Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 34 : Ingin Berdua Bersamamu


__ADS_3

Bulan perlahan membuka kedua matanya, jam berapa sekarang? Batinnya bertanya seraya meregangkan kedua tangan. Ingatannya tiba-tiba melayang pada kejadian semalam, Alvaro tidur sekasur dengannya. Astaga! Bulan menoleh menatap ranjang disampingnya ternyata kosong. Dimana Alvaro? Bulan seketika beranjak bangun dari tempat tidurnya, dia berjalan menuruni tangga.


Dia mendengar bunyi aktivitas seseorang didapur, bau harum masakan menyapa indra penciuman Bulan. Wanita itu mengintip dari sebrang dapur, dia melihat siluet suaminya nampak memotong sosis, mengiris wortel dan mencincang bawang bombai. Alvaro nampak cikatan mengolah bahan makanan dengan menumisnya. Entah apa yang dimasak pemuda itu, Bulan tidak tahu. Apakah Alvaro ingin memasak telur dadar? Tebaknya karena di pantry ada beberapa cangkang telur. Pemuda itu menyelesaikan masakannya dengan cepat, dia meletakkan dalam 2 piring besar.


Merasa ada seseorang yang mengawasinya seketika Alvaro menoleh. Dia mendapati bahwa Bulan mengintipnya dari balik tembok. Alvaro tersenyum, wanita bodoh! Dia fikir Alvaro tidak akan melihatnya. Dia meletakkan piring berisi makanan di meja, Alvaro mendongak menatap tajam Bulan dari kejauhan.


“Kenapa kamu berdiri disana? Kemarilah!” Perintah Alvaro dengan suara cukup keras membuat Bulan mendelik. Dia ketahuan, perlahan Bulan mendekati suaminya melirik pemuda dihadapannya dengan sendu. Lagi-lagi pemuda itu menyunggingkan senyumya melihat muka bantal Bulan tidak mengurangi kecantikannya. “Makanlah, aku telah membuatkan sarapan omelet untukmu.”


Bulan mengangguk patuh, dia menggeser kursi lalu duduk. Omelet buatan Alvaro nampak menggoda, entah kenapa dia bersemangat untuk mencicipinya. Bulan mengelus lembut perutnya, kamu ingin makan masakan dari Papa ya sayang? Tanya Bulan dari dalam hatinya. Pumpung Bintang tidak ada dirumah ini sekarang, jadi Bulan merasa bebas. Selama ini Bulan memang menghindar dari Alvaro karena tidak ingin adiknya cemburu melihatnya bersama dengan pria itu. Dia tidak ingin memancing pertengkaran, Bulan sudah capek. Dia hanya ingin hidup damai, itu saja keinginannya.


Tidak dapat dipungkiri bahwa perut Bulan memang sudah keroncongan. Dia memakan omelet buatan dari suaminya, rasanya begitu lezat Bulan tidak ingin berhenti memakannya. Alvaro terlalu sempurna baginya. Dia tampan, pintar, kaya selain itu juga jago memasak. Pantas saja Alvaro selalu menolak Bulan mentah-mentah, dirinya bukanlah tipe istri idaman suaminya. Huh, Bulan hanya bisa menghela nafas. Jika dibandingkan dengan adiknya yang pintar dan cantik itu jelas dia kalah saing. Sudahlah, sebentar lagi dirinya akan berpisah dari Alvaro. Setelah bercerai dia akan menjemput jalan bahagianya sendiri.


Senyuman Alvaro terulas diwajahnya melihat Bulan lahap menyantap makanannya. Nanti siang adalah jadwal keberangkatannya ke London, Bintang sedari awal bahkan sudah menyiapkan keperluannya didalam koper. Andai Bulan mau diajak pergi bersama mereka pasti Alvaro tidak akan cemas memikirkannya. Bintang pagi ini belum pulang kerumah, setidaknya Alvaro masih mempunyai waktu berdua bersama dengan Bulan.


"Habiskan makananmu." Ujar Alvaro sembari mengelus surai rambut Bulan. Usapan lembut dari tangan suaminya membuat perasaan Bulan menghangat, andai aku adalah satu-satunya wanita yang mendapatkan perhatianmu Al aku pasti akan senang.


Tring...tring...tring


Ponsel Bulan tiba-tiba berdering, dia merogoh ponselnya disaku baju tidurnya. Dia mengernyitkan dahi tatkala menatap layar ponselnya tertera nama 'Mama Nadia'. Tumben ibu tirinya itu menelfon dirinya. Ada apa? Bulan meletakkan sendoknya dipiring mengakhiri sarapannya, dia segera mengangkat panggilan itu.


"Hallo."


"Hallo Bulan. Mamamu sekarang ada dirumah sakit, dia tadi tiba-tiba pingsan tidak sadarkan diri di kamar." Ujar Nadia dari sebrang telefon membuat Bulan terkejut bukan main.


"Apa?! Di-dirumah sakit mana Ma?" Tanya Bulan dengan suara tercekat. Alvaro menatap intens Bulan yang terlihat murung penasaran apa yang membuat istrinya itu cemas.

__ADS_1


"Dirumah sakit husada, cepatlah kemari." Balas Nadia memberitahu. Wanita paruh baya itu menutup telefonnya sepihak, bagaimana keadaan mamaku. Batin Bulan bertanya-tanya, dia berharap mamanya baik-baik saja.


"Bulan ada apa?" Tanya Alvaro heran menatap lekat istrinya.


