
Bulan mengernyitkan dahi tatkala mobil Alvaro memasuki pelataran rumah megah bergaya Eropa. Bukankah mereka akan dinner di restaurant, tapi mengapa suaminya malah memarkirkan kendaraannya disini? Bulan turun dari mobil sembari mengamati ramainya orang-orang yang berlalu lalang dengan tatapan bingung.
“Al kita sebenarnya akan dinner dirumahnya siapa? Kemarin kamu bilang kita akan dinner direstaurant bersama rekan bisnismu.” Tanya Bulan menuntut penjelasan, wanita itu nampak clingak-clinguk melihat orang-orang berpenampilan mewah dan elegan masuk ke dalam rumah besar itu.
Alvaro menghela nafas, dia menatap istrinya lekat. “Maafkan aku, aku telah membohongimu. Sebenarnya kita akan mendatangi pesta ulang tahun dari rekan bisnisku.” Bulan melotot, pesta? Bulan sedikit kecewa mengapa Alvaro tidak jujur kepadanya? Kalau tahu mereka akan kepesta tentu Bulan pasti menolak mentah-mentah sedari awal karena dia tidak suka keramaian seperti ini. Dan Alvaro memang telah sengaja berbohong agar Bulan ikut menemaninya, huh Bulan jelas merasa kesal.
Terlihat para undangan di acara ini hanyalah orang dari kalangan atas. Bisa ditebak dari penampilan mahal mereka dan jejeran kendaraan sport yang dikendarainya. Alasan Bulan malas ketika diajak kepesta maupun dinner bersama rekan bisnisnya Alvaro adalah karena para istri orang kaya seperti mereka gemar sekali pamer. Bulan akan merasa canggung berada di ruang lingkup pertemanan suaminya, apalagi pembahasan mereka mengenai bisnis yang membuat kepala Bulan pening.
Alvaro menggandeng tangan Bulan berjalan bersama memasuki pusat acara. Mau tidak mau Bulan terpaksa mengikuti suaminya, jika dia rewel pasti Alvaro akan memarahinya. Pemuda itu meletakkan kadonya terlebih dahulu di sebuah meja besar bersama hadiah yang lain. Samar-samar Bulan sepertinya mendengar suara Elfarez, wanita itu mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Benar dugaannya Farez juga berada disini, astaga mengingat hubungan antara Alvaro dan Farez bagaikan anjing dan kucing kelihatannya ini bukanlah hal yang bagus untuk mereka dipertemukan disini dan Bulan tidak ingin terlibat dengan permusuhan mereka. Bulan selama ini tidak menyadari bahwa yang menjadi penyebab utama pertengkaran mereka karena memperebutkan wanita itu.
"Hai Arlan, apa kabar?" Sapa Farez menepuk bahu temannya yang bernama Arlan yaitu pria bule berambut pirang.
"Hi Iam fine, welcome to my birthday party. Aku harap kamu enjoy disini." Ujar Arlan seraya tersenyum, ini adalah pesta ulang tahunnya yang digelar cukup mewah dirumahnya. Dia ingin para tamu betah berada disini, oleh karena itu dia juga menyewa seorang dj untuk menyemarakkan pesta malam ini.
Mata Arlan tanpa sengaja melihat siluet Alvaro yang berdiri tidak jauh darinya. "Hi Alvaro, come here." Suara panggilan Arlan seketika membuat Alvaro dan Bulan menoleh, pemuda itu terkejut melihat keberadaan Elfarez yang tengah berdiri disana. Ya ampun, Alvaro tidak menyangka jika Elfarez juga diundang oleh Arlan. Sejak kapan mereka mengenal satu sama lain? Tanya Alvaro dari dalam hati.
Alvaro semakin mengeratkan cengkramannya pada pergelangan tangan Bulan seolah tidak ingin istrinya lepas darinya. Pemuda itu menggiring Bulan untuk menemui rekan bisnisnya yang sedang berulang tahun pada hari ini.
