Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 38 : Bulan Ngidam


__ADS_3

Bulan perlahan membuka kedua matanya. Dia sedikit meregangkan tubuhnya karena punggungnya terasa nyeri. Lamat-lamat dia mengamati sekelilingnya. "Astaga aku tertidur dimobil." Ujarnya panik setelah sadar penuh, dia menoleh kesamping. Elfarez tidak ada, kemana perginya pemuda itu? Dia bahkan tidak membangunkannya.


Tatapan mata Bulan jatuh pada jas abu-abu yang menyelimuti tubuhnya, dia bisa mencium bau mint menguar di indra penciumannya. "Ini adalah jas milik Farez." Gumamnya, perasaannya tersentuh karena sikap hangat Farez. Pemuda itu selalu memperlakukannya dengan baik tanpa pamrih.


"Mama pasti menungguku, aku harus segera kesana." Gumamnya lagi sembari membawa tas berisi pakaian mamanya. Dia masuk kedalam rumah sakit menuju ruang rawat VIP tempat Laura berada.


Ketika Bulan sampai didepan pintu dia menghentikan langkahnya mendengar suara orang tertawa dari dalam ruangan. Bulan mengintip, rupanya mamanya saat ini ditemani oleh Elfarez didalam sana. Apa yang sedang mereka bicarakan? Mereka saling melempar tawa seolah ada hal yang lucu.


"Benarkah itu Farez hahaha." Tawa Laura terdengar nyaring, raut gelisah kini tergantikan dengan wajah sumringah. Bulan tersenyum, mamanya sudah kembali ceria, dia sangat bersyukur. Melihat mamanya senang adalah sumber kebahagiaan bagi Bulan.


"Iya tante, om Zhafran juga sampai terkejut. Tante tahu sendirikan bagaimana wibawanya om Zhafran, tapi malah dipermalukan seperti ini didepan umum hahaha." Balas Farez ikut tertawa, saking lucunya Laura sampai mengeluarkan air mata. Bulan semakin penasaran, dia memutuskan untuk masuk kedalam melangkahkan kakinya mendekati mereka berdua.


"Bulan sayang kamu sudah bangun?" Tanya Laura menatap lekat putrinya yang baru datang. "Tadi Farez bilang kamu tidur dimobil, aku memberitahu Farez untuk jangan membangunkanmu. Mama ingin kamu istirahat, semalaman kamu tidak tidur karena jagain mama. Mama khawatir dengan kehamilanmu jika kamu tidak cukup istirahat.” Ujar Laura dengan sendu, dia sadar bahwa dirinya terlalu merepotkan putri semata wayangnya.


Bulan tersenyum. “Aku tidak apa-apa ma, jangan cemaskan aku. Aku tadi sudah tidur lama dimobil.” Kilahnya berbohong, padahal dia hanya tidur selama 30 menit saja.


"Kamu tahu nggak sih Bulan, tadi Farez cerita lucu.” Ujar Laura dengan antusias membuat Bulan mengernyitkan dahi. “Kata Farez, papamu waktu di Swedia mengalami kejadian memalukan. Jadi papamu berniat baik membantu menyebrangkan seorang nenek kepinggir jalan tapi papamu malah dimarahi oleh nenek itu hahaha." Laura masih sempat terkikik disela-sela dia bercerita.


"Kenapa papa dimarahi ma? Seharusnya nenek itu berterimakasih sama papa." Balas Bulan menanggapi, dia mendengarkan dengan seksama mamanya bicara.


"Karena nenek itu ternyata tidak mau menyebrang, tapi papamu malah menggiringnya untuk kepinggir jalan." Bulan tersenyum bukan karena leluconnya melainkan karena dia senang melihat binar sumringah terpancar dari wajah mamanya.


