
"Hahaha, istri anda sangat beruntung memiliki suami yang perhatian seperti bapak." Timpal dokter Clarisa seraya terkikik melihat kelakuan Farez yang antusias. Bulan mendelik, dia heran dengan Farez jelas-jelas bayi dalam perutnya bukan darah dagingnya tapi kenapa pria itu bisa sebahagia ini.
"Bagaimana dengan anak kami dok? Apakah sehat?" Tanya Farez penasaran. Dokter Clarisa menyudahi pemeriksaannya, dia mulai membereskan alat-alatnya.
"Seperti yang anda lihat di layar monitor kondisi janinnya sehat, bahkan tadi putri ibu Bulan kakinya menendang-nendang. Apakah bu Bulan merasakannya?" Tanya dokter Clarisa dijawab anggukan kepala oleh Bulan.
Bulan bangun, dia merapikan dressnya yang tersingkap. "Iya dok saya bisa merasakan pergerakan bayi saya."
Dokter Clarisa tersenyum, dia mempersilahkan Bulan dan Farez untuk duduk menghadapnya. Ada beberapa nasehat yang perlu dokter Clarisa sampaikan kepada mereka berdua. "Kehamilan anda menginjak usia 7 bulan. Saya harap ibu Bulan mempersiapkan diri untuk kelahiran bayi anda mulai dari sekarang agar tidak shock karena ini adalah pengalaman persalinan anda yang pertama."
Bulan menganggukkan kepalanya, memang benar dia sedikit takut menghadapi kelahiran anaknya. "Dok saya nanti ingin melahirkan secara normal." Cicit Bulan memberitahu.
"Ibu hamil harus rajin berolahraga, tidak perlu olahraga yang berat. Cukup jalan-jalan disekitar rumah saja setiap pagi secara rutin. Sebagai ibu rumah tangga perbanyak aktivitas boleh, tapi jangan sampai kelelahan. Kebiasaan olahraga ketika hamil akan mempermudah anda untuk lahiran normal." Saran dokter Clarisa, dia berharap Bulan akan melaksanakan nasehatnya karena kebanyakan ibu memang menginginkan untuk melahirkan secara normal.
"Kami baru saja menikah dan langsung dikaruniai anak dok, jadi kami masih bingung." Sahut Farez seraya melirik Bulan disampingnya yang kini menatapnya nyalang.
Dokter Clarisa memakluminya, karena banyak pasiennya yang masih muda kebingungan mengatasi kehamilan pertamanya. "Jadi yang tidak boleh kami lakukan apa saja dok agar tidak membahayakan bayi kami yang berada dalam kandungan?" Tanya Farez lagi dengan antusias, padahal Bulan yang tengah mengandung diam saja enggan untuk bertanya. Bagaimana Bulan mau bertanya, jika Farez saja sudah mengutarakan banyak pertanyaan kepada dokter Clarisa, alhasil Bulan memilih mendengarkannya.
"Saya sarankan untuk mengurangi rutinitas berhubungan badan jika perut terasa tidak nyaman."
Deg
__ADS_1
Bulan tersentak, dia sedikit terkejut tatkala dokter Clarisa berkata demikian. Farezpun juga nampak menegang kaku, tapi dirinya tetap berusaha bersikap tenang. Jujur Bulan merasa malu dan canggung ketika dokter Clarisa mengucapkan kalimat vulgar itu, karena seharusnya dia tidak menjelaskannya didepan Farez. Itu cukup menganggu Bulan, sesungguhnya Farez bukanlah suaminya.
"Sebenarnya diperbolehkan berhubungan intim, apalagi menjelang persalinan akan membantu merangsang kontraksi secara alami." Farez hanya tersenyum mendengarnya, sedangkan Bulan menelan ludahnya susah payah. Dia merasa risih mendengarnya karena ada Farez disampingnya. "Jadi demi keselamatan bayi dalam kandungan sebaiknya dibatasi dulu berhubungan badan ya jika perut terasa sakit atau nyeri." Dokter Clarisa merasa dia wajib memberitu perihal ini, ada beberapa pasiennya yang mengalami keguguran disebabkan karena mereka memaksakan pasangannya untuk memenuhi hasratnya ketika hamil.
"Baik dok." Jawab Elfarez sedikit merasa canggung.
Dokter Clarisa menuliskan sesuatu disebuah kertas. "Ini adalah resep obat untuk menguatkan kandungan, kalian bisa menebusnya di apotik." Ujarnya seraya menyerahkan resep obat itu kepada Bulan.
"Baik dok, terimakasih." Bulan dan Farez beranjak dari tempat tidurnya, mereka berdua pamit untuk undur diri.
