kembali bibir Bulan yang sedikit terbuka, menekan tengkuk wanita itu untuk memperdalam ciumannya.
Aku belum siap kehilanganmu Bulan, selama benang merah kita belum terputus kamu masih milikku.
...****************...
Alvaro menghidupkan shower, air dingin mengguyur membasahi tubuh telanjangnya terasa begitu menyegarkan. Kepalanya menengadah membiarkan percikan air menyentuh kulit wajahnya. Tangannya beberapa kali menyugar rambut hitamnya, dalam keheningan pemuda itu nampak tersenyum samar. Fikiran Alvaro berkelana mengingat pergumulannya semalam bersama dengan Bulan. Entah mengapa wanita itu membuatnya gila, hanya karena melihat tubuhnya sekarang yang berisi membangkitkan hasratnya.
Alvaro mematikan shower, dia mengambil handuk putih lalu melilitkannya pada pinggang. Pemuda itu berjalan keluar dari kamar mandi. Alvaro kembali menyunggingkan senyumnya melihat Bulan rupanya sudah bangun, wanita itu nampak mengucek kedua matanya.
"Bagaimana tidurmu nyenyak?" Bulan berjengkit kaget mendengar suara serak seorang pria. Dia menoleh menatap nanar suaminya yang habis mandi, tangan Bulan seketika menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
__ADS_1
Alvaro berjalan mendekati istrinya, wanita itu mendelik takut seolah ada binatang buas yang ingin menerkamnya. Dia tiba-tiba mengurung Bulan diatas kasur dengan kedua tangannya. Kepala Alvaro semakin dekat hingga jarak mereka beberapa centimeter saja. Buliran air dari rambut basah Alvaro menetes mengenai wajah Bulan bahkan dia juga bisa merasakan hembusan nafas hangat pria itu menggelitik kulitnya. Bulan lantas memejamkan matanya membuat Alvaro tertawa terbahak.
"Hahahaha, kamu pasti mengira aku akan mencium dirimu." Ujar Alvaro seraya menegakkan tubuhnya kembali.
Bulan membuka lebar kedua matanya, lagi-lagi Alvaro mempermainkannya. "Apa semalam kamu belum puas, heh?" Tanya Alvaro menelisik, dari raut wajahnya terlihat Bulan merasa terganggu dengan pertanyaan Alvaro barusan. Mengingat kejadian semalam Bulan merutuki dirinya sendiri karena jujur entah setan apa yang merasuki dirinya sehingga dia juga larut dalam buaian Alvaro.
"Tenang saja Bulan, kita masih punya banyak waktu untuk melakukannya lagi." Bulan melotot mendengar penuturan suaminya, dia menggeleng. Tubuhnya bukan untuk sasaran empuk Alvaro untuk memenuhi nafsunya saja.
"Jangan menggodaku Al!" Ujar Bulan angkat bicara membuat pemuda itu menukikkan alis tebalnya.
"Kamu yang menggodaku Bulan dengan pakaian minim yang kamu kenakan semalam." Bulan baru teringat baju cantik yang dia beli kemarin, matanya terpaku pada sebuah dress yang sudah koyak tergeletak mengenaskan di lantai. Wanita itu mengerutkan dahi, dia tidak pernah mempunyai niatan untuk menggoda suaminya. Sama sekali tidak terlintas difikirannya. Bulan membeli baju itu untuk kepuasaan dirinya sendiri karena memang bagus menurutnya, tapi Alvaro malah merobeknya.
"Aku tidak suka kamu memakai baju laknat itu diluar rumah, baju sexymu itu hanya akan mengundang pria hidung belang untuk mendekatimu. Kamu hanya boleh menggunakan baju tertutup!" Tegas Alvaro mutlak, dia tidak ingin mata kotor Elfarez turut andil melihat tubuh indah Bulan. Sebisa mungkin Alvaro akan menjauhkan lelaki itu dari hidup istrinya.
"Tapi bukan berarti kamu bisa merusaknya Al." Balas Bulan memprotes tindakan Alvaro.
Bulan mencelos, dia masih merasa sebal dengan Alvaro. Dia tidak peduli dengan barang apa yang akan di berikan oleh Alvaro untuknya, karena selama ini dia sudah terlalu banyak dikecewakan. Wanita itu beranjak dari ranjangnya, dia berjalan tertatih dengan selimut yang membungkus tubuhnya menuju kamar mandi. Alvaro yang melihat tingkah Bulan merasa gemas sendiri. Tidak perlu segitunya karena Alvaro sudah berulangkali melihat tubuh polos istrinya, tapi Bulan tetap saja merasa malu.
