Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 109 : Sidang Perceraian


__ADS_3

Bintang turun dari taxi, dia bergegas masuk kedalam rumahnya bahkan saking kesalnya dia berjalan begitu saja tanpa menyapa Clara yang tengah duduk bersantai diruang tamu. Wanita paruh baya itu hanya bisa menatap nanar menantunya yang melangkahkan kakinya menuju kamar. Tidak berselang lama putranya datang, pemuda itu terlihat tergesa-gesa mengikuti istrinya yang saat ini berada didalam kamar. Apakah mereka sedang bertengkar? Tanya Clara dari dalam hatinya.


Alvaro menutup pintu kamar dengan keras membuat Clara berjengkit kaget, wanita paruh baya mengusap dadanya. Jika mereka memang benar-benar bertengkar sebaiknya Clara tidak ikut campur. Clara ingin Alvaro menyelesaikan permasalahan rumah tangganya dengan kepala dingin.


Dikamar Alvaro berjalan mendekati istrinya yang saat ini duduk menangis dipinggiran ranjang. "Bi maafkan aku." Ujarnya menatap wajah istrinya yang memerah karena menangis. Bintang masih diam, dia enggan untuk bicara. Dadanya bergemuruh menahan luapan emosi yang membara dihatinya.


Alvaro menyentuh pundak istrinya. "Bi aku tadi tidak sengaja bertemu dengan Bulan." Alvaro mencoba menjelaskan untuk meredam kemarahan istrinya.


Bulan menampik keras tangan suaminya, wanita itu beranjak berdiri menatap Alvaro dengan tatapan sengit. "Pertama kakak sudah menipuku dengan mengatakan bahwa kamu berada diluar kota selama seminggu, dan sekarang kakak ingin membohongiku lagi. Aku tidak semudah itu untuk percaya kepadamu kak." Tandas Bintang dengan linangan air mata yang membasahi pipinya.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksut membohongimu. Aku memang ada jadwal kunjungan ke Bali, namun aku memutuskan untuk membatalkannya karena bisnis properti yang aku jalankan di Jakarta sedang mengalami masalah. Kamu tahukan Bi, akibat rumor yang beredar, membuat beberapa bisnisku terancam bangkrut. Orang-orang seakan enggan untuk membeli properti dari Mahendra Groub, bahkan hotel dan restourant dibawah naungan perusahaanku sepi pengunjung terkena imbas dari gosip buruk rumah tangga kita." Ujar Alvaro membela diri agar Bintang mengerti dan memahami akan keadaannya saat ini.


"Aku benar-benar sangat frustasi, jadi aku memutuskan untuk menenangkan diri di apartemenku. Aku tidak ingin kamu melihatku dalam kedaan kacau, kamu pasti akan turut bersedih. Oleh sebab itu aku tidak berani untuk pulang kerumah."


Bintang menatap nanar suaminya, dari sorot matanya terlihat Alvaro sepertinya berkata jujur. Akibat dari rumor yang beredar memang berdampak besar bagi kehidupan didalam keluarga besarnya, dan Bintang tidak menyangka jika gosip itu juga mempengaruhi bisnis suaminya. Alvaro selama ini bekerja keras agar perusahaan yang didirikan oleh ayahnya itu tetap bertahan, dulu Mahendra Groub pernah mengalami kebangkrutan hingga Alvaro terpaksa menikahi kakaknya demi sokongan dana yang bisa dia dapat dari Bramasta Groub. Pantas saja jika sekarang Alvaro frustasi memikirkan perusahaannya yang kini diambang kehancuran karena ulah Bulan.


"Bi, aku tadi tidak sengaja bertemu dengan Bulan dijalan. Bulan mengajakku untuk berbincang, hanya obrolan biasa sebelum sidang perceraian kami berlangsung." Tutur Alvaro berbohong membuat Bintang mengerutkan dahinya karena penasaran dengan apa yang telah mereka bicarakan. "Sebenarnya Bulan ingin kembali kepadaku, tapi kamu tahu sendirikan bahwa aku mencintaimu. Jadi aku memilih untuk tetap melanjutkan sidang perceraian kami."


