Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 36 : Harapan Pupus


__ADS_3

Bulan duduk di kantin rumah sakit, dia baru keluar dari ruangan rawat mamanya. Semalaman dia tidak tidur karena menemani mamanya, sekarang kedua matanya terasa lengket karena mengantuk. Bulan tadi telah memesan kopi untuk menghangatkan tubuhnya, mungkin nanti dia akan memesan sarapan jika lapar. Bulan menghela nafas lelah, dia teringat mamanya selalu menanyakan keberadaan papa. Berulang kali Bulan menelfon papanya, tapi tidak pernah diangkat oleh pria itu. Bulan sampai bingung, ada apa dengan papanya? Laura juga istrinya, tapi mengapa pria itu malah mengabaikannya dalam keadaan sakit seperti ini.


Jika papanya marah kepada Bulan hanya karena pernikahannya yang penuh dengan kebohongan, tidak apa-apa dia bisa menerimanya. Limpahkan saja semua kesalahan padanya, namun tolong jangan lampiaskan emosi kepada mamanya. Selama ini mama selalu berusaha menjadi istri yang baik untuk papa, namun Zhafran tidak pernah menghargainya.


Sampai kapan pa? Sampai kapan papa akan menutup mata melihat perjuangan mama. Aku tahu cara mama menunjukkan rasa cintanya kepada papa salah. Perempuan yang papa anggap jahat, nyatanya dia adalah wanita setia dan kuat menghadapi papa. Berulangkali papa menghancurkan hatinya namun mama lebih memilih untuk tetap bertahan. Batin Bulan tersenyum miris sembari mengaduk secangkir kopinya.


“Aku saja tidak sekuat mama.” Gumam Bulan lirih. Dia meminum kopi pesanannya yang terasa pahit, kopi hitam tanpa gula favoritnya.


Bulan mengambil ponselnya dari saku celana, dia baru ingat bahwa Alvaro kemarin menelfon dirinya beberapa kali bahkan suaminya itu juga mengiriminya pesan. Dia tidak sempat menerima panggilan telfonnya maupun membalas semua pesan darinya. Saat ini Alvaro dan Bintang pasti sudah sampai di London, dia memberanikan diri untuk menelfon Alvaro hanya sekedar memastikannya.


Sambungan telefon terhubung, Bulan berbinar senang. "Hallo." Sapanya, dia menantikan jawaban dari suaminya dari sebrang telefon.


"Iya hallo, ada apa?!" Bulan seketika termangu mendengar jawaban dari seorang wanita membentaknya. Dia tahu bahwa ini adalah suara dari Bintang, kenapa adiknya yang mengangkat telefon dari Alvaro? Bulan menghela nafas, dia berusaha untuk tenang. Dia cukup tahu bagaimana perangai adiknya itu.


“Kalian sudah sampai London?” Tanya Bulan penasaran.


Bulan memutar bola matanya malas menanggapi kakaknya. “Iya.” Jawabnya singkat, dia tidak ingin basa-basi lebih jauh dengan kakaknya.


“Alvaro ada dimana Bi? Bolehkah aku bicara--.”


“Dia lagi pergi!” Potong Bintang tidak memberikan kesempatan Bulan untuk menyelesaikan ucapannya. Bintang kesal, dia tidak ingin Bulan berbincang dengan Alvaro. Merepotkan saja! Kakaknya itu pasti ingin mempengaruhi Alvaro dengan tutur kata manisnya.


“Kak, aku mohon jangan ganggu aku dan kak Al mengerti! Jangan telfon kak Al lagi, kami disini ingin menikmati liburan dengan tenang.” Tegas Bintang membuat perasaan Bulan tersentil. Apa salahnya dia menanyakan keberadaan Alvaro? Bulan sampai saat ini masih menjadi istri sahnya. Lagi-lagi Bulan hanya bisa mengelus dada, dia seolah tertampar kenyataan jika raga maupun hati Alvaro sepenuhnya milik Bintang. Tidak ada ruang yang tersisa untuknya.