"Mamaku sakit Al, dia berada dirumah sakit sekarang. Aku akan segera kesana." Ujar Bulan dengan perasaan kalut, dia lantas beranjak berdiri berjalan begitu saja memasuki kamarnya untuk bersiap-siap.


Alvaro menghela nafas berat, mertuanya itu sakit apa? Semoga saja tidak parah. Alvaro akui bahwa dia sangat membenci Laura karena dia merupakan wanita yang jahat sering memprovokasi Bulan untuk berbuat licik. Namun meskipun begitu Alvaro tetap bersimpati dengan Laura, bagaimanapun juga sejelek-jeleknya sifat Laura dia adalah mertuanya dan Bulan sangat menyayangi mamanya itu. Sekarang Bulan sudah berubah menjadi wanita yang lebih baik dibanding dulu, Alvaro melihat sebenarnya ada sedikit sisi baik dari dalam diri Bulan.


"Kakak Al." Alvaro mendongak tatkala suara seorang perempuan memanggil namanya cukup kencang. Bintang berjalan mendekatinya dengan raut wajah berseri-seri, dia baru saja pulang dari rumah orang tuanya karena semalam menginap disana.


"Kamu baru pulang dari apartemen ya kak--." Ucapan Bintang terhenti tatkala dia melihat dua piring bekas di meja. Apakah kak Al sarapan dua piring sekaligus atau dia sarapan bersama Bulan? Batin Bintang mulai curiga.


Alvaro meneliti arah pandangan mata Bintang yang mengamati kedua piring dimeja, seolah dia bisa tahu dengan isi fikiran istri keduanya. "Aku barusaja sarapan dua piring omelet." Ujar Alvaro berbohong, masalah kecil seperti ini saja bisa menjadi perdebatan mereka jika Alvaro tidak pintar mencari alasan.


"Oh begitu."


"Aku akan mengantarmu ke rumah sakit." Ujar Alvaro berniat ingin menemaninya. Bulan melirik kearah adiknya, wanita itu nampak kesal.


Dirumah Papa tadi dibuat gaduh karena mama Laura pingsan nggak jelas, mungkin wanita licik itu hanya akting agar papa mengasihaninya. Lalu sekarang kak Bulan memelas ingin diantarkan kerumah sakit. Cih, sangat memuakkan. Batin Bintang geram.


"Aduhh." Bintang mengaduh kesakitan sembari mengelus perutnya, Alvaro melepas tangan Bulan dia beralih menyentuh bahu Bintang.


"Kamu kenapa Bi?" Tanya Alvaro dengan khawatir.


Bintang mencuri pandangan kearah kakaknya. "Pe-perutku sakit kak." Ujarnya meringis kesakitan, dia pura-pura menahan nyeri diperutnya. Sebisa mungkin Bintang akan menghalangi kepergian Alvaro dari rumah ini. Mama Laura itu hanyalah tanggung jawab Bulan, tidak seharusnya Alvaro direpotkan.

__ADS_1


Bulan hanya bisa menatap nanar Alvaro yang lebih mementingkan Bintang daripada dirinya. Tidak apa-apa, lagipula Bulan bisa kesana sendirian.


"Kamu urus saja Bintang dirumah, dia lebih membutuhkanmu daripada aku." Tegas Bulan seraya berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.


"Bulan!" Alvaro ingin mengejar Bulan namun tangannya malah dicengkram oleh Bintang.


"Kak anterin aku kekamar ya." Bintang memelas dihadapan suaminya. Pemuda itupun menghela nafas lelah, membagi waktu untuk kedua istrinya ternyata tidaklah mudah. Jika diharuskan memilih salah satu dari mereka saat ini, jelas dia memilih Bintang.


"Iya, ayo pelan-pelan saja jalannya." Alvaro menggiring istrinya untuk berjalan menaiki tangga menuju kamar mereka.


Bulan berbaring dikasur ditemani oleh Alvaro yang memilih duduk di tepi ranjang. "Apakah perutmu masih sakit?" Tanya Alvaro sembari mengelus lembut perut istrinya. Tidak biasanya Bintang seperti ini, batin Alvaro heran.


"Sekarang sudah membaik, mungkin ini karena efek semalam aku tidak bisa tidur dirumah Papa. Biasanyakan aku tidur bareng kamu." Cicit Bintang ingin bermanja-manja bersama dengan suaminya.


Bintang menggenggam tangan kanan Alvaro. "Kak temani aku tidur ya sebelum keberangkatan pesawat kita ke London nanti siang. Aku ingin istirahat sebentar saja."


Alvaro tersenyum tipis, dia mengangguk. "Iya aku disini nemenin kamu, tidurlah." Balas Alvaro seraya mengusap puncak kepala istrinya dengan sayang.


Alvaro merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya, dia melirik kesisi ranjang. Saat ini Bintang tengah memejamkan matanya dengan pulas sembari memeluk tangan kanannya. Dia mengetikkan pesan kepada seseorang.


Aku belum berpamitan denganmu, aku harap kamu nanti akan menemuiku dibandara.


Alvaro mengirimkan pesan whatsapp itu kepada Bulan, dia berharap Bulan akan datang untuknya.


Bersambung...

__ADS_1


Maaf telah membuat kalian menunggu, karena selain novel ini aku juga harus mengerjakan novelku yang lainnya. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak agar aku semangat update❤️


__ADS_2