Bintang mendongak, dia jadi sedikit merasa bersalah karena telah menuduh suaminya tadi. Bintang memang tipe perempuan yang gampang sekali terbawa perasaan, dia mudah cemburu jika Alvaro bersama dengan perempuan lain. Kini hati Bintang melunak, dia mengusap air mata yang membasahi pipinya.


Bintang menggenggam jemari tangan suaminya. "Kak, aku sangat mencintaimu. Aku marah karena aku cemburu, aku takut jika kak Bulan merebutmu dariku." Ujar Bintang menunduk lesu. "Maafkan aku ya kak, karena aku sudah memarahimu."


Alvaro menghela nafas, dia sedikit lega karena Bintang kini sudah luluh dengan alasan klise yang dia ucapkan. "Iya, tidak apa-apa." Balas Alvaro seraya menyunggingkan senyumnya.


"Hm, kak kapan sidang perceraianmu dengan kak Bulan dilakukan?" Tanya Bintang, dia hanya ingin memastikannya saja.


"Besok."


"Aku akan menemanimu ke pengadilan kak." Putus Bintang dibalas dengan anggukan oleh Alvaro. Lagipula tidak ada salahnya dia mengajak Bintang kesana. Semoga saja hari ini dia mendapatkan kabar baik dari Bulan, bahwa wanita itu akan membatalkan proses sidang perceraiannya. Jika Bulan mempunyai fikiran waras jelas wanita itu akan menuruti perintahnya.


"Kak, maafkan aku karena aku telah marah kepadamu. Aku cemburu hingga tidak dapat mengontrol emosiku." Cicit Bintang tertunduk lesu.

__ADS_1


Alvaro mengelus pipi Bintang dengan sayang. "Iya Bi, percayalah hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cintai." Ujar Alvaro membual, kenyataannya dia telah membagi hatinya dengan wanita lain. Alvaro mencintai Bintang dan juga Bulan, dia akui jika dirinya memanglah egois karena ingin memiliki mereka berdua disisinya.


...****************...


08.20 WIB di Pengadilan Agama Jakarta Pusat


Tiba hari persidangan menjadi akhir dari hubungan pernikahan Alvaro dan Bulan. Ruangan ini seakan terasa sangat sesak hingga membuat Alvaro sulit bernafas. Dulu dia menikahi Bulan karena paksaan dari Papanya, tujuannya untuk menyelamatkan perusahaan Mahendra Groub dari kebangkrutan.


Meskipun telah menikah dengan Bulan dia tetap berhubungan dengan Bintang karena Bintang adalah wanita yang dia sayangi. Setelah mendapatkan Bintang dia memang berencana akan menceraikan Bulan, tapi kini perasaannya berubah. Alvaro masih ingin mempertahankan hubungannya karena dia mulai mencintai Bulan.


Pemuda itu hanya bisa tertunduk lesu menunggu kedatangan Bulan, sejak kemarin Alvaro bahkan tidak bisa tidur karena memikirkan sidang hari ini. Dia berharap jalannya sidang sesuai dengan keinginannya, Alvaro tidak ingin kehilangan Bulan.


Kemana kak Bulan, kenapa sedari tadi perempuan itu belum datang? Batin Bintang harap-harap cemas, takut jika persidangan ini ditunda karena ulah kakaknya yang tidak konsisten.


Setelah cukup lama menunggu, Alvaro melihat dari pintu masuk Bulan berjalan melangkah digandeng oleh Elfarez menduduki kursi persidangan. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, Bulan akan menjadi seorang janda di umurnya yang masih muda apalagi dalam keadaan dirinya yang tengah hamil besar. Tapi apa daya? Seolah dunia menentang hubungan mereka. Bulan diberi kesempatan mencintai Alvaro tanpa bisa memiliki raga maupun hatinya. Kini wanita itu memutuskan menyerah, hidup bersama dengan Alvaro membuat batinnya tersiksa.


Bulan sejenak menyunggingkan senyumnya kearah Alvaro yang duduk tidak begitu jauh darinya, membuat Alvaro tertegun ketika tatapan mata mereka bertemu. Dia tidak mampu untuk menangis, memperlihatkan betapa terlukanya Bulan. Setidaknya biarkan dia tersenyum meski miris dalam kecewa menutupi duka.


“Jadi, saudari Bulan apakah anda tidak ingin mempertimbangkan kembali keinginan anda untuk bercerai dengan saudara Alvaro?” Tanya hakim ketua sembari menatap Bulan.