Mata Farez menatap lekat seorang wanita yang digandeng oleh Alvaro, semenjak kepulangan Alvaro dari London dia tidak pernah bertemu dengan Bulan lagi. Elfarez sangat merindukan wanita itu, berulang kali Farez menghubungi ponsel Bulan namun tidak ada jawaban, sungguh membuatnya cemas. Bulan tinggal bersama suaminya yang kejam, bisa saja sewaktu-waktu Alvaro akan menyakitinya. Farez tidak ingin Bulan terluka lagi hanya karena ulah Alvaro yang gemar memepermainkan hati para wanita. Pandangan Farez terus fokus pada Bulan, kalau boleh jujur malam ini Bulan terlihat sangat cantik.
"Apakah kalian sudah saling mengenal?" Tanya Arlan menatap Alvaro dan Elfarez secara bergantian.
Alvaro menatap tajam pemuda didepannya, dia sadar bahwa sedari tadi pandangan Farez tidak lepas menatap istrinya. Dia geram dengan tingkah Farez yang terang-terangan mengagumi Bulan padahal dia selaku suaminya berada di samping wanita itu. Tapi Alvaro berusaha tenang, dia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri. Karena kalau dia sampai terpancing emosi maka Alvaro bisa saja memukul Farez disini sekarang juga.
Alvaro akhirnya mengulurkan tangannya memperkenalkan diri pura-pura tidak mengenal Farez. "Alvaro Artha Mahendra." Ujar Alvaro memperkenalkan dirinya, Farezpun menjabat tangan pemuda itu.
__ADS_1
"Elfarez Roy Abraham." Balas Farez tersenyum ramah. Jika Alvaro berpura-pura tidak mengenalnya, maka Farez juga akan mengikuti permainan dari rivalnya itu.
Arlan melirik perempuan hamil disamping Alvaro. "Dia istrimu?" Tanyanya dengan raut wajah penasaran karena sebelumnya bukan ini wanita yang kerap diajak oleh Alvaro untuk datang disetiap acara kantor.
"Iya, dia adalah istri pertamaku." Tegas Alvaro memberitahu, dikalangan atas seperti mereka memiliki lebih dari satu istri itu adalah hal yang biasa semasa dia bisa berbuat adil memenuhi nafkahnya maupun juga kebutuhan biologis. Arlan saja memiliki 3 istri, namun dia selalu berusaha agar istrinya selalu rukun.
"She is very beautiful." Puji Arlan berkata jujur. "I think I've seen you before." Ujar Arlan mencoba mengingat-ingat.
"Mungkin kamu pernah melihatnya di televisi, istriku ini dulu adalah seorang model." Balas Alvaro menjelaskan.
Iya benar Arlan melihatnya beberapa kali Bulan sedang mengiklankan produk kecantikan ternama. Pantas saja jika dilihat dari visual Bulan memang memiliki wajah yang manis dan berawakan tubuhnya bagus. "Apakah sekarang istrimu masih bekerja di agency? Kalau iya, dia bisa mengiklankan beberapa produk di perusahaanku."
Alvaro tersenyum. "Tidak, istriku telah resign karena dia saat ini tengah mengandung buah hati kami." Bulan sedikit terkejut tatkala tangan besar Alvaro mengelus lembut perut besarnya.
"Siapa nama istrimu?" Tanya Arlan penasaran.
"Farez kamu mengenalnya?" Arlan heran mengapa Elfarez bisa mengenal istrinya Alvaro.
"Bulan adalah teman baikku, iyakan Bulan?" Farez menatap Bulan, menunggu jawaban dari wanita itu. Alvaro mengepalkan tangannya, lancang sekali Farez. Pemuda itu pasti dengan sengaja memancing emosinya.
Bulan merasa gugup. "I-iya." Cicitnya, dia bingung harus mengaku atau tidak karena Alvaro kini terlihat kesal.