“Iya Bi aku--.”


Tut…tut…


Panggilan diputus sepihak oleh Bintang padahal Bulan belum rampung berbicara. Dia hanya bisa menatap nanar layar ponselnya dengan perasaan terluka. Baiklah jika itu keinginan dari mereka, Bulan tidak akan menelfon Alvaro lagi. Lagipula dia seharusnya sedari awal sudah memikirkannya sebelum bertindak, dirinya didalam pernikahan ini dianggap sebagai benalu. Tidak seharusnya Bulan mengharapkan lebih dari hubungan ini.


Di tempat lain, lebih tepatnya di hotel Dukes London Alvaro tengah berenang menikmati dinginnya air kolam renang yang berada di rooftop hotel. Mereka disuguhkan dengan pemandangan indah gedung-gedung pencakar langit maupun jalanan ibu kota yang ramai nampak luas dari atas sini. Alvaro bertelanjang dada beranjak keluar dari dalam air, dia berjalan menuju sun lounger ingin mengambil ponselnya. Dahi Alvaro mengernyit tatkala ponselnya berada di genggaman istrinya.


“Bintang.” Panggilnya membuat wanita itu terkejut, dia menoleh menatap lekat pemuda yang berdiri dihadapannya saat ini dengan raut wajah sedikit panik. “Apakah ada seseorang yang menelfon?” Tanya Alvaro menyelidik.

__ADS_1


Bintang menatap nanar ponsel Alvaro yang masih dipegangnya. “Ah, ini ti-tidak ada kak. Aku memang memindahkan ponselmu, karena aku ingin duduk bersantai dikursi ini.” Kilah Bintang berbohong.


Alvaro menghela nafas, dia lantas mengambil ponselnya untuk mengecek riwayat panggilan maupun pesan. Cerdiknya Bintang, dia sebelumnya sudah menghapus bekas panggilan Bulan. Wajah Alvaro nampak murung karena dia tidak mendapati Bulan menelfon ataupun mengiriminya pesan untuk sekedar menanyakan kabarnya saat ini. Dengan perasaan kesal Alvaro melempar ponselnya begitu saja membuat Bintang berjengkit kaget.


Alvaro berjalan pergi meninggalkan istrinya yang melongo heran melihat sikapnya. Kenapa dengan kak Al? Batin Bulan bingung. Dia lantas memungut ponsel Alvaro yang tergeletak di lantai mengenaskan, bahkan layar LCDnya sampai pecah.


Bintang ikut memasuki kamarnya, dia menatap punggung suaminya yang tengah mengenakan bajunya. “Ada apa denganmu kak? Kenapa kamu tiba-tiba marah?” Tanya Bintang menuntut penjelasan.


Alvaro menoleh mengamati istrinya yang terlihat bingung. Dia jadi merasa bersalah, Alvaro sadar saat ini dia sedang liburan bersama dengan Bintang tapi difikirannya malah dipenuhi dengan Bulan. Alvaro harusnya bisa mengendalikan perilakunya di depan Bintang agar wanita itu tidak kecewa dengannya.


Alvaro mendekati istrinya, tangannya terulur untuk membelai pipi Bintang. “Tidak apa-apa Bi. Tadi aku mendapatkan pesan dari sekretarisku bahwa ada beberapa proyek yang dibatalkan oleh rekan bisnisku.” Ujar Alvaro sengaja membohongi Bintang.


“Oh, begitu.” Bintang dengan mudahnya percaya, dia mendongak memandangi suaminya lekat. “Papa bilang padaku bahwa dia akan menghandle semua pekerjaanmu kak selama liburan, percayalah papa pasti bisa mengatasinya.” Ujarnya untuk menenangkan suaminya agar pemuda itu fokus pada bulan madunya disini.


Alvaro tersenyum. “Iya sayang.”


Bintang menggenggam tangan suaminya. “Kak ajarin aku berenang yuk.” Ajaknya dengan antusias.