Bulan dan Farez berjalan beriringan menuju apotik tempat menebus obat untuk kandungan Bulan. Entah mengapa Bulan menjadi merasa canggung, sedari tadi dia diam tanpa mengajak Farez berbicara. Sebaliknya Farez merasa aneh dengan situasi ini. Apakah Bulan marah karena tadi dia mengaku menjadi suaminya? Tanyanya dari dalam hati.
"Bulan." Panggil Farez menggenggam tangan Bulan, membuat wanita itu mendongak menatap Farez lekat. "Maafkan aku ya, kamu pasti marah karena aku mengaku menjadi suamimu tadi." Ujar Farez tertunduk lesu, dia tidak ingin Bulan marah lagi kepadanya.
Tring...tring...tring
Ditengah perbincangan mereka tiba-tiba suara ponsel Alvaro berbunyi, pemuda itu lantas merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Panggilan dari sekretarisnya membuat Farez mengerutkan dahi. Tanpa basi-basi Farez mengangkat telfonnya karena mungkin saja penting.
"Hallo."
"Hallo pak Farez, maaf menganggu waktu anda. Pak Farez mohon untuk segera datang ke kantor karena rekan bisnis anda, pimpinan dari PT Greenice sudah datang." Balas sekretarisnya dari sebrang telefon memberitahu membuat Farez terkejut. Dia melihat jam tangannya, astaga ini memang sudah waktunya dia untuk menemui rekan bisnisnya sesuai dengan janji yang telah terjadwal.
__ADS_1
Bulan bisa mendengarkan pembicaan Farez dengan seorang perempuan entah siapa itu Bulan tidak tahu. Tapi dia masih bisa menangkap bahwa mereka sedang membicarakan mengenai pekerjaan. Pasti Farez sangatlah sibuk sekarang dan pemuda itu malah memilih mengantarkannya ke rumah sakit.
"Iya baiklah. Suruh dia untuk menunggu sebentar, aku akan segera kesana." Farez menutup telfonnya sepihak, dia menoleh memandangi wanita dihadapannya.
Bulan menghela nafas. "Farez berangkatlah bekerja, aku akan menebus obat ini diapotik dan aku akan pulang kerumah sendiri. Jangan cemas, segeralah berangkat ke kantor karena aku tidak ingin pekerjaanmu terbengkalai karena aku."
"Tapi Bulan aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian." Bantah Farez merasa cemas, bisa saja Bulan tiba-tiba bertemu dengan suaminya lagi. Farez menyalakan ponselnya kembali, dia nampak mengetikkan sesuatu dilayar ponselnya. Beberapa detik kemudian ponselnya kembali berdering membuat Farez merasa geram.
Farez mendongak menatap lekat Bulan yang tengah berdiri dihadapannya. "Bulan maaf kelihatannya aku harus berangkat kekantor sekarang. Aku sudah memesankan taxi online untuk mengantarkanmu pulang. Maafkan aku ya?"
Bulan mengangguk. "Iya tidak apa-apa." Sebenarnya Elfarez berat meninggalkan Bulan, akan tetapi rekan bisnisnya sudah menunggunya dikantor. Bisnis ini sangatlah penting untuknya, jika dia telat mungkin dia akan kehilangan proyek besar.
"Kamu, hati-hati dijalan." Ujar Bulan memperingatkan, Farez mengangguk. Langkah kaki lebarnya berjalan pergi keluar dari rumah sakit. Bulan menghela nafas, dia lantas kembali mengantri di apotik untuk menebus obatnya.
...****************...
13.31 AM
Farez duduk bersantai di kursi kebesarannya, dia baru saja berdiskusi dengan pimpinan PT greenice selama 3 jam lamanya hanya untuk membahas bisnis. Sungguh melelahkan, jadi seperti ini beratnya menjadi seorang pemimpin perusahaan. Pantas saja Papanya menjarinya dengan keras, bahkan Giandra juga selalu menuntutnya untuk menjadi pria yang pintar dan tegas.
Sebenarnya papanya ingin menugaskannya untuk mengembangkan bisnisnya yang berada diluar negeri tapi Farez menolaknya dengan tegas. Setiap ada kunjungan yang mengharuskannya pergi jauh Farez tidak pernah ikut karena dia tidak ingin jauh dari Bulan, jika sewaktu-waktu Bulan membutuhkannya Farez akan selalu siap membantunya. Farez sudah terlanjur bucin dengan Bulan seolah telah kehilangan akal sehatnya.
__ADS_1
Pemuda itu mengambil tas kecil yang didalamnya terdapat kotak bekal pemberian Bulan. Farez membukanya seketika bau harum menyapa indra penciumannya, aroma bawang goreng dan kecap begitu kuat. Perut Farez sudah keroncongan, dia sengaja tidak pergi makan di kantin karena dia ingin menikmati nasi goreng buatan dari Bulan.
Bersambung...