Arlan merasakan situasi disini tiba-tiba memanas, dari gerak-gerik kedua temannya Arlan bisa menyimpulkan bahwa antara Alvaro dengan Farez tidak memiliki hubungan yang baik terlihat dari ketegangan mereka saat ini. Mereka seolah menyembunyikan sesuatu dengan masalahnya masing-masing dan Arlan enggan turut larut dalam urusan mereka.
Tidak ingin situasi semakin memanas, Arlan lantas memanggil seorang pelayan. "Please, give us a cold drink." Pelayan itu mengangguk patuh, dia bergegas untuk menyiapkan pesanan majikannya.
__ADS_1
"Kamu tahu Rez, Alvaro ini sedang menjalankan bisnis baru dibidang otomotif." Ujarnya, dia ingin mencairkan suasana. "Oh iya, bukannya kamu mulai menjalankan bisnis transportasi milik Papamu. Aku rasa kalian bisa bekerjasama dengan bengkel milik Alvaro untuk keperluan service."
Farez tersenyum menanggapi saran temannya. "Akan aku pertimbangkan." Ucapnya sembari melemparkan pandangan ke arah Alvaro. GA groub saat ini memang bekerjasama dengan perusahaan Alvaro untuk proyek beberapa hotel di Indonesia maupun luar negeri, itu saja Farez terpaksa turut menghandle karena perintah Papanya. Sebenarnya Farez malas bekerjasama dengan pria arogan seperti Alvaro.
"Permisi, ini minumannya." Mereka mengambil segelas minuman dingin yang diberikan oleh seorang pelayan.
Lama kelamaan Bulan merasa bosan, mereka tengah berbincang mengenai bisnis. Kepala Bulan rasanya pening mendengarkan ocehan para lelaki itu. Dia ingin berjalan menjauh untuk mencari udara segar tapi Bulan sadar bahwa dirinya sama sekali tidak mengenal orang-orang disini selain Alvaro dan Elfarez.
Farez nampak mencuri pandang dengan melirik ke arah Bulan yang tengah gelisah. Dia tahu mungkin Bulan merasa tidak nyaman berada disini. Apakah pesta ulang tahun ini masih lama? Bulan ingin segera pulang kerumah. Bulan melihat banyak pasang mata lelaki yang melihatnya, seolah meneliti tubuhnya. Apakah karena penampilannya tidak pantas hingga mereka menatapnya seperti itu?
Sebenarnya para lelaki yang datang dipesta kagum melihat kecantikan Bulan, sebagian dari mereka juga tahu bahwa wanita yang digandeng oleh Alvaro adalah Bulan Cahaya Bramasta yang merupakan seorang model cukup terkenal. Namun baru-baru ini banyak penggemar kecewa karena Bulan memilih mundur dari dunia entertaint yang telah membesarkan namanya, wanita itu lebih memilih menjadi ibu rumah tangga. Sekiranya begitulah ulasan berita gosip yang telah disiarkan di televisi.
"Ahh."
Prangg!
Seorang pelayan wanita tanpa sengaja menabrak Bulan hingga isi minuman tumpah mengenai dress Bulan dan gelasnya pecah berceceran di lantai.
"Saya minta maaf, saya salah." Ujar pelayan pria itu menundukkan kepalanya.
"Nggak apa-apa." Bulan masih menyunggingkan senyumnya, tidak ingin membuat pelayan itu tambah merasa bersalah.
"Al aku ke toilet sebentar." Pamitnya mendapat persetujuan dari Alvaro.
Farez yang keberadaannya tidak jauh dari mereka, dia juga berpamitan kebelakang dengan alasan ingin menelfon rekan bisnisnya, penting. Padahal sebenarnya dia memiliki motif lain. Alvaro melirik dengan ekor matanya menatap kepergian Elfarez, dia menaruh curiga dengan pemuda itu.
__ADS_1
Bersambung...