Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 26 : Gugatan Perceraian


__ADS_3

Seorang wanita tengah berkutat di dapur, pagi ini dia sedang memasak opor ayam kesukaan suaminya. Dengan cikatan Bintang menyiapkan bahan yang diperlukan dari kulkas seperti potongan ayam, santan kental dan bahan rempah-rempah lainnya seperti cabai, bawang merah, bawang putih, kunyit, lengkuas, jahe, serai, dan kencur. Bintang mulai untuk menghaluskan bahan rempah-rempah menggunakan blender. Dia memanaskan minyak lalu menumis bumbu halus tersebut, memasukkan serai, daun jeruk, dan daun salam hingga harum.


Bintang memanaskan air, dia masukkan ayam beserta tumisan bumbu yang baru saja dibuatnya. Mengaduk rata hingga bumbu meresap dan ayam menjadi lembut. Dia tidak lupa memasukkan gula, garam, kecap manis, dan santan. Mengaduknya lagi, dan menunggu beberapa menit hingga mendidih.


Ditengah kesibukannya memasak tiba-tiba sebuah lengan kekar memeluknya dari belakang. Bintang tersenyum, dia tahu siapa pelakunya. Pemuda itu menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher Bintang, menghirup aroma harum yang menguar pada tubuh istrinya membuatnya nyaman.


"Kak Al, jangan ganggu. Aku lagi masak." Ujar Bintang memberenggut kesal. Dia saat ini buru-buru memasak karena sebentar lagi Alvaro akan berangkat bekerja, sebagai istri yang baik dia harus membuatkan sarapan untuk suami tercinta.


Alvaro terkekeh pelan melepas pelukannya, dia membalikkan tubuh Bintang untuk menghadapnya. Dia mengamati wajah cantik istri keduanya yang barusaja kemarin dia nikahi, Bintang benar-benar cantik. Baginya Bintang merupakan istri yang sempurna, lihatlah pagi-pagi wanita itu sudah bangun untuk memasakkan sarapan untuk dirinya berbeda dengan Bulan yang selalu bangun kesiangan. Memasakpun Bulan tidak becus, makanan buatannya sama sekali tidak enak. Tangan besarnya membelai perut rata Bintang, didalam sana ada malaikat kecilnya yang begitu dia nantikan kehadirannya.


"Apa kamu juga sering mual muntah?" Tanya Alvaro kepada Bintang dibalas gelengan kepala oleh wanita itu.


"Tidak kak, memangnya kenapa?" Bintang merasa penasaran, entah kenapa dia belum pernah sekalipun morning sickness. Padahal kebanyakan ibu hamil akan mengalami gejala mual muntah dikehamilannya pada trimester awal.


"Aku sering melihat Bulan mual muntah dipagi hari, aku fikir kamu juga mengalaminya." Mendengar nama kakaknya disebut membuat dada Bintang bergemuruh kesal, dia tidak suka suaminya mengingat-ingat Bulan. Wanita itu sudah pergi kelayapan tidak jelas, akan lebih baik tidak usah balik sekalian agar Alvaro menjadi milik Bintang seutuhnya.


Bintang dengan centil mengalungkan tangannya pada leher Alvaro. "Kak Al, aku memang tidak merasakan mual muntah. Tapi kadangkala aku sering merasa pusing dan lemas. Aku bahkan pernah pingsan dikampus." Ujar Bintang mengadu, seketika Alvaro terbelalak kaget. "Aku sengaja tidak memberitahumu waktu itu, karena aku cukup tahu kamu sedang sibuk bekerja. Jadi aku meminta tolong temanku untuk mengantarkanku ke dokter."


Mendengar penuturan dari Bintang membuat Alvaro merasa bersalah, seharusnya dia lebih memperhatikannya. Ketika dokter menyatakan bahwa Bintang tengah mengandung pasti wanita itu sangatlah ketakutan karena hamil tanpa suami. Tapi sekarang Alvaro telah menikahinya, dia berjanji akan melindungi Bintang serta calon anaknya. Tidak ada satupun orang yang boleh menyakiti Bintang wanita yang dicintainya. Apalagi Bulan, dia akan waspada kepada perempuan licik itu.


Alvaro menyelipkan anak rambut Bintang dibelakang telinganya. Dia menatap wajah polos istrinya lekat begitupun dengan Bintang juga mengamati rupa tampan suaminya mulai dari alis tebalnya, lalu iris mata yang menyorot tajam, beralih pada hidungnya yang mancung kemudian turun pada bibir pemuda itu yang nampak menggoda bagi Bintang. Sejenak wanita itu terpaku, cukup lama dia mengagumi sosok suaminya.