“Nenek-nenek itu sampai memukul kepala om Zhafran pakai tongkatnya hahaha.” Timpal Elfarez membuat Laura kembali tertawa. Bulan tersentuh dengan usaha Farez yang telah mencairkan suasana menjadi hangat. Pemuda itu begitu perhatian dan juga ramah kepada mamanya, berbeda dengan Alvaro yang selalu bersikap dingin bahkan dia terang-terangan membenci mamanya.


Tatapan Laura jatuh pada tas besar yang dibawa oleh putrinya, itu adalah tas milik Laura. “Sayang kamu tadi pulang kerumah papa ya?” Tanyanya penasaran.

__ADS_1


“Iya ma, aku tadi ambilin baju ganti untuk mama.” Jawab Bulan sembari meletakkan tasnya kedalam lemari.


“Apakah kamu bertemu dengan papamu?” Bulan tertegun mendengar pertanyaan dari Laura, dia bingung harus menjawab apa agar mamanya tidak kecewa. “Papamu tidak ingin menjenguk mama?” Tanya Laura lagi dengan ekspresi murung.


Bulan berjalan mendekat, dia menggenggam jemari tangan dingin mamanya. “Papa pasti akan datang menjenguk mama, sebenarnya tadi papa ingin kesini tapi ternyata dia ada meeting mendadak dengan rekan bisnisnya.” Ujar Bulan menjelaskan agar mamanya mengerti. Laura mengangguk, dia nampak tersenyum kecut. Laura ingin suaminya disini untuk menemaninya, semua istri yang sedang sakit pasti ingin selalu berada dekat dengan suami dan anaknya.


Bulan terlihat begitu sayang kepada mamanya membuat Elfarez salut dengan kelembutan hati wanita itu. Farez iri melihat kedekatan Bulan dengan mamanya, dia juga ingin merasakan bagaimana perhatian dari seorang ibu. Dari kecil dia tidak pernah melihat sosok ibunya, dia hanya bisa menatap wajah cantik mamanya dari foto saja karena mamanya telah meninggal ketika melahirkan Farez.


Sejak saat itu papanya memutuskan untuk tidak pernah menikah lagi, dia ingin fokus merawat Elfarez kecil. Papanya berjuang untuk membesarkannya sendirian. Meskipun tanpa kasih sayang ibu, Giandra mampu memberikan cinta sepenuhnya sebagai seorang ayah kepada Farez. Meskipun dia terkesan keras dalam mendidik putranya, namun Farez tahu bahwa papanya sangat menyayanginya.


“Bulan kamu kasih tahu papamu ya, kalau dia senggang tolong suruh dia kesini sebentar saja tidak apa-apa.” Kekeuh Laura masih mengharapkan kehadiran Zhafran.


Bulan menghela nafas, dia mengelus surai rambut panjang mamanya dengan sayang. “Iya ma.” Ujarnya untuk membuat mamanya tenang.


Farez menyunggingkan senyumnya melihat interaksi antara ibu dan anak itu, dia heran dengan sikap om Zhafran. Farez tahu bahwa hari ini om Zhafran memang sedang mengadakan meeting bersama papanya. Namun sesibuk apapun pekerjaannya seharusnya om Zhafran menyempatkan diri untuk menjenguk istrinya. Farez saja berani meninggalkan meeting proyek mereka demi menemani Bulan dirumah sakit. Jika melihat permasalahan yang pernah terjadi, Bulan memang tidak akur dengan papanya, mungkin itu yang menyebabkan Zhafran kesal sehingga enggan untuk menjenguk tante Laura. Apapun masalahnya seharusnya mereka bisa saling memaafkan, bukankah sebuah keluarga seharusnya bersama untuk saling menguatkan, bukannya malah saling menghancurkan.