“Tidak Pak Hakim, saya tetap ingin bercerai.” Balas tegas Bulan, terlihat dari wajah cantiknya Bulan tidak merasakan penyesalan sama sekali. Baginya keputusannya ini sudah tepat, Bulan tidak memperdulikan tatapan tajam dari Alvaro yang mengintimidasinya. Pemuda itu saat ini mengepalkan tangannya kuat, seharusnya Bulan mengatakan jika dirinya enggan untuk bercerai darinya tapi kenapa wanita itu malah tidak menuruti perintahnya.


Laura maupun Elfarez yang duduk dikursi belakang nampak tenang memperhatikan jalannya persidangan. Terutama Bintang, dia sangat menikmati sidang hari ini karena dia sejak dulu menantikan perpisahan antara suaminya dengan kakaknya.


Hakim ketua membacakan putusannya, rumah tangga penggugat dan tergugat tidak mencapai titik damai. Rumah tangga mereka memang sudah tidak bisa dipertahankan, apalagi dengan adanya bukti-bukti yang diserahkan penggugat mengenai adanya KDRT dan perselingkuhan. Semua poin yang diajukan oleh Bulan dibacakan oleh hakim. Bulan ingin berpisah dengan damai, dia juga tidak menuntut apapun kepada Alvaro termasuk harta gono gini. Harapannya hanya satu, Bulan ingin melahirkan anaknya dengan tenang tanpa perdebatan apapun yang dapat membuat fikirannya terguncang, Bulan ingin merawat buah hatinya tanpa campur tangan Alvaro dihidupnya.


"Atas segala pernyataan dan keterangan dari pihak terkait, pengadilan memutuskan untuk mengabulkan permohonan perceraian antara Bulan Cahaya Bramasta dengan Alvaro Artha Mahendra. Dengan diketuknya palu hakim menandakan kalian berdua resmi bercerai."


Hening


Suara hakim menggema, satu-satunya suara yang mendominasi di ruangan pengap itu begitu tegas dan mutlak didengar. Dan ketika palu diketuk—

__ADS_1


Tok…tok…tok


Keduanya tercekat, mereka resmi bercerai. Alvaro membulatkan kedua matanya seolah tidak terima dengan keputusan ini. Berbanding terbalik dengan Bulan, dia merasa lega namun dadanya terasa sesak karena kini Bulan akan berjalan sendirian. Bagaimanapun Alvaro dulu pernah mengisi hari-hari bahagianya, meskipun sebagian besar pemuda itu menorehkan luka dihatinya. Alvaro dulu merupakan lelaki yang sangat dia cintai namun sekarang Bulan begitu membencinya. Wanita itu tertunduk lesu, dia tidak berani menatap mata tajam mantan suaminya. Bulan memilih mengalihkan pandangan dengan tatapan kosong seperti hatinya yang kini hampa.


Bintang tersenyum girang, akhirnya suaminya resmi berpisah dari istri pertamanya. Kali ini dia merasa telah menjadi pemenang. Alvaro beranjak berdiri, dia masih tertegun dengan keputusan ketua hakim. Padahal Alvaro sudah mengupayakan agar perceraian dibatalkan bahkan dia mengeluarkan banyak uang untuk mencoba menyuap mereka agar pengadilan menunda persidangan ini ataupun melakukan mediasi lagi agar Alvaro bisa rujuk kembali dengan Bulan. Pemuda itu mengepalkan tangannya emosi, dia menatap sengit Elfarez yang memancarkan wajah bahagianya.


Alvaro yakin semua ini karna campur tangan Elfarez, dadanya bergemuruh menahan amarah. Ditengah emosinya yang memuncak sebuah tangan lembut menggenggam jemari tangannya. Alvaro menoleh, dia menatap lekat Bintang yang menyunggingkan senyum manis. Wanita itu menggandeng tangannya menggiring untuk keluar dari ruangan pengap pengadilan. Alvaro mencoba meredam amarahnya dihadapan Bintang, dia mengikuti langkah istrinya dengan perasaan hancur.