Perlahan tangan lentik Bintang menarik tengkuk Alvaro untuk menunduk, wanita itu lantas memagut bibir suaminya membuat Alvaro sedikit terkejut. Pemuda itu tidak tinggal diam, dia lantas menarik pinggul ramping istrinya agar mendekat. Alvaro membalas ciuman dari Bintang, dia tersenyum disela-sela pagutannya. Pemuda itu semakin dalam ******* dan mensesap bibir manis istrinya. Dia menggigit dan menarik lembut bibir bawah Bintang meminta untuk membuka mulutnya. Bintang meremas kaos yang dikenakan Alvaro, dia mengikuti kemauan suaminya untuk membuka sedikit mulutnya sehingga pemuda itu bisa menelusupkan lidahnya menggelitik rongga mulut Bintang dan mengulumnya dengan lembut.


Tanpa disadari ciuman panas antara Alvaro dengan Bintang didapur dilihat oleh Bulan yang baru menginjakkan kakinya dirumah. Dia memutuskan untuk pulang kerumah Alvaro karena menuruti kemauan Mamanya, lagipula Bulan tidak ingin menjadi pengecut dengan kabur terlalu lama. Tempat ini masih menjadi rumahnya, dia berhak untuk tinggal disini.

__ADS_1


Jika ditanya bagaimana perasaan Bulan, jelas hatinya terasa teriris. Wanita mana yang ingin dimadu? Apalagi melihat suaminya bermesraan bersama wanita lain didapur, mereka berdua sama-sama menikmati pagutan bibir masing-masing. Air mata Bulan menetes tanpa bisa dibendung, namun dia segera mengusapnya kasar.


Alvaro menyadari ada seseorang yang datang dari suara derap langkah kakinya. Dia menyempatkan untuk melirik ke arah luar dapur. Matanya membola tatkala dirinya melihat Bulan berdiri mematung sedang menatapnya tajam. Tidak ingin hatinya merasa sakit lebih dalam lagi, Bulan lantas pergi berjalan masuk kedalam kamarnya. Alvaro melepaskan tautan bibirnya sepihak membuat Bintang kecewa karena belum puas.


"Lanjutkan masakanmu Bi." Ujar pemuda itu, lalu dia berjalan cepat keluar dapur membuat Bintang mengernyitkan dahi bingung. Dia mematikan kompornya, memilih untuk menyiapkan makanan untuk suaminya.


Alvaro mengikuti langkah Bulan menuju kamar wanita itu, dia masuk kedalam kamar istri pertamanya lalu menutup rapat pintu. Bulan menoleh menatap sengit suaminya yang kini berdiri dihadapannya.


"Kamu kemana saja seminggu ini tidak pulang kerumah?" Tanya Alvaro terlihat emosi.


Bulan memutar bola matanya malas sebenarnya menanggapi Alvaro. "Apa pedulimu?!" Sentak Bulan berani menggertaknya. "Kamu tidak mencariku bahkan menelfon saja tidak pernah, anggap saja aku tidak ada. Sudahlah jangan hiraukan aku, urus saja istri barumu itu." Ejek Bulan membuat Alvaro tersenyum remeh, bilang saja bahwa Bulan sebenarnya cemburu melihat perlakuan manis Alvaro kepada Bintang.


"Bulan aku bertanya baik-baik kepadamu." Tuntut Alvaro meminta penjelasan.


Bulan menghela nafas lelah, jika dia tidak segera jujur pasti Alvaro akan tambah marah. "Aku menginap dirumahnya Tamara." Balasnya memberitahu membuat Alvaro lega. Tidak menjadi masalah selama Bulan menginap dirumah teman perempuannya asalkan bukan lelaki.


Bulan tertawa dalam hati, jika dia menghilang dari muka bumi ini pasti Alvaro sangat senang. Bulan tidak ingin basa-basi lagi, dia mengeluarkan sebuah map dari dalam tasnya, menyerahkan sebuah kertas kepada suaminya. Pemuda itu nampak mengerutkan dahi menerimanya, dia lantas membaca tulisan di kertas itu. Surat gugatan cerai? Alvaro mendongak menatap Bulan dengan perasaan geram.


"Aku bukan lagi tanggung jawabmu Al, kamu sekarang tidak perlu repot-repot mengurusku. Setelah anak ini lahir kita akan resmi berpisah." Ujar Bulan dengan nada santai. Alvaro heran dengan tingkah Bulan seolah dia sudah mantap untuk berpisah dengannya.


"Apa kamu sudah memikirkan ini secara matang Bulan?" Tanya Alvaro memastikan. "Jika kamu bercerai dariku maka kamu harus siap berpisah dengan anakmu, aku tidak akan lagi mengizinkamu untuk menemuinya. Apa kamu yakin dengan keputusanmu?" Tegasnya mutlak bermaksut mengancam Bulan, entah kenapa Alvaro seolah tidak rela berpisah dengan istri pertamanya.


