
Perlahan Elfarez membuka pintu kamar, rupanya tidak terkunci. Pandangan matanya bisa melihat seorang wanita tengah tertidur pulas diatas kasur. Kakinya melangkah mendekat, dia duduk disisi ranjang. Menatap Bulan yang terpejam mengarungi dunia mimpi membuat Farez tidak tega untuk membangunkannya. Tangan kekarnya reflek terulur untuk menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajah cantik Bulan. Elfarez mengulum senyum mengamati wajah polos wanita dihadapannya yang mempesona, meskipun dalam keadaan tertidur Bulan malah semakin menawan membuat hati Farez meleleh.
Pemuda itu rasanya tidak bisa mengalihkan pandangannya, dia menatap lamat-lamat wajah manis Bulan mulai dari mata, hidung serta bibir ranumnya. Dia membelai lembut pipi Bulan membuat perempuan itu sedikit menggeliat terganggu, tapi tak urung membuka matanya. Sekilas Farez mengingat betapa kejamnya Alvaro memperlakukan Bulan hingga membuat wanita itu trauma, dia heran bagaimana bisa pria itu memperlakukan istrinya yang tengah hamil seolah Bulan adalah musuhnya. Jika memang Alvaro membenci Bulan seharusnya pemuda itu menceraikan saja Bulan dari dulu namun kelihatannya Alvaro enggan untuk melepaskan Bulan.
Mengetahui Bulan hidup menderita bersama dengan suami bajingan seperti Alvaro membuat dada Farez bergemuruh emosi. Dia tidak rela wanita yang sangat dicintainya malah disakiti oleh Alvaro, pemuda itu memang tidak pantas menjadi suaminya Bulan.
Hanya aku, aku sangat tulus menyayangimu Bulan. Tidak peduli jika kamu mengandung seorang anak dari pria lainpun, aku akan tetap menerimanya baik kamu maupun anakmu. Ujar Elfarez dari dalam hatinya, dia ingin diberi kesempatan untuk membuktikan ketulusannya.
Farez menyunggingkan senyum, dia membayangkan jika dirinya menjadi suaminya Bulan. Setiap hari dia bisa melihat wajah cantik istrinya, wanita yang dia kagumi selama ini. Elfarez mengusap surai rambut Bulan membuat wanita itu terusik, kedua mata lentiknya perlahan terbuka. Pemuda itu seketika menarik tangannya, wanita dihadapannya memandanginya lekat dengan dahi mengkerut. Bulan terkejut, dia beringsut bangun dari tidurnya.
"Ka-kamu." Bulan tergagap mendapati Elfarez telah berada di hadapannya saat ini. Pemuda itu menjadi salah tingkah, dia tidak ingin Bulan berfikiran buruk tentangnya.
"Ehm, mamamu menyuruhku untuk membangunkanmu. Dia telah menunggumu di meja makan." Ujar Farez menjelaskan, agar Bulan tidak salah paham. Bulan pasti berfikiran buruk tentangnya karena tiba-tiba masuk kedalam kamarnya tanpa izin. “Maafkan aku, aku sudah menganggu tidur nyenyakmu.” Farez menjadi merasa bersalah.
Wanita itu nampak mendelik, dia mendongak menatap jam dinding menunjukkan pukul 08.05 rupanya ini sudah pagi. Saking nyenyaknya dia tertidur hingga lupa waktu, jika Bulan saat ini berada dirumahnya Alvaro pasti dia sudah kena marah karena sebagai seorang istri Bulan tidak bisa bangun pagi untuk sekedar menyiapkan sarapan. Dia memandang lekat Farez yang telah rapi dengan kemeja kantornya, mungkin pemuda itu sebentar lagi akan berangkat bekerja.
Beberapa hari ini Farez memang menginap dirumah orang tua Bulan, dengan senang hati Laura mengizinkannya. Bulan sebenarnya tidak mempermasalahkan, akan tetapi jika Farez terus berada dirumah ini apa yang akan difikirkan oleh para tetangga? Bulan merasa sungkan, meskipun Farez adalah temannya namun orang-orang disekitar pasti akan menjadikannya bahan gosip apalagi dia juga masih menjadi istrinya Alvaro sampai detik ini.
"Bulan kamu marah?" Ujar Farez menggenggam pergelangan tangan Bulan, dari raut wajah Bulan terlihat wanita itu tidak nyaman dengan keberadaannya. "Maafkan aku."