Sedangkan Bulan masih duduk termenung dikursi, menggigit bibir bawahnya yang kering menatap lantai marmer yang terlihat tidak begitu menarik. Perlahan tangan lentiknya meyentuh dadanya, Bulan tidak menyangka jika dia akhirnya bisa terbebas dari ikatan tali pernikahan bersama dengan Alvaro. Dia mengulas senyum tipis sembari mengusap lembut perut besarnya. Maafkan mama ya sayang, mama harus berpisah dengan papamu. Namun mama janji meskipun tanpa kehadiran papamu disisi kita, mama akan merawatmu dengan sepenuh hati mama. Ujarnya dalam hati memberitahu anak dalam kandungannya.


“Bulan.” Elfarez menepuk bahu Bintang membuat wanita itu seketika menoleh.


Bulan menatap pemuda yang kini menjulang berdiri dihadapannya. “Kamu melamun?” Elfarez meraih dagu Bulan berusaha membuat wanita itu sadar, tapi yang dia dapat adalah Bulan meneteskan air matanya.


“Kenapa kamu menangis Bulan? Apa kamu menyesal bercerai dengan Alvaro?” Tanya Elfarez menyelidik sembari memandangi wajah Bulan yang sembab.


Bulan mengusap lelehan air mata yang membasahi pipinya, dia lantas menyunggingkan senyum dihadapan Farez. “Ini adalah tangisan bahagia.” Gumam Bulan memberitahu membuat pemuda itu merasa lega.


Laura yang turut mengikuti persidangan, dia mulai melangkahkan kakinya mendekati putrinya. Wanita paruh baya itu senang dengan putusan pengadilan, dengan begini Bulan telah menjadi janda dan tidak ada halangan lagi baginya untuk segera menikahkan putrinya dengan Elfarez. “Sayang selamat ya, akhirnya kamu cerai juga dengan Alvaro.” Ujar wanita itu dengan girang, dia memeluk putrinya karena tidak bisa membendung luapan bahagia. Laura menangkup pipi putrinya agar menatapnya.


“Sayang, menjadi janda bukanlah status yang buruk jadi kamu tidak perlu sedih. Mama yakin kamu bisa mendapatkan pria yang lebih baik daripada Alvaro.” Laura sengaja melirik pemuda disampingnya, agar Farez sadar jika kesempatan pemuda itu untuk mendapatkan Bulan terbuka lebar. Bulan yang mendengar ucapan mamanya barusan sedikit merasa risih.


“Kamu putri mama yang sangat cantik, banyak pria tampan dan kaya raya menginginkanmu. Jadi kamu tidak perlu cemas ya sayang.” Celetuk Laura dengan menekankan setiap ucapannya supaya Farez segera bertindak untuk menikahi putrinya sebelum direbut oleh pria lain. Bulan mengehela nafas, dia menundukkan kepalanya sedikit canggung. Seharusnya mamanya tidak perlu berkata demikian, apalagi dihadapan Elfarez. Mamanya terlalu bersikap berlebihan, lagipula Bulan tidak ingin menikah lagi.


"Ayo sayang kita pulang, kamu pasti capek. Istirahatlah dirumah ya." Perintah Laura dibalas anggukan oleh Bulan.


"Aku akan mengantarkan kalian pulang." Tawar Elfarez membuat Laura seketika tersenyum. Jelas dia dengan senang hati menerima uluran kebaikan dari Farez. Bulan beranjak bediri, Laura lantas mengiring putrinya keluar dari ruangan pengadilan menuju tempat parkir.


Kedua mata Bulan membulat tatkala dirinya berpapasan dengan Alvaro yang tengah berdiri didepan mobilnya bersama dengan Bintang. Bagaikan seorang musuh mereka berdua yang telah berubah status menjadi mantan suami dan istri tidak menyapa satu sama lain. Bulan memilih diam membisu mengabaikan tatapan tajam Alvaro yang menatapnya tajam seolah ingin menguliti tubuhnya.


Elfarez segera membukakan pintu mobilnya, dia mempersilahkan Bulan dan Laura untuk masuk kedalam kendaraan beroda empat itu. Dia melirik kearah Alvaro memasang raut wajah sinis, seakan-akan mencemooh pria itu. Pada akhirnya Farezlah yang akan mendapatkan Bulan dan Alvaro akan menyesal telah menyia-nyiakan wanita baik seperti Bulan yang kini telah resmi menjadi mantan istrinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2