Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 75 : Tinggal Bersamaku


__ADS_3

Nasi goreng buatan Bulan memang patut diacungi jempol. Suapan pertama sungguh terasa nikmat, dia ingin setiap hari dimasakkan oleh Bulan meskipun menunya sama. Ini adalah pengalaman pertamanya membawa bekal, dulu sewaktu dia masih kecil disekolah teman-temannya selalu membawa makanan yang dibuatkan oleh ibunya. Jujur Farez merasa iri, dia tidak pernah merasakan bagaimana nikmatnya membawa bekal dari rumah.


Papanya dulu hanya memberikan uang saku yang banyak agar Farez bisa membeli semua barang ataupun makanan yang dia mau. Padahal Farez tidak terlalu membutuhkan itu, ibunya meninggal ketika melahirkannya dan itu membuatnya sedih. Farez cukup tahu bahwa selama ini Papanya kerepotan merawatnya sendirian, oleh karena itu masa kecil Farez menjadi anak yang pendiam tidak berani meminta apapun kepada ayahnya.


Ceklek


Alvaro tiba-tiba masuk kedalam ruangan Elfarez tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Farez masih terlihat tenang menyantap makanannya seakan tidak terganggu dengan kedatangan Alvaro. Dia sudah terbiasa dengan sikap Alvaro yang tidak sopan seperti ini. Pemuda itu selalu berbuat sesuka hatinya, padahal rekan bisnisnya yang lainnya akan segan kepadanya. Tapi berbeda dengan Alvaro, dia sama sekali tidak pernah menghormatinya.


Alvaro duduk didepan Elfarez, dia sejenak melirik sebuah bekal diatas meja yang tengah dilahap oleh Farez. Nasi goreng? Batin Alvaro sepertinya dia bisa mengenali siapa pembuat makanan itu dari aromanya yang begitu menusuk.


"Al maaf ternyata aku lupa membeli telur, jadi aku hanya bisa memasakkanmu nasi goreng." Alvaro tidak menggubris keberadaan Bulan. Dia bahkan malas untuk menanggapi ucapannya.


Alvaro ke dapur hanya untuk mengambil air minum karena haus. Setelah selesai memuaskan dahaganya dia ingin kembali ke kamar, namun Bulan segera menghentikan langkahnya.


"Plissss." Bulan menyatukan tangannya memasang raut wajah memelas di depan suaminya. "Cobain masakan aku ya." Bulan ingin dihargai, dia sudah capek-capek membuat makanan untuk Alvaro, mengenyahkan rasa kantuknya karena seharusnya di jam malam seperti ini dia sudah tidur.


Dengan lancang Bulan menggenggam tangan Alvaro, dia menggiring lelaki itu untuk duduk di kursi. "Mau aku suapi?" Tawarnya sembari mengarahkan sesendok nasi di depan Alvaro.


Lelaki itu menampik tangan Bulan kasar hingga nasi di dalam sendok tersebut jatuh berhamburan di lantai. Alvaro beranjak dari kursi, berdiri menjulang tinggi di hadapan istrinya. "Dengar Bulan." Alvaro mencengkram bahu Bulan hingga dia meringis sakit. .


"Aku tidak akan sudi memakan makanan busukmu itu! Bisa saja kamu memasukkan racun di dalamnya, aku tidak akan tertipu lagi."

__ADS_1


Alvaro menggelengkan kepalanya, dia menjadi ingat dulu Bulan selalu merayunya dengan membuatkan makanan untuk dirinya yang rasanya begitu hambar. Dia tersenyum sinis, ternyata wanita itu juga ingin mengambil hati Elfarez dengan berbuat baik memberinya bekal makan siang. Cihh, Bulan memang pintar dalam hal menggoda para lelaki. Pertama dia mendekati Daren dan sekarang dia bergantung kepada Elfarez. Hebat! Elfarez tidak habis fikir dengan trik licik istrinya itu.


"Ada apa, kenapa kamu menemuiku?" Tanya Farez seraya menutup kotak bekalnya karena telah habis. Lamunan Alvaro seketika buyar mendengar suara dari Farez.


"Aku hanya ingin menanyakan mengenai diskusimu tadi dengan pimpinan PT greenice, aku perlu mengetahuinya karena ini menyangkut dengan bisnis otomotifku." Ujar Alvaro dengan penasaran, dia tidak akan serta merta untuk menyerahkan sebagian besar tugasnya kepada Farez karena Alvaro merasa jika pemuda itu belum handal dalam berbisnis. Alvaro takut jika bisnisnya yang sedang berkembang malah akan menurun keuntungannya karena ulah Elfarez.


"Kamu tenang saja, PT greenice juga akan mendukung bisnis kita. Tidak perlu cemas, aku tidak sebodoh yang kamu fikirkan Al." Tegas Farez membuat Alvaro mendesis meremehkan, dia masih akan memantau kinerja Farez yang tidak becus. Alvaro masih mengharapkan Giandra pulang dari luar negeri, karena dia ingin berbinis dengan pria paruh baya itu bukan malah dengan putranya yang dungu.