BRAK
Suara pintu kamar mandi ditutup cukup keras hingga suaranya terdengar nyaring. Alvaro hanya bisa geleng-geleng kepala, dia berjalan menuju lemari menyiapkan pakaian kantornya sendiri. Biasanya kalau ada Bintang, jas dan kemeja kantornya sudah tersedia diatas ranjang dan Alvaro akan langsung mengenakannya. Dia jujur merindukan Bintang, meskipun ada Bulan disisinya namun dia tidak bisa mengantikan posisi Bintang dihatinya.
...****************...
Bangun tidur Daren dikejutkan dengan ruang tamu apartemennya yang berantakan, dia menatap sengit seorang wanita yang duduk santai disofa sembari menuangkan sebotol minuman kedalam gelas.
"Astaga, Bintang!" Daren segera mengambil paksa botol vodka itu dari tangan Bintang. "Kamu sudah gila!" Bentaknya dengan emosi, minuman vodka ini mengandung 60% alkohol dan sudah berapa banyak Bintang menenggaknya pagi ini hingga dia sekarang terlihat teler. Bintang merasa tertekan, oleh karena itu dia melampiaskannya dengan minum alkohol yang kebetulan ada di dalam kulkas. Daren merutuki dirinya sendiri yang telah sembarangan meletakkan minumannya.
__ADS_1
"Berikan-berikan padaku, aku masih ingin minum." Ujar Bintang berusaha merebut botol itu namun dihalangi oleh Daren. Bintang saat ini tengah hamil anaknya, dia tidak ingin pengaruh minuman ini akan berdampak buruk pada bayi yang berada dalam kandungan Bintang.
"Kak Al aku masih haus." Bintang malah melantur tidak jelas. Wajahnya memerah, dia menatap Daren dengan mata menyipit tidak bisa fokus.
"Kak kamu kenapa diam saja?" Tanya Bintang menuntut penjelasan. Daren berdecih sinis menatap Bintang yang masih memikirkan suaminya.
Bintang beranjak berdiri dari sofa, dia memeluk Daren. "Kak Al aku sangat merindukanmu hiks...hiks." Bintang menangis tergugu. Daren masih terdiam mematung, dia mendengarkan ocehan Bintang yang saat ini tengah mabuk.
"Kak Al, percayalah kak Bulan adalah orang yang jahat. Ceraikan dia, ceraikan dia!" Tuntut Bintang mengira bahwa lelaki yang dipeluknya saat ini adalah Alvaro.
"Kak Al aku sangat mencintaimu, bayi yang aku kandung adalah anakmu."
Dada Daren bergemuruh mendengar ucapan Bintang barusan, dia tidak suka jika Bintang terus-terusan mendikte bahwa anaknya merupakan benih dari Alvaro. Jelas dia adalah ayah biologis dari bayi yang dikandungnya. Daren melepas paksa pelukan Bintang, dia meraih dagu Bintang dicengkramnya kuat.
"Buka lebar matamu Bintang!" Bentak Daren menatap tajam wanita dihadapannya. "Aku Daren, bukan Alvaro. Mengerti!" Tegasnya membuat Bintang ketakutan.
"Kak Alvaro dimana?" Cicit Bintang bertanya sembari mengedarkan pandangan kepenjuru ruangan.
Daren melepas cengkramannya, dia tidak ingin menyakiti Bintang. "Kak Al bawa aku pergi dari sini hiks...hiks. Aku tidak mau bersama dengan penjahat ini." Bintang menunjuk Daren, wanita itu bahkan beringsut mundur dari hadapannya dengan gemetar takut.
"Bintang berhenti disitu!" Perintah Daren, namun Bintang menggeleng. Dia berjalan sempoyongan menuju pintu keluar membuat Daren menggeram marah. Pemuda itu meraih pergelengan tangan Bintang menyeretnya menuju kamar.
"Tidak mau, tidak mau!" Bintang memberontak tidak ingin menurut. Sial! Sudah habis kesabaran Daren, dia mengambil sebuah jarum suntik dari laci menusukkannya pada lengan Bintang. Obat bius itu masuk kedalam tubuh wanita itu, tidak berselang lama Bintang ambruk dalam pelukan Daren. Pemuda itu menghela mafas lega, dia tidak mau direpotkan Bintang. Akan lebih baik jika wanita itu tidak sadarkan diri seperti ini, sehingga Daren bisa pergi untuk berangkat kekantor tanpa khawatir.
Daren lantas menggendong tubuh Bulan menuju kamar, membaringkannya di atas ranjang. Dia mengusap lembut surai rambut Bintang. "Maafkan aku, aku terpaksa melakukan ini. Tidurlah yang nyenyak." Gumamnya merasa bersalah.
Bersambung...
__ADS_1