Bintang terlihat cemberut. “Yaudah kalau begitu aku main ke kolam sendirian saja. Kakak tahukan kalau aku nggak bisa berenang, kalau sampai aku tenggelam kakak jangan nyesel ya.” Bintang berdecak kesal keluar dari kamar menuju kolam renang.


Alvaro mencoba bersabar menghadapi sifat manja Bintang, dia tahu bahwa istrinya itu sebenarnya punya rasa trauma karena pernah hampir tenggelam dikolam renang rumahnya sewaktu kecil. Tidak ingin terjadi hal yang buruk dengan istrinya lantas Alvaro ikut bergabung menjeburkan diri kedalam kolam renang.


“Kenapa kakak kesini? Tadi kamu bilang malas.” Ujar Bintang jutek ketika Alvaro mendekatinya. Kalau sedang marah seperti ini Bintang terlihat lucu dimata Alvaro.


“Jadi kamu marah sama aku?” Tanya Alvaro sengaja menggoda Bintang yang saat ini merasa kesal, bahkan enggan untuk melihatnya. “Oke, kalau begitu aku pergi.”


Bintang menahan lengan kekar suaminya. “Tetaplah disini kak.” Cicitnya, dia mengalungkan kedua tangannya pada leher Alvaro. Merapatkan tubuhnya pada dada hangat suaminya, Bintang perlahan mendekatkan wajahnya. Dia mencium bibir Alvaro, ******* bibirnya dengan sensual.


Kedua tangan Alvaro menyentuh pinggang ramping Bintang. Saat ini istrinya hanya memakai bikini memamerkan tubuh indahnya. Sebagai lelaki normal jelas dia tergoda, Alvaro semakin memperdalam pagutannya mensesap bibir ranum istrinya.


“Hmmmppt.” Bintang sedikit membuka mulutnya memberikan kebebasan bagi suaminya. Alvaro merengsek masuk, membelit lidah Bintang untuk memancing hasrat wanita itu. Bibir Bintang terasa manis seolah menjadi candu bagi Alvaro.


Perasaan Bintang bahagia karena kini Alvaro kembali luluh, keputusannya untuk pergi liburan ke London adalah pilihan yang tepat. Sebisa mungkin Bintang akan membuat Alvaro bertekuk lutut kepadanya, hanya dia satu-satunya wanita yang boleh singgah dihati Alvaro.

__ADS_1


Kembali pada Bulan yang masih termenung di kantin rumah sakit, dia berkali kali menghela nafas lelah. Bulan merasa sendirian, tidak ada orang yang memihaknya untuk sekedar membagi beban yag dia tanggung.


Drrrttt…drrrtt


Ponsel Bulan bergetar, sebuah notifikasi pesan whatsapp masuk. Bulan membacanya, dia mengerutkan dahi melihat sebuah pesan WA dari Elfarez.


Farez


Bulan aku dengar dari papamu, katanya mamamu sakit. Apakah benar? Bagaimana keadaannya? Aku sangat cemas ketika mendengar kabar ini.


Bulan seketika tersenyum membaca pesan dari Elfarez, disaat keluarganya sendiri enggan memperhatikannya tapi malah orang lain yang gencar menanyakan kondisi mamanya. Elfarez begitu baik, andai dia mempunyai saudara lelaki seperti Elfarez pasti Bulan akan sangat bahagia.


^^^Bulan^^^


^^^Iya mamaku sakit, saat ini alhamdulillah kondisinya mulai membaik^^^


Farez


Dirumah sakit mana mamamu dirawat?


^^^Bulan^^^


^^^Di rumah sakit Husada^^^


Farez


Oke, aku otw kesana


Bulan membulatkan matanya membaca pesan terakhir dari Farez yang memutuskan untuk datang kerumah sakit ini. Dia tahu bagaimana sibuknya Farez dikantor, tidak seharusnya pemuda itu merepotkan dirinya sendiri. Bulan menghabiskan kopinya, dia akan kembali kedalam ruangan rawat Mamanya untuk menemaninya.


Bersambung...


Bagaimana menurut kalian untuk episode kali ini?

__ADS_1


__ADS_2