Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 94 : Elfarez Melepas Rindu


__ADS_3

Bisa melihat Bulan berada dihadapannya membuat perasaan Elfarez senang, sungguh dia sangat merindukan wanita ini. Farez fikir Bulan masih terbelenggu bersama Alvaro, dia sudah mencoba mencari dimana keberadaan Bulan yang telah disembunyikan oleh Alvaro namun dia tidak bisa menemukannya hingga membuat Farez merasa frustasi. Dia tidak menyangka jika Bulan sekarang telah aman berada di rumah orang tuanya. Bulan termangu ditempat tatkala Farez masih senantiasa memeluk tubuhnya erat, dia bisa merasakan detak jantung Farez didada pemuda itu.


“Ekhem.” Laura berdehem, seketika Farez melepaskan pelukannya. Ya tuhan dia lupa jika disini masih ada tante Laura, dia dengan seenaknya memeluk putrinya dihadapan tante Laura saking kangennya. Pasti tante Laura berfikiran buruk tentangnya karena telah melakukan tindakan tidak sopan.


“Ma-maaf tante.” Ujar Farez merasa bersalah, dia menjadi canggung dengan situasi ini.


Laura mengulum senyum, dia tidak mempermasalahkan. Wanita paruh baya itu malah mempersilahkan Farez untuk mendekati putrinya. Laura fikir akan lebih baik jika Bulan bisa memikat hati Elfarez, pemuda itu adalah anak tunggal keluarga Abraham yang kaya raya. Bahkan bisnis yang Mahendra punya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekayaan yang dimiliki oleh orang tuanya Farez.


Semua harta kekayaan keluarga Abraham pasti akan diwariskan kepada Elfarez putra tunggalnya, jika Bulan tidak bisa hidup bersama dengan Alvaro maka lebih baik Bulan menjadi istrinya Elfarez. Meskipun nantinya Bulan akan menjadi janda anak satu karena perceraiannya dengan Alvaro, namun dengan kecantikan wajah putrinya yang rupawan Laura yakin Bulan bisa membuat Farez tergila-gila padanya.


“Em, kalau begitu mama tinggal pergi kedapur ya.” Ujar Laura memang sengaja memberikan ruang untuk mereka berbincang. Wanita paruh baya itu berjalan pergi meninggalkan ruang tamu untuk meletakkan barang belanjaannya di dapur.


“Farez silahkan duduk.” Ujar Bulan mempersilahkan pemuda itu untuk duduk disofa.


Elfarez mengangguk, dia lantas duduk disamping Bulan menatap lekat wajah cantik wanita itu. “Bagaimana kabarmu Bulan, apakah kamu baik-baik saja?” Tanyanya dengan perasaan cemas.


Bulan menduga pasti Farez sudah mendengar scandal rumah tangganya yang saat ini tengah viral di media sosial. "Aku baik-baik saja Farez." Balas Bulan seraya tersenyum manis dihadapan pemuda itu.


"Kamu tahu Bulan, saat kamu keluar dari rumahku tanpa kabar yang jelas, aku mencarimu bahkan aku sampai pergi kerumahnya Alvaro berharap bisa bertemu denganmu. Tapi nihil, rupanya Alvaro lebih pintar menyembunyikanmu hingga aku bahkan tidak bisa melacak keberadaanmu." Bulan termangu mendengar penuturan dari Farez, pemuda itu begitu peduli kepadanya. "Aku tahu, Alvaro pasti telah menyekapmu dan menyakitimu lagi." Tebak Elfarez membuat Bulan seketika menundukkan kepalanya seolah membenarkan ucapan Farez.


Pemuda itu menggenggam jemari tangan Bulan. "Tindakanmu untuk berpisah dengan Alvaro adalah pilihan yang tepat Bulan." Ujar Farez menatap nanar wanita disampingnya. Bulan nampak mengangguk, memang sudah sedari dulu Bulan kekeuh ingin berpisah dari Alvaro. Surat gugatan perceraiannya sudah dia ajukan ke pengadilan agama, sekarang dalam tahap diproses. Bulan hanya bisa berdoa agar persidangannya bisa secepatnya dilakukan.


