
20.25 WIB di Kediaman Abraham
Elfarez barusaja selesai mandi, dia lantas memakai kaos oblong dan celana pendek khas pakaian santai dirumah. Pemuda itu duduk sejenak ditepi ranjang, menyugar rambut hitam tebalnya kebelakang. Dia nampak memikirkan sesuatu yang mengganggu isi kepalanya, hingga dia merasa pusing. Farez beranjak berdiri, dia tidak bisa tenang sebelum mengutarakan isi hatinya. Baginya ini adalah kesempatan karena Farez telah menunggu cukup lama. Sebaiknya dia memang harus bertindak cepat untuk mendapatkannya.
Pemuda itu keluar dari kamar, dia berjalan menuju ruangan kerja papanya. Hari ini Giandra memang tidak masuk kekantor, dia memilih untuk menyelesaikan beberapa pekerjaannya dirumah. Farez menatap nyalang pintu besar dihadapannya, dia mengatur nafas panjang menyiapkan mental untuk menghadapi papanya.
Ceklek
Pintu hitam itu terbuka lebar, Farez menatap seorang pria paruh baya yang tengah fokus dengan laptop canggihnya. Dia berjalan mendekat, duduk dikursi menghadap papanya. Pria paruh baya itu merasa sedikit terganggu dengan kedatangan seseorang dalam ruang kerjanya. Giandra melepas kacamata minusnya memandangi lekat pemuda didepannya dengan dahi mengernyit heran.
“Aku ingin berbicara penting dengan papa.” Ujar Farez memberanikan diri. Giandra lantas mematikan laptopnya, dia bahkan menutup buku laporan yang sedang dia tanda tangani. Pria paruh baya itu penasaran, apa yang sebenarnya putranya ingin sampaikan? Dari raut wajahnya, Farez terlihat serius.
“Bicaralah!” Perintah Giandra, dia siap untuk mendengarkan.
“Aku ingin menikah Pa.” Farez langsung to the point mengutarakan keinginannya membuat Giandra terkejut. Pria paruh baya itu heran mengapa anaknya tiba-tiba menginginkan pernikahan? Apakah Farez telah mempunyai wanita idaman? Jikapun memang benar, Giandra harus ikut andil dalam memutuskan siapa yang pantas bersanding dengan putra semata wayangnya.
Banyak gadis diluaran sana dari keluarga terhormat yang telah diperkenalkan Giandra untuk putranya namun Elfarez malah menolak tegas mereka semua hingga membuat Giandra jengkel, padahal para gadis itu juga memiliki wajah yang cantik. Giandra penasaran gadis seperti apa pilihan putranya, jika Farez mantap mengajukan sebuah pernikahan pasti dia sudah memiliki kekasih.
“Gadis mana yang ingin kamu nikahi?” Tanya Giandra menatap lekat putranya. Bagi Giandra dia tidak mempermasalahkan gadis itu berasal dari keluarga kaya maupun miskin. Selama gadis itu memiliki sifat yang baik dan sopan maka Giandra akan merestuinya. Lagipula dia juga ingin segera menimang seorang cucu, rumah besarnya ini terasa sepi dan sunyi tanpa kehadiran anak kecil.
“Papa dulu pernah bilang, jika aku berhasil mengembangkan bisnis yang aku pimpin maka aku bisa memilih wanita manapun yang ingin aku nikahi. Saat ini bisnis perhotelan yang aku jalankan di Jakarta Selatan mengalami kemajuan pesat. Aku bisa membuktikan kepada papa bahwa aku sejauh ini mampu untuk menjalankan bisnisku sendiri.” Farez mengingatkan janji papanya yang pernah berujar jika usaha yang dijalankan Farez berhasil maka Giandra akan membebaskan putranya untuk memilih wanita yang benar-benar dia cintai tanpa paksaan darinya.
__ADS_1
Demi Bulan, Farez selama ini bekerja keras hingga kerap kali lembur dikantor. Memang berat untuk mengembangkan bisninya, apalagi dia harus mencari rekan kerja untuk menggantikan posisi Alvaro. Akibat putusnya kerjasama antara Mahendra Groub dengan perusahaannya mengakibatkan kerugian bagi Elfarez. Dalam waktu yang singkat Farez bisa memulihkan bisnisnya karena banyak teman yang bekerjasama dengannya mendukung dan membantu Farez.