Lagipula kenapa Bulan kekeuh untuk meminta cerai darinya? Apakah Laura menyetujuinya karena Alvaro kini telah menikahi Bintang? Alvaro yakin jika Bulan masih mencintainya. Mungkin saat ini Bulan sedang kalut belum bisa menerima kenyataan dirinya dimadu, oleh karena itu dia tidak bisa berfikir jernih.


"Tidak apa-apa, silahkan kamu ambil anak ini. Aku yakin kamu dan Bintang bisa menjaganya dengan baik." Tutur Bulan menahan dadanya yang bergemuruh berusaha menahan emosi. Dari lubuk hatinya yang paling dalam sebenarnya Bulan tidak rela meninggalkan anaknya, namun dia tidak bisa tetap bertahan hidup bersama dengan Alvaro. "Kita akan bercerai setelah anak ini lahir, aku ingin melanjutkan hidupku kembali terjun di dunia modeling."

__ADS_1


Alvaro terperangah mendengar penuturan Bulan barusan, sebegitu pentingkah pekerjaannya daripada anak mereka? Bulan bahkan dengan tega ingin meninggalkan anaknya. Alvaro tidak habis fikir dengan keputusan istrinya. Dada Bulan rasanya sesak, beribu kata maaf yang dapat dia sampaikan kepada janin yang berada dalam kandungannya. Bulan memilih menyerah demi kebaikan dirinya dan juga Alvaro agar lelaki itu bisa bersama dengan wanita yang dia cintai tanpa adanya pengganggu.


Alvaro mengeratkan rahangnya, dia menatap tajam Bulan. "Baiklah jika kamu ingin bercerai denganku maka aku akan mengabulkan permintaanmu. Tapi ingat Bulan, kamu pasti akan menyesali keputusanmu ini." Tandas Alvaro memperingati Bulan, pemuda itu lantas berjalan keluar dari kamar meninggalkan Bulan sendirian berusaha bersabar dan meyakinkan dirinya bahwa keputusannya kali ini sudah tepat.


Alvaro berjalan menuju tangga namun langkahnya terhenti tatkala seseorang menahan pergelangan tangannya, dia menoleh menatap Bintang lekat. Pemuda itu sebisa mungkin bersikap tenang dihadapan istri keduanya.


"Ada apa kak?" Tanyanya kepada Alvaro penasaran. "Kak Bulan udah pulang ya?"


Alvaro membelai pipi istrinya dengan sayang. "Tidak ada apa-apa, aku tadi hanya berbincang menanyakan alasan kenapa Bulan kabur dari rumah."


Bintang seketika menunduk, dia memasang raut wajah sedih. "Kak Bulan pasti marah karena kamu memilih untuk tetap menikahiku kak. Aku takut kak Bulan mempunyai rencana jahat untuk menyingkirkan aku." Ujarnya sendu membuat Alvaro sejenak berfikir.


Alvaro mengelus lembut pundak Bulan. "Tenanglah, aku akan melindungimu. Tidak akan ada satupun orang yang berani menyakitimu selama ada aku." Bulan tersenyum mendengarnya, Alvaro begitu perhatian kepadanya.


"Aku keatas dulu untuk mandi." Pamit Alvaro memberitahu Bintang karena dia harus segera berangkat kerja pagi hari ini.


"Iya kak, cepatlah bersiap-siap. Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu." Ujar Bintang dibalas anggukan oleh suaminya, tatapan matanya mendelik tatkala dia melihat sebuah map biru yang dibawa oleh Alvaro. Map apa itu? Bintang penasaran, ketika dia ingin menanyakannya langsung kepada Alvaro namun pemuda itu sudah naik keatas masuk kedalam kamar.


Nanti saja aku tanyakan. Ujar Bintang dari dalam hati.


Alvaro mengambil pulpen dari dalam laci kamarnya, sekali lagi dia membuka map membaca kertas gugatan perceraian itu dengan tatapan jengah. Sial! Ada apa denganku? Dia mengacak rambutnya frustasi. Padahal aku tinggal menandatangani kertas ini, tapi kenapa berat sekali. Batin Alvaro dari dalam hati merasa kesal. Nyatanya dia memang tidak rela berpisah dari Bulan, istri pertamanya itu membawa daya tarik tersendiri bagi Alvaro. Tangan kekar Alvaro meremas kuat kertas perceraian yang dia taruh dimeja hingga kusut lalu dia lemparkan bergitu saja masuk kedalam tong sampah. Alvaro tersenyum sinis, dia tidak menyangka Bulan seberani ini hingga melayangkan surat gugatan perceraian kepadanya.


Tidak semudah itu kamu berpisah dariku Bulan, aku belum puas untuk menyiksamu. Kebebasanmu hanya ada ditanganku, kamu tidak akan bisa lari kemana-mana. Batin Alvaro penuh dengan luapan emosi.


Bersambung...

__ADS_1


Kira-kira kalau kalian jadi Bulan apa yang akan kalian lakukan?


__ADS_2