22.41 PM


Suster telah memberikan obat kepada Laura. Setelah meminum obat, tidak berselang lama mata Laura terpejam. Melihat mamanya terlelap dalam tidurnya membuat Bulan tenang. Tadi mamanya terus-terusan menanyakan papa, dia tidak tega jika harus membohongi mamanya lagi. Bulan benar-benar kalut, keluarganya tidak ada satupun yang peduli. Bahkan suaminya sendiri memilih liburan bersama istri keduanya dikala dirinya berjuang untuk kesembuhan mamanya.


Bulan berjalan keluar dari ruangan rawat inap, dia berjalan menemui Elfarez yang duduk dikursi tunggu rumah sakit. "Farez." Panggilan Bulan seketika membuat pemuda itu menoleh menatap lekat wanita yang telah berdiri disampingnya.


Dia beranjak berdiri dari kursi. "Bagaimana mamamu apakah sudah tidur?" Tanya Farez kepada Bulan.


Bulan mengangguk. "Iya mama sudah tidur." Farez lega mendengarnya, dia tadi sempat mendengarkan nasehat dokter saat mamanya Bulan diperiksa bahwa wanita paruh baya itu harus mendapatkan istirahat yang cukup.

__ADS_1


"Farez terimakasih hari ini kamu telah banyak membantuku." Ujar Bulan, dia sangat bersyukur memiliki teman yang perhatian seperti Elfarez. Pemuda itu tersenyum, apapun akan dia lakukan demi Bulan.


"Ini sudah malam, kamu mendingan pulang. Besok kamukan kerja, aku bisa jagain mamaku sendirian." Dia tidak bermaksud untuk mengsusir Farez, Bulan hanya tidak ingin membebani pemuda itu. Lagipula bukan kewajiban Farez untuk turut menjaga mamanya. Bulan takut jika dia menjadi ketergantungan dengan sikap baik yang Farez lakukan.


Kruk...kruk


Farez mengernyitkan dahi tatkala telinganya mendengar bunyi nyaring, dia melihat kearah Bulan yang sedang memegangi perutnya. "Kamu laper ya?" Tanya Farez seraya menyunggingkan senyumnya. Bulan jadi malu karena suara perutnya yang keroncongan sampai di indra pendengaran Elfarez.


Bulan menganggukkan kepalanya, jujur dia dari siang sampai saat ini belum sempat makan. Bulan hanya sarapan pagi, pantas saja jika perutnya saat ini keroncongan minta diisi.


"Ayo kita cari makan." Elfarez menarik pelan tangan Bulan membuat wanita itu sedikit terkejut.


"Farez tapi--."


"Ck, Bulan apa kamu tidak memikirkan anakmu hah? Bukan hanya kamu yang lapar, tapi janin yang berada dalam kandunganmu juga butuh nutrisi." Sentak Farez cemas dengan kesehatan Bulan. Mendengar penuturan Farez membuat Bulan termangu sesaat, benar akhir-akhir ini dia seolah lupa bahwa dirinya saat ini tengah hamil. Bulan terlalu sibuk memikirkan beban hidup yang dia tanggung.


Maafkan mama ya nak, mama terlalu egois mementingkan diri mama sendiri. Batinnya seraya mengusap lembut perutnya.


"Farez aku mau makan gado-gado boleh?" Farez menatap nanar wanita dihadapannya, apakah Bulan sedang ngidam? Batinnya bertanya.


Selama dia hamil sampai detik ini Bulan tidak pernah minta apapun kepada suaminya, seperti kebanyakan ibu hamil lainnya Bulan juga merasakan yang namanya ngidam. Tapi Bulan terlalu takut mengutarakan keinginannya kepada Alvaro, setiap dia menginginkan sesuatu dia akan membelinya sendiri. Miris, Bulan adalah seorang istri tapi dia merasa sudah tidak memiliki suami.


"Ayo kita makan gado-gado, aku akan membelikannya untukmu." Ujar Elfarez seraya tersenyum hangat.


Bagi Farez, Bulan bukan hanya sekedar teman, tapi dia kelak yang akan menjadi istrinya.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak agar aku semangat update :)


__ADS_2