“Selama gadis pilihanmu itu adalah wanita yang baik, papa tidak masalah.” Balas Giandra.
"Aku ingin menikahi salah satu putri dari keluarga Bramasta Pa." Ucapan Farez membuat Giandra mengerutkan dahinya bingung. Bukankah kedua putrinya Zhafran sudah menikah, lantas putri yang mana lagi maksut dari Farez? Dulu Giandra dan Zhafran sepakat ingin menjodohkan Farez dengan Bintang yang merupakan putri bungsu dari keluarga Bramasta namun ternyata gadis itu mencintai pria lain. Giandra sempat mendengar jika Bintang telah menikah dengan kakak iparnya dan rela menjadi istri kedua. Gadis bodoh, dia menolak putranya dan malah memilih merusak rumah tangga kakaknya sendiri.
"Aku tidak mengerti Farez, gadis mana yang kamu maksut? Bukankah keluarga Bramasta hanya memiliki dua putri yang sama-sama sudah menikah?" Tanya Giandara. Pemuda itu memaklumi jika Papanya tidak tahu bahwa putri pertama dari keluarga Bramasta telah bercerai. Padahal fakta perpisahan antara Bulan dengan Alvaro sudah diberitakan di siaran televisi. Giandra tidak pernah menonton TV ataupun membuka sosial media mengenai dunia entertaint karena dalam hidup Giandra segala sesuatu yang tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaannya tidaklah begitu penting.
"Aku ingin menikahi Bulan pa, dia adalah putri pertama keluarga Bramasta." Ujar Farez menjelaskan.
Bukankah wanita itu masih menjadi istrinya Alvaro? Batin Giandra bingung. Putranya benar-benar tidak waras, apakah dia ingin merebut wanita yang telah menjadi istri dari pria lain?
"Papa jangan salah paham." Seolah mengetahui isi fikiran dari pria paruh baya didepannya, Farez segera mengutarakan kebenaran yang terjadi. "Bulan merupakan istri pertama Alvaro, namun sekarang mereka telah resmi bercerai karena Alvaro melakukan tindak kekerasan dan juga selingkuh dengan adik iparnya sendiri. Bulan memilih berpisah demi menyelamatkan dirinya serta bayi dalam kandungannya dari perilaku bejat Alvaro yang sering berbuat kejam, meski dia tahu bahwa Bulan tengah berbadan dua."
"Itu juga yang menjadikan alasanku untuk memutuskan kerjasama dengan Mahendra Groub, aku tidak ingin bekerjasama dengan pria bejat seperti Alvaro."
Giandra menghela nafas, dia jadi mengetahui alasan sebenarnya yang menjadi faktor putranya menghentikan segala bentuk perjanjian bisnis antara dirinya dengan Alvaro. Akhir-akhir ini terjadi berbagai skandal yang terkuak dari keluarga Mahendra maupun Bramasta. Sebenarnya Giandra tidak tertarik dengan pemberitaan gosip mengenai kehidupan sahabatnya itu, namun berita yang berseliweran membuat Giandra tanpa sengaja membaca artikel yang muncul diberanda media sosialnya. Setelah membacanya Giandra tidak percaya, dia mengira jika skandal pemberitaan itu merupakan gosip murahan dari awak media tapi setelah mendengarnya langsung dari putranya dia menjadi merasa iba dengan Bulan.
Dimana Zhafran tatkala anaknya mengalami masa-masa sulit? Kenapa pria itu sama sekali tidak menampakkan dirinya untuk membela putrinya? Aneh, sebagai orang tua seharusnya Zhafran melindungi Bulan. Apakah karena Bulan merupakan putrinya Laura sehingga sahabatnya itu memperlakukan Bulan berbeda dengan Bintang? Giandra tahu bagaimana watak dan sifat Zhafran yang merupakan sahabatnya sedari sekolah menengah atas, pemuda itu akan bersikap tidak peduli kepada orang yang dia benci. Zhafran dulu pernah bercerita jika dirinya tidak menyukai Laura, dia terpaksa menikah dengan Laura hanya karena paksaan dari kedua orang tuanya. Namun meskipun begitu Giandra tidak membenarkan perbuatan Zhafran yang membela Bintang dan malah menelantarkan Bulan yang sama sekali tidak bersalah.