__ADS_1
Bulan lantas tersentak dari lamunannya, dia melepas sentuhan tangan Farez. "Tidak apa-apa Farez." Balasnya seraya tersenyum canggung. "Aku akan cuci muka terlebih dahulu. Kamu kembalilah keruang makan, nanti aku menyusul." Farez mengangguk, dia memaklumi jika Bulan mungkin masih merasa asing kepadanya. Dia hanya butuh bersabar lama-kelamaan Bulan pasti akan menerimanya. Farez sudah melangkah jauh untuk menarik simpati Bulan, tapi sampai saat ini wanita itu masih bersikap enggan kepadanya.
Farez menghela nafas, dia beranjak berdiri. "Baiklah, aku akan menunggumu di ruang makan." Ujarnya seraya melenggang pergi dari kamar Bulan. Dia melihat punggung tegap Farez menghilang dari balik pintu. Bulan mengusap lembut perut besarnya, dia turun dari ranjang masih memandangi ambang pintu kamarnya yang sedikit terbuka.
“Pasti mama sengaja melakukannya, agar aku bisa dekat dengan Elfarez.” Gumam Bulan berbicara dengan dirinya sendiri. Jujur saja, Bulan juga menyukai Farez karena pemuda itu sangat baik kepadanya meskipun Bulan belum memiliki perasaan cinta kepada Farez. Hanya saja Bulan tidak ingin memperalat Farez untuk melancarkan niat buruk mamanya. Laura ingin mempergunakan kekuasaan Farez untuk menghancurkan keluarga Mahendra dan Bramasta.
Bulan ingin berpisah dengan Alvaro secara baik-baik, bukannya saling dendam dan bermusuhan. Bulan ingin hidup damai bersama dengan putrinya. Namun apa yang diinginkan oleh Bulan tidak sejalan dengan mamanya. Seperti halnya dahulu, ketika mamanya memaksa Bulan untuk menikah dengan Alvaro malah berujung dengan penderitaan yang Bulan alami. Sekarang mamanya juga berusaha mendekatkan dirinya dengan Elfarez semata-mata ingin mendapatkan harta dan tahta. Bulan tidak mungkin tega memanfaatkan Elfarez hanya untuk melancarkan dendam mamanya.
...****************...
Laura bolak balik dari dapur ke meja makan menyiapkan sarapan buatannya di atas meja. Dia memasak ayam goreng dan sayur bayam. Menurut informasi yang dia peroleh dari internet bayam bagus dikonsumsi bagi ibu hamil karena berfungsi membantu pertumbuhan paru-paru bayi dalam kandungan. Tidak hanya itu kandungan vitamin A dalam sayur bayam dapat membantu untuk meningkatkan metabolisme ibu sehingga bayi akan lahir dengan berat badan yang cukup. Laura yakin Bulan pasti akan menyukai makanan buatannya.
Saat ini Bulan tinggal bersama Laura, maka dia yang akan memastikan putrinya mendapatkan nutrisi yang baik mengingat dirumah Alvaro putrinya dibiarkan kelaparan membuat hatinya miris. Laura ingin Bulan dan cucunya mendapatkan perhatian, apalagi menyangkut gizi yang bisa mempengaruhi tumbuh kembang cucunya. Dia yakin Alvaro pasti telah menelantarkan putrinya sejak awal pernikahan mereka. Ya tuhan, Laura tidak bisa lagi membayangkan betapa menderitanya Bulan. Namun kali ini Laura yang akan merawat putrinya hingga dia bisa menemukan pria yang tepat untuk menjadi suaminya dan ayah bagi anaknya Bulan.
Suara derap langkah seseorang mendekat membuat Laura seketika mendongak, dia sumringah mendapati Farez mendekati meja makan. Dahinya mengkerut tatkala Bulan tidak nampak bersama dengan Farez, padahal tadi Laura menyuruh pemuda itu untuk membangunkan putrinya.
"Farez mana Bulan?" Tanya Laura menatap nanar pemuda dihadapannya.
"Bulan masih bersiap-siap tante, dia barusaja bangun tidur." Balas Farez seraya duduk di kursi. Laura juga turut duduk dihadapan Farez, dia masih memandangi pemuda gagah didepannya lamat-lamat.