"Farez, aku akan membuatkan minum untukmu." Bulan merutuki dirinya sendiri, saat ini Farez bertamu dirumahnya. Sudah sepatutnya dia menyuguhi minuman dan camilan ringan untuk Farez. Wanita itu beranjak berdiri, dia ingin melangkah menuju dapur namun tangannya ditaham oleh Farez.


"Tidak perlu Bulan." Tegas Farez tidak ingin merepotkan. Pemuda itu terlihat gamang, dia sepertinya tengah memikirkan sesuatu. "Ehm, Bulan aku ingin mengajakmu keluar bersamaku. Apakah kamu mau ikut?"


Bulan mengerutkan dahinya. "Kemana?" Dia penasaran, mungkin mamanya tidak akan mengizinkannya untuk pergi keluar rumah. Buktinya tadi saja ketika dia kesupermarket Bulan tidak diperbolehkan ikut dengannya.


"Ke suatu tempat." Balas Farez antusias, dia masih menunggu jawaban dari Bulan.


"Ikutlah pergi bersama Farez sayang." Tiba-tiba Laura keluar dari dapur turut menyahut ajakan dari Elfarez membuat pemuda itu merasa senang karena Laura mendukungnya.

__ADS_1


"Ta-tapi ma." Cicit Bulan merasa bimbang.


"Sudahlah sayang, ikut saja sama Farez. Lagipula sudah lama kamu tidak keluar rumah untuk mencari hiburan." Tegas Laura mendesak putrinya.


"Baiklah, aku mau." Balas Bulan pada akhirnya menyetujui. Iya benar, Bulan memang butuh untuk menghirup udara segar. Mengingat permasalahan yang terjadi akhir-akhir ini dihidupnya membuat Bulan merasa depresi. Dengan sedikit hiburan mungkin dia bisa menenangkan fikirannya.


"Tente saya izin untuk membawa putri tante ikut besama saya ya, saya janji akan menjaganya dengan baik." Ujar Farez dengan sopan menatap Laura.


"Iya Farez, tante mengizinkan kalian untuk pergi." Balas Laura membuat Farez bernafas lega.


"Ayo Bulan." Pemuda itu lantas meraih pergelangan tangan Bulan menggiringnya untuk ikut bersamanya. Laura mengulum senyum sumringah menatap kepergian putrinya bersama dengan Farez. Mereka berdua terlihat serasi menjadi pasangan kekasih dimata Laura, putrinya yang cantik dan Farez pria yang tampan.


Laura menyilangkan kedua tangannya didepan dada seraya tersenyum sinis. "Alvaro pasti berfikir jika putriku akan hidup terpuruk tanpa dirinya. Nyatanya sekarang Bulan bahkan bisa mendapatkan pria yang lebih unggul daripada kamu Alvaro Artha Mahendra." Gumam Laura, dia yakin Bulan pasti akan mampu menaklukkan hati anak konglomerat Elfarez Roy Abraham.


Disisi lain, Farez dengan penuh perhatian membukakan pintu mobilnya untuk Bulan. Wanita hamil seperti Bulan harus diperlakukan dengan lembut. Mereka berdua duduk didalam mobil, Farez menyalakan kendaraan beroda empat itu. Dia melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota.


Bulan menatap pemandangan pohon serta gedung-gedung bertingkat yang dilewatinya dari balik kaca mobil. Dia sudah lama tidak pergi jalan-jalan, jujur saja Bulan juga senang dan menikmati perjalanan ini.


"Hm, kenapa Farez?" Tanya Bulan penasaran.


"Jika setiap hari aku mengunjungi rumahmu apakah kamu keberatan?" Ujar Elfarez, sesekali dia melirik Bulan lalu fokus kembali kedepan untuk menyetir.


"Boleh, kami tidak melarangmu. Kamu bisa kerumahku kapanpun kamu mau." Balas Bulan, dia selama ini cukup terbantu dengan keberadaam Elfarez. Mengingat dulu Bulan pernah diusir dari rumah Alvaro hanya Farezlah yang menolong dikala dia mengalami kesulitan. Bahkan Farez mempersilahkan dirinya untuk tinggal dirumah keluarga Abraham hingga beberapa minggu disana.