“Pa aku sangat mencintai Bulan.” Ujar Farez mengaku kepada papanya, dia berharap Giandra bisa menerima wanita pilihannya. “Aku hanya menginginkan Bulan untuk menjadi istriku pa.”
__ADS_1
Giandra menatap lekat tepat pada manik mata putranya, dia tidak pernah melihat putranya seserius ini dalam berhubungan dengan kekasihnya sebelumnya. Baru kali ini Farez menunjukkan sikap dewasanya sebagai seorang lelaki, bahkan dia dengan berani menghadapnya tanpa canggung sedikitpun. Dengan tegas Farez berusaha meyakinkan Giandra bahwa pilihan pemuda itu memanglah sudah tepat.
“Apakah papa memberikanku restu jika aku meminang Bulan?” Tanya Farez, jika papanya menolak mungkin Farez akan memikirkan rencana lain sampai dia mendapatkan restu dari Giandra.
Putranya kekeuh ingin menikahi Bulan, sebenarnya apa spesialnya wanita itu? Giandra fikir kekasih Farez merupakan seorang gadis namun ternyata Farez mencintai seorang janda. Dia sedikit khawatir, Farez merupakan pria yang keras kepala. Apapun akan putranya lakukan demi mendapatkan tujuannya.
"Fikirkan dengan matang terlebih dahulu Farez. Dengar, jika alasanmu menikahi Bulan karena mencintai wanita itu, kamu salah. Membina rumah tangga bersama dengan Bulan berarti kamu juga harus bisa menerima anaknya kelak ketika lahir. Bulan bukanlah seorang gadis, tapi dia adalah seorang ibu. Jika kamu menyayangi Bulan maka kamu juga harus siap menjadi seorang ayah, meskipun kamu tahu bahwa anak itu bukanlah berasal dari darah dagingmu." Giandra menasehati Farez agar putranya tidak mengejar kesenangan semata hanya karena dia mencintai seorang wanita. Tidak mudah menikahi wanita yang telah memiliki anak sebelumnya, apalagi dia nantinya juga turut bertanggung jawab untuk menjaga dan merawat anak yang sama sekali tidak ada hubungan darah dengannya.
Farez mengulum senyum, dia tahu maksut dari papanya. Semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya apalagi Farez adalah putra semata wayang dari keluarga Abraham. Pria paruh baya itu tidak ingin putranya menyesal nantinya hidup bersama dengan Bulan.
"Pa aku menerima Bulan apa adanya, termasuk anak dalam kandungan Bulan aku akan menganggapnya seperti putriku sendiri. Aku siap menjadi seorang ayah, mereka sangat berarti untukku pa." Ujar Farez, dia bisa mempertanggung jawabnya ucapannya kelak.
Giandra menghela nafas panjang, dia nampak berfikir sejenak. Putranya sudah dewasa sekarang, jika memang Bulan adalah pilihan putranya maka Giandra bisa apa? Apalagi Farez mengutarakan bahwa dirinya hanya ingin menikahi Bulan saja. Semoga Bulan memang benar-benar wanita yang baik, Giandra tidak ingin putranya menelan kekecewaan karena menikahi wanita yang salah.
"Jika memang itu keinginanmu maka papa akan memberikanmu restu." Farez terkejut mendengar penuturan pria paruh baya dihadapannya. Semudah ini papanya memberikan restu untuknya, seketika Farez menyunggingkan senyum sumringah.
"Ajak dia kemari, papa ingin lebih mengenal calon menantu papa." Ujar Giandra dengan santai, dia kembali menyalakan laptopnya untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Farez senang jika papanya bisa menerima Bulan, langkahnya semakin mudah tinggal memastikan Bulan saja dan Farez yakin bahwa wanita itu juga akan mencintainya secara perlahan.
"Iya pa, aku pasti akan mengajaknya untuk menemui papa." Farez lantas beranjak berdiri, saking senangnya dia memeluk Giandra membuat pria paruh baya itu sedikit terkejut dengan tindakan putranya.
__ADS_1
"Terimakasih pa." Giandra tersenyum mendengar ucapan putranya, dia menepuk pundak Farez. Sebagai orang tua tunggal Giandra akan turut bahagia melihat putra semata wayangnya bisa bersanding dengan wanita yang dia sayangi. Terlepas bagaimanapun status dari Bulan, Giandra tidak mempermasalahkan selama wanita itu bisa membuat putranya senang.
Bersambung...