__ADS_1
Laura ingat mengenai percakapannya dengan Jonathan ketika mereka berada di kantor pengadilan 4 hari yang lalu. Pada saat itu Jonathan menjelaskan bahwa Alvaro akan menghalalkan segala cara agar Bulan tidak lepas dari tali pernikahan mereka.
"Menantu anda Alvaro Artha Mahendra tidak segan untuk menggelontorkan uang agar dia bisa memenangkan persidangan ini. Bahkan saya mendengar dia menyuap hakim agar sidang perceraiannya dengan putri anda ditolak." Ujar Jonathan memberitahu informasi penting ini kepada Laura, sebagai seorang pengacara dia juga turut menyelidiki karena pertemuan mediasi kemarin saja sudah berjalan dengan alot. Jonathan memang curiga bahwa semua orang yang berperan dalam persidangan di pengadilan berpihak kepada Alvaro.
Wanita paruh baya itu mulai ketar-ketir, karena kalau Bulan tidak jadi bercerai dengan Alvaro maka Laura tidak akan bisa menikahkan Bulan dengan Elfarez, pemuda tampan kaya raya dari keluarga Abraham. "Jo, mereka tidak akan bisa melakukan itu. Kamu tolong bantu putriku ya, aku ingin putriku segera bercerai dari Alvaro." Ujar Laura menuntut Jonathan agar mereka bisa memenangkan persidangan ini.
Dari pihak Alvaro sudah melakukan upaya mediasi, akan tetapi tetap tidak bisa berdamai karena Bulan kekeuh ingin lanjut berpisah. Laura sudah berjuang sejauh ini, tinggal maju kesidang pengadilan namun Alvaro seolah ingin menggagalkan itu semua. "Kita sudah mengumpulkan beberapa barang bukti kdrt yang telah dilakukan Alvaro kepada Bulan, kita bisa meyakinkan hakim." Laura percaya diri dengan bukti-bukti yang dia punya.
Jonathan menghela nafas. "Ada beberapa alasan yang dapat membuat pengadilan tidak mengabulkan sidang perceraian seperti kurangnya bukti yang kuat, tidak adanya alasan yang sah untuk bercerai dan tidak adanya upaya untuk memperbaiki hubungan." Ujar Jonathan menjelaskan.
"Bukankah kita sudah memenuhi semua persyaratan itu Jo, semua alasan yang sudah kamu sebutkan tadi kita sudah menyerahkan semua berkasnya ke pengadilan. Kita juga bahkan memenuhi permintaan Alvaro untuk mediasi. Apakah itu masih kurang? Astaga aku tidak bisa berfikir lagi, ingin bercerai saja rumit sekali." Umpat Laura seraya memijat kepalanya yang terasa pusing.
Jonathan fikir dia bisa mengatasi permasalahan ini dengan mudah namun kelihatannya akan terasa sulit. "Menantumu telah membayar sejumlah uang untuk menyogok pihak pengadilan, aku rasa ini tidak akan berjalan dengan mudah Laura. Jika kamu bisa memberikan sejumlah uang yang lebih besar dari yang Alvaro berikan itu akan lain halnya."
Laura mengusap gusar wajahnya, dia sudah menghabiskan semua tabungannya demi membayar orang-orang suruhannya untuk membantunya menghancurkan Alvaro dan Bintang. Jika dia diharuskan untuk mengeluarkan dana lagi, kemana dia bisa mendapatkannya? Laura benar-benar bingung.
Farez mengerutkan dahi tatkala melihat Laura hanya duduk terdiam dengan pandangan kosong. “Tante, apakah tante baik-baik saja?” Ucapan Elfarez barusan seketika membuyarkan lamunan Laura. Dia mendongak menatap pemuda dihadapannya lamat-lamat.
“Apa yang tante fikirkan? Kenapa tante terlihat gelisah?” Tanya Farez penasaran, berharap Laura berkenan untuk bercerita kepadanya jika memang wanita paruh baya itu memiliki masalah.
__ADS_1
Laura menghela nafas, dia sejenak merenung. Saat ini Farez memihak kepadanya, alangkah lebih baik dia meminta bantuan darinya. Farez merupakan pria yang kaya raya, apapun masalahnya dengan menggunakan kekuasaan dan sokongan uang dari pemuda itu semua masalah pasti bisa diatasi. Lagipula Farez juga ingin Bulan segera bercerai dengan suaminya.
Bersambung...