Alvaro menghela nafas. "Baiklah, aku percaya padamu. Jangan sampai kamu mengecewakanku." Ujarnya menatap sengit pemuda dihadapannya. Farez bersikap acuh seolah malas menanggapi sifat arogan Alvaro. Pemuda itu lantas beranjak berdiri, dia berjalan pergi keluar dari rungan Elfarez.


Jangan pernah meremehkanku Al, suatu saat nanti aku akan merebut sesuatu yang berharga darimu. Batin Farez seraya tersenyum sinis.


Bulan duduk disofa sembari menonton tv, berulang kali dirinya menguap karena mengantuk. Dia menunggu Elfarez pulang dari kantornya, Bulan melirik jam dinding rumahnya yang hampir menunjukkan tengah malam. Matanya terasa sangat lengket dan tubuhnya sudah lelah. Tadi siang dia membereskan kamar tamu untuk tempat tidurnya, Farez mempersilahkan dirinya untuk beristirahat disana membuat Bulan senang karena dia merasa canggung jika terus-terusan tidur dikamar Farez. Tidak sampai disitu Bulan juga membersihkan beberapa ruangan dirumah Farez yang berantakan seperti ruang tamu dan ruang kerja pria itu seperti kapal pecah. Bulan tidak ingin numpang gratis ditempat tinggal Farez, dia cukup tahu diri. Setidaknya dia akan melakukan pekerjaan rumah agar Farez merasa senang karena huniannya sedikit rapi berkat dirinya.


Ting...tong...ting...tong


Bulan mematikan televisi, di segara beranjak berdiri mendengar bel rumah ini berbunyi, dengan antusias Bulan berjalan mendekat. Dia lantas membukakan pintu rumah, matanya berbinar tatkala dia melihat Farez menjulang berdiri dihadapannya. Akhirnya pemuda itu sudah pulang, Bulan bisa bernafas lega.


"Kamu belum tidur rupanya." Ujar Farez mengulas senyum menatap Bulan yang masih terjaga. Hatinya merasa senang, karena ketika dia pulang bekerja disambut oleh Bulan.


"Iya, aku belum mengantuk." Kilah Bulan berbohong, padahal dia sedari tadi menguap. "Farez apakah kamu sudah makan? Jika belum, akan aku buatkan makanan untukmu. Tadi di rice cooker ada sisa nasi, aku bisa membuatkanmu nasi goreng lagi jika kamu mau." Oceh Bulan menawarkan diri. Farez habis pulang lembur bekerja, pasti dia akan merasa lapar karena pikiran dan fisiknya terkuras.

__ADS_1


"Tidak perlu Bulan, aku masih kenyang." Balas Elfarez, pemuda itu mengeluarkan kotak bekal yang telah kosong isinya. "Besok buatkan lagi ya?" Ujarnya berharap dia bisa menikmati masakan dari Bulan setiap hari.


Bulan mengulum senyum. "Iya akan aku buatkan yang paling spesial untukmu." Ujar Bulan dengan gembira, dia senang jika Farez menyukai masakannya.


"Ehm Farez, aku ingin membicarakan sesuatu." Bulan terlihat ragu untuk berbicara membuat Farez tambah penasaran.


"Apa? Katakanlah Bulan." Tekan Farez menatap nanar wanita didepannya.


"Temanku Tamara sudah pulang dari luar kota, aku akan menginap disana mulai besok. Aku tidak bisa merepotkanmu lagi untuk tinggal disini." Cicit Bulan, sungguh dia sungkan kepada Farez. Pemuda itu terlalu baik selalu membantunya.


Farez mengerutkan dahinya. "Kenapa? Jangan pergi Bulan. Aku mohon tinggalah saja disini." Ujar Farez membujuk Bulan, dia tidak pernah merasa direpotkan. Farez malah merasa senang dengan keberadaan Bulan.


"Ta-tapi."


"Kamu bisa tinggal semaumu disini, lagipula papaku masih lama berada diluar kota. Kamu tidak perlu merasa sungkan seperti ini Bulan." Kalau bisa Farez malah berharap Bulan bisa tinggal dirumahnya selamanya. "Jika kamu menginap dirumah temanmu, apakah dia benar-benar mau membantumu hah?" Tanya Farez menatap tajam wanita dihadapannya. Bulan hanya diam, tinggal berdua bersama dengan lelaki lain membuat Bulan tidak enak hati.


"Aku tulus membantumu Bulan." Ujar Farez lagi berusaha meyakinkan Bulan. "Pikirkan ini baik-baik Bulan, sekarang tidurlah. Aku tahu kamu saat ini sedang mengantuk, kita bicarakan perihal ini besok." Sungguh sebenarnya Farez takut ditinggalkan oleh Bulan, dia sudah merasa nyaman Bulan berada di dekatnya. Rumahnya yang selalu sepi kini menjadi hangat semenjak ada Bulan.


Bulan lantas mengangguk, dia perlahan berjalan pergi menuju kamarnya untuk istirahat. Benar ujar Farez, sebaiknya mereka membicarakannya besok karena ini sudah larut malam. Farez menatap nanar kepergian Bulan, dia menghela nafas berat. Sebisa mungkin Farez akan membujuk Bulan untuk tetap tinggal disini bersamanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2