Farez tersenyum, saat ini Bulan sudah pisah rumah dengan Alvaro hanya tinggal menunggu persidangkan dilakukan. Sekarang Farez mempunyai kesempatan untuk kembali mendekati Bulan, dia sedikit merasa lega. Farez dan Bulan berbincang riang diperjalanan sehingga tanpa sadar mobil mereka sudah sampai ditujuan. Bulan menatap nanar pemandangan indah didepan matanya dari kaca mobil. Wanita itu segera turun dari mobil, Farez terkekeh melihat tingkah Bulan yang antusis berjalan menuju bibir pantai.


Ya, Farez mengajak Bulan kepantai untuk refreshing. Dia melepaskan jas kantornya meletakkannya didalam mobil, menyisakan kemeja putih polos yang melekat ditubuhnya. Lantas dia mengikuti Bulan berjalan mendekati pantai.


Pemuda itu mengedarkan pandangan kesekeliling, pantai nampak sepi mungkin karena hari senin ditambah lagi ini sudah sore, sehingga tidak ada pengunjung sama sekali selain mereka berdua. Bulan berdecak kagum melihat betapa luasnya pantai dihadapannya. Suara deburan ombak yang menggulung memekakkan telinga. Bulan melepas alas kakinya agar bisa merasakan sentuhan langsung pasir putih, dia berjalan menyusuri bibir pantai sesekali air laut datang menyapu kakinya. Terasa dingin tatkala kakinya terkena air laut.


Tatapan Bulan jatuh kepada sosok pria yang tengah berdiri dibawah pohon kelapa memasukkan kedua jemari tangannya didalam saku celana. Ide jahil terlintas diotak Bulan, wanita itu mencipratkan air ke arah Elfarez berulang kali hingga pemuda itu terlihat terganggu. Farez menoleh, dia melihat Bulan tertawa sembari terus mencipratkan air ke arahnya. Wanita itu terlihat senang tatkala Farez mulai kesal karena bajunya menjadi kotor dan basah.

__ADS_1


"Awas ya kamu Bulan." Farez menggulung lengan kemejanya sampai siku, dia juga melepas sepatunya. Pemuda itu turut bergabung menuju bibir pantai berniat balas dendam dengan mencipratkan air kepada Bulan.


"Hahahaha, kena kamu Farez." Ujar Bulan tertawa girang, karena setiap pemuda itu membalas Bulan selalu dapat menghindar.


"Bulan kamu membuatku basah kuyup." Celetuk Farez melihat bajunya kini basah sampai celana karena Bulan.


"Hahahaha." Bulan lagi-lagi tertawa terbahak-bahak enggan untuk berhenti mencipratkan air kepada Farez. Pemuda itu menatap tawa lepas Bulan seolah tanpa beban membuat hati Farez seketila menghangat. Dia belum pernah melihat Bulan seceria ini, biasanya wanita itu terlihat murung dan gelisah.


"Hahaha rasakan ini Farez hahaha." Senyumnya, tawanya, dan semua kegembiraan yang Bulan tunjukkan membuat perasaan Farez turut senang. Sebelumnya Bulan memang terkekang dengan penderitaan yang ditorehkan oleh suaminya. Kini wanita itu bebas bisa menghirup angin segar, tidak ada tekanan dan siksaan lagi. Bulan juga ingin merasa bahagia dengan pilihannya sendiri, menuruti kata hatinya dan semangat menjalani hidup demi anaknya.


"Bulan, kemari kamu!" Farez berlari mengejar Bulan membuat wanita itu seketika kabur dengan langkah lebar menghindari Elfarez. Pemuda itu terkekeh, karena Bulan sedang hamil jalan wanita itu menjadi pelan sehingga Farez dengan mudah menangkapnya. Farez meraih tubuh wanita itu, merengkuhnya dengan erat.


"Kena kamu hahaha." Farez tertawa karena berhasil menangkap Bulan, mereka berdua tertawa lepas satu sama lain. Dada Bulan bergemuruh mengatur nafasnya karena dia tadi berlari menghindari kejaran Farez, cukup melelahkan baginya. Bulan mendongak hingga tanpa sengaja hidungnya bersentuhan dengan bibir Elfarez karena pemuda itu dalam posisi menunduk, dia tidak sadar rupanya wajah mereka kini sangat dekat hanya berjarak beberapa centimeter saja. Bahkan saat ini Farez memeluk tubuhnya membuat Bulan merasa canggung.


"Ekhem." Bulan berdehem seraya melangkah ke belakang, melepaskan diri dari pelukan Farez.


"Farez lihatlah sunset." Ujar Bulan menunjuk dengan jemari tangannya ke arah barat, dimana matahari tenggelam memancarkan pemandangan yang begitu indah. Farez tidak melihat kearah yang ditunjukkan oleh Bulan, namun dia malah memandangi wanita yang saat ini berdiri disampingnya tengah tersenyum gembira melihat matahari tenggelam.


"Cantik." Gumam Farez tanpa sadar memuji Bulan. Pandangan matanya tidak bisa lepas dari Bulan, menganggumi ciptaan tuhan yang begitu menawan hingga mampu menggetarkan hati Farez. Hembusan udara sore menerpa wajah Bulan sungguh menyejukkan membuat helaian rambut panjangnya melambai-lambai tertiup angin. Tangan lentiknya mengusap lembut perut besarnya, apakah kamu juga bisa merasakannya nak? Batin Bulan mengajak anaknya bicara. Terasa nyaman, tenang dan damai beginilah yang mama inginkan nak. Maafkan mama ya, karena keputusan mama kelak akan menyebabkan kamu kehilangan sosok ayah dihidupmu. Papamu terlalu banyak menorehkan luka dihati mama, mama tidak sekuat itu untuk tetap bertahan disisi papamu sayang.


Tanpa terasa Bulan menitihkan air matanya, dadanya terasa sesak mengingat memori kelam kehidupannya. Farez menyentuh bahu Bulan, dia membalikkan badan wanita itu agar beralih menghadapnya. Dia mengusap lelehan air mata yang menggenang dipipi Bulan, pemuda itu cukup tahu bahwa Bulan mungkin masih belum bisa menghilangkan rasa traumanya.


Farez meraih dagu Bulan agar mendongak menatapnya. Wanita itu mengamati lekat manik mata emerald Farez yang meneduhkan, jempol tangan pemuda itu menyentuh bibir ranum Bulan. Dia menunduk memangkas jarak untuk lebih dekat memandangi wajah cantik Bulan mulai dari matanya, hidung mancungnya serta bibir merona semerah cerry yang menggoda. Farez menangkup pipi wanita dihadapannya, tubuh Bulan menegang tatkala Farez memagut bibirnya. Dia ******* bibir Bulan dengan lembut sejenak membuat Bulan melayang, perlahan matanya terpejam membiarkan Farez memperdalam pagutannya.


Melihat Bulan menerima semua sentuhan Farez, pemuda itu berani untuk melanjutkan cumbuannya. Tangan besarnya menekan tengkuk Bulan, dia menikmati sesapan manis dari bibir ranum wanita itu. Ciuman lembut Farez mengingatkan pada suaminya yang selalu bersikap kasar, perlakuan mereka berbanding terbalik. Alvaro selalu memaksanya, berniat merusak harga dirinya dengan menjadikan Bulan sebagai penghangat ranjangnya saja. Sedangkan Farez, dia selalu bersikap hangat dan berusaha melindunginya. Pemuda itu memperlakukannya dengan lembut seolah Bulan adalah mutiara beharga bagi Elfarez.


Pemuda itu melepas tautan bibirnya, dia mengusap bibir basah Bulan dengan jempol tangannya. Farez menatap sendu Bulan, pipi wanita itu merona merah membuat Farez bertambah gemas. Bulan balas menatap lekat Farez yang masih mengatur irama jantungnya yang saat ini berdetak tidak karuan apalagi melihat Bulan yang kini mengulum senyum dihadapannya dengan rona merah dipipi.


Tuhan tolong jangan hapus senyuman manis ini darinya, biarlah dia bahagia bukan untuk sementara tapi selamanya. Ujar Alvaro berdoa tulus dari